Showing posts with label resensi. Show all posts
Showing posts with label resensi. Show all posts

Sunday, December 16, 2012

Sinopsis Ronggeng Dukuh Paruk


Novel buah karya Ahmad Tohari (1948) ini menceritakan tentang seluk beluk kehidupan seniman ronggeng di daerah Jawa (Dukuh Paruk). Meskipun hanya menyebutkan tempat sebuah desa dengan nama Dukuh Paruk, namun diidentifikasikan sebagai sebuah tempat di Jawa Tengah.         
Tokoh-tokoh cerita novel ini adalah Srintil; seorang gadis remaja yatim piatu yang dianggap sebagai titisan dari Ki Secamenggala. Dialah yang disebut ronggeng Dukuh Paruk. Rasus; seorang pemuda yang mencoba mengangkat harkat dan martabat rakyat Dukuh Paruk. Ia berusaha melawan hukum adat, terutama hukum adat tentang ronggeng. Sukarya; pasangan suami istri yang merupakan kakek Srintil. Mereka sangat bangga dengan adanya ronggeng. Kertareja; seorang dukun di Dukuh Paruk. Dower dan Sulam; dua orang pemuda Dukuh Paruk yang berlomba-lomba mendapatkan Srintil dengan cara menyuap Ki Kertareja.
Dukuh Paruk seakan-akan mendapatkan anugerah berupa roh baru ketika Srintil, gadis yatim piatu berusia 11 tahun, dinobatkan menjadi ronggeng. Seluruh penduduk desa itu menyambut dengan penuh kegembiraan. Menurut mereka, citra Dukuh Paruk sebagai Dukuh Ronggeng akan kembali menggema. Pedukuhan yang terkenal dengan kering kerontang ini nantinya akan diramaikan lagi dengan kedatangan tamu dari berbagai penjuru desa dan berseliwerannya uang yang dilemparkan ke arah ronggeng Srintil, ramainya seloroh-seloroh cabul, serta terlihatnya pemandangan sikut-menyikut antara pesaing yang berusaha merebut ronggeng Srintil atau suasana lainnya yang menggembirakan. Selain itu, bau harum keramatnya Ki Secamenggala akan kembali menyelimuti Dukuh Paruk.
Orang yang paling merasa berbahagia dengan penobatan Srintil sebagai ronggeng adalah Sukarya dan istrinya yang merupakan kakek dan nenek gadis itu. Usaha mereka mengasuh Srintil, sejak kedua orang tua Srintil meninggal dunia karena keracunan tempe bongkrek sebelas tahun yang lalu, tidak sia-sia. Yang penting, tugas mereka untuk menjadikan Srintil sebagai seorang calon ronggeng dapat terlaksana. Bahkan, direstui oleh keramat dukuh ronggeng, Ki Secamenggala.
Seorang pemuda bernama Rasus justru merasa kecewa dan sedih mendengar penobatan Srintil karena ia sangat mencintai Srintil, kekasihnya itu. Apabila Srintil menjadi ronggeng, berarti gadis itu menjadi milik semua orang. Setiap orang akan bebas meniduri Srintil karena memang begitulah kehidupan seorang ronggeng. Selain itu, sebagai calon ronggeng, Srintil harus menyerahkan keperawanannya kepada Ki Kertareja. Rasus juga telah mengetahui pemuda yang akan memenangkan sayembara yang akan diadakan oleh Ki Dukuh Kertareja. Untuk memenangkan sayembara itu, mereka telah menyuap Ki Kertareja. Sulam menyembahkan seringgit uang emas, sedangkan Dower menyerahkan seekor kerbau dan dua rupiah uang perak kepada Ki Kertareja.
Pada suatu malam ketika Kertareja menobatkan Srintil sebagai ronggeng Dukuh Paruk, Rasus memperhatikan kekasihnya itu dari kejauhan. Kekasihnya itu dibawa ke makam Ki Secamenggala dan dimandikan di depan makam tersebut. Setelah itu, Srintil menjadi budak kelambu, yaitu menyerahkan keperawanannya kepada si Dower dan si Sulam, sebagaimana telah ditentukan oleh Kertareja. Tampak, kedua pemuda itu bertengkar di samping rumah Dukun Kertareja untuk menentukan siapa di antara mereka yang berhak pertama kali meniduri Srintil. Ketika Rasus sedang menyaksikan pertengkaran kedua pemuda tersebut secara diam-diam, Srintil datang menghampirinya dan ia minta pemuda itu untuk menggaulinya karena ia sangat benci Dower dan Sulam. Rasus pun memenuhi permintaan itu kemudian pemuda itu memutuskan untuk meninggalkan Dukuh Paruk. Ia meninggalkan gadis yang dicintai dan sekaligus dibencinya karena kekasihnya itu telah menjadi ronggeng. Ia kemudian mengasingkan diri di desa Dawuan. Ia mencoba menyingkirkan bayangan Srintil. Bahkan ketika gadis itu meminta ia untuk menjadi suaminya, ia menolak. Dalam hatinya timbul kerelaan untuk membiarkan Srintil menjadi milik banyak orang dan menjadi kebanggan Dukuh Paruk.

Disari dari Ensiklopedia Sastra Indonesia. 2008. Bandung: Penerbit Titian Ilmu.  

Download E-book Ronggeng Dukuh Paruk (PDF). 
Download E-book Flash Player Ronggeng Dukuh Paruk (gunakan software Macromedia Flash Player untuk mengeksekusi).

Sunday, May 27, 2012

Tolstoy & King: After The Reading


It’s been 18 years since The Shawshank Redemption released in theater, and this night I roll in that great movie again. Incidentally, I read one of the greatest works of Tolstoy entitled “God Sees the Truth, but Waits” the night before. Was I dreaming or dream that makes all sense, even if it remains in a fiction? I had just wake up from my lousy sleep when my subconscious mind said something about the movie and the short story.

Both of them, the movie and the story, tell about someone that in one circumstance deals with prison. Stephen King, the author of The Shawshank Redemption, took the main character, Andy Dufresne, as one that must be prisoned for a murderer that he didn’t really do. For more than 20 years he must live in the prisonhood, until in one rainy day he escaped from it and came to be a free man.

Tolstoy’s story pretty much reveals the same with King’s. Aksenof, the main character in the “God Sees the Truth, but Waits” also sentenced by the judge for the same case. It is different from King’s, Tolstoy put his character in other situation. It was said that Askenof was in a journey to an annual fair in one of the town called Nizhmi. However, Askenof’s intention was being prohibited by his wife as a dream came to her. She told Aksenof or Ican Dimitricvich that something bad would happen for she saw his husband’s hair grew with in that dream.

If Duresne was being fucked by the lawyer; Askenof was being slandered by someone-we don’t-know. The remarkable thing is that Dufresne and also Aksenof was being taken into a faith to meet the truth. The truth that they found the real crook who made them crouched in the prison. King’s must made a messenger upon one of the character, say Tommy Williams, to tell the truth, while Tolstoy did met the crook with the main character, Askenof. This kind of situation in further makes difference for both of the story.

However, it’s not the point. The point is that the method of the two authors uses to reveal the truth upon their story. This is the problem! A problem that made me think: Is it nothing but coincidence or what? I even think of King as the author that inspired by Tolstoy’s; but would it be possible? There’s so much possibility can be made bout this. But the truth is, I don’t know for sure. What I really know is that either Leo Tolstoy’s “God Sees the Truth, but Waits” or Stephen King’s The Shawshank Redemption, both of them are masterpiece. And like any other masterpiece of works, it worth to read or even watch. (FA/Saswaloka)

Thursday, March 15, 2012

Representasi Simbol dalam Wall-E

Walau sempat booming di tahun 2008, sebagai sebuah film propaganda global warming, Wall-E tetap menjadi salah satu karya terbaik untuk ditonton lagi dan lagi. Dengan banyak karakter yang unik sekaligus lucu, serta jalan cerita yang membuat kita betah untuk mengetahui akhirnya, film ini juga mengajarkan bagaimana kita mesti mencintai rumah (baca: bumi) yang hanya satu ini. Ada fungsi sosial yang dihantarkan lewat film ini. Setidaknya, hal itu bisa kita rasakan ketika kita sudah selesai menontonnya.

Terlepas dari berapa rangking yang kita berikan untuk film ini, ada hal yang secara tidak disadari telah memapah kita pada sebuah “kesepakatan” tanpa terlebih dahulu menuntut pemahaman-keras para penontonnya. Kesepakatan yang dimaksud di sini adalah semacam stereotip yang menjadi common sense dari pencantuman citra yang diperlihatkan lewat adegan-agenda (scene) yang ada di dalam film itu; dan hal ini, dihantarkan lewat simbol.