Showing posts with label bahasa. Show all posts
Showing posts with label bahasa. Show all posts

Wednesday, March 21, 2018

Belajar Bahasa Jepang Bersama Kokoro No Tomo (Mayumi Istuwa)

Siapa yang ga kenal Kokoro No Tomo-nya Mayumi Itsuwa? Di era 80-an lagu ini sempat populer di Indonesia, sekalipun di negeri asalnya tidak, kecuali mereka yang seangkatan dengan Sang Vokalis. Kepopuleran ini menjadi fenomena di negeri kita karena ternyata hampir semua generasi hafal dengan lagu yang awalnya sering sekali diputar di radio di seluruh Nusantara. Bahkan tidak sedikit musisi kita yang mengcover lagu ini, tidak terkecuali Delon Idol dan Zivilia Band beberapa waktu lalu.

Nah, sambil mengenang kembali lagu abadi yang satu ini, postingan kali ini akan menampilkan lirik lagu tersebut yang sengaja ditulis menggunakan huruf negeri Sakura (Hiragana, Kanji dan Furigana-nya). Sekalian agar kita bisa belajar bahasa Jepang tetap dengan cara yang menyenangkan. Tidak lupa video yang diambil di channel Youtube pun disematkan di bawah postingan ini. Ga menarik kan kalau hanya membaca/menyanyikan lirik kalau tidak ada iringan musiknya? 

Saturday, March 17, 2018

Belajar Bahasa Jepang Lewat Cerita (Kintarou & Momotarou)

やさしい 日本語
HAJIMEMASHITE!

Anime bisa jadi awal pertama orang berkenalan dengan bahasa Jepang, terutama soundtrack-nya. Doraemon, One Piece bahkan Naruto, adalah beberapa anime yang bisa dengan mudah ditonton di tipi yang sedikit banyak membuat penontonnya ingin juga belajar bahasa Jepang. Menurut saya pribadi, Jepang memang tidak ada matinya, mulai dari budaya lokal bahkan teknologi. Mereka membuktikan bahwa majunya sebuah bangsa tidak hanya jago dalam membuat atau menciptakan tapi juga merawat, melestarikan dan mengembangkannya. Terbukti, Jepang menjadi barometer dunia dalam banyak hal, tidak hanya melulu soal teknologi, tapi juga informasi, fashion, musik, dan banyak lagi.

Saturday, August 16, 2014

Bahasa Sebagai Indikator Peradaban Bangsa

Sebuah kalimat berbunyi: Jika seseorang ingin mengubah hidupnya, maka ia harus terlebih dulu mengubah bahasanya. Peribahasa Sunda berkata “Hade goreng ku basa.” Seyogianya, bahasa adalah representasi jati diri sesorang. Pada bahasalah seseorang memperlihatkan identitasnya. Ia menjadi tolak ukur keber-adaban manusia.
Kesadaran akan bahasa merupakan indkotrinasi. Ia dicapai bukan melulu lewat jalur akademik yang mengumbar begitu banyak teori. Bahkan ada kalanya teori-teori itu pun tidak bisa membendung bahasa sebagai makhluk yang terus berevoulsi—sesuatu yang berbanding lurus dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia itu sendiri.
Kesadaran pun bukan sesuatu yang final. Sejauh manusia dan bahasanya berkembang, sejauh itu pula kesadaran dibutuhkan. Permasalahannya sekarang adalah, apakah kesadaran itu berwarna positif atau negatif. Tentu, di tengah rongrongan multimedia yang gencar, selalu ada kesempatan bagi bahasa untuk menampakkan kelemahan-kelemahannya. Sayangnya, tidak ada filter atau penyaring mana dari wujud pikiran itu (bahasa) yang benar dan baik dengan yang sebaliknya. Di sinilah logika punya peran.


Friday, March 14, 2014

Bahasa Bayi

Baru saja saya ngobrol dengan istri saya tentang kemampuan anak kami yang saat ini berusia sembilan bulan. Usia dimana seorang batita sudah mulai mengenal alat-alat ucap yang dimilikinya, dan mulai mengeksplorasinya. 

Alih-alih untuk mengetahui kapan seorang anak sudah mumpuni untuk bisa berbicara, kami, lebih tepatnya saya, justru mengamati perkembangan putri kami yang satu ini. Dan janganlah ini disebut sebagai penelitian, karena tidak ada metode ilmiah yang digunakan dalam prosedur penganalisisannya. Ini hanya semacam pengamatan perkembangan kami terhadap putri kami yang bernama Kirana Ismi Nurlatifah. Lagi pula ini hanya naluri seorang orang tua saja pada anaknya.

Untuk usia delapan tahun, putri kami sudah mulai bisa mengucapkan beberapa frase tak bermakna seperti yayah, mamah, bebe, titit, nenen, dan beberapa frase yang cukup susah untuk mentranlantasikannya pada huruf latin yang ada. Hal ini kami waspadai semenjak Kiran menginjak usia delapan tahun. Dan yang lebih menarik adalah ketika ternyata untuk usia yang sangat masih muda, Kiran sudah tanggap dan respon terhadap bahasa yang diucapkan oleh orang tuanya. Semisal ketika kami memanggilnya dengan panggilan Neng Kiran, dengan sangat sadar dia menolah terhadap si pemanggil. Dan ini, sebuah keniscayaan. Maksud saya, artinya bahwa ternyata putri kami sudah memiliki pengertian untuk dua kata yang dimaksud, dimana kata Neng Kiran sudah menjadi alaram baginya untuk menengok kepada si pemanggil. Mungkinkah si anak sudah mawas terhadap lingkungannya?

Meski begitu, dikarenakan belum sepenuhnya tahu bahasa dan mengenal alat ucap yang dimilikinya, kadang Kiran pun tidak bisa mengungkapkan suatu keinginan dengan kata-kata. Tentunya. Semisal, ketika tubuhnya menelungkup dengan kedua tangan  terangkat ke atas sambil dikepalkan dan kaki yang ditegang-regangkan sedemikian rupa, itu artinya dia ingin bangun dari tempatnya. Ingin digendong atau ingin jalan-jalan. 

Terkadang, ada-ada saja ulahnya. Semisal dalam keadaan tengah senang, dia acapkali berceloteh dengan frase-frase yang telingapun susah untuk menangkap apa huruf yang diucapkannya. Mungkin seperti kata mama, baba, yaja, baya, dan yang lainnya. Dan, sebagai orang tua, hal itu cukup menyenangkan sekaligus membahagiakan. Itu artinya dia mulai mengolah alat-alat ucapnya meski belum sepenuhnya diwaspadai.

Awalnya saya menyangka jika perkembangan bahasa Kiran adalah ketika ia tengah berusia tiga bulan. Bagaimana tidak, betapa kagetnya ketika suatu waktu di kala saya tengah duduk di ruang tengah dan Kiran terbangun dari tidurnya seraya berkata, ng-ging, ng-ge, mbi, mbe. Empat frase itu diucapkannya secara berurutan dan dengan jelas sekali! Akan tetapi ternyata itu hanya sebatas ekspresi. Barangkali belum ada kesadaran akan kepemilikan alat ucap, akan tetapi itulah sepertinya pertama kali alat ucapnya bekerja.

Dari pengamatan dan ternyata dibuktikan juga oleh beberapa literatur yang saya baca, pada usia tiga bulan sebenarnya seorang bayi sudah bisa memproduksi suara. Adapun huruf-huruf yang diucapkannya adalah huruf-huruf gutural (tekak) yakni huruf 'g', labial yakni huruf "m" dan "b", serta huruf cerebral yakni huruf "ng". Dan hal ini akan terus berkembang seiring usia dengan berbagai macam faktor seperti keterlibatan lingkungan yang menengarai kondisi psikologis anak. 

Sampai sekarang, memang ada perkembangan alat ucap putri kami dengan berkembangnya alat ucap yang diperlihatkan dari begitu banyak suara yang dihasilkannya, meski belum tentu huruf latin bisa mentranslasikannya. Bahasa alien, begitulah kadang kami menyebutnya. Karena kami memang tidak bisa mengetahui huruf apa yang diucapkannya. Sejauh ini, Kiran sudah mengeluarkan huruf-huruf yang jika kami harus memetakannya pada huruf yang kami tahu, adalah huruf konsonan "b", "d", "g", "m", n", "y" dan tiga huruf vokal yakni "a", "e" dan "i". Untuk huruf konsonan, dalam ilmu fonologi, barangkali hanya sebatas pada huruf gutural, cerebral, labial, semivowel, dan dental. 

Barangkali sebuah kebiasaan, ketika bangun tidur, ketika tengah bermain, atau ketika sesudah malam tiba, Kiran akan melihat beberapa poster di dekat tempat tidurnya. Poster bergambar binatang, buah-buahan, bahkan huruf hijaiyah itu kadang kami bacakan untuknya. Sambil melihat gambar dan menunjukknya, saya dan istri membacakannya untuknya. Seperti gambar kucing, tikus, kuda, sapi, apel, jeruk, mangga, dan kata-kata yang memiliki dua suku kata. Bahkan dari perkataan istri saya, ketika dia berkata ngaos (mengaji), secara spontan, Kiran akan mendekati poster huruf-huruf hiijaiyah dan istriku pun membacanya. Kedua tangan kiran akan menempel pada poster itu dan kadang memukul-mukulkannya.

Percakapan kami pun sampai pada bahasa apa yang akan kami gunakan sebagai sarana komunikasi dan interaksi untuk dan dengan Kiran. Karena saya pikir hal ini penting sekali. Bahasa daerah barangkali tak harus diajarkan secara formal--lingkungan sudah cukup mumpuni untuknya berbicara dan memahaminya. Bahsa Indonesia barangkali menjadi pilihan karena di dunia yang serba cepat ini, hanya bahasa inilah yang tak mengenal undak-usuk dan tak mengenal pula strata serta kasta. Tapi saya juga ingin agar Kiran mahir juga bahasa Inggris pada nantinya. 

Obrolan kami ini sebenarnya ditengarai oleh rasa prihatin atas banyaknya bahasa yang tidak tepat digunakan akhir-akhir ini di masyarakat. Saya pikir jika seseorang ingin hidup dengan baik dan benar, maka terlebih dahulu yang harus dipersiapkan adalah bahasanya dulu. Karena bahasa menentukan pribadi seseorang. Jangan sampai karena kesalahan berbahasa maka pikiran dan perilaku seseorang menjadi salah, hanya karena bahasa yang digunakannya itu ambigu, tidak bermakna dan sebagainya. Itu yang penting! Saya berharap semoga putri kami memiliki kemawasan terhadap bahasa,sebab itu adalah citra dirinya sebagai seorang manusia yang memiliki akal pikiran dan budi serta daya. [FA]

Sunday, May 12, 2013

Sastra Kekanak-Kanakan

Tidak bisa dimungkiri jika sastra, dengan seabreg embel-embel yang tertera di belakangnya, selalu menyimpan kekuatan politis. Kekuatan itu tentu saja tidak diutarakan secara eksplisit lewat kalimat yang bernas. Kita tahu bagaimana kajaiban kata-kata bisa tampak seperti bunga sekalipun yang dimaksudkan adalah belati. Cukup melalui alur atau plot saja di mana cerita itu dituliskan. Kekuatan politis itu setidaknya tampak dari konsekuensi logis ketika karya sastra itu sudah memiliki dampak dalam kehidupan sosial.
Kita mungkin masih ingat bagaimana Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata sekonyong-konyong membuat dunia pendidikan kita berubah. Dari mulai televisi, radio bahkan koran serta merta meliput gedung-gedung sekolah yang bisa dibilang jauh dari kata layak. Sekolah Reyot, Sekolah Hampir Rubuh, Sekolah Kandang Kambing, dan banyak lagi sekolah lainnya. Lewat novelnya, Andrea tidak berkata dengan langsung jika jauh di sudut-sudut negeri ini, betapa banyak bangunan yang tidak pantas untuk digunakan sebagai tempat belajar. Dengan kata lain, pemerintah ternyata masih juga belum memikirkan pendidikan warga negaranya.
Permasalahannya adalah, hanya karena kenyataan akan pengalaman ini dituliskan lewat sebuah novel yang kebetulan best seller, maka Laskar Pelangi tiba-tiba mampu mengubah wajah pendidikan bangsa ini(?) Dalam kasus demikian, cerita ternyata tidak hanya sebatas cerita (l’art pour l’art); akan tetapi, cerita sudah berubah menjadi–meminjam kata-kata Penyair Widji Thukul—peluru. Namun demikian, benarkah kita tahu wajah pendidikan kita yang sebenarnya hanya karena membacanya dari sebuah novel? Seandainya kita tahu, betapa banyak realita yang lebih parah ketimbang yang diceritakan Laskar Pelangi.
Bagaimanapun, ketika kita berbicara pendidikan bangsa, maka kata yang sejatinya harus ada di belakangnya adalah Indonesia. Bukan hanya Jakarta, Bandung, apalagi Belitung! Setidaknya kita bisa berterima kasih pada Laskar Pelangi yang sudah menimbulkan pengaruh masif terhadap pendidikan di negeri ini. Entah, fenomena apakah kita harus menyebutnya.
Terkait pengaruh ini, lewat “pembacaan” yang sudah kita lakukan, semestinya pikiran kita sudah harus bersih dari warisan nenek moyang. Leluhur kita yang senang sekali membuat kasta dalam kehidupan sosialnya, termasuk dalam hal hasil budaya. Sebut saja Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, Sepatu Dahlan-nya Krishna Pabichara, bahkan jauh sebelum itu ada Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari. Tak lupa, puisi Karangan Bunga-nya Taufik Ismail. Sekalipun tokoh yang berbicara di sana adalah anak-anak, tidak berarti karya-karya itu bisa disebut Sastra Anak.
Adalah anomali seandainya sebuah cerita bertokohkan seorang anak maka tanpa tedeng aling-aling kita menyebutnya Sastra Anak. Kenyataannya, toh apresiatornya bukanlah anak-anak, dan memang target pembacanya pun bukan anak-anak. Berbeda halnya dengan Korrie Layun Rampan yang sempat membuat antologi puisi untuk anak-anak. Untuk kasus seperti ini, tak salah jika puisinya pun disebut Puisi Anak di bawah naungan Sastra Anak.
Memang samar-samar garis batas antara sastra anak-anak dan sastra orang dewasa. Tidak mudah untuk berkata bahwa buku anak-anak bisa disebut sebagai sastra anak, pun dengan buku-buku orang dewasa. Tetapi, ada kalanya buku anak-anak menarik perhatian orang dewasa begitu juga sebaliknya. Sindrom nostalgia, begitu istilahnya. Untuk masalah ini, Tarigan (1995) mengungkapkan jika buku anak-anak biasanya mencerminkan masalah masa kini. Masalah di rumah, di sekolah, di permainan. Masa lalu hanya terbatas pada kemarin karena nostalgianya belum banyak.
Selain itu, lanjutnya, warna pengalaman dan pemahaman akan isi ceritanya pun masih sangat terbatas. Hal demikian bisa dilihat dari nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra yang dimaksudkan semata untuk bisa: memberi kesenangan dan hiburan; memupuk dan mengembangkan imajinasi; memberi pengalaman baru; mengembangkan wawasan menjadi perilaku insani; memperkenalkan kesemestaan pengalaman, dan; memberi harta warisan sastra dan generasi terdahulu, pada anak-anak. Fabel, legenda, mitos, puisi rakyat, dan dongeng, adalah beberapa genre yang termasuk dalam Sastra Anak.
Nilai-nilai tersebut jelas tidak bisa disamakan dengan nilai-nilai karya sastra sebagaimana disebutkan di atas. Sekalipun tokoh dalam semua karya itu adalah anak, tetap saja penuturnya (penulis) adalah orang dewasa. Kita tahu itu bahkan sebelum membaca ceritanya. Ada pun kemungkinan mengapa para penulis itu menjadikan anak sebagai tokoh adalah, karena anak-anak itu bersih, suci, belum punya banyak dosa seperti orang dewasa. Anak-anak juga polos, selalu meminta belas pada orang dewasa agar kata-katanya didengar. Di dunia ini, adakah orang dewasa yang tidak peduli pada anak-anak?
Dengan demikian, tokoh cerita itu bukanlah anak-anak yang sebenarnya. Tokoh cerita itu (baca: penulisnya) hanya tengah bersikap kekanak-kanakan. Sejujurnya, selain simpati yang didapat dari pembacanya, penulis pun tidak harus repot-repot membuat excuse baik untuk dirinya maupun ceritanya. Walau, untuk mereka yang benar-benar memikirkan karakter yang diperankan si tokoh cerita, mestinya bisa pandai membuat garis di dahi sambil berkata: Mungkinkah seorang anak punya begitu hebat pengertian, pemahaman, dan pengetahuan yang seusia mereka masih jauh panggang dari api? Secepat kita bertanya, secepat itu pula kita menjawab: “Ah, namanya juga anak-anak!”
Kehati-hatian barangkali yang kita butuhkan untuk masalah ini. Tidak sedikit orang yang terperangkap dengan dikotomi sastra anak dan sastra kekanak-kanakan. Mereka yang baru tahu mungkin bisa lebih waspada untuk menisbatkan sesuatu; yang terlanjur mudah-mudahan bertobat. Karena, bukan tidak mungkin, ketika kita tahu dunia sudah parah, untuk masalah ini perilaku kita malah jadi salah kaprah. [Fim Anugrah/”Saswaloka”]
 
Picture: Life by mytineke

Tulisan Eksentrik

Ayas tangas nikay ikaj adna kidat isab acabmem tamilak ini, ilaucek atak id nepad amok idat. Dengan usaha yang keras anda akan mencari tahu apa isi dari kalimat pertama itu. Anda akan mencari kamus atau membuka Mbah Google untuk mencari tahu barangkali ada bahasa yang merepresentasikan kalimat tersebut. Walau sebenarnya Anda tidak harus repot-repot karena kalimat itu sesungguhnya terdiri dari kata-kata bahasa Indonesia yang ditulis secara kilabter (terbalik) sesuai urutan hurufnya. Kalau pun harus ditranslasikan, maka kalimat itu berbunyi: Saya sangat yakin jika anda tidak bisa membaca kalimat ini, kecuali kata di depan koma tadi. Tapi dengan demikian, hal ini malah jadi bertentangan karena sudah jelas Anda sekarang bisa membaca kalimat tersebut. Jika sudah seperti itu maka kata-kata itu tidak lagi benar karena sudah bertentangan dengan realita yang sesungguhnya.
Tetapi tulisan ini tidak akan membahas soal benar tidaknya sebuah pernyataan dengan realitasnya. Saya pikir itu adalah pekerjaan para ahli-ahli bahasa dan ahli-ahli lain yang berhubungan dengan bahasa. Di sini saya hanya ingin mengetengahkan tentang bahasa tulisan yang eksentrik, yang keluar dari pakem dan dari segala aturan bahasa yang digembar-gemborkan merupakan ejaan yang baik dan benar juga disempurnakan. Walau, saya juga yakin jika kita masih belum menyelesaikan PR tentang seperti apakah yang baik dan benar itu. Mengapa? Karena bahasa adalah makhluk. Selama makhluk itu tumbuh, selama itu pula bahasa akan terus berkembang sehingga tak ayal kita kalah dan gagal untuk bisa mengerti Si Bahasa dan segala perilakunya itu.
Okay! Sekarang, apa yang kita tahu tentang bahasa tulis? Apakah bahasa tulis hanya terdapat pada sebatas buku-buku, koran, pamlfet, dan brosur saja? Jika ingin tahu bagaimana bahasa tulis, cobalah lihat anak-anak yang sedang belajar bahasa di SD atau mungkin SMP. Lihat bagaimana mereka menulis di buku catatannya. Setidaknya ini adalah kasus yang saya temui di banyak buku catatan anak-anak. Janganlah menyebut jika bahasa Indonesia sudah benar-benar dikuasai oleh anak-anak pembelajar ini. Di kota-kota besar yang pendidikannya maju, mungkin Anda tidak akan melihat kasus seperti ini. Berbeda dengan di kota-kota atau desa-desa kecil yang kualitas pendidikannya masih rendah. Masih belum mempertimbangkan pentingnya pendidikan.  
Suatu hari saya melihat beberapa anak menulis kata “senal”, “senok”, “popo” dan banyak lagi. Setelah dilselidiki ternyata kata itu sebenarnya adalah “sandal” (sandal), “sendok” dan “bobo”. Mengapa mereka itu menulis kata-kata itu dengan cara demikian? Setelah diselidiki, ternyata pengaruh bahasa lisan begitu kuat dalam bahasa tulisan anak-anak. Mereka menuliskan kata-kata sesuai dengan apa yang mereka dengar dan bukan dengan apa yang mereka tahu. Di lingkungan rumahnya, anak-anak ini memang mengucapkan kata “sandal” dengan kata “senal”, pun dengan kata-kata lainnya.
Secara pengetahuan, mereka tahu dan kenal abjad ABC sampai Z. Tetapi hal itu tidak berlaku jika dihubungkan dengan kehidupan sosialnya. Kenyataannya, masyarakat di lingkungan di mana anak berada memang sudah terbiasa mengucapkan sebuah kata dengan kata yang sudah menjadi konvensi bersama. Entah apa yang salah. Tapi saya pikir memang tidak ada yang salah. Haruskah kita menyalahkan si anak hanya karena dia salah menulis sebuah kata sedang faktanya bahwa bahasa yang digunakan oleh anak memang dibentuk oleh masyarakat di sekitarnya. Dalam kasus seperti ini, pengetahuan apa pun tentang bahasa dan segala tetek bengeknya tidak berlaku jika dihadapkan pada kenyataan seperti ini. Dengan kata lain, bahasa memang tidak dan bukan diciptakan oleh para pakar bahasa. Pada umumnya masyarakat memang tidak tahu dan tidak juga mau tahu tentang hal-hal remeh temeh seperti itu. Bagi mereka yang penting mereka masih bisa membajak sawah, berkebun dan bisa makan dari apa yang ditanamnya.
Jauh panggang dari api. Jauh pendidikan dari kehidupan. Orang-orang pintar berpikir jika bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan dan orang Indonesia sudah tentu harus bisa berbahasa ini. Sayangnya, tidak semua daerah sudah benar-benar menguasai bahasa Indonesia. Apa yang kita tonton, kita dengar, kita baca di banyak media hanya sepersekian persen yang merepresentasikan bahasa Indonesia yang sesungguhnya, yang katanya baik dan benar itu. Tapi kita tahu jika Indonesia itu luas. Indonesia tidak hanya Bali, Jakarta, Bandung atau Yogyakarta. Banyak daerah-daerah lain yang justru luput dari perhatian bahasa Indonesia (baca: pemerintah dan media). Di daerah-daerah ini, orang-orang masih “bangga” dengan bahasa daerahnya, termasuk anak-anak yang sedang menuntut ilmu. Mereka tumbuh dengan bahasa daerah yang kental dalam penggunaannya sehari-hari di rumah, di sawah juga di sekolah. Pelajaran bahasa Indonesia pun tak lantas bisa mencairkan ketaklidan mereka dalam berbahasa. Percis kasus yang saya sebutkan di atas.
Tapi, benarkah kita sudah berbahasa dan sudah pula menguasai bahasa Indonesia sepenuhnya? Jika jawabannya adalah “ya”, lalu mengapa pula kita masih mempelajarinya bahkan di tingkat Perguruan Tinggi? Iklan rokok pun berkata: “Tanya kenapa?”
Dari pada bingung mencari solusinya, saya pun terus mengajari anak-anak berbahasa Indonesia yang baik dan benar sebelum mereka belajar bahasa asing sekalipun saya memang mengajar bahasa Inggris. Pikir saja, bagaimana mungkin anak-anak bisa berbahasa asing sedang berbahasa Indonesia saja mereka masih mengeja kata? Saya hanya berusaha mencoba agar anak-anak bisa bertahan hidup dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar itu dalam mengarungi hari-harinya. Sejenak terhibur ketika melihat tulisan anak-anak yang lucu dan lugu itu. Seorang anak menulis: I laik English lenguij because it fun. I can sing and playing game. Wan day, I hop I can speak with English lenguij. Hehe. [Fim Anugrah/”Saswaloka”]



Wednesday, February 6, 2013

Bahasa Tulisan Yang Aneh (?)

entah apa yg terjadi tapi mungkin guru basa indonesia lupa memberi tahu murid2 SMA-Nya jika stiap hurup pertama di kata pertama dlm sebuah kalimat itu harusnya kapital atau huruf BESAR & bukan huruf kecil seperti tulisan ini termasuk huruf kapital pada kata yg merujuk sebuah nama tempat negara dlsb.
Tentunya tidak hanya masalah hurup kapital saja mereka pun menyingkat kata2 mirip bahasa sms seperti kata yg, dlm, stiap dan & bahkan kata ulang pun ditulis menggunakan angka 2. Entah karena masalah epektipitas atau mungkin semata untuk menghemat enerji (tina). Teramat remeh memang masalah ini tapi apakah harus dibiarkan saja sekalipun guru basa Indonesia tahu kesalahan itu dari tugas-tugas dan PR-PR yang mereka kerjakan dan kumpulkan padahal kita semua tahu jika ketidakpedulian adalah akar kebodohan dan kebodohan adalah benih kemiskinan. (Pantesan negeri ini ga maju-maju atuh!)

Tuesday, January 22, 2013

Persoalan Teknik Belajar Bahasa


Kita mungkin pernah bertanya: Bagaimana cara belajar bahasa yang baik itu? Apa harus kita menghapal abjad dari bahasa yang sedang dipelajari? Apa harus mempelajari tata bahasa dan mengenal kosa kata terlebih dahulu? Atau, apa langsung pada percakapan saja? Dengan kata lain, teknik apa yang efektif dalam belajar bahasa?

Pada hakikatnya, tidak ada teknik belajar bahasa yang mutlak efektif—untuk mengatakannya tidak efektif sama sekali. Persoalan teknik sepenuhnya bergantung pada kebutuhan pembelajar dalam mempelajari bahasa yang sedang dipelajarinya.

Dalam ruang lingkup formal (institusi) khususnya, kebanyakan pembelajar bahasa barangkali terlebih dahulu (baca: mau tidak mau) harus mengenal abjad dari bahasa yang sedang dipelajari. Misal, anak sekolah yang menghapal abjad ABC sampai Z dalam belajar bahasa Inggris, maupun bahasa yang lain seperti Prancis, Jerman atau Rusia. Sayangnya, hal ini tidak berlaku jika si pembelajar mempelajari bahasa, semisal bahasa Jepang, bahasa Arab, atau Sanskerta. Karena, jelas ketiga bahasa tersebut berbeda dengan bahasa latin yang abjadnya dimulai dari A dan diakhiri dengan Z.


Wednesday, January 16, 2013

Penyakit Bahasa (1)

Agrafia atau disgrafia adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan keadaan dimana seseorang tidak kuasa atau tidak punya kemampuan untuk menulis. Ketidakmampuan menulis ini bukan berarti bahwa orang tersebut tidak tahu cara menulis dikarenakan hal-hal teknis seperti: tidak bisa menyusun kata-kata menjadi kalimat, atau tidak bisa membuat paragraf. Akan tetapi, ketidakmampuan di sini lebih kepada kondisi atau keadaan dimana seseorang tidak bisa menuangkan pikirannya dalam bentuk tulisan. 

Penyakit ini dapat diakibatkan karena proses kognitif, linguistik, atau sensimotorik yang terganggu. Dengan kata lain, keadaan psikologi yang tidak mendukung. Sebabnya tentu saja banyak, mula dari segi individu maupun dari segi lingkungan yang memengaruhi individu tersebut. Sehingga, muncullah hambatan dalam proses kebahasaan yang tampak dari tidak kuasanya seseorang untuk "menerjemahkan" bahasa itu.

Dari kenyataan ini, setidaknya ada dua aspek yang menghambat proses menulis seseorang, yakni komponen sentral dan periferal (Ellis, 1988; Shallice, 1988; Rapesak dan Beeson, 200). Komponen sentral mengacu pada hakikat ketatabahasaan yang bertanggungjawab untuk memperoleh kata-kata yang tepat dan ketentuan informasi untuk pengejaan tepatnya. Sedang komponen periferal atau lingkungan menulis merupakan prosedur yang menjadi jalan tentang bagaimana menerjemahkan pengetahuan ke dalam tulisan, dan bagaimana membimbing motorik untuk menggerakan tangan atas tulisan.
   
Sejauh ini penelitian menyebutkan jika agrafia terjadi lebih pada akibat psikologi ketimbang teknis. Contohnya, seseorang yang tidak biasa berbicara di depan publik, memiliki tingkat agrafia yang lebih tinggi ketimbang orang yang biasa berbicara/berkomunikasi. Tetapi hal  ini tidak mutlak adanya; dengan kata lain, hal ini bisa diperdebatan. Atau, seseorang yang memang sengaja memiliki niatan untuk tidak berkomunkasi dengan orang lain, bahkan teman sekalipun, dikarenakan kekhawatiran yang berlebih atas alasan yang belum jelas. Orang seperti ini juga bisa mengalami penyakit agrafia, termasuk juga orang yang lebih suka diam di kamarnya ketimbang bersosialisasi dengan orang-orang sekitarnya.

Satu yang pasti, setiap orang bisa mendapatkan penyakit ini, tidak terkecuali seorang penulis hebat sekalipun. Maka dari itu beberapa solusi agar kita tidak sampai mendapatkan penyakit ini adalah dengan cara jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat berbeda dan tetap berkomunikasi dengan orang-orang tanpa harus merasa takut apakah kita diterima oleh mereka atau tidak. Jauhkan segala bentuk prasangka yang berkata jika kita adalah orang yang tidak cukup penting dan berarti di lingkungan sekitar kita karena, bisa jadi orang-orang pun berpikir demikian terhadap kita. Satu lagi, untuk penulis khususnya, jangan merasa malu untuk terus menulis sekalipun hanya menulis kata-kata tertentu yang tidak berupa kalimat atau paragraf. Tulislah kata-kata yang disukai atau yang menarik yang baru ditemui dalam bentuk daftar seperti daftar belanjaan. Minimal dengan cara seperti ini gejala penyakit agrafia bisa dihindari. Demikian. [FA]  

Monday, November 19, 2012

Berpikir Tidak Harus Menggunakan Bahasa

Kenyataan bahwa saya senang berpikir, itu penting. Akan tetapi kenyataan untuk mengungkapkan pikiran, itu lebih penting. Mungkin hanya berupa bunyi dari suara yang hanya sebatas lewat mulut dan semua anggota alat ucap yang melancarkan buah pikiran itu. Atau hanya sebatas kata-kata imajiner dalam kepala yang bersliweran, yang kadang tidak sistematis dan lebih sering abai dengan EYD. Sekalipun yang kedua ini lebih baik mengingat tak ada alat ucap yang mampu menghambat lalu lintas pikiran berupa kata-kata itu. Hanya dibutuhkan kinerja syaraf yang lebih hingga pada akhirnya kata-kata itu bisa membentuk sebuah rangkaian kalimat yang etis dan logis meski tidak fisis.

Akan tetapi permasalahannya adalah, apakah harus dengan bahasa? Maksud saya, apakah jalan pikiran harus selalu membutuhkan bahasa sebagai alatnya? Hampir setengah tahun semenjak saya mempelajari logika. Lewat sebuah buku dengan judul yang sama, diungkapkan jika bahasa adalah buah dari pikiran, karena dia adalah bentuk paling wujud (baca: konkret) dari pikiran. Seiring itu pula, saya pun mempelajari serta lebih mendalami perihal bahasa. Sungguh sebuah paduan yang harmonis! Namun demikian, dalam buku itu, termasuk buku-buku yang membahas tentang logika, tidak disebutkan apakah ada pikiran yang tidak membutuhkan bahasa sebagai alat(ungkap)nya.

Kenyataan sesungguhnya adalah, bahwa logika benar-benar sulit untuk dipelajari. Seperti halnya bahasa, saya mendapati fakta bahwa ia adalah alat yang tidak mumpuni untuk mengungkapkan semua pengalaman empiris manusia di dunia ini, apa lagi transendenstal. Di tengah keinginan saya untuk mengetahui lebih dalam soal bahasa, pernyataan ini sempat menumbangkan semangat untuk melanjutkan keinginan-tahuan saya itu. Bahasa yang tidak adekuat, melingkar-lingkar bagai labirin yang menghubungkan yang satu dan membutuhkan yang lain, percis sebuah kata yang diterjemahkan dan terjemahannya itu membutuhkan definisi lain untuk mendukungnya. Walau, ini pun menjadi cambuk untuk menangkap bahasa yang seperti binatang liar itu.

Bahasa tidak bisa mampu mengungkapkan bagaimana rasa galau atau senang yang tengah saya rasakan. Bahasa tidak bisa mengungkapkan peristiwa dimana awan mendung dan seperti apa bentuk awan itu secara detil. Tidak juga bisa menerjemahkan bagaimana pengkondensasian awan menciptakan air yang jatuh ke bumi. Bahasa tidak bisa merekam proses bagaimana air hujan itu jatuh, melayang, jatuh ke tanah kering dan meruapkan baunya—sebuah fenomena yang sangat saya gemari. Hingga akhirnya bahasa tidak juga bisa mengungkapkan bagaimana bau kering tanah itu menyeruak ke udara, mengabut, dan masuk ke sela-seal rambut di hidung saya. Yang lebih fantastis, bahasa tidak bisa menyatakan bagaimana kenikmatan saya mencium keringnya tanah basah yang terhirup itu. Bagaimana saya bisa mengungkapkannya? Pertanyaan klise pun muncul: “Susah diungkapkan dengan kata-kata.”

Terlepas dari ketidakadekuatan bahasa, justru ada pernyataan yang mengganggu yang saya temukan yang berkata bahwa berpikir tidak harus selalu menggunakan bahasa.  Jika tanpa bahasa lalu dengan apa akal bisa melakukan pekerjaannya: berpikir?

Beberapa bulan saya terdiam tanpa bahasa, kecuali memang sedang dibutuhkan. Diam saya ini pun acapkali membuat apa yang saya katakan tidak beraturan, seperti dalam kalimat:  “Tolong, pintu gerah saya buka.” Maksudnya, “saya gerah. Tolong pintunya dibuka!” Atau kalimat yang berputar-putar: “Bapak ingin seperti yang kalian tadi perhatikan berpartisipasi dalam pelajaran agar mudah untuk nilai remedial tidak ada pengganti karena dengan begitu mudah buat Bapak untuk memberi pada nilai kalian.” Yang mestinya: "Seperti yang sudah kalian perhatikan tadi, Bapak ingin kalian berpartisipasi dalam pelajaran untuk mengganti nilai remedial. Dengan begitu Bapak bisa lebih mudah memberi nilai pada kalian.” Bukan sulap bukan sihir, tapi mereka yang mendengarkan sempat bingung apa yang sebenarnya saya katakan. Sungguh dosa yang tak termaafkan, batin saya berkata.

Bukan tanpa alasan keadaan saya seperti itu. Tapi pada saat saya tengah bergelut dengan pikiran (sku memikirkan pikiran saya), saya memikirkan bahasa yang akan dipakai untuk membahasakan pikiran itu. Kenyataannya, bahasa tak bisa saya tangkap melainkan pikiran yang kosong bagai lorong gelap dan tak satu pun ada yang mengalir. Sampai pada suatu waktu, di saat saya tengah terdiam, berkontemplasi dalam ruang tak berujung tak berkata dengan masalah yang tengah saya hadapi, tiba-tiba  slide demi slide memenuhi pikiran. Percis sebuah layar putih yang ditimpah gambar-gambar dari sebuah bayangan maya lewat sebuah proyektor. Entah seperti apa cara kerjanya, tapi yang saya tahu, gambar-gambar itu berjejalan di kepala sedang proyektor yang terbentuk dari syaraf otak terus berputar menghidangkan gambar demi gambar: bayangan sebuah kamar hitam di sebuah kota yang padat; jalan raya yang panjang dengan kebun teh di kanan kiri yang menyampaikan saya ke kota lain; tempat tinggal baru dengan cat dindingnya yang biru; langit biru dengan panas matahari yang terik saat saya terduduk di depan lanskap sawah dengan air sungai mengalir di bawah kaki; pengalaman pertama melintasi sebuah plang menuju tempat kerja di kota yang saya singgahi ini; dan masih banyak gambar-gambar berjejalan silih berganti  mengisi kepala.

Tanpa sadar, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan pikiran saya itu sesungguhnya sudah teramat biasa saya lakukan, dulu ketika saya masih di kota Bandung. Dan kebiasaan ini ternyata masih ada dan saya  bawa di kota yang baru ini, Subang. Dari dulu, memang sudah menjadi kebiasaan saya membayangkan setiap pengalaman yang sempat aku lalui berupa gambar-gambar baik itu tempat maupun kejadian yang terekam dalam neuron-neuron syaraf. Gambar-gambar itu seakan berbicara dengan bahasa yang berbeda tanpa harus menggunakan kata-kata. Tak hanya itu, saya pun sempat punya kebiasaan membayangkan apa yang akan terjadi untuk apa yang bakal saya hadapi di hadapan, seperti bagaimana saya membayangkan berjalan ke kampus dengan gagah menggunakan jas dan dasi seraya terempit di ketiak saya berkas-berkas skripsi yang bakal disidangkan, dan bayangan lainnya sampai pada akhirnya saya lulus ujian sidang. Sayang, bayangan seringkali tak selaras dengan kenyataan. Dan itulah yang paling menyakitkan.

Sesaat menginjakkan kaki di kota ini (Subang), kebiasaan itu saya hapus. Saya tidak lagi (mau) membayangkan apa yang bakal terjadi di kemudian—sesuatu yang memang muskil untuk terjadi. (Sebuah analog yang indah ketika suatu hari saya sempat berkata pada kawan-kawan ormawa di sebuah rapat persiapan pemilihan bakal calon presiden himpunan jika hidup seperti menatap gelas bening berisi air. Kau tak bisa mengetahui apa yang bakal terjadi nanti. Kita tidak pernah tahu apa yang bakal kita alami kemudian. Jangan sebut satu tahun, satu bulan atau satu hari. Untuk lima menit saja pun kita tidak tahu apa yang akan sedang kita lakukan). Di kota ini, saya tidak lagi bergelut dengan angan-angan atau fantasi, bayang-bayang semu yang hanya sebatas jadi penghibur meski kenyataan sebenarnya bisa jadi tak cukup bisa dibanggakan. Sebaliknya, justru kekecewaan yang didapat dari kebiasaan itu. Pada saat yang sama, saya tak lagi berdoa, meminta, dan berharap terlalu penuh pada apa dan pada siapa pun. Hemat kata, saya hanya menjalani apa yang tengah saya jalani saat itu juga tanpa tahu dan tak juga mau tahu apa yang bakal saya dapat dan alami nanti. Begitulah.

Karena realita adalah apa yang tengah saya lakukan, alami dan rasakan sekarang, bukan besok atau nanti. Selebihnya, hanya sejarah dari apa yang ada di ingatan, yang masih menjadi sebuah puzzle hidup besar yang harus saya susun. Ya, pada saat itu, tak berapa lama ketika tulisan ini dibuat, saya mendapati sebuah temuan bahwa ternyata, pikiran bisa “berbicara” tanpa bahasa sekalipun. Tanpa harus dengan kata-kata. Pikiran bisa berbuat apa saja dan bisa mengungkapkan apa saja, meski tanpa bahasa. Dan gambar-gambar ingatan itu, semua pengalaman empiris yang sudah lalu dan rekaman-rekaman gambar atas ruang dan waktu yang masih bertalian dengan keadaan saya sekarang ini adalah “bahasa” yang cukup (untuk tidak menyebutnya mumpuni) untuk bisa dijadikan sebagai alat berpikir. Tak perlu ada kalimat atau subtitle  di setiap gambar yang tersorot di layar pikiran. Karena gambar saja sudah cukup untuk bisa berbicara tentang dirinya sendiri. Sementara, saya tinggal menjadi penonton dari slide-slide yang ditayangkan oleh pikiran saya sendiri. Selebihnya, sikap atas kesimpulan yang saya ambil setelah menontonnya.

Maka, saya tetap senang bisa berpikir. Dan, saya juga senang jika ternyata pikiran tak harus selalu menggunakan bahasa sebagai alatnya; karena gambar ingatan, berbicara lebih banyak dari kata-kata yang justru dibutuhkan lebih banyak lagi untuk menerjamahkan gambar-gambar yang berlarian di layar pikiran lewat akal proyektor saya itu. [FA]