Monday, October 6, 2014

Bukan (Kritik) Sastra


Tidak ada yang namanya sastra lingkungan, sastra virtual, atau bahkan sastra Islami seperti halnya yang sempat di gembor-gemborkan dulu. Segala penamaan apa pun atas sastra di negeri ini, tak lebih dari sekadar intermezo, sebuah euforia sesaat di tengah kejenuhan alam sastra yang terlebih untuk menemukan bentuknya, untuk mengembangkannya saja tampak sangat tak kuasa.
Meski begitu, tidak mungkin kita memutar arah jarum jam, sekalipun pelan dan tetap berjalan meski tak pasti seperti apa nasibnya. Misi besar membumikan sastra pun seakan tidak lagi menjadi tujuan. Percis sebuah permainan yang di tengah-tengah permainan dilupakan oleh para pemainnya. Setiap orang pun tampak iseng sendiri, berjalan masing-masing untuk memenangkan bahkan kalau perlu mengalahkan pemain yang lain, dan lupa dengan kebersamaannya.
Blunder, barangkali itulah istilah yang tepat untuk mendeskripsikan kondisi di atas. Kondisi inilah yang menyebabkan mengapa sastra kita hanya berkutat di wilayah itu-itu saja.Terlebih melahirkan sesuatu yang baru yang bisa menambah warna sastra, menerimanya pun tak sedikit mata kiri yang didapat. Bahkan, tak sedikit ketakpedulian terhadapnya terbit meski tidak diperlihatkan secara terang-terangan. Untukmu sastramu, untukku sastraku! Jadi, alih-alih melahirkan yang baru, mengapresiasi pun masih saja jadi kendala.
Sebut saja sastra Islami atau sastra religius atau apa pun namanya. Secara praktis sastra yang satu ini patut diacungkan jempol. Terlepas dari persoalan konsep dasarnya, sastra ini tak hanya berani memberi warna atas stagnansi dunia sastra, tapi juga memiliki sifat solutif terhadap kehidupan manusia di tengah kepelikan moralitas bangsa yang terjadi sekarang ini.
Akan tetapi, belumpun tujuan sastra ini dicapai, tiba-tiba kritikan terhadapnya sudah lebih cepat disimpulkan. Tak sedikit cercaan yang menyuratkan betapa sastra ini menjadi sangat banal karena sifat normatif yang dikandungnya. Karya-karyanya seakan menghukum para pembacanya dengan ayat-ayat Tuhan. Karya sastra yang hitam dan putih. Oleh karenanya, tak ada kebebasan bersemayam di dalamnya, seperti tak bebasnya para pembacanya untuk memilih dan menentukan hidupnya sendiri. Para pembaca seakan tidak bisa leluas menghirup nafas karena sebelum karya dibaca, mereka sudah tahu seperti apa ujungnya.
Nama-nama “nenek moyang”  pun menjadi alibi yang disebut-sebut, yang dengan intensitasnya mencoba mencari jejak yang setidaknya bisa mendukung keberadaan sastra Islami ini. Pengadilan pun berlangsung di setiap lembar media massa. Banyak yang pro, tapi tak sedikit yang kontra. Tapi yang muncul kemudian bukanlah solusi, melainkan debat kusir yang tak jelas juntrungannya. Sebagian merasa dirinya benar dan sebagian lagi menyalahkannya. Nonsense, begitulah kesimpulannya.
Kenyataan yang ada sekarang, justru banyak para penulis yang lahir dari kran berlabel sastra Islami ini memperlihatkan kualitas karya-karyanya. Mereka tumbuh subur dan berkembang. Malah sebuah prestasi ketika kran-kran itu tak hanya mengocor di negeri ini tapi di luar sana. Para pemainnya tak hanya pandai ngomong, tapi juga membuktikan jika karya-karyanya tak sepicis yang orang-orang pikirkan. Air pun mengalir tak peduli. Panta rei. Setelah kritikan-kritikan yang ditujukan terhadapnya hilang, sastra ini pun melenggang. Sayang, para pemainnya berjalan sendiri-sendiri dan dengan tidak bertanggung jawab, meninggalkan kebisingan dari apa yang dulu diperjuangkannya.
Kiranya hal ini pun sempat dirasakan oleh sastra yang menyebut dirinya cyber, atau virtual. Seterbatas apa pun media yang digunakan, sastra ini sempat pula memberi warna sastra kita. Perkembangan sastra ini lebih cepat dari pada sastra yang ada media lain. Setiap hari setiap waktu karya-karya, entah itu prosa, puisi, atau kritik, bermunculan di laman-lamannya. Para penulis pun jadi tak hanya sering menulis dan mengirimkannya pada situs-situs sastra, tapi secara sadar mereka belajar teknologi. Bergabung di sebuah milis, menjadi anggota di beberapa situs sastra, dan gabung di forum-forum diskusi yang bisa meningkatkan apresiasi terhadap sastra. Inilah kualitas hidup yang mestinya dimiliki oleh para penulis, para sastrawan.
Akan tetapi, lagi-lagi, tak juga sedikit orang yang tidak suka dengan prestasi yang dicapai oleh situs-situs sastra ini. Entah apa karena orang-orang itu merasa bahwa dirinya tak bisa bersastra dan memperlihatkan karya-karyanya, atau merasa bahwa situs-situs itu menjadi ancaman karena merasa dirinya tak dianggap? Kita tidak tahu. Namun pada akhirnya, pembajakan (hacking) pun terjadi. Situs-situs sastra yang kemarin ramai, dalam sekejap mata tiba-tiba sepi. Semua orang gigit jari, kecuali mereka yang telah dengan sukses menghentikan satu lagi warna sastra yang sebenarnya bisa turut mengembangkan sastra di negeri ini.
Tapi seperti halnya passion atau spirit, tak ada satu pun yang bisa mencegah sastra untuk terus berkembang. Tak apa dan tak pula siapa. Meski beberapa situs-situs sastra telah mangkat, jejaring sosial, blog, dan situs-situs gratis selanjutnya banyak bermunculan. Yang mengagetkan adalah, kuantitasnya yang melonjak dari pada sebelumnya. Dari mulai penggiat sastra hingga orang yang baru terjun di dunia sastra, tumpah ruah memposting karya-karyanya. Tak perlulah sungguh kita menilai sejauhmana kualitasnya, dengan kuantitasnya yang banyak saja kita sudah bersyukur. Ternyata, sampai sekarang masih banyak orang yang suka dengan sastra. Itu yang mestinya terlebih dulu diamini. Sastra virtual pun memiliki perannya sendiri selain sastra aktual yang masih terus dengan lurus berjalan dan tampak di media massa (surat kabar), bahkan lebih instens lagi. Terkait sastra bergenre kelamin, kita sudah tahu sendiri seperti apa kondisinya sekarang.
Meski begitu, tak berarti tak ada penyakit di tubuh sastra kita ini. Penyakit yang mengganggu pertumbuh-kembangan sastra sampai-sampai susah untuk beranjak dewasa, sebagaimana oknum para pemain di dalamnya. Tapi seperti halnya sastra di dunia barat atau di negeri seberang sana, sastra tumbuh dengan suburnya. Para pemainnya bebas berekspresi dan berpendapat, tentunya, dengan batas-batas etika. Mereka bebas menamai terserah apa nama sastranya. Bahkan genre sastra pun diklasifikasikan begitu rupa, semisal puisi atau cerpen tentang binatang, tentang persahabatan, tentang alam, dan lain sebagainya.
Mereka tak segan-segan membuat nama atau istilah baru untuk karya sastra yang memang belum ada duanya. Maka, tak aneh jika sastra di sana benar-benar memiliki kontribusi besar terhadap bahasanya. Jadi, bukan tidak mungkin mengapa bahasa kita tidak pernah berkembang karena sastra sebagai salah satu bentuk pengejawantahannya pun belum bisa legowo menerima segala bentuk perbedaan. Selain itu, para sastrawan di sana pun tetap belajar. Sastra tak hanya melulu soal kata, genre, diskusi, membaca, menulis, koran, dan lain sebagainya. Kata kunci yang hanya berputar-putar di situ-situ saja.
Tidakkah menarik seeandainya kita mendengar seminar atau workshop berjudul, misalnya, “Sastra di Tengah Arus Informasi dan Teknologi,” atau “Melejitkan Karya Sastra dengan Marketing yang Sempurna,” atau ”Pelatihan Penulisan Sastra Berbasis SEO, ” atau “Bikin Launcing Jadi Kenangan: Life Skill Event Orginazer Khusus Penulis,” “Menjadi Penulis yang Kaffah,” dan lain sebagainya. Tidakkah menarik seandainya sebuah peluncuran mobil keluaran anyar dibuka dengan pembacaan puisi, seperti di dataran Eropa sana?”
Karya sastra di luar sana bisa berkembang seperti halnya para pemainnya karena mereka bisa menyembuhkan penyakitnya bersama-sama. Maksudnya, perbedaan pendapat itu biasa, malah harus ada. Jika tidak, tidak ada dinamika, tidak ada apresiasi yang sebenarnya, meski tidak berarti juga bisa dengan seenaknya berbicara, apalagi hanya bisa merendahkan karya terlebih penulisnya. Sebuah karya baru muncul, bukannya ditanggapi dengan bijak, ini malah disitir begitu rupa. Habis suara kita berkoar-koar soal demokrasi. Kenyataannya, apakah benar demokrasi sudah berjalan di wilaya sastra kita? Disebut normatiflah, disebut tidak efektiflah, disebut pornolah, dan lah-lah lainnya.
Salah satu akibatnya, kritik sastra pun jadi korban. Para penulis jadi takut menulis kritik karena pasti bakal ada yang “membantainya.” Sekalinya ada yang “membantai,” yang muncul malah jadi debat kusir, atau perang urat syaraf. Benarkah orang bisa benar-benar menerima kritik, terlebih jika kritiknya pedas ? Sekali-sekali tidak! Setidaknya kenyataan memperlihatkan, jikapun ada kritik sastra yang dimuat di media, kritik itu tak lantas benar-benar diperhatikan. Ada sastrawan yang membahas soal sastra dan lingkungan, soal sastra dan kelamin, bahkan ada juga soal ide memperiodesasikan sastra yang ada abad 20 ini. Tak ada tanggapan, karena, ya itu tadi: aku ya aku, kau ya kau, dan ini tidaklah sehat. Yang tampak bukanlah dinamika sastra apalgi perkembangan sastra, melainkan ketidakpedulian. Intinya, setiap orang berjalan sendiri-sendiri, dengan karya sastranya sendiri. Padahal, bukankah kata yang menyatukan “bahasa” kita, sastra kita?
Tapi selain itu, entah karena merasa memiliki kesamaan yang benar-benar sama, pada akhirnya beberapa di antara mereka bergabung dengan warna sastra yang dimilikinya sendiri. Lama kelamaan, ketika mereka sudah subur bersama kaumnya yang sevisi dan semisi itu, salah kaprah pun muncul. Yang lebih aneh, orang-orang di luarnya yang justru malah ikut-ikutan membenarkan apa yang mereka lakukan. Apa mungkin kita tidak pernah kita belajar dari sejarah, dari apa yang nenek moyang kita lakukan ihwal ini? Bagaimanapun, ketika sastra diinstitusikan, maka yang muncul bukanlah keberterimaan dalam keberagaman sesungguhnya, akan tetapi kepentingan. Dan ketika kepentingan sudah sangat akut untuk ditunaikan, maka yang tersisa adalah suara minoritas. Pengakuan pada sebagian dan penyisihan pada sebagian yang lainnya. Dan lagipula, siapa juga mengultuskan bahwa institusi sastra yang satu lebih bagus dan berkualitas ketimbang institusi sastra yang lainnya?
Pertanyaan pun muncul: Benarkah apresiasi yang terhampar di tubuh sastra kita? Benarkah penghargaan atas perbedaan pendapat berlangsung di sini? Dengan kata lain, benarkah demokrasi sudah ditegakan di dunia sastra di negeri ini? Bukannya jawaban yang didapat melainkan kebingungan dan kegalauan. Tujuan yang berdiri di ujung sana menunggu kita semua.  
Meratapi keadaan seperti ini, kita pun memandang lagi wajah para sastrawan kita yang sudah tidur dalam kubur. Kita bernostalgia dengan mereka sampai akhirnya inspirasi pun datang. Sekali lagi, kita menyebut nama mereka di setiap tulisan kita, seakan tak ada habisnya. Kita iyakan pendapatnya, kita ikuti tingkah lakunya. Dengan kata lain, pikiran kita ternyata bukan pikiran kita sebenarnya, tapi pikiran para nenek moyang kita itu. Mau sampai kapan kita menyebut-nyebut terus mereka, mengutip, mengiyakan, dan menghambakannya? Kapankah kita bisa menyebut nama kita sendiri di dunia sastra ini, sekarang?
Selama pikiran ini tidak bebas alias terpenjara dalam alam pikiran lama, maka selama itu pula sastra kita hanya sebatas celetukan-celetukan iseng di tengah hingar bingar semaraknya dunia. Sastra musiman. Sampai kapanpun, sastra kita akan tetap seperti ini jika pikiran yang ada tak jauh bedanya dengan yang sebelumnya. Adalah adat dan tradisi yang menghambat segalanya, juga taklid buta atas penilaian yang dilakukan dari satu sudut pandang saja. Mungkinka alam sastra kita bisa berkembang jika pikirannya saja masih sakit? Tidaklah mungkin jika kita harus kembali ke titik awal, menerjemahkan apa sastra kita sesungguhnya, terlebih jika kita harus menerjemahkan kata “sastra” itu sendiri. Itu namanya buang-buang waktu dan percuma.
Jika sudah seperti itu, hanya ada satu kata: Terserah! (Fim Anugrah/”Saswaloka”)

No comments:

Post a Comment