Showing posts with label Sastra Rusia. Show all posts
Showing posts with label Sastra Rusia. Show all posts

Monday, November 14, 2011

Hidung (3)


Oleh: Nikolai Gogol
Lelucon benar-benar ada di muka bumi dan kadang-kadang ia muncul sama sekali tanpa dasar kemungkinan yang pasti. Demikianlah, hidung yang akhir-akhir ini hilang sebagai Konselor Negara, dan berjalan-jalan di sepenjuru kota, tiba-tiba saja menempati kembali tempatnya semula (di antara kedua pipi Mayor Kovalev) seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. Hari itu tanggal 7 April dimana paginya Mayor terbangun seperti biasa, dan, seperti biasa pula, ia melemparkan sekilas tatapan keputus-asaannya kepada cermin, untuk saat ini ia terdiam, apa? –mengapa, hidung lagi! Dengan segera ia memegangnya. Ya, hidung, benar-benar hidung! "Aha!" teriaknya. Dalam kegembiraannya, ia memeriksa sekeliling kamar dengan dengan telanjang kaki dan tidak membiarkan Ivan tiba-tiba masuk untuk memeriksanya. Lalu ia sendiri menyiapkan peralatan untuk mencuci, mencuci hidung itu, dan melihat lagi ke cermin. Oh, hidung itu masih ada di sana! Lantas selanjunya ia menggosoknya menggunakan handuk dengan semangat. Ah, masih ada di sana, sama seperti dulu!

Hidung (2)

Oleh: Nikolai Gogol
ASESOR Kolega Kovalev juga bangun lebih awal pagi itu. Ia membuat "Br-r-rh!" menggunakan bibirnya yang selalu saja ia lakukan ketika ia bangun–ia sendiri tidak tahu mengapa. Lalu ia pun menggeliat, meraih kaca kecil di atas meja tak jauh darinya, dan membenahi diri untuk memeriksa jerawat yang telah pecah di hidungnya semalam. Tetapi, heran tak dinyana baginya, hanya ada sebidang yang rata di wajah tempat di mana hidung mestinya berada! Dengan gusar ia mengambil air, mencuci dan menggosok matanya menggunakan handuk. Benar, hidungnya benar-benar hilang! Ia menekan  tempat itu dengan tangannya –mencubit dirinya sendiri untuk meyakinkan bahwa ia tidak sedang tidur. Tapi tidak: ia tidak sedang tidur. Kemudian ia melompat dari tempat tidur dan menggeleng. Tak ada hidung! Akhirnya ia mengenakan bajunya dan dengan segera berangkat ke kantor Komisaris Polisi.
Akan saya tambahkan sesuatu yang mungkin pembaca dapat rasakan seperti apa yang Asesor Kolega rasakan. Tentunya, hal ini tanpa ada maksud berkata bahwa Asesor Kolega yang mendapatkan gelar dengan bantuan diploma akademik, tidak bisa dibandingkan dengan asesor kolega yang mendapatkan gelarnya melalui jasa layanan di Kaukasus. Keduanya ini secara keseluruhan berbeda, walau bagaimanapun hal itu ada. Rusia adalah negeri yang sangat aneh yang membiarkan seseorang berkata apa pun tentang ke-asesor-kolega-an seseorang dan yang berhubungan dengannya, dari Riga sampai Kamchatka, dalam sekali waktu menggunakan ucapan untuk dirinya sendiri –semua gelar dan kedudukan adalah hal yang sama saja. Sekarang, Kovalev adalah seorang Asesor Kolega Kaukasus dan telah, juga masih, menyandang gelarnya itu selama dua tahun. Oleh karena itu, tanpa bisa dilupakannya, ia mencari lebih martabat dan bobot dengan memanggil dirinya sendiri “Mayor", selain "Asesor Kolega".

Friday, November 4, 2011

Hidung (1)

Oleh: Nikolai Gogol
Pada tanggal dua puluh lima Maret sebuah peristiwa aneh terjadi di Saint Petersburg. Pagi itu, Tukang Cukur Ivan Yakovlevitch, seorang penduduk di Prosfek Voznesensky, bangun lebih awal dan mencium roti yang baru saja dipanggang. Ivan Yakovlevitch tidak lagi memiliki nama keluarga. Hingga, tak lagi tertera di papan namanya yang dengan tegas memperlihatkan potret seorang laki-laki dengan sabun di pipi dan kata-kata: "Juga, Darah Keturunan di Sini.“ Sedikit beranjak, ia merasa bahwa istrinya (seorang perempuan yang sangat terhormat dan suka sekali dengan kopi) tengah mengambil roti gulung dari oven.
"Prascovia Osipovna“ katanya, "tak apalah jika aku tak mendapat segelas kopi untuk sarapan, asalkan aku mendapat roti panas dan bawang,“ –kenyatannya, ia ingin mendapatkan keduanya. Tapi ia tahu percuma saja untuk memintanya dalam sekali waktu, sebagaimana Prascovia Osipovna tidak suka dengan muslihat seperti itu.
"Oh, Si Bodoh akan mendapatkan rotinya,“ pikir istrinya, "tentunya itu lebih baik untukku, seperti halnya aku akan mendapatkan lebih banyak lagi kopi.“
Ia pun melemparkan sebuah roti ke atas meja. 

Thursday, October 27, 2011

Suatu Malam di St. John (2)

Oleh: Nikolai Gogol

Petro mematung, tidak bergerak sedikitpun, ketika anak tak berdosa itu mengutarakan kata-kata Pidroka padanya. “Dan aku adalah pria yang tak beruntung yang berpikir untuk pergi ke Krimea dan Turki, mendapatkan emas dan kembali padamu, kekasihku! Tapi mungkin itu takkan jadi. Mata Iblis sudah melihat kita. Aku juga ingin menikah, sayangku. Aku juga. Tapi takkan ada rohaniawan di pernikahan. Gagak hitam akan berkaok dan bukan Paus yang mendekatiku; ladang akan menjadi tempat tinggalku; langit biru yang hitam akan menjadi atapku; burung elang akan mencungkil mata cokelatku; hujan akan mencuci tulang orang-orang Kosak, dan angin puyuh akan mengeringkannya. Tapi, siapalah aku? Dari siapa, pada siapa aku harus berkeluh kesah? Sudah jelas ini kehendak Tuhan. Jika aku harus hilang, maka hilanglah!” dan ia pun langsung pergi ke kedai minuman.

Tuesday, October 18, 2011

Suatu Malam Di St. John (1)

Oleh: Nikolai Gogol

[Diambil dari salah satu cerita dalam antologi "Tales at a Farmhouse near Dikanka."]
(Berhubungan dengan Koster Gereja Dikanka)
THOMA GRIGOROVITCH memiliki semacam perilaku yang cukup aneh: sampai pada hari kematiannya ia tidak pernah suka mengatakan hal yang sama dua kali. Ada suatu waktu ketika, jika Anda memintanya untuk bercerita sekali lagi, perhatikanlah, ia akan menambahkannya dengan sesuatu yang baru, atau bahkan mengubahnya sampai-sampai mustahil untuk bisa mengenali cerita itu.
Suatu hari, salah seorang dari mereka (sangat sulit bagi orang sederhana seperti kami memberi nama pada mereka, untuk mengatakan bahwa tulisan nama mereka itu bagus atau tidak; akan tetapi itu sama saja seperti halnya seorang lintah darat di pameran tahunan; mereka menggenggam dan mengemis dan mencuri baju pajangan, dan mengeluarkan sedikit terbitan yang berarti, yang tak lebih tebal ketimbang buku ABC, setiap bulan, atau bahkan setiap minggu,) –salah satu dari mereka memancing cerita yang sama dari Thoma Grogorovitch, dan ia benar-benar lupa tentang cerita itu.

Monday, August 29, 2011

Tambur

Oleh Leo Tolstoy

(1981; Sebuah dongeng dari wilayah Volga)

Emelyan adalah seorang buruh dan bekerja pada seorang majikan. Suatu hari saat dirinya menyeberang padang rumput dalam perjalanannya pulang, dia hampir menginjak seekor katak yang melompat tepat di depannya. Akan tetapi dia dapat menghindarinya. Tiba-tiba dia mendengar seseorang memanggil dirinya dari belakang.

Emelyan memandang ke sekeliling dan melihat seorang perempuan cantik, yang berkata padanya: “Mengapa kau tidak menikah Emelyan?”

“Bagaimana bisa aku menikah, wahai perempuan?” katanya. “Yang kupunya hanya pakaian yang aku gunakan ini, tak lebih, dan tak ada seorangpun yang menginginkanku menjadi suaminya.

“Maka jadikanlah aku istrimu,” pintanya.