Monday, July 25, 2011

Dhandhaka

Matahari di Kota Rimba

Tiada penyair yang berani tegak
menantang matahari di kota ini
Puisi hanya pohon dalam rimba
Tercekat kiamat tiap pagi tiba

Aku pun lari susuri pematang hari
mengukur waktu menuju alamat senja
Kucari penyair, sesepuh, bahkan dukun  
Kudapati tubuh mereka tergelepar
dan bukan melamun

Di sudut kota depan sungai darah
kutemui Ki Buyut menikahi pohon
setelah kecewa pada keluarga
yang dibelahnya dengan curik
lantas jadi sejarah

Di sudut yang lain kulihat orang-orang
pecahkan sendiri bola matanya
Pikul di bahunya kayu yang bakar tengkuknya
dan siang pun telah menjadi sangat akrab
digarang sela ketiaknya

Tapi, tiada penyair yang berani tegak
menantang matahari di kota ini
Puisi hanya pohon dalam rimba
dan orang-orang tak lagi mengenal senja

Subang, Mei 2011

Curik=  semacam golok pendek

Subang

Di sini, air masih mengalir, Bunda
dan aku masih bisa menanam apa saja
Pohon surga, seperti yang sempat Kau tanam
di sana di pangkal Waktu segala rindu

Air masih berciuman dengan batu
sedang kupu-kupu telah jadi kekasih
di udara, tempat aku bertemu
dan bersatu dalam bahtera selasih

Subang, apa yang bisa kautawarkan padaku?
Ketika pohon dan baja tak lagi beda
berdiri di atas tanahmu yang basah
memeram resah masa lalu

Tanah yang gelisah, tanah yang tabah
terus saja mengantarkan pesan muara
Seperti muara darah yang bedah isi dada
samudera genang mata singa

Bunda, ajari aku mengusap dada
menanam pohon di setiap lubang tubuhku, dan
semoga, adam tak lagi memetik buahnya itu

Subang, Mei 2011

Belah Sanak*

Bukan tangan yang bicara tentang kota ini
Tapi curik yang berkelebat
menebas leher saudara sendiri:
Adik kandung yang membuat istri melendung

Lebih baik saya belah sanak
dari pada hidup menanggung malu!
begitu Ki Buyut Perahu berkata
pada istrinya yang kedua

Lalu hidup pun ngalir ke arah utara
seperti air, seperti pasir
Seperti bau anyir yang tebar
di antara mulut-mulut buaya

Abad demi abad menepi pada teratak tua
pada pohon-pohon keramat yang terus bercerita
tentang betapa indahnya orang-orang
duduk bersila membentuk lingkaran surga
seraya melahap lauk pauk yang hanya seadanya

Subang, Mei 2011

*) Asal muasal Blanakan, Subang
Melendung (Sunda) = hamil

Suatu Pagi

Seorang Bapak berkata:
Saya tidak tahu ada koran di hari Minggu
Seketika aku ingin menjadi manusia purba
Atau mungkin monyet. Apalah bedanya?
Kecuali soal kebijaksanaan saja

Selamat Pagi Subang!
Kota Larang penuh singa dan macan
menyambut setiap musafir
yang datang kemari di depan gerbang
sambil berpesan: hati-hati di hutan!

Jalan panjang menyampaikan langkahku
di persimpangan ingatan tempo doeloe
Satu jam bukan waktu yang sebentar
untuk memburu kata-kata cahaya
di halaman basah tubuhmu

Tubuhku jingkrak dalam ibingan
di atas singa yang mengabadikan kelelakianku
Dulu, ketika wajah penuh bedak dan gincu
berpose di sisi guci tempat amplop dialamatkan

Selamat pagi Subang, Singa dan Koran!
Sejarah apa lagi yang bakal kau tanam
dalam tubuh miang menahan auman cuaca?
Semoga cakarmu berbuah bahasa penuh bulu

Subang, Mei 2011

Ibingan = tarian



Aphrodite
                -ysu

Masih nama yang sama
yang kautemukan di sini
Nama taman dan halaman
pemilik cinta dan kecantikan

Venus, begitu kau menyebutnya

Mengenalnya aku seperti mengingatmu
di setiap gang dalam isyarat matahari
seraya menggoda dengan kata yang sama:
“Jangan lupa menulis puisi!”

Masihkah kau memburu cahaya?
Belajar pada petani cara merawat bumi
sedang malamku terusik oleh anai-anai
dan seorang tua yang mencipta kolam
di halaman rumahku

Ingin aku mengajakmu ke sini
Memintamu mencium bau tanah
Bayi dibakar dalam seribu tangis akar
adalah darah yang barangkali
kau tak mengenalnya dengan tabah

Sebagai ibu puisi kau tahu
ia tak cukup setia pada bumi
selain jadi penghamba rasa
tulang rusuk yang mulai busuk

Siang makin renta
aku telah berteman gelap kata
dan kau malah memuja air mata

Subang, Mei 2011

Tersebutlah ‘S’

Seseorang dengan baju putih bercerita
jika orang-orang di tempat itu menjual tubuhnya
Keningku mendung mengandung awan murung
Teringat kawan belum makan siang

Aku makan nasi dengan dada debar
penuh tarian Medusa Si Ratu Ular
Bukan dengan Poseideon ia bermasalah
karena Pegasus bukan fitnah
meski dicipta dari darah

Tanganku gemetar menyorong bulatan nasi
Kepala hibuk terisi kata-kata: Mengapa
Keburukan selalu dimulai dengan huruf ‘S’?
Sair, sajang, sakau, samun, sampar, siluman
yang berhulu pada asal sombong dan hina:
Setan!

Tempat itu tak ubahnya satu wilayah di Parahyangan
yang pintu rumahnya tak pernah tutup
Siang malam rambut terurai menyambut Om
Syahwat sambil serong di selangkangan sundal

Aku sano mengais-ngais dasar piring dan kutemukan
syukur, samapta, sabar, santri, syahadat, sujud
semoga sampai surga tempat kukembalikan semua kata
dan dapat diterima tanpa harus bertanya

Athena, mengapa dewa mengutuk Medusa
dan kau membantu Perseus membunuhnya
hanya karena takdir yang belum terbaca?

Kuselesaikan makanku dan berlalu sambil berkata:
“Mereka tak menjual tubuhnya; tubuhlah
yang terpaksa menjual hidupnya yang sekarat.”

Subang, Mei 2011

Akulah pohon

Akulah pohon yang menjagamu
hingga senja tiba
Yang berdiri bersama rumput
perdu yang membukit di balik kabut

Waktu telah mengajariku
bagaimana menadi mulut, telinga
juga mata tanpa harus berkata-kata:
Tentang surga tempat aku bermula
Juga polah anak ingusan
yang lupa dengan hari kelahirannya

Tapi akulah pohon
Yang senantiasa menunggumu
di balik waktu
untuk datang dan duduk menjamuku
Hingga kita bisa bercengkrama
sebelum esok hari benar-benar tiada

Subang, Sep 2010

No comments:

Post a Comment