Wednesday, June 13, 2018

Intermission

How can I define this blog? Is it private blog that contains private story and stuff? Is it literature blog including teaching language blog? Movie review one? Or maybe song review blog? Till now on, I myself still wondering what kind a blog that I've made actually. To be truth, for the first time I make this, it is my intention to have a blog that talks about literature and nature and the connection of both. The idea came from my paper that I've made in collage in spite of having my degree. Literature and nature connection based on ecocriticism theory. It works in the beginning, but along the time, distracts by all impediment of live this blog seems loose its purposes. The "Saswaloka" blog seems to be "whatever blog" or "mind your own business blog" that don't really care about what post I make and what people do about it when they found it. You know, it's just fed up to know that along the years none of the visitor leave their comments, talk chit chats or anything to prove that, in one of a time, they have already been visited this blog, using the contents and so on. What to be proud of having reality like that? Has appreciation really disappeared in this digital world, in this planet earth? I have no idea. But, what the hell! As Bob Marly said: "Lively up yourself," so too I will lively up this blog whatever it takes, whether there's one visit this blog, leave his or her comment or not. Nothing seems significance though, cause none of it changes anything. I will be okay as this blog is okay from the beginning--in a sad ways situation. Just make sure that you clean your a**! (FA) 

Wednesday, March 21, 2018

Belajar Bahasa Jepang Bersama Kokoro No Tomo (Mayumi Istuwa)

Siapa yang ga kenal Kokoro No Tomo-nya Mayumi Itsuwa? Di era 80-an lagu ini sempat populer di Indonesia, sekalipun di negeri asalnya tidak, kecuali mereka yang seangkatan dengan Sang Vokalis. Kepopuleran ini menjadi fenomena di negeri kita karena ternyata hampir semua generasi hafal dengan lagu yang awalnya sering sekali diputar di radio di seluruh Nusantara. Bahkan tidak sedikit musisi kita yang mengcover lagu ini, tidak terkecuali Delon Idol dan Zivilia Band beberapa waktu lalu.

Nah, sambil mengenang kembali lagu abadi yang satu ini, postingan kali ini akan menampilkan lirik lagu tersebut yang sengaja ditulis menggunakan huruf negeri Sakura (Hiragana, Kanji dan Furigana-nya). Sekalian agar kita bisa belajar bahasa Jepang tetap dengan cara yang menyenangkan. Tidak lupa video yang diambil di channel Youtube pun disematkan di bawah postingan ini. Ga menarik kan kalau hanya membaca/menyanyikan lirik kalau tidak ada iringan musiknya? 

Saturday, March 17, 2018

Belajar Bahasa Jepang Lewat Cerita (Kintarou & Momotarou)

やさしい 日本語
HAJIMEMASHITE!

Anime bisa jadi awal pertama orang berkenalan dengan bahasa Jepang, terutama soundtrack-nya. Doraemon, One Piece bahkan Naruto, adalah beberapa anime yang bisa dengan mudah ditonton di tipi yang sedikit banyak membuat penontonnya ingin juga belajar bahasa Jepang. Menurut saya pribadi, Jepang memang tidak ada matinya, mulai dari budaya lokal bahkan teknologi. Mereka membuktikan bahwa majunya sebuah bangsa tidak hanya jago dalam membuat atau menciptakan tapi juga merawat, melestarikan dan mengembangkannya. Terbukti, Jepang menjadi barometer dunia dalam banyak hal, tidak hanya melulu soal teknologi, tapi juga informasi, fashion, musik, dan banyak lagi.

Harga Sebuah Nilai Kecil


solopracticeuniversity.com
Bayangkan sebuah film dengan plot sederhana, dengan permasalahan yang telah menjadi sangat biasa bisa dihadapi siapa saja di kehidupan nyata.

Tokoh-tokohnya membicarakan hal keseharian tanpa pretensi apa lagi dramatisasi. Tak ada tawa paling bahak atau tangis paling bengis. Tak ada yang terluka dan dilukai terlebih menderita atau dibuat sengsara. Tak pula ada konflik yang njelimet atau adegan yang mengantar perenungan mendalam dialami tokoh-tokohnya.

Tokoh-tokoh yang menerima kenyataan sebagai kenyataan. Apa adanya. Bahkan di akhir film, tak ada perubahan nasib yang terjadi pada mereka. Semua berjalan biasa-biasa saja. Seperti matahari yang terbit di pagi hari dan terbenam ketika senja tiba, dan semua orang mengganggapnya sebagai hal yang biasa.

Wednesday, March 14, 2018

Segudang Permasalahan Menerbitkan Buku (2)

literary-agents.com
Pada bagian pertama tulisan telah digambarkan beberapa macam cara menerbitkan sebuah buku. Untuk mengafirmasi cara tersebut, bagian kedua ini akan menjelaskannya lebih lanjut. Tapi sebelumnya, barangkali ada baiknya untuk menjawab pertanyaan ini lebih dulu: Pertama, mengapa seorang harus menerbitkan buku? Kedua, mengapa menerbitkan buku harus lewat penerbit? Silakan simpan jawaban Anda. Selanjutnya, saya akan berbicara soal hal-hal lain yang belum sempat saya jelaskan di bagian pertama.

Pertama, menerbitkan buku secara self-publishing. Cara yang satu ini sebenarnya terbilang ekstrem. Mengapa? Karena tak pernah sepanjang sejarah ada manusia yang menuliskan dan menerbitkan pemikirannya dalam bentuk buku sendirian. Pasalnya terlebih buku, kitab suci pun tak pernah ditulis langsung oleh nabi, meski demikian hal ini jelas tidak bisa dijadikan perbandingan. Cara swadaya seperti ini saya sebut dengan istilah (maaf) "onani". Seperti yang dijelaskan di bagian pertama bahwa hanya dengan bermodal uang sendiri seseorang bisa menerbitkan bukunya sendiri. Suka-suka. Anda ketik naskah Anda, lalu membawanya ke percetakan yang akan membuatkan plat bagi lembar demi lembar naskah Anda lantas mencetaknya dalam jumlah yang besar. Mengusahakan ISBN untuk buku Anda ini ke Perpusnas RI tentu akan lebih baik. (Sayangnya, pemberian ISBN buku zaman now hanya bisa dilakukan oleh penerbit, tidak bisa perseorangan. Akan tetapi ini bisa terjawab jika Anda menggunakan sistem Pod). Dengan cara ini Anda akan mengetahui dari awal sampai akhir proses penerbitan buku Anda.

Saturday, March 3, 2018

Segudang Permasalahan Menerbitkan Buku (1)

hugeorange.com
Semacam Pengantar 

Sudah lama saya ingin menuliskan soal terbit-menerbitkan buku ini sebenarnya. Hanya saja saya kadang bingung sendiri, mesti dari mana saya harus memulai. Bahkan untuk membuat judul terkait permasalahan ini pun saya gagal, percis judul tulisan di atas itu. Masalahnya memang tidak cukup mudah, terlebih di sini saya memang tidak hendak berbicara soal "Cara Menerbitkan Buku" itu. Ada ratusan situs atau blog lain yang membahas soal itu. Mbah Google lewat search engine-nya sudah pasti akan memuaskan Anda yang memang ingin mencari tahu bagaimana cara menerbitkan buku. Sebagian berupa tips dan trik, sebagiannya lagi promosi. Hampir semuanya berupa propaganda tentang betapa mudahnya menerbitkan buku, termasuk janji-janji manis bagaimana rasanya buku sendiri terbit. Benarkah demikian? Untuk tahu, lebih baik coba sendiri, dapatkan pengalaman dari usaha Anda itu dan rasakan sendiri.

Maka dari itu saya memutusakan untuk berbicara soal terbit-menerbitkan buku dari perspektif yang lain, dengan berdasarkan pada pengamatan dan pengalaman saya menjadi seorang editor dan pelaku industri perbukuan. Semoga saya bisa objektif dalam berbicara. Dan satu hal lagi, tulisan ini ditengarai oleh sebuah peristiwa yang kemudian mematangkan pandangan saya tentang apa yang bakal saya bahas ini. Peristiwa di mana beberapa hari yang lalu, saya mengikuti sebuah acara bedah buku milik seorang penulis prematur dengan buku yang tak kurang prematurnya. Penulis yang cukup serampangan untuk menerbitkan bukunya di saat di mana dia belum bisa dibilang pantas untuk menerbitkan buku. Hak dia, betul. Tapi ketika buku menjadi milik publik, adalah hak pembaca juga mendapatkan "suplemen" yang baik dari sebuah buku. Nantilah saya ceritakan. Saya ingin membuat tulisan ini dengan mengalir saja.

Thursday, March 1, 2018

Pelayanan, Masih Jadi Nomor Wahid Masalah Bisnis

theservicecoach.com
Sebelumnya, izinkan saya ingin menggunakan kata saya, dan saya menulis ini di blog. Biar hidup. Biarlah Facebook punya bagiannya sendiri, juga akun lain seperti IG, dan media sosial yang udah ga keitung lagi jumlahnya. Faktanya, terlalu banyak menggunakan medsos ternyata cukup bikin ribet juga. Apa lagi kalau bicara bisnis pake aplikasi belanja online. Nguras energi dan waktu. Alih-alih produktif dan fokus, ini malah sibuk hilir mudik buka tutup aplikasi. Waktu juga yang menjawab. Facebook masih bertahan; orang-orang pindah ke IG dan Twitter ditinggalkan. Sedang blog, ah, jangan tanya ada berapa ratus atau mungkin ribu yang pake media satu ini di negeri yang gemah ripah loh jenawi ini. Lha wong, masyarakt Indonesia itu lebih suka yang pendek-pendek,cepat-cepat dan instan-instan. Sedang ngurus blog itu butuh kesabaran tingkat dewa Zewa dari tatanan 14 kuil yang harus dilewari Saint Seiya. Mangkanya harus telaten. Satu lagi masalah adalah penyakit bisa membuat atau memulai tapi tidak bisa mengurus dan menyelesaikan. Sebab ini yang bikin kita ga pernah bisa jadi apa-apa. Terlalu banyak memilih dan terlalu banyak pindah-pindah channel. Maka dari itu, setialah pada channel pilihan Anda. Cukup satu tapi komit dan konsisten. Susah memang, karena saya pun sempat seperti itu. Tapi saya coba usahakan untuk bisa menjalani ini semua. 

Pengantar yang sangat panjang. Tapi ya sudahlah, saya bakal masuk ke inti tulisan ini sekarang.


Tuesday, January 30, 2018

Lagu Melayu Tak Selalu Mendayu

Tidak bisa tidak jika media massa punya pengaruh yang kuat perihal pencitraan di negeri ini. Produk apa pun itu, ketika ia mulai dipublikasikan dan hal yang sama diulang di kemudian hari bahkan berulang-ulang, maka akan muncul citra tersendiri. Citra ini lantas melekat pada produk yang menjadi mainstream di kalangan masyarakat. Lagu Malaysia adalah salah satu dari "korban" citra itu. 

Lagu-lagu dari negeri Jiran yang oleh masyarakt kita disebut lagu Melayu ini, menjadi identik dengan lagu yang mendayu-dayu. Lagu cengeng berbicara cinta: jatuh cinta, putus cinta dan hal-hal yang berhubungan dengan cinta. Mungkin publikasi gencar di media massa seperti televisi yang dominan menyuguhkan lagu-lagu mendayu musisi Malaysia menjadikan lagu Melayu tak lepas dari citra cengeng ini. Benarkah demikian?

Sunday, January 28, 2018

Karakter Orang Kota (Yang Katanya) Istimewa

Akhir-akhir ini aku sering memikirkan tentang karakter orang kota ini. Kota yang katanya istimewa ini. Hal itu sering aku lakukan khususnya ketika aku berada di mesjid dekat rumah setiap kali aku melaksanakan solat Magrib. Sehabis solat, sering aku bertanya, apakah karakter orang kotaku ini pada hakikatnya memang tak punya bakat untuk memiliki rasa kepedulian dan solidaritas yang erat, punya bakat untuk bekerja sama alih-alih berkata “masing-masing” saja?  
Tak hanya pengalaman hidup memperlihatkan bukti-buktinya, akan tetapi justru orang kotaku ini sendiri, tetanggaku sendiri yang berkata demikian. Dengan lantang dia berkata demikian ketika aku tengah memarahi anak-anak yang ributnya minta ampun ketika aku dan jamaah yang lain sedang melaksanakan solat Magrib. Aku marah bukan hanya anak-anak itu sudah menjadi sangat keterlaluan dengan tingkahnya dan seperti tak lagi menganggap saranku agar mereka segera masuk mesjid ketika iqomat sudah diserukan. Berulang-ulang kali sampai aku sendiri bosan jadinya. Aku marah karena tak ada jamaah lain yang “mengurus” dan mewanti-wanti anak-anak itu, tak terkecuali Ustaz bahkan RT sekalipun. Mereka punya mata dan telinga tapi seolah tak dipergunakannya, dan mengetahui kelakuan anak-anak itu mereka pun tak memedulikannya. Dengan entengnya mereka berkata jika “anak-anak memang seperti itu. Nakal, susah dikasih tahu.” Hanya itu yang mereka ucapkan, tak lebih.


Tuesday, January 23, 2018

My Clear Concise Illness (ADHD)

Sekarang semuanya telah menjadi jelas, mengapa aku tak pernah bisa menyelesaikan apa yang aku mulai. Apa pun itu, tak terkecuali dengan blog yang aku punya ini. Tak hanya kesulitan untuk bisa fokus, aku pun memang punya masalah dengan perilaku yang hiperaktif dan impulsif. Selain itu aku juga punya masalah dengan hubungan sosial walau tidak dengan pekerjaan yang kulakukan di tempat kerja. Hubungan sosial ini lebih kepada ketidakpercayaanku kepada orang-orang. Maksudku, memang ada manusia yang bisa dipercaya di muka bumi ini? Oleh sebab itu pula aku lebih suka menyendiri dan mengisolasi diri ketimbang berada di tempat-tempat yang ramai atau media apa pun yang memang hibuk dengan banyak orang. (Untuk itu, aku cukup bersyukur tak banyak orang berkomentar di blog-ku ini selain hanya sebatas mampir saja--satu alasan yang cukup melegakan pada akhirnya).

Benar jika aku ini orangnya energik, terlalu bersemangat, tak bisa diam, atau tepatnya, tak bisa membiarkan sesuatu yang memang dirasa salah dan buruk, spontan dan solutif terhadap sesuatu, bahkan kreatif dan seringkali kontemplatif. Akan tetapi, aku juga agresif, mudah gelisah, lose control, acapkali mengulang-ulang kata atau tindakan secara terus menerus, mudah bersemangat dan mudah bosan, mudah marah dan mudah senang (moody), gampang sekali berpindah-pindah kesukaan  atau ketertarikan, bahkan akhir-akhir ini seringkali lupa. Untuk yang terakhir ini, aku pikir aku ini demensia karena cirinya yang memang sama seperti bingung, hilang ingatan, dan disorentasi. Sayangnya dan tampaknya, aku mengidapnya juga. Jika benar, lengkap sudah penyakitku ini.


Wednesday, January 10, 2018

Indonesia Expectation of 2018 and I

The past is past. Time is new as the year 2018 gives everything new in my life: the way of thinking and see the future, the spirit within of hope and dreams. Except, of course, daily routines that has reinforced along the age. Not forget to mention the language. I mean language that I use to write this blog. Indonesian is at crisis stage in its usage. 

There's too much bad and negative language used by the people especially in the media social. Just check the comments. Most of them show hatred, justification and cynicism. Everyone turns to be a judge by him/herself together with his/her comments. However, the rest, the good ones, acts as the angel. The wise man and women. They keep remind the bad one to think positive with his/her attitude along their statements and comments. To me, "the artist" is not the artist him/herself or the information but people or netizens with their words.