Monday, January 21, 2013

Tentang Kamar Mandi

Apa yang kita tahu soal kamar mandi atau toilet atau hamam? Tempat buang ari besar? Tempat buang ari kecil? Barangkali pengetahuan kita tidak lebih dari itu. Padahal, kamar mandi lebih dari sekedar kamar yang seringkali menjadi penampung bagi kita membuang “beban” hidup.

Tidak ada yang tahu jika kamar mandi bisa membuat seorang Oneng (Rieke Diah Pitaloka) menjadi seorang penyair lewat antologi puisinya yang berjudul Renungan Kloset. Bahkan penulis sendiri pernah merasakan bagaimana kamar mandi menjadi semacam “gua hira” dimana inspirasi, ide-ide dan pemikiran bermunculan di kepala.
Di dalam kamar mandi, seseorang punya dunianya sendiri, dan tidak hanya “dunia” aktivitas yang biasa kita lakukan. Beberapa orang mungkin menjadikan kamar mandi tempat biasa dimana aktivitas di dalamnya adalah privacy. Aktivitas personal dimana orang yang berada di luar tidak boleh mengetahui apa yang kita lakukan. Kalau perlu kita yang sedang di kamar mandi pun tidak boleh mengetahuinya. Buktinya? Bukankah kita sering membuka kran keras-keras agar aktivitas yang tengah kita lakukan tidak diketahui orang lain? Mungkin ada rasa malu. Tapi kenapa juga harus malu, lha wong kita memang melakukan aktivitas yang sudah pada tempatnya kok?
Mengapa kita tidak malu jika berbuat salah pada orang lain? Mengapa kita tidak malu ketika melanggar peraturan dan tata terbit di sekolah? Mengapa di ruang publik kita tidak malu dengan sikap dan perilaku kita yang bahkan bisa jadi merugikan orang lain? Anehnya, mengapa justru di kamar mandi kita masih punya malu—sesuatu yang sebenarnya tidak harus kita malukan. Setelah kita di kamar mandi, ritual pun dimulai.
Sebagian orang mungkin hanya sebatas membuang “beban” hidup. Di antara mereka ada yang bernyanyi—mungkin mengekspresikan diri untuk menjadi seorang penyanyi yang belum kesampaian. Ada juga yang menangis, entah karena tidak bisa makan atau karena diputuskan oleh pacar. Dan banyak lagi hal yang semacam ini. Sayangya, tidak untuk sebagiannya lagi. Mereka menjadikan kamar mandi sebagai tempat merenung: memikirkan diri sendiri, memikirkan masalah, bahkan memikirkan masa depan. Terlebih, jika kita punya waktu banyak di kamar mandi. Bagi mereka, secara tidak sadar, kamar mandi menjadi tempat untuk bertanya pada diri sendiri. Dengan kata lain tempat berkontemplasi. Pada saat itulah orang-orang semacam ini memiliki dunianya sendiri.
Layaknya beres mandi di kamar mandi, mereka pun keluar dan merasa ada sesuatu yang didapat, entah jawaban atau mungkin semangat. Satu yang pasti, kamar mandi telah menjadi semacan “penyelamat” dirinya untuk keluar dari “gua hira” untuk selanjutnya melangkah dan menjalani dan menghidupi hidup. Sayangnya, rasa terima kasih kita atas apa yang sudah di dapat tidak bebanding lurus dengan apa yang kamar mandi sudah berikan pada kita. Kenyataannya, kamar mandi lebih banyak menjadi tempat jorok, tidak bersih dan bau pesing. Padahal, kamar mandi itu sudah begitu baik “membersihkan” diri kita, dari “beban” hidup yang ditahannya, dan dari segala unek-unek yang ditumpahkannya lewat air yang mengalir dari mulut kran. Barangkali ini saatnya bagi kita untuk mengungkapkan rasa terima kasih itu. Caranya, perlakukan kamar mandi itu sebagaimana dia memperlakukan kita: membersihkannya setelah kita menggunakannya. (Fim Anugrah/"Saswaloka")

Kampag, 22 Januari 2013

No comments:

Post a Comment

Post a Comment