Monday, February 27, 2012

Mata Kuliah Sastra Mestinya Produktif

"BERDUA SAJA" by FA
Dalam dunia pendidikan, inovasi pengajaran seakan tidak pernah ada habisnya. Ia senantiasa bermetamorfosa dalam bentuk-bentuk yang ingin sekali selalu memperhatikan insan pembelajar dan output yang nantinya akan dicapai. Terkait dengan mata kuliah sastra, dalam hal ini saya bercoba untuk menyibak realita yang ada seputar pembelajaran yang saya rasakan sendiri ketika menekuni mata kuliah sastra (Inggris) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Permasalahan yang muncul adalah, tidak berhasilnya output yang ingin diharapkan dalam mengontrak mata kuliah sastra ini. Maksud saya, bahwa mata kuliah sastra yang harusnya dapat membuahkan bukti konkret bagi mahasiswa setelah menyelesaikan kontrak SKS-nya, minimal mahasiswa menjadi suka atau menggandrungi sastra dengan menciptakan sendiri karya sastra semisal prosa atau puisi atau bahkan tulisan-tulisan lainnya, malah dijustifikasi gagal sebagai sebuah pengajaran.
Sebagai mahasiswa yang memilih Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, saya pun masih mempertanyakan: Apa tujuan saya mendapatkan mata kuliah sastra? Jika jawabannya: Semenjak Anda adalah calon guru; maka bagaimanapun, Anda harus tahu apa itu sastra dan apa pun yang berhubungan dengannya, karena ini bakal menjadi bekal Anda untuk mengajarkannya pada siswa nanti. Pada poin ini, mata kuliah sastra hanya berhasil pada tataran pemahaman teori saja, tidak sampai pada prakteknya.

Menurut salah satu responden yang saya tanyai, bahwa pengajaran mata kuliah sastra yang berlangsung di kelas hanya berkisar pada pendalaman teori sastra, analisis sastra dan kritik sastra dan bentuk-bentuk resensi atau resume. Jelas-jelas untuk kategori ini saja kelemahan mata kuliah itu muncul. Mahasiswa tidak diupayakan untuk bisa ‘menelurkan’ karya sasta, tidak ada aplikasi atas teori-teori yang sudah dipelajari sebelumnya. Walhasil, ilmu tentang sastra yang sudah didapatnya pun hanya terdokumentasikan dalam benak dan catatan-catatan saja. Tidak lebih dari itu!
Sekaitan dengan masalah ini, benar apa yang dikatan Alwasilah dalam tulisannya “Membuat Mesin Reproduksi Pengetahuan” (Pikiran Rakyat, 12/01/2005) bahwasanya lulusan-lulusan akademik universitas belum bisa menghasilkan sebuah citation atau karya tulis yang notabene menjadi acuan seberapa cakap sebuah negara terpilih menjadi Megara berkembang berkat kontribusi tulisan-tulisannya.
Menyoal metode yang digunakan oleh para dosen saya di kampus, saya pun berpikir bahwa apa yang mereka lakukan terlampau tinggi. Mereka terlalu melompat jauh meninggalkan tahapan-tahapan yang harusnya dicapai –seperti memproduksi karya sastra –dengan cara menganalisis sebuah karya sastra. Analisis karya sastra, frase yang di sini coba saya highlight,  setidaknya diberikan ketika mahasiswa sudah berhasil dalam memproduksi karya sastra. Sungguh berat kiranya apabila metode seperti ini diberikan kepada mahasiswa semester empat. Jikalau mau, dosen sebetulnya bisa memberikan proposi yang berimbang antara menganalisis dan memproduksi karya sastra. Mengapa saya bilang begitu? Sebuah analisis sastra akan lebih berbobot apabila si penganalisis –dalam hal ini mahasiswa—sudah melalui pengalaman-pengalaman memahami sastra dari segi teori serta mengaplikasikannya ke dalam sebuah produk karya sastra. Secara eksplisit, ini menyarankan bahwasannya mahasiswa haruslah sudah bisa memproduksi karya sastra.
Batasn-batasan antara jurusan pendidikan dan non-pendidikan pun menjadi tidak jelas –dilihat dari mata kuliah yang diambil. Bobot SKS mungkin bisa disesuaikan karena orientasinya pun sudah begitu sempurna: bahwa mahasiswa jurusan kependidikan memang dimakudkan dan diarahkan untuk menjadi guru, sedang untuk yang non-kependidikan lebih diarahkan untuk memilih profesi mana saja yang mereka minati, selain guru, karena mereka tidaklah mendapatkan Mata Kuliah Dasar Kependidikan (MKDK). Tapi kenyataan yang ada justru tidak seperti yang dibayangkan. Banyak lulusan non-kependidikan yang menjadi guru, sementara yang basic-nya kependidikan justru malah kerja di pabrik, menjadi teller bank, bahkan ada yang menjadi asisten manajer sebuah perusahaan. Ironis kiranya apabila fakta dimana sebuah proficency dan skill yang sudah digenjot di jurusannya tidak sejalan dengan sebagaimana mestinya.
Memang tidak salah bagi mereka yang ternyata profesinya tidak sesuai dengan basic skill yang didapatkannya; hanya saja, sekali lagi, kita sudah berbuat tidak adil untuk diri sendiri dan orang lain. Ini seolah mengingatkan kita pada sebuah ayat suci Al-Quran yang menyebutkan bahwa, jika sebuah pekerjaan tidak dipegang oleh ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. Mengingat itu, sungguh, saya pribadi tidak sedikitpun mengharapkan itu terjadi.
Dari apa yang sebelumnya dipaparkan, dalam kaitannya dengan pembahasan soal sastra, implikasinya adalah, bagaimana mungkin seseorang yang tidak punya basic mengajar, mengajarkan sebuah mata pelajaran sastra? Apa jadinya nanti siswa ketika proses pembelajaran berlangsung, sementara kita tahu bahwa metode yang diberikan di bangku perkuliahan pun masih berkisar pada analisis saja, belum sampai pada aplikasi (baca: produksi)? Ibarat mengajarkan seseorang bagaimana cara membuat layang-layang tapi tidak pernah sekalipun membuatnya. Ini sama saja namanya dengan peribahasa “berguru pada keledai”. 
Sebuah penelitian yang saya lakukan di lingkungan kampus, khususnya di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris FPBS UPI, wacana yang muncul pun tidak jauh beda. Cukup banyak dosen yang basic-nya bukan dari kependidikan. Istilahnya, diajar oleh seseorang yang tak pernah tahu cara mengajar. Miris memang mendengarnya, tapi justru itulah kenyataan yang ada. Alangkah indah sepertinya apabila mahasiswa diajar oleh seseorang yang tahu bagaimana cara mengajar dari pada oleh seseorang yang justru mesti diajari. Pun, sangst banggalah kiranya apabila pengajar sendiri memberikan teladan dari apa yang dia kerjakan dengan membuat karya tulis, entah itu sastra atau bukan. Bagaimanapun, hal itu bisa memotivasi peserta didiknya untuk membuat tulisan,  dan jelaslah jika dosen kita memang merupakan pribadi yang pantas digugu dan ditiru.
Fenomena seperti ini saya kira tidak hanya saya temukan di jurusan saya tapi juga di jurusan dan universitas lain. Sebuah objective yang berhasil dicapai dalam mata kuliah sastra akan lebih berhasil lagi manakala ada evaluasi yang diterima oleh mahasiswa. Evaluasi di sini bukan evaluasi dalam artian tugas akhir sebuah pembelajaran setelah mata kuliah selesai dikontrak; akan tetapi evaluasi dimana mahasiswa dengan segudang ilmu yang sudah “dilahapnya” bisa mencipta dan memproduksi tulisan (karya sastra) sesuai dengan mata kuliah yang diambil. Kendatipun mata kuliah sastra sudah dikontrak, setidaknya mata kuliah tersebut benar-benar menjadi mata kuliah yang terasa manfaatnya dan  ada bukti konkretnya. Sehingga, mereka yang mendapatkan pengajaran mata kuliah tersebut bisa benar-benar produktif, tidak cul leos dengan hanya mengandalkan pada sebatas lulus, terlebih nilai, bukannya ilmu  tanpa adanya amal. (*Saswaloka*)

Bumi Siliwangi, 2006 (with modification)  

No comments:

Post a Comment

Post a Comment