Friday, April 9, 2021

Aksara Buda: Sebuah Pengantar

Dalam khazanah pernaskahan kuno khususnya yang ada di pulau Jawa, setidaknya dikenal beberapa macam aksara yang digunakan sebagai sebuah sistem tulisan. Beberapa di antaranya adalah aksara Sunda Kuno, Jawa (Carakan), Cacarakan (Jawa-Sunda), Jawi, Arab Pegon, dan Buda. Tidak seperti aksara lainnya, aksara Buda bisa dibilang tidak terlalu populer. Ketidakpolueran itu, nahasnya, tampak pula dari sudut pandang pernaskahan Jawa klasik (Jawa Tengah & Jawa Timur), Sunda Klasik[1] dan Bali. Di antara jenis aksara yang subur di ketiga kubu itu, aksara Buda dalam kacamata Willem van der Molen (2001) tampil sebagai aksara yang terabaikan dari sebuah koleksi naskah yang nasibnya tidak jauh beda.

History of Java (1830)
Aksara Buda sebagai sebuah istilah, pertama kali disebutkan oleh Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java (1817: 403). Merujuk pada jenis aksara yang ditampilkan, dia mendeskripsikan jika Tabel Nomor 2 mengandung huruf persegi/kuadrat di mana (aksara) Kawi biasanya ditulis dan ditemukan terpahat pada batu dan perunggu dalam inskripsi-inskripsi yang berbeda dengan bahasanya itu. Sedang Nomor 3 disebutnya sebagai contoh variasi aksara dalam kurun waktu yang berbeda, sebagaimana diasumsikan dan disusun berdasarkan penilaian penulis pribumi, menurut hubungannya yang kuno.

Tuesday, April 6, 2021

Kembalinya Si Anak Hilang

Tiga tahun sudah blog ini saya tinggalkan. Setelah menikah, banyak hal memang yang menjadi distraksi untuk mengurus hal-hal pribadi, termasuk nge-blog. Walau begitu, sampai detik ini saya masih penasaran, terlepas dari begitu banyak komentar yang masuk dan harus dimoderasi, saya masih mempertanyakan, masih adakah orang yang nge-blog? 

Blog ini  secara serius saya persiapkan dan saya isi dengan tulisan-tulisan yang tak kurang seriusnya. Akan tetapi, tampaknya tidak ada orang yang membacanya, kecuali orang-orang Barat yang dengan seenak udelnya memberi komentar di bawah postingan sementara postingannya itu sendiri berbahasa Indonesia. Atau apakah mungkin mereka menggunakan fitur google translate? Saya tidak tahu. 

Yang saya tahu, sampai detik ini blog ini sepi pengunjung, apa lagi dari tanah air sendiri, dan juga sepi komentar. Walau begitu, ada juga yang mengutip isi dari blog Saswaloka ini. Sebagian yang mencantumkan sumbernya, saya ucapkan terima kasih banyak. Sebagian lagi yang dengan sembarangan mencatut tanpa mencantumkan sumbernya, sepertinya harus berlajar lagi bagaimana cara mengapresiasi (menghargai karya milik orang lain) itu. Biar tidak dikata tidak berliterasi. Sudah susah berliterasi, miskin apresiasi juga. Haduh haduh!

Tapi, ya sudahlah. Lagi pula bukan urusan saya untuk lagi-lagi mengomentari hal-hal yang susah untuk dikomentari. Susah bicara sama orang yang gak ngerti mah. Urusan saya cuma satu, yaitu menulis. Bukan untuk hal atau tujuan lain, tapi untuk menulis itu sendiri. Demikian. [FA] 

  

Wednesday, January 27, 2021

Segudang Permasalahan Menerbitkan Buku (1)

hugeorange.com
Semacam Pengantar 

Sudah lama saya ingin menuliskan soal terbit-menerbitkan buku ini sebenarnya. Hanya saja saya kadang bingung sendiri, mesti dari mana saya harus memulai. Bahkan untuk membuat judul terkait permasalahan ini pun saya gagal, percis judul tulisan di atas itu. Masalahnya memang tidak cukup mudah, terlebih di sini saya memang tidak hendak berbicara soal "Cara Menerbitkan Buku" itu. Ada ratusan situs atau blog lain yang membahas soal itu. Mbah Google lewat search engine-nya sudah pasti akan memuaskan Anda yang memang ingin mencari tahu bagaimana cara menerbitkan buku. Sebagian berupa tips dan trik, sebagiannya lagi promosi. Hampir semuanya berupa propaganda tentang betapa mudahnya menerbitkan buku, termasuk janji-janji manis bagaimana rasanya buku sendiri terbit. Benarkah demikian? Untuk tahu, lebih baik coba sendiri, dapatkan pengalaman dari usaha Anda itu dan rasakan sendiri.

Maka dari itu saya memutusakan untuk berbicara soal terbit-menerbitkan buku dari perspektif yang lain, dengan berdasarkan pada pengamatan dan pengalaman saya menjadi seorang editor dan pelaku industri perbukuan. Semoga saya bisa objektif dalam berbicara. Dan satu hal lagi, tulisan ini ditengarai oleh sebuah peristiwa yang kemudian mematangkan pandangan saya tentang apa yang bakal saya bahas ini. Peristiwa di mana beberapa hari yang lalu, saya mengikuti sebuah acara bedah buku milik seorang penulis prematur dengan buku yang tak kurang prematurnya. Penulis yang cukup serampangan untuk menerbitkan bukunya di saat di mana dia belum bisa dibilang pantas untuk menerbitkan buku. Hak dia, betul. Tapi ketika buku menjadi milik publik, adalah hak pembaca juga mendapatkan "suplemen" yang baik dari sebuah buku. Nantilah saya ceritakan. Saya ingin membuat tulisan ini dengan mengalir saja.

Thursday, September 6, 2018

Mengevaluasi Status Kekhalifahan

Oleh Firman Nugraha*

Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Derajat tinggi ini langsung diberikan Allah Swt, manusia memiliki hak istimewa untuk mengelola bumi demi kelangsungan hidupnya. Status kekhalifahan ini menyiratkan kepercayaan penuh atas manusia sebagai hamba-Nya untuk mempergunakan alam, sekaligus menjadi bagian darinya.

Status kekhalifaan manusia bukannya tanpa masalah. Selain sebagai sebuah penisbataan kekuasaan Allah akan ciptaannya, terdapat di dalamnya pandangan yang acapkali diartikan sebagai hak prerogatif manusia atas kuasanya di dunia yakni, pandangan ekologis. Tetapi, belum sampai pemahamannya diterang-jelaskan dengan utuh, kenyataan penafsiran akan status tersebut malah jatuh merosot jauh dari hakikat yang sebenarnya.

Ekoteologi Penciptaan
Sejatinya, status kekhalifahan memunculkan sedikitnya dua ambiguitas. Pertama, ia membuat manusia memiliki kehendak bebas dalam penyelenggaraan hidup. Dalam hubungannya dengan lingkungan, manusia memanfaatkan alam untuk kebutuhannya. Atas nama hidup, manusia membabat dan membakar hutan serta menanam bahan pokok sebagai sumber pangannya. Manusia juga membuat berhektar-hektar sawah dan ladang untuk ditanami padi, ketela pohon bahkan kelapa sawit.Pengetahuan dengan teknologi yang datang kemudian pun memudahkan prosesnya.

Wednesday, March 21, 2018

Belajar Bahasa Jepang Bersama Kokoro No Tomo (Mayumi Istuwa)

Siapa yang ga kenal Kokoro No Tomo-nya Mayumi Itsuwa? Di era 80-an lagu ini sempat populer di Indonesia, sekalipun di negeri asalnya tidak, kecuali mereka yang seangkatan dengan Sang Vokalis. Kepopuleran ini menjadi fenomena di negeri kita karena ternyata hampir semua generasi hafal dengan lagu yang awalnya sering sekali diputar di radio di seluruh Nusantara. Bahkan tidak sedikit musisi kita yang mengcover lagu ini, tidak terkecuali Delon Idol dan Zivilia Band beberapa waktu lalu.

Nah, sambil mengenang kembali lagu abadi yang satu ini, postingan kali ini akan menampilkan lirik lagu tersebut yang sengaja ditulis menggunakan huruf negeri Sakura (Hiragana, Kanji dan Furigana-nya). Sekalian agar kita bisa belajar bahasa Jepang tetap dengan cara yang menyenangkan. Tidak lupa video yang diambil di channel Youtube pun disematkan di bawah postingan ini. Ga menarik kan kalau hanya membaca/menyanyikan lirik kalau tidak ada iringan musiknya? 

Saturday, March 17, 2018

Belajar Bahasa Jepang Lewat Cerita (Kintarou & Momotarou)

やさしい 日本語
HAJIMEMASHITE!

Anime bisa jadi awal pertama orang berkenalan dengan bahasa Jepang, terutama soundtrack-nya. Doraemon, One Piece bahkan Naruto, adalah beberapa anime yang bisa dengan mudah ditonton di tipi yang sedikit banyak membuat penontonnya ingin juga belajar bahasa Jepang. Menurut saya pribadi, Jepang memang tidak ada matinya, mulai dari budaya lokal bahkan teknologi. Mereka membuktikan bahwa majunya sebuah bangsa tidak hanya jago dalam membuat atau menciptakan tapi juga merawat, melestarikan dan mengembangkannya. Terbukti, Jepang menjadi barometer dunia dalam banyak hal, tidak hanya melulu soal teknologi, tapi juga informasi, fashion, musik, dan banyak lagi.

Harga Sebuah Nilai Kecil


solopracticeuniversity.com
Bayangkan sebuah film dengan plot sederhana, dengan permasalahan yang telah menjadi sangat biasa bisa dihadapi siapa saja di kehidupan nyata.

Tokoh-tokohnya membicarakan hal keseharian tanpa pretensi apa lagi dramatisasi. Tak ada tawa paling bahak atau tangis paling bengis. Tak ada yang terluka dan dilukai terlebih menderita atau dibuat sengsara. Tak pula ada konflik yang njelimet atau adegan yang mengantar perenungan mendalam dialami tokoh-tokohnya.

Tokoh-tokoh yang menerima kenyataan sebagai kenyataan. Apa adanya. Bahkan di akhir film, tak ada perubahan nasib yang terjadi pada mereka. Semua berjalan biasa-biasa saja. Seperti matahari yang terbit di pagi hari dan terbenam ketika senja tiba, dan semua orang mengganggapnya sebagai hal yang biasa.