Saturday, August 16, 2014

Bahasa Sebagai Indikator Peradaban Bangsa

Sebuah kalimat berbunyi: Jika seseorang ingin mengubah hidupnya, maka ia harus terlebih dulu mengubah bahasanya. Peribahasa Sunda berkata “Hade goreng ku basa.” Seyogianya, bahasa adalah representasi jati diri sesorang. Pada bahasalah seseorang memperlihatkan identitasnya. Ia menjadi tolak ukur keber-adaban manusia.
Kesadaran akan bahasa merupakan indkotrinasi. Ia dicapai bukan melulu lewat jalur akademik yang mengumbar begitu banyak teori. Bahkan ada kalanya teori-teori itu pun tidak bisa membendung bahasa sebagai makhluk yang terus berevoulsi—sesuatu yang berbanding lurus dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia itu sendiri.
Kesadaran pun bukan sesuatu yang final. Sejauh manusia dan bahasanya berkembang, sejauh itu pula kesadaran dibutuhkan. Permasalahannya sekarang adalah, apakah kesadaran itu berwarna positif atau negatif. Tentu, di tengah rongrongan multimedia yang gencar, selalu ada kesempatan bagi bahasa untuk menampakkan kelemahan-kelemahannya. Sayangnya, tidak ada filter atau penyaring mana dari wujud pikiran itu (bahasa) yang benar dan baik dengan yang sebaliknya. Di sinilah logika punya peran.


Sampai sekarang masih kita temukan dan dengar ungkapan-ungkapan yang tidak tepat. Kalimat seperti “pada kesempatan yang berbahagia ini,” “buku gudang ilmu,” dan beberapa istilah yang penjelasanya dirasa tidak tepat, semisal arti kata wajib dan sunah. Wajib diartikan sebagai sesuatu perkara yang harus dikerjakan jika tidak berdosa. Sedang sunah diartikan sesuatu perkara yang jika dikerjakan mendapat pahala, jika tidak dikerjakan tidak mengapa.
Untuk kasus terakhir, kebanyakan dari kita menerimanya begitu rupa (taken for granted). Alih-alih memikirkannya, kita justru mengamininya. Secara psikologis, apakah ada orang yang senang dengan ancaman, sebagaimana diperlihatkan pada penjelasan kata wajib. Dan, barangkali sebuah keniscayaan jika orang cenderung memilih yang ringan ketimbang yang berat. Maka, alih-alih dilaksanakan, ibadah sunah justru malah disepelekan.
Seandainya kita berkata jika wajib itu adalah perkara yang mesti dikerjakan. Sedang sunah, diartikan sebagai suatu perkara yang lebih baik untuk dikerjakan, barangkali orang akan taat aturan dan berlomba-lomba untuk melakukan perbaikan diri dan kebaikan.
Hal yang sama pun tampak pada kalimat “buku gudang ilmu.” Mungkinkah kalimat ini juga berefek pada kenyataan jika manusia Indonesia pada hakikatnya tidak suka membaca? Mengapa? Karena dari awal—entah siapa yang membuat pernyataan itu—buku diibaratkan sebuah gudang. Kita sendiri tahu seperti apa rupa gudang. Sebuah tempat yang menyimpan barang rongsokan, gelap, dan penuh sarang laba-laba. Mungkinkah seseorang suka dengan tempat semacam itu? Alih-alih membuat betah, mendengarnya saja kita sudah malas terlebih dulu. Lalu, bagaimana mungkin kita bisa suka membaca jika buku saja sudah dianggap gudang, bukan rumah, apalagi istana.
Kasus terakhir yang ditulis lebih dulu pun tak jauh beda. Frase “kesempatan yang berbahagia” jelas sudah salah secara tata bahasa. Hampir di setiap acara kita mendengarnya. Sayang seribu sayang, tidak ada yang memperbaikinya. Sebenarnya, kesempatankah yang berbahagia itu, atau manusia yang berada di dalam acara itu?
Begitu banyak istilah dan ungkapan yang kita dengar setiap hari. Itu semua tentu tidak sekedar berurusan dengan alat ucap, kebiasaan, dan komunikasi yang dianggap sambil lalu. Lebih dari itu, semua itu berhubungan dengan pikiran manusia. Pramoedya berkata jika adil itu harus dimulai dari pikiran. Dan bahas sebagai wujud pikiran, tentunya memperlihatkan hal itu. Sudahkah kita adil dengan pikiran kita? Dengan bahasa kita? Atau, kita lebih memilih untuk menerima segalanya tanpa ambil pusing, yang dengan kata lain, tidak terlalu memikirkan apakah pikiran kita dalam wujud bahasa itu sudah benar, baik, adil atau tidak?
Seandainya bahasa menjadi indikator tata hidup dan kelakuan (peradaban) manusia, barangkali kita tidak harus merasakan betapa kacaunya dunia ini. Dengan bahasa kita lebih suka menyembunyikan yang sebenarnya dan membenarkan yang tersembunyi. Manipulasi. Dan, barangkali kita pun tidak harus terus-terusan menjadi makhluk yang pandir karena ketidakpedulian kita dengan bahasa, termasuk pikiran yang menjadi sumbernya.
Jika benar bahasa adalah makhluk sebagaimana peribahasa Arab, entah makhluk macam apa sebenarnya yang tengah kita ciptakan. Bermata-satukah? Berlengan sepuluhkan? Berekorkah? Atau, mungkin berbulukah? Meski begitu tidak ada kata terlambat untuk berbenah dan memperbaiki diri. Hal itu tentu tergantung pada kemauan diri. Karena tidak mungkin kan kita terus-menerus bersikap tidak peduli; ketidakpedulian yang menjadi akar dari kebodohan diri dan bangsa ini?
Seseorang yang baik dan benar hanya menerima, melakukan dan memberi yang baik dan benar pula. Ibarat EYD (Ejaan Yang Disempurnakan dan bukan EYD yang lain (Ejaan Yang Di-alay-kan). Mereka yang menerima yang baik akan melakukan dan memberi yang baik pula. Begitu pula bahasa. Bahasa apa yang kita terima dan pikirkan—sekali lagi, pikirkan—tentu  akan berpengaruh juga pada apa yang kita ucapkan nantinya. Hingga pada akhirnya, tanpa harus ditunggu, kita akan merasakan sendiri perubahan pada diri kita sendiri. Sebuah hasil dari proses pribadi yang kritis dan tertata sebagaimana bahasa yang bersumber dari sebuah keteraturan pikiran.
Karena bagaimananpun, bahasa tetap menjadi identitas dan jati diri seseorang, yang pada akhirnya terakumulasi sebagai jati diri bangsa pula. Tinggal kita sendiri yang menentukan, bakal seperti apa kita membentuk identitas dan jati diri itu, yang sadar dan pedulikah, atau yang masa bodo sajakah? Andalah yang menentukan! [Fim Anugrah/“Saswaloka”]

No comments:

Post a Comment