Showing posts with label cerperimen. Show all posts
Showing posts with label cerperimen. Show all posts

Thursday, January 10, 2013

Konferensi Kerbau

Tak lama setelah mendengar berita jika manusia hendak menjadi kerbau, keluarga kerbau pun kelimpungan. Bukan tak mungkin kerbau akan menjadi banyak; tapi, bagaimana dengan kerbau sendiri? Masihkah mereka tetap menjadi kerbau, atau harus menjadi apa?

Sebenarnya berita itu sudah jauh-jauh hari mereka dengar, walau hanya sebatas gosip-gosip tetangga. Tapi jika kenyataannya manusia benar-benar ingin menjadi kerbau, malah ingin mendeklarasikannya segala, ini bukan main-main namanya. Keluarga kerbau bisa jadi kehilangan pekerjaannya karena terlalu banyak saingan.

Lahan pekerjaan bisa jadi bekurang. Sawah tempat biasa kerbau bekerja bisa penuh, pedati yang biasa ditarik pun bisa jadi lahan rebutan antar sesama kerbau. Keluarga kerbau yang biasa mengerjakan pekerjaan ini bukan tak mungkin jadi pengangguran. Kerbau pengangguran. Dan itu tidak mungkin, tidak baik dan tidak sehat.

Tanpa pikir panjang, keluarga kerbau pun mengadakan pertemuan, semacam konferensi yang diikuti keluarga kerbau dari seluruh dunia.

Seekor kerbau yang kebetulan sudah tua, tak hanya umur tapi juga pengalamannya, membuka konferensi itu.

“Sebelumnya, saya, mewakili kaum kerbau yang ada di sini, mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran Anda semua. Sengaja konferensi ini diadakan di Andalas mengingat selain kaum kita ini adalah asli dari negeri ini, jumlahnya pun lebih banyak ketimbang di negeri-negeri lain. Akan tetapi, tanpa mengurangi rasa hormat dan penghargaan, saya haturkan selamat datang dan terima kasih untuk keluarga kerbau yang sudah jauh-jauh datang baik dari Filipina, India, bahkan dari negeri Paman Sam sana, Amerika.”

Semua peserta khidmat mendengarkan pembukaan dari Eyang Kerbau yang disinyalir merupakan empunya kerbau dan masih punya darah keturunan langsung dengan nenek moyang dari segala kerbau yang ada di dunia.

“Keluarga kerbau semuanya yang saya hormati, sebagaimana kita tahu jika akhir-akhir ini kita mendengar berita yang cukup mencengangkan kita semua. Walau demikian, saya pikir ini bukanlah hal baru bagi kita. Semenjak manusia tahu sifat dan tingkah laku kita, semenjak itu pula kita menjadi contoh, teladan dan panutan bagi mereka. Manusia mungkin berpikir jika kita ini, keluarga kerbau, adalah makhluk yang pandir dan bodoh, meski sebenarnya kita adalah makhuk yang rendah hati. Tidak berarti kita ini dicocok hidung maka kita nurut-nurut saja sama manusia. Kenyataanya, kita ini kasihan sama mereka, karena tanpa kita bagaimana mungkin mereka bisa makan, bisa membajak sawah tempat padi disemai. “

“Lalu,” lanjutnya, “kita juga turut serta memberikan kerabat kita, yakni sapi, punya nama. Walau kita tahu kita ini punya susu. Akan tetapi, kenyataanya, tidak hanya manusia tidak belajar dari kerbau; parahnya, mereka malah memiliki sifat dan tingkah kita. Bukan yang baik, tapi yang buruk. Manusia sekarang adalah kerbau yang menanduk anak; adalah kerbau yang runcing tanduk; adalah kerbau yang dibeli di padang; adalah manusia yang mengambat kerbau berlabuh antara sesamanya. Bahkan lebih parah lagi, manusia sekarang banyak yang suka berkumpul seperti kerbau di hutan remang-remang sana. Saya pikir, mungkin, karena terlanjur memiliki sifat dan perilaku seperti kita ini, manusia pada akhirnya memutuskan untuk menjadi kerbau saja.”

Mendengar itu, suara gemuruh dari mulut-mulut kerbau memenuhi konferensi. Sebagian ada yang marah akan keputusan manusia itu, sebagian lagi menyayangkannya.

“Baik-baik,” sela empu kerbau, “saat ini saya hanya bisa mengembalikan keputusan kepada kita semua yang ada di sini tentang bagaimana sikap kita seharusnya menghadapi kenyataan itu. Satu yang pasti, kita harus memikirkan bagaimana nasib kaum kita selanjutnya.”

Dengusan nafas, lenguhan dan cibiran mulai membahana di antara mereka. Limbung tak dinyana mendapati kenyataan tentang manusia yang ingin mendeklarasikan dirinya menjadi kerbau. Hajat hidup keluarga kerbau pun ditaruhkan di konferensi itu.

Setelah menghembuskan napas berat seekor kerbau yang berasal dari Amerika dengan amarahnya berkata: “Apa harus kita serbu saja manusia itu? Kita seruduk saja mereka sampai mati agar mereka mengurungkan niatnya itu.”

Sesaat peserta keonferensi terdiam mendengar perkataannya, akan tetapi dengan cepat suara gemuruh lekas membahana.

“Tidak, tidak Bapak Bison,” sela Empu Kerbau, “cara itu bukanlah cara yang baik yang bisa kita lakukan terhadap manusia. Meski kita ini besar dan kuat, tapi jumlah kita tidak lebih banyak dari mereka yang sekarang ini sudah mencapai tujuh miliar. Cara itu pun hanya akan menambah permasalahan saja. Bukan tidak mungkin akan muncul banyak pemberitaan tentang tingkah laku kita yang sangat tidak kerbauwi itu di media massa. Jika sudah seperti itu, manusia bisa jadi memutuskan untuk melenyapkan kita di muka bumi karena image jelek yang kita buat sendiri. Dan itu sama artinya dengan ancaman punah bagi kaum kita.”

Beberapa kerbau manggut-manggut mendengar penjelasan itu. Tapi tak lama setelah itu, seekor kerbau yang sedari tadi duduk, berdiri dan melangkah beberapa kali seraya berkata,” jika begitu, mengapa tidak kita biarkan saja manusia itu menjadi kerbau? Biarkan saja mereka mendeklarasikan keinginannya jadi kerbau sehingga Sanghyang Dewata mengubah mereka jadi kerbau.” Kerbau Tamarau dengan kaki pendek yang berasal dari Filipina tapi masih menyimpan kepercayaan leluhurnya dari India itu, menggelengkan kepalanya ke kanan ke kiri seakan berkata: “Ya, begitu saja.”

Seekor kerbau lainnya berdiri dan menegaskan perkataan kerbau tadi. “Ya, begitu sajalah. Biarkan saja manusia menjadi kerbau kalau memang itu yang mereka inginkan. Tidakkah bagus banyak kerbau? Bakal banyak sawah yang digarap, pedati yang ditarik dan banyak lagi lainnya. Jadi kita tidak harus terlalu cape mengerjakan pekerjaan yang biasa kita lakukan itu….”

“Maaf saudaraku,” seekor kerbau Carabao menyela, “jika manusia jadi kerbau, lalu kerbau jadi apa?”

“Ya, jadi banyak, “ celetuk seekor kerbau yang kebetulan masih remaja dan suka bercanda. Tawa dan senyum pun tebar di antara mereka.

“Maksud saya,” lanjutnya, “jika manusia jadi kerbau, lalu siapa yang akan menikmati hasil dari pekerjaan kerbau? Sangat muskil sekiranya kerbau dan manusia-kerbau menikmati hasil pekerjaannya sendiri, karena kerja kita hanya kerja: membajak sawah dan segala pekerjaan angkut-mengangkut, mulai dari mengangkut hasil panen sampai mengangkut manusia.”

“Kerbau makan kerbau, dong?” sahut kerbau yang menyela tadi. Gelak tawa kembali meramaikan percakapan.

“Ada betulnya juga kata Bapak Carabo tadi,” seekor yang lainnya coba membenarkan. “Coba bayangkan bagaimana kalau manusia jadi kerbau? Rumah-rumah akan ditinggalkan dan kandang-kandang akan berjejalan memenuhi muka bumi. Sawah-sawah dan ladang akan penuh dengan kerbau sedang kita tahu kerbau tidak bisa membuka lahan sawah dan ladang baru melainkan oleh manusia. Lahan pekerjaan akan menyempit dan persiangan pasti akan terjadi. Persaingan lahan, dan tentunya persaingan bahan makanan. Sangat tidak mungkin jika kita harus jadi kerbau pengangguran. Itu bukan kerbau namanya, lagi pula itu bukan identitas kita, keluarga kerbau.”

“Susah amat sih, sudah seruduk saja manusia itu,” bison lantang berteriak.

“Jangan!” Empu kerbau menjawab.

“Ya sudah biarkan saja mereka jadi kerbau!” seru Tamarau.

“Tidak bisa!” Carabao menyahut.

Pertengkaran pun terjadi di antara mereka. Sebagian setuju, sebagian tidak, sebagian lagi bingung entah harus memihak mana. Haruskah mereka setuju membiarkan manusia mendapat apa yang diinginkannya, atau tidak. Saking sengitnya perdebatan itu, beberapa ekor kerbau malah sempat beradu dan saling seruduk karena pendapatnya masinng-masing. Sampai pada akhirnya,…

“Cukup… cukup! Hentikan perdebatan dan perkelahian ini wahai saudaraku sebangsa dan seketurunan! Hentikan!” teriakan empu kerbau mengalihkan perhatian semua. “Tidakkah kita sadar dengan perbuatan kita ini? Apa bedanya kita dengan manusia kalau begitu? Suka berdebat dan membenarkan pendapatnya masing-masing, sampai-sampai harus menumpahkan darah, bahkan mengorbankan nyawa sesama? Di mana harkat derajat kita sebagai seekor kerbau? Apa kata nenek moyang kita nanti? Ingat saudaraku, tidak ada sejarahnya kerbau saling menikam kaumnya sendiri. Tidak ada dan tidak pernah, bahkan dalam ilmu biologi sekalipun, bangsa binatang itu saling bunuh. Ingatlah hakikat binatang! Ingat saudaraku, kita ini bukan manusia. Camkan itu!” Geram Empu Kerbau seraya bahunya turun-naik karena amarah.

Kerbau-kerbau pun seketika terdiam mendengar perkataan itu. Mereka sadar mereka khilaf. Mereka tahu jika mereka adalah kerbau, dan bukan anjing, babi apalagi yang lainnya, terlebih manusia. Beberapa saat mereka kehilangan kekerbauan mereka, dan hal itu benar-benar sangat disayangkan oleh semua yang ada di sana. Mereka melenguh dan mengemoh menangisi peristiwa tadi. Peristiwa yang hampir saja mengubah status mereka yang kerbau menjadi sesuatu yang lain.

Tiba-tiba dari arah kerumunan melangkahlah seekor—atau mungkin seorang –kerbau ke tengah-tengah forum. Semua kerbau menatapnya keheranan seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dari ujung tanduk sampai ke ujung kaki, baru mereka melihat mahluk seperti itu untuk pertama kali. Tak sedikit matapun mengedip ketika mereka melihat makhluk itu. Semua tatapan teruju pada makhluk berkepala kerbau namun bertubuh manusia.

Empu kerbau pun sempat mengernyitkan dahi tepat ketika makhluk itu berada di hadapannya.

“Wahai, siapa dan ada keperluan apakah gerangan datang kemari, ke konferensi kerbau ini?” tanyanya.

“Mmoooaaah (baca: Salam), Empu Kerbau yang saya hormati. Sebelumnya, saya minta maaf jika penampakan saya ini mengganggu jalannya konferensi. Saya yakin jika keberadaan saya ini mengganggu semua kerbau yang ada di sini. Karenanya, sekali lagi, saya mohon yang teramat maaf sekali.” Makhluk itu melenguh dan menjatuhkan tatapannya ke tanah.

“Seperti yang Empu Kerbau dan semuanya lihat,” lanjutnya seraya menatap ke depan, “saya ini adalah manusia, tapi saya juga kerbau. Kalian bisa melihat kepala saya yang kerbau dan tubuh saya yang masih manusia ini. Sungguh menyedihkan bernasib seperti ini. Tapi, bagaimana lagi, saya harus menerimanya dengan dada yang lapang.”

“Adapun kedatangan saya ini adalah, bermaksud untuk memberi tahu seyogianya, bahkan sebelum pendeklarasian itu, manusia sudah banyak yang menjadi kerbau. Sebagaimana yang kita semua tahu, manusia adalah makhluk yang selalu butuh eksistensi. Mereka butuh pengakuan atas apa dan siapa dirinya. Maka dari itu, untuk menjadi kerbau pun mereka butuh deklarasi. Biar dianggap sah katanya. Entahlah. Dan, saya pikir, tak perlu kiranya keluarga kerbau yang ada di sini kalang kabut dengan keputusan manusia itu. Saya pikir semua sudah pada jalannya masing-masing.”

“Moah (baca: Selamat datang) saya ucapkan padamu anak muda. Jujur, kami terkejut melihat kedatangan Anda di konferensi ini. Terlebih melihat wujud Anda yang seperti itu. Tapi asal Anda tahu, kami tidak lantas merendahkan Anda juga manusia yang ada. Dari dulu kaum kami dan kaummu sudah berteman sejak lama. Kami membantu pekerjaan manusia sebagaimana manusia dengan sangat baik mengurus kami. Tapi, ada satu hal yang membuat saya, kami, masih penasaran...,” Empu Kerbau memotong kata-katanya dan sejenak terdiam.

“Apakah itu Empu? Ceritakanlah!” pintanya.

“Sebenarnya, alasan apa yang membuat manusia ingin menjadi kerbau seperti kami? Tidakkah nikmat menjadi manusia. Mereka bisa melakukan apa saja dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mengapa harus repot-repot menjadi kerbau yang tempat kerjanya tak lebih dari kandang dan sawah? Tolong jelaskan kepada kami!”

“Sungguh bukan kesalahan yang bisa dibanggakan, Empu. Benar kata Empu tentang manusia. Tapi di tengah gemerlap hidup yang serba tak pasti, di zaman yang santer disebut-sebut sebagai globalisasi, di masa dimana kebutuhan akan materi menjadi satu-satunya tujuan, manusia justru menjadi makhluk paling tidak jelas. Tidak jelas nasib dan takdirnya. Tak tahu ke mana arahnya. Setiap hari yang kami lakukan hanya bekerja dan bekerja. Kami turuti semua aturan dan larangan dan segala macam perintah atasan. Kami iyakan semua perkataan dan perbuatan pimpinan karena jika tidak, hidup kami bisa terancam. Bahkan sebagai rakyat kecil pun kami tak bisa berbuat apa terhadap tindakan pemerintah. Sedang, ancaman hidup adalah musuh manusia. Jika kami menolak atau melanggar apa yang pimpinan katakan,kami bisa bahaya. Hajat hidup bisa terganggu dan kami tidak bisa dengan enak makan atau minum. Kita tahu, makan adalah kebutuhan primer dan kami tidak bisa hidup tanpanya.”

“Ya ya, saya mengerti. Tapi, mengapa harus menjadi kerbau? Mengapa tidak menjadi sapi, contohnya, atau yang lainnya?”

“Sesungguhnya, kami juga belajar bahwa makhluk yang paling rendah hati adalah kerbau. Tak ingin kami menjadi anjing yang suka menyalak walau kenyataannya sudah banyak dari kami yang seperti itu. Tak hanya kawan, lawan pun kami telikung. Atau babi, yang kerjanya hanya makan dan tak pernah peduli bahkan dengan sesamanya sendiri. Tapi, siapa juga yang ingin jadi makhluk kotor yang rumahnya adalah kubangan lumpur? Tidak ada! Dengan pikiran yang matang, pada akhirnya kami pun memutuskan untuk jadi kerbau saja. Sudah banyak dari kami yang menjadi kerbau meski belum seutuhnya, dan bahkan tanpa pendeklarasian itu.”

“Bagi kami, tak apalah kami hanya menurut apa kata atasan, pimpinan dan semua yang memegang peranan penting di roda kehidupan ini. Yang penting, kami, istri-istri, anak-anak serta keturunan kami bisa makan. Itu saja. Sejatinya kami ikhlas menjadi kerbau asal bisa tetap hidup.

Mendengar penjelasan manusia-kerbau itu, keluarga kerbau yang ada di konferensi itu terdiam. Mereka iba dan kasihan dengan nasib manusia yang tidak berdaya dan tak kuasa berbuat apa-apa terhadap pekerjaan, keluarga; dengan kata lain, terhadap hidupnya. Terlebih, mereka juga sadar jika manusia bisa berbuat apa saja sekehendaknya, serta mendapatkan hasil dari perbuatannya itu. Mereka tahu bahwa semua yang ada di dunia punya jalannya sendiri-sendiri. Takdir sudah ditentukan; tinggal waktu yang bakal menjawabnya. [Fim Anugrah]

Subang, 02 Desember 2012

Wednesday, September 19, 2012

The Sickmind


Entah akan kau bawa lagi ke mana aku. Jujur, aku sudah lelah. Baru saja kau bawa aku lari ke tempat kerjamu, membayangkan orang-orang dengan pikirannya yang sakit sebagaimana kau membayangkan jawaban apa yang akan kau berikan untuk pertanyaan yang akan mereka tanyakan, kau sudah membawaku lagi terbang ke rumah di lembah itu. Rumah yang kau anggap akan menjadi jawaban terbaik untuk menyelesaikan permasalahanmu mengenai jarak, akses, atau apalah namanya.
Barangkali karena aku tidur terlalu lama hingga tiba-tiba saja kau bangunkan aku dan—bukan sebuah prestasi yang bisa dibanggakan—hanya dalam hitungan detik kau sudah menyuruhku berlari. Kau hantam aku bertubi-tubi dengan segala macam hipotesis, angan-angan ini-itu, dan segala bayangan yang kau sendiri belum tahu bakal seperti apa jadinya. Seandainya saat itu kau tak membawaku menemui Si Tua yang bercerita tentang sumur berhantu dan tentang bagaimana dia hidup di zaman penjajahan seraya kau membenahi barang-barangmu, mungkin aku takkan selamat. Mungkin aku sudah sekarat. 

Monday, June 18, 2012

Cerpenis, Tikus & Mesin Tik

“Semoga niatanku untuk membunuh perempuan itu bisa terlaksana. Semoga!” Begitulah kalimat terakhir yang diucapkan Wadi tak lama setelah dia terbangun dari tidurnya.

Kurang sabar apa lagi, pikirnya. Selama ini, di setiap rumah kontrakan yang ditinggalinya, tak pernah sedikitpun dia membuat masalah. Malah, di setiap rumah yang hendak dikontraknya itu, selalu dia mengenalkan diri terlebih dulu pada orang-orang sekitar. Membilang namanya, mengatakan asal muasalnya, menyebutkan pekerjaannya.  

Tapi di setiap rumah itu pula, aneh tak habis pikir, masalah selalu saja menyambanginya. Padahal, dia tak pernah jadi biangnya. Dengan kenyataan itu, Wadi pun menjadi seorang nomad. Pindah dari kontrakan ke kontrakan lain, dari satu kota ke kota lainnya. Dan entah sudah berapa rumah dia kontrak sepanjang hidupnya yang sebatang kara itu.

Kenyataan itu pernah juga membuat dia membuat puncak keputusan untuk hidupnya. Di tengah ruwetnya masalah finansial dan tempat tinggal, dia sempat memutuskan menjadi seorang gembel. Dengan berbekal prinsipnya sebagai seorang penduduk dunia, dan beberapa setel pakaian dalam tasnya juga sebuah mesin tik, dia merantau dari kota ke kota. Tidur dimana dia suka, makan dimana dia mau, mandi dimana dia suka.

Monday, May 21, 2012

Tikus

Uded tak habis pikir, bagaimana mungkin akhir-akhir ini dia bisa bertemu dengan banyak tikus. Tikus-tikus ini tidaklah berdasi melainkan hanyalah tikus dengan perawakan yang sederhana. Tikus berkemeja, tikus bersandal, tikus berkendara, bahkan ada juga tikus yang berkopiah.

Awalnya Uded tidaklah terganggu, karena dia berpikiran bahwa tikus juga makhluk, sama-sama ciptaan Tuhan. Dan, “bukankah sesama makhluk itu dilarang untuk saling mengganggu?” begitu dia berkata pada dirinya sendiri.

Tapi makin lama, bahkan sebelum melihat tikus-tikus ini bertingkah, dia sudah geram lebih dulu. Betapa tidak? Tikus-tikus itu datang tanpa permisi dan pulang tanpa pamit. Mereka berkumpul dengan orang-orang tanpa pandang bulu. Mereka ikut berdiskusi dan melontarkan pendapat seolah menyatakan keberadaannya dengan berkata: “Saya ini tikus, dan perhatikanlah saya berbicara!”

Sunday, April 29, 2012

Janji

Matahari setengah wajahnya bisu, awan menutupnya. Angin berarak menyergah cepat membuat awan gelap. Langkah bergegas teramat tegas membuat jejak demi jejak menuju sebuah janji. Seketika langkah terhenti, ada yang terlupa. Ada janji lain yang telah menungguku lebih dulu. Badan berpaling, menapaki jejak-jejak tadi, membuatnya lebih dalam dan bergigi. Lambat kaki melangkah, merogoh telepon selular dan memijit satu demi satu tombolnya, mengirim pesan, mencari kabar. Tak lama kemudian, sebuah jawaban tiba, kubuka inbox-nya. Ternyata janji pun undur dari perhelatan. Katanya masih berada di tempat yang entah dan entah kapan akan tiba, gerak terhenti. Tak lantas tangguh, kaki pun kembali tertatih menemui janji yang telah menyergah lagi melalui inbox yang lain.

Sunday, March 4, 2012

Alusio

"INTERMEZO" by FA
Cerpen: Fim Anugrah 

Aku membaca Taufik Ismail sambil ngemil. Aku membaca sebuah tragedi yang ditulisnya lewat anak kecil yang membawa karangan bunga. Aku membaca dua ratus juta manusia dengan mulut menganga. Aku membaca seseorang yang malu menjadi warga negaranya sendiri. Aku membaca Indonesia yang di dalamnya tinggal seorang penduduk yang malu dengan negaranya. Aku membaca kemaluan yang kosong seperti tong tapi nyaring bunyinya. Cukup menghibur sebagai pengantar sarapan.
Setelah itu, kusimpan buku dan nyalakan radio. Kuputar pemutar gelombang frekuensi yang berkejaran. Suara-suara terdengar mulai dari berita sampai suara Bang Haji yang masih saja mendendangkan Ani. “Ani, sungguh aku tahu kau rindu padaku. Ani, engkau juga tahu kurindu padamu. Tetapi untuk sementara, biarlah berpisah. Kupergi karena terpaksa demi cita-cita,” begitu katanya. Seperti aku yang juga pergi meninggalkan kampung halama dan diam di kota. Belajar dan mencari ilmu –ilmu memang seperti binatang liar, begitu kata Syafi’i, dan aku harus mencari dan mengejarnya. Satu hal yang menjadi pertanyaanku adalah apakah Bang Haji kembali untuk Ani setelah menggapai cita-citanya? Yang aku tahu, Bang Haji sudah duduk di kusinya yang empuk membaca dirinya yang sempat nongkrong di layar lebar di tahun 80-an. Kubiarkan Bang Haji menyala di dalam radio itu.

Friday, February 24, 2012

Menemukan Ingatan

IN THE RAIN by Fim Anugrah
Dua puluh tahun kemudian, Karlan akhirnya menyadari apa biang dari segala masalah yang dihadapinya selama ini. Dia tahu apa penyebab yang menyebabkan kegagalan demi kegagalan menghantam hidupnya.
Di penghujung tahun yang basah yang tidak duka tapi tidak juga bahagia, Karlan terbangun dengan kepala yang masih menyisakan ingatan semalam. Setiap malam, Karlan berusaha mengingat-ingat setiap persitiwa masa lalu hidupnya. Dengan tergesa dia akan mencatat apa pun yang melintas di kepalanya, mulai dari perayaan ulang tahun yang kedua yang seumur hidupnya hanya dirayakan pada saat itu saja; kenangan bersama pacarnya ketika duduk di bangku SMP kelas satu dan hanya berumur 30 hari saja; hingga ke masalah pertarungannya dengan seekor katak yang tiba-tiba masuk ke kamar dan bermalam di bawah ranjangnya semasa kuliah.  
Akan tetapi, secepat dia mencatat, secepat itu pula dia mencoretnya. Dia tahu bukan itu yang dia cari, entah apa. Beratus-ratus helai kertas telah disobek, dituliskan dan diremas-remas dengan kemarahannya hingga tanpa sadar remasan-remasan kertas itu telah menjadi kasurnya yang kedua. Karlan tidur di atasnya. Sempat dia mencatatkan lima peristiwa yang masih bisa diingatnya: (1) kenalakan pertamanya ketika memecahkan lampus pos ronda dengan ketapelnya dalam jarak tujuh meter; (2) keiisengannya menyimpan cacing di dalam tas teman perempuan SD-nya hingga menyebabkan temannya itu pingsan; (3) penganiayaan yang dilakukan seniornya ketika mengaji; (4) keceriaannya mencari udang dan kerang di sungai dekat rumahnya; dan (5) pertolongannya terhadap seorang nenek yang hendak menyeberang jalan.

Monday, February 20, 2012

Aku dan Sangkuriang

Matahari telah cukup terik untuk bisa bertengger di atas langit. Angin dingin masih terasa di ujung jari walau sebentar lagi hari tak lagi pagi. Jalan-jalan sudah terlihat ramai dijejali orang-orang yang membawa kesibukannya masing masing di hari minggu ini. Kendaraan dari arah kota telah banyak melintas menuju Lembang. Di sudut yang lain, angkutan umum tampak berbaris menunggu penumpang. Aku sendiri sudah cukup lama menunggu teman-teman yang memang sudah berjanji untuk sama-sama pergi berekreasi.
Jam menunjukkan pukul sembilan kurang lima belas menit dan baru hanya ada aku, Angga dan Oky. Desi dan Irfan sedang dalam perjalanan; Andri sedang mencuci; dan Siska sedang menjadi ibu yang baik di rumahnya. Angga dan Oky sibuk dengan ponselnya mencoba mengajak teman-teman yang lain untuk bisa ikut dalam acara ini. Tak lama kemudian Oky berkata bahwa Andri pun batal untuk ikut. Lima belas menit lagi kita berangkat, kataku. Tak berapa lama Desi dan Irfan terlihat berjalan dari arah lain dan dengan ini maka perjalanan pun bisa dimulai. Perjalanan menuju gunung Tangkuban Perahu.

Sunday, February 12, 2012

Anomali Hari

archives
Wajah ruyup. Tubuh gigil. Sorot matahari di celah pintu. Burung-burung pipit menerjemahkan lagi hari. Di bawah kakinya, hidup mengalir di antara biji, perdu dan pohonan. Sambutan selamat pagi disenandungkan lewat nyanyian matahari. Keduanya menjulurkan lagi tangan Tuhan dengan kemestian hakiki bersama langit biru yang bersih, bersama puputan. Aku dan balutan mimpi yang terhenyak juga hidung terbangkis oleh debu-debu kepayahan. Ubun-ubun terpasung gelombang sadar-tak sadar. Napas meminta lagi hembusan. Degup jantung seakan telah berlari sejak malam hingga subuh tadi. Hidup lagi!
Handphone berdering empat kali, kubiarkan. Baterei minta diisi ulang. Perut bernyanyi seperti burung-burung tadi. Langgam perih yang tersisih meruap dalam rentang jemari. Kusingkap selimut, kupukul semut yang berdiam di atas lutut. Terduduk. Maka hinggaplah renung. Pikiran masih kabut tebal mengisi ingatan. Bantal, guling kutendang. Kutendang pusat khayal yang gatal di musim bergigi. Kubahasakan nyanyian matahari. Kuisi lirik-liriknya dengan tuangan air ke gelas penuh gula dan kopi. Sebatang rokok diam di kempit jari tengah dan telunjuk. Dan asap pun berlari menuliskan janji memenuhi ruangan berukuran 4 x 3 meter.
Satu, dua, tiga sms muncul di layar. Kutekan tombol ‘Yes’ sambil menerka-nerka siapa dan apa isinya: 1) Nono: Tlg antr Laila ke RS. Dy dmm dr td mlm. No ga bs, ad kul. Mksh; 2) Laila: Bs mnt antr k RS? dtnggu jm 9 d dpn grbng; dan 3) Asep: Maaf ganggu. Mnt tlng trjmhny pretty handy & precut on easel. Trm ksh bwt jwbny. Slmt tdr kmbl. Interaksi sosial di pagi hari. Kubangun dengan gemeletuk lutut dan pikiran yang masih saja gatal. Radio kunyalakan supaya hening berubah bising. Volume kukencangkan supaya bisa mengalahkan nyanyain burung di luar tadi. Tak lupa kukirim balasan: 1) OK; 2) OK; dan 3) Brmnfaat/mdh dipegng. Mmprsiapkn... Blm kutemukn trjmhn precut. Kubangkit, raih handuk dan segayung peralatan mandi. Menuju kamar mandi!
Jejak-jejak langkah memenuhi jalan. Kunyalakan motor menderu mesinnya kencang. Melesat menemui Laila, menghantarnya ke rumah sakit. Sampai. Gedung megah lobi luas. Dokter, suster, pasien memenuhi ruangan. Tak ada bau obat yang segak seperti biasa. Laila mendaftar. Kududuk diam bersama buku. Melalui beberapa kamar, kami tiba di sebuah ruang dengan bangku berjejer di depan. Menunggu. Pukul 10 lewat. Menunggu. Tak juga ada panggilan tuk Laila diperiksa. Menunggu. Menunggu dokter tak kunjung datang. Jam berlari kencang. Kami terdiam satu jam: Aku membaca buku; dia mengkhidmati setiap hembus udara yang dihirup dan keluarkan. Seolah berkata: “Jangan lupa bernapas.” Di tengah kondisi yang tak bersahabat pun napas seyogianya selalu setia memapah langkah. Hati diiris sembilu. Lalila kuyu menarik-narik jaketnya disapa angin lalu dari arah barat ruangan.   
“Aku mesti pergi pukul 9.30. Ada kuliah.”
“Ya, sudah. Aku bisa sendiri.”
“Tak apa?”
“Tak apa. Terima kasih sudah mengantar.”
“Jika mau dijemput lagi, sms saja.”
“Okay. Hati- hati di jalan.”
“Kutunggu sms-mu.”
Kugegaskan langkah kaki menuju parking lot. Motor kunyalakan dan melaju menuju tempat kuliah. Sedikit balapan sepertinya menarik. Lima belas menit kemudian tiba di kampus. Berlari menuju ruangan kuliah. Syukur tak terlambat. Dosen di depan sudah bercerita. Kukeluarkan alat tulis dan buku yang sempat tadi kubaca. Lima puluh tujuh kepala terduduk menuliskan kata-kata di buku catatan, di lapang kening, di sudut hening kecuali racau mulut dosen yang sudah berbusa. Arah jam sepuluh seorang Peri tak lagi menari. Kerudung merah marun mendekapnya khusyuk. Seseorang telah dicampakkan: Aku. Seseorang telah didekapnya lagi di antara jemari. Seseorang berkawan sepi, sembilu datang lagi mengiris hati: Aku. Pijar cahaya Peri tak lagi jingga. Air mata khayalku terlepas jatuh satu-satu di atas buku. Pulpen mengguratkan tinta darah. Aku diam batu. Tapi masih ada yang setia walau hati tak lagi biru: Napas.
Dekatku, duduk pria tegap berucap gagap. Memutar-mutar pulpen menerka-nerka setiap ucap dosen berbahasa alien. Ditangkap dan dituliskannya tanda-tanda dalam catatan. Namun seperti tetap ragu apa ia bisa menerjemahkan makna lagu. Kemudian pulpen menetak di atas jidatnya. Pusing. Di sebelahnya, anak kecil menulis tartil mengulum senyum lewat tembus gelas kaca di matanya. Ia selalu bersujud padaku meminta restu. Dalam kadar langit mengitam, menyorot cahaya muram, ia tetap bersujud padaku. Di sebelahnya lagi, aroma segak tercium. Tatapan tawas seringkali muncul, kadang seringai. Rasa benci belum menguap. Aku dan Peri dilempar batu-batu olehnya. Seperti yang bisa menerka, padahal entah. Aku menaruh curiga. Ia duduk mengambang di udara.
Aku, Peri, dan dia adalah rahasia. Tak ada garis tegas sebenarnya. Namun, seperti seseorang berucap takdir: Aku subjek, Peri objek, dan dia komplemen. Aku raja, Peri ratu, tapi dia bukanlah hantu gentayangan yang minta sesembahan. Mengapa selalu ada peran ketiga di setiap sandiwara? Terkadang jika ada waktu ia menyunggingkan senyum yang berat sambil mengutukku sebagai Malin Kundang. Analogi yang tak tepat. Apa peduliku! Aku dan Peri, kami, biasa bermain-main di balai bambu. Tak ada yang tahu kecuali ruang dan waktu. Bumi tak merestui. Juga dia. Kepodang yang layak pengintai menebar kabar samar ke penjuru dunia. Dia pun menangkapnya. Menerjemahkan bahasa kisah kasih dengan mulut yang dikulum, dan terpancang padanya kutuk maut padaku. Tak ada harmonisasi tangga lagi karena aku memainkan lagu dengan nada minor. Maka, ditulislah aku sebagai onak. Peri tetap peri karena dibalut kerudung merah marun. Aku senyum. Senyum yang gigir hingga luruh semua musim. Dalam salam, pikirannya tetap nyinyir padaku. Aku memelas balas, menyimpan duka, mengusap usia yang senja.
Waktu berlalu. Ada awal ada akhir. Kupulang dengan sebotol bir di tanganku yang rindu peluk dan kecup Peri. Tak ada penjelasan. Tiba-tiba semua kembali berjalan masing-masing sambil terhuyung-huyung. Kabar telah kubur disemayamkan cuaca dan anggur.
Di ruangan ini semua berkumpul, semacam reuni yang tak direncanakan. Aku dan pikiran yang tuba segala tanya. Peri telah hinggap di musim yang lain dan dia, yang duduk di atas udara, seakan tak rela aku ada. Maka kupandangi rasa tawar warna nyawa itu dengan nyata: Aku telah menjadi sepi. Dan sudilah kiranya melepaskan semua peran itu karena cerita telah usai. Anak kecil memanggil-manggilku guru. Kami bercakap. Bercanda. Dia menatapku dengan rasa yang entah.
“Guru, minta uang dong!”
“Untuk apa?”
“Iuran.”
“Ah.. tidak. Aku kan bukan lagi generasi baru.”
“Ga apa-apa atuh.”
“Mending kau ambil saja uangku dari iuran kemahasiswaan. Uangku masih numpuk di sana. Dan sedikit pun belum kuapa-apakan.”
Dia menatapku dengan senyum tertahan. Beberapa gigi muncul bahkan decit seperti burung dan diantarkannya padaku. Dia tersenyum. Aku tersenyum dengan pikiran dan hati heran. Tertahan. Dia tersenyum? Cuaca tidak hujan badai tiada, dia tertawa padaku. Ada apa gerangan? Lapang sudahkah hati berkabut kemarin dulu? Selesaikah sandiwara segitiga tak kentara? Kubalas tawa tanpa ada pretensi. Oh, Tuhan akhirnya menurunkan dunia baru padaku. Aku tetap dengan heranku. Tapi jika ini seyogiyanya harus aku dapat, aku bersyukur karena tak ada lagi siasat atau rasa dendam. Semoga ini jadi pelabuhan penghantar getekku yang baru. Tanganku menjulur tak terlihat bagai ingin berkata: “Terima kasih wahai tawa. Wahai dia yang membuka pintu tuk bercanda. Takkan kumainkan lagi teka-teki cuaca. Biarlah yang akan datang berlalu tanpa harus kita menjadi lagi batu. Terima kasih.”
Satu jam, dua jam, tiga jam pelajaran pun berlalu. Dalam ruang aku hanya bisa mengajukan beberapa pertanyaan tanda belum paham. Memang seperti itu hakikatnya. Selesai kuliah, kulangkahkan gontai kakiku menuju entah dalam balutan surga karena tawa tadi. Tapi selanjutnya kebingungan melanda. Ku-sms Laila. Ia sudah dijemput Nono. Kuikuti langkah Nani, dan Ade. Makan siang! Mencari-cari tempat makan yang alami bahannya. Maka, kami bertemu lotek dan karedok. Dua karedok dan satu lotek kita pesan. Makan. Perut diisi dengan berbagai macam unsur: sayuran, ulekan kacang bersama garam dan gula merah. Sial, Si Ibu menambahkan bawang putih, penyedap makanan yang tak kusuka. Ruang mulutku terasa panas. Kuminum segelas air putih yang tersedia, namun tak hilang. Kita tak berlama-lama. Setelah itu kita putuskan ke perpustakaan. TUTUP.
“Jadi, kapan kita bisa diskusi?”
“Bagaimana kalau besok?”
“Besok siang Nina ada janji dengan teman. Paling pagi.”
Sms kuterima: Bs mnt tlng d antr lg k RS. Td cek drh, trombosit trn. Bsk mst ksn nge-cek hslnya.
“Ade gimana?”
“Ade sih ga masalah. Mau pagi mau siang juga bisa.”
“Aku ada janji pagi. Temen minta anter ke Rumah Sakit.”
“Gimana dong?”
“Ya sudah. Bagaiman kalau kamis aja?”
“Okay kalau begitu.”
“Sampai ketemu besok Kamis.”
Kami berjalan pulang. Aku pulang menunggu lagi hari tuk diguratkan. Menanti-nanti cerita apa yang singgah menghias langit yang belum dilukis. Mungkin masih ada tawa yang lain yang abadi bisa kudapat. Bahwa ia menjadi teramat surga walau tak terbahasa, membuatku tahu artinya berkata-kata tanpa harus berbicara. Maka gontai lagilah kakiku ini berjalan. Ade ke arah Timur, Nina ke Utara, aku ke Barat menuju senja.  Angin tak lagi deru mengikuti langkahku. Tawa kudendangkan. Aku pulang mengucap sayang, mengakhiri hari dengan langgam: Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.*[FA]

Lantaidua-Bandung, Maret 2008


*) sebait sajak Sapardi Djoko Damono berjudul “Aku Ingin”