Tuesday, January 22, 2013

Persoalan Teknik Belajar Bahasa


Kita mungkin pernah bertanya: Bagaimana cara belajar bahasa yang baik itu? Apa harus kita menghapal abjad dari bahasa yang sedang dipelajari? Apa harus mempelajari tata bahasa dan mengenal kosa kata terlebih dahulu? Atau, apa langsung pada percakapan saja? Dengan kata lain, teknik apa yang efektif dalam belajar bahasa?

Pada hakikatnya, tidak ada teknik belajar bahasa yang mutlak efektif—untuk mengatakannya tidak efektif sama sekali. Persoalan teknik sepenuhnya bergantung pada kebutuhan pembelajar dalam mempelajari bahasa yang sedang dipelajarinya.

Dalam ruang lingkup formal (institusi) khususnya, kebanyakan pembelajar bahasa barangkali terlebih dahulu (baca: mau tidak mau) harus mengenal abjad dari bahasa yang sedang dipelajari. Misal, anak sekolah yang menghapal abjad ABC sampai Z dalam belajar bahasa Inggris, maupun bahasa yang lain seperti Prancis, Jerman atau Rusia. Sayangnya, hal ini tidak berlaku jika si pembelajar mempelajari bahasa, semisal bahasa Jepang, bahasa Arab, atau Sanskerta. Karena, jelas ketiga bahasa tersebut berbeda dengan bahasa latin yang abjadnya dimulai dari A dan diakhiri dengan Z.


Teknik seperti ini memungkinkan si pembelajar mendapatkan keempat kompetensi. Artinya, tidak hanya si pembelajar mampu mendengarkan dan berbicara, akan tetapi dia juga bisa membaca dan menulis. Selain itu, level kompetensi pun didapatkan secara sistematis dan hirarkis sesuai latar belakang dan tingkat pemahaman. Dengan cara ini, si pembelajar benar-benar mempelajari bahasa selangkah demi selangkah sehingga pada akhirnya dia menguasai bahasa yang dipelajarinya itu.

Namun demikian, dari segi kegunaan, cara seperti ini dirasa kurang efektif dan efisien. Terlebih bagi pembelajar yang belajar bahasa semata untuk kepentingan praktis. Semisal, seseorang yang ingin pergi ke Arab atau ke Korea sebagai TKI. Dalam keadaan seperti ini, belajar bahasa tidak lebih dari sekadar kepentingan untuk bisa berkomunikasi dan berinteraksi menggunakan ungkapan-ungkapan sehari-hari. Untuk kasus seperti ini, mempelajari abjad dan ketata-bahasaan menjadi kurang penting bagi si pembelajar.

Barangkali ada baiknya bagi kita untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan teknik. Dalam hal ini teknik belajar bahasa. Menurut Anthony (via Brown, 2001) teknik dapat diartikan sebagai sekumpulan aktivitas yang termanisfestasi dalam ruang kelas secara spesifik. Artinya, kegiatan apa saja yang terjadi dalam “ruang kelas” selama pembelajaran bahasa berlangsung. Sejatinya teknik menuntut bentuk konkret aktivitas kegiatan belajar mengajar guna tercapainya tujuan pembelajaran. Dalam praktiknya, teknik bisa tampak dari tugas, latihan, prosedur, strategi dan kegiatan secara sistematis, yang dapat diamati secara langsung.

Keberhasilan teknik tidak lepas dari metode yang dipakai, tentunya dengan berpegangan pada rancangan belajar dan pendekatan yang digunakannya. Dalam dunia pedagogik, teknik biasanya tertuang dalam bentuk rencana proses pembelajaran dengan berpatokan pada: (1) tujuan pembelajaran khusus dan umum; (2) model silabus; (3) jenis aktivitas belajar mengajar; (4) peran pembelajar; (5) peran pengajar; dan (6) peran bahan-bahan berbasis instruksi (Richards & Rodgers, 1986).

Permasalahannya adalah, bagaimana kita merancang dan mengimplementasikan sebuah teknik di dalam “ruang kelas”. Untuk ini, setidaknya ada dua latar belakang yang menjadi patokan. Pertama, pengajaran berprinsip (principled teaching). Dikarenakan sebuah pengajaran diambil dan harus memberi umpan balik atas prinsip belajar yang membentuk kerangka terhadap pendekatan belajar mengajar, maka pendekatan yang komprehensif harus bisa memfasilitasi proses KBM. Kedua adalah konteks belajar. Hal ini berhubungan dengan siapa pembelajar bahasa, dalam artian: berapa usia, kecakapan, tujuan belajar dan faktor sosiopolitik yang berpengaruh pada kesuksesan di akhir pembelajaran (Brown, 2001).

Dari penjelasan di atas, jelas jika teknik mempertimbangkan pendekatan dan metode serta konteks belajar yang sifatnya pilihan. Dengan demikian, ada produk untuk sebuah pilihan yang harus dibuat oleh pengajar sebagaimana halnya si pembelajar membuat orientasi atas pembelajarannya. Jadi, aktivitas apa pun seperti halnya bermain peran (role-play), latihan, game, berpasangan atau berkelompok, tetap harus berpegangan pada dua aspek itu. Sehingga, sekalipun empat kompetensi dasar (mendengar-berbicara-membaca-menulis) merupakan sebuah kotak persegi yang tidak bisa dipisahkan; pada akhirnya, kita harus memilih sisi mana yang harus dijadikan tumpuan. Dengan fakta inilah ruang, waktu dan media menjadi semacam PR yang cukup signifikan untuk dipertimbangkan.

Setidaknya ada tiga konsep yang bisa digunakan untuk menerjemahkan teknik dalam bentuk aktivitas di ruang kelas (Brown, 2001). Satu, dari manipulasi ke komunikasi. Manipulasi artinya sebuah teknik secara total dikontrol oleh si pengajar dengan tujuan mendapatkan tanggapan dari si pembelajar. Latihan pengulangan, substitusi berisyarat, dikte dan membaca lantang adalah beberapa teknik yang bisa diaplikasikan. Sedang untuk komunikasinya, contoh seperti membaca cerita, curah gagasan (brainstorming), bermain peran, games, dsb, bisa digunakan. Dalam hal ini, biasanya si pengajar tidak terlalu berperan mengingat kreativitas si pembelajar dijadikan dominasi pembelajaran. Si pembelajar bebas dan terbuka untuk memberi tanggapan terhadap materi yang diberikan pengajar, bahkan bisa berinteraksi dengan pembelajar yang lain. Meski demikian, kontrol pengajar tetap harus ada.

Kedua adalah latihan-latihan yang bersifat mekanis dan  bermakna. Tidak jauh beda dengan yang pertama, konsep yang kedua ini menekankan latihan dan latihan dalam pembelajarannya. Pengulangan dan substitusi dilakukan dengan tetap mempertimbangkan masalah ketatabahasaan. Si pengajar bisa membuat suatu kalimat dan meminta si pembelajar mengulanginya dan mengubah salah satu aspek kebahasaannya. Semisal:

Guru: Saya pergi ke pasar    Murid: Sayapergi ke pasar.
Guru: Bank                             Murid: Saya pergi ke Bank.
Guru: Rumah sakit                Murid: Saya pergi ke rumah sakit.

Atau

Guru: Saya pergi ke pasar    Murid: Sayapergi ke pasar.
Guru: Bank                             Murid: Saya pergi ke bank.
Guru: Ibu                                Murid: Ibu pergi ke bank.
Guru: Pagi hari                       Murid: Ibu pergi ke bank pag hari.
Guru: Akan                             Murid: Ibu akan pergi ke bank pag hari.

Dengan cara ini, si pembelajar diharapkan bisa menyelesaikan sebuah kasus dengan tepat. Dan tidak harus mereka mengerti apa artinya. Terlebih, cara seperti ini memang tidak berhubungan dengan realitas. Inilah yang dimaksud dengan latihan mekanis. Berbeda dengan latihan komunikatif. Dalam tahapan ini, si pembelajar sudah dikenalkan menggunakan bahasa secara pragmatis. Maksudnya adalah, realitas sudah dibawa masuk ke dalam materi belajar yang tersusun dalam bentuk kalimat. Satu hal yang ditekankan dalam konsep ini adalah masalah ketatabahasaan (stuktur, fonologi, dll). 

Konsep terakhir adalah teknik kontrol atau bebas. Konsep ini tidak menyiratkan bahwa si pengajar bisa secara penuh mengendalikan atau membebaskan pengajaran. Akan tetapi, seberapa luas jangkauan si pengajar melakukan aktivitas pengajarannya. Di bawah adalah generalisasinya:

Terkendali                                                   Bebas
Berpusat pada si pengajar                            Berpusat pada si pembelajar
Manipulatif                                                     Komunikatif
Terstruktur                                                   Terbuka
Tanggapan pembelajar terprediksi            Tanggapan tidak terprediksi
Tujuan terencana                                          Tujuan bersifat negosiasi
Kurikulum bersifat baku                              Kurikulum bersifat koperatif                                   

Dari data di atas, tidak berarti bahwa setiap yang terkendali itu bersifat manipulative atas setiap yang komunikatif itu bersifat bebas. Ini hanya masalah dominasi saja. Contohnya saja latihan bersifat kuasi-komunikatif, tetap saja bersifat terkendali dengan si pengajar menyiapkan soal dan si pembelajar menjawab soal tersebut dalam waktu yang sudah ditentukan. Meski demikian, ada situasi dimana si pembelajar bisa mengajukan pendapat atau tanggapannya secara bebas dan terbuka. Inilah yang dimaksud dengan komunikatif. Jadi, tidak benar jika kedua generalisasi itu bersifat hitam atau putih seutuhnya. Dengan kata lain, semuanya bersifat tentatif, tergantung situasi dan kondisi dimana si pengajar dan si pembelajar melakukan kegiatan belajar mengajarnya. (Fim Anugrah/”Saswaloka”) 

(Tulisan ini dimuat juga di http://belutbesar.blogspot.com/ dengan penulis yang sama.)

No comments:

Post a Comment