Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Saturday, March 17, 2018

Belajar Bahasa Jepang Lewat Cerita (Kintarou & Momotarou)

やさしい 日本語
HAJIMEMASHITE!

Anime bisa jadi awal pertama orang berkenalan dengan bahasa Jepang, terutama soundtrack-nya. Doraemon, One Piece bahkan Naruto, adalah beberapa anime yang bisa dengan mudah ditonton di tipi yang sedikit banyak membuat penontonnya ingin juga belajar bahasa Jepang. Menurut saya pribadi, Jepang memang tidak ada matinya, mulai dari budaya lokal bahkan teknologi. Mereka membuktikan bahwa majunya sebuah bangsa tidak hanya jago dalam membuat atau menciptakan tapi juga merawat, melestarikan dan mengembangkannya. Terbukti, Jepang menjadi barometer dunia dalam banyak hal, tidak hanya melulu soal teknologi, tapi juga informasi, fashion, musik, dan banyak lagi.

Saturday, August 16, 2014

Bahasa Sebagai Indikator Peradaban Bangsa

Sebuah kalimat berbunyi: Jika seseorang ingin mengubah hidupnya, maka ia harus terlebih dulu mengubah bahasanya. Peribahasa Sunda berkata “Hade goreng ku basa.” Seyogianya, bahasa adalah representasi jati diri sesorang. Pada bahasalah seseorang memperlihatkan identitasnya. Ia menjadi tolak ukur keber-adaban manusia.
Kesadaran akan bahasa merupakan indkotrinasi. Ia dicapai bukan melulu lewat jalur akademik yang mengumbar begitu banyak teori. Bahkan ada kalanya teori-teori itu pun tidak bisa membendung bahasa sebagai makhluk yang terus berevoulsi—sesuatu yang berbanding lurus dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia itu sendiri.
Kesadaran pun bukan sesuatu yang final. Sejauh manusia dan bahasanya berkembang, sejauh itu pula kesadaran dibutuhkan. Permasalahannya sekarang adalah, apakah kesadaran itu berwarna positif atau negatif. Tentu, di tengah rongrongan multimedia yang gencar, selalu ada kesempatan bagi bahasa untuk menampakkan kelemahan-kelemahannya. Sayangnya, tidak ada filter atau penyaring mana dari wujud pikiran itu (bahasa) yang benar dan baik dengan yang sebaliknya. Di sinilah logika punya peran.


Thursday, August 14, 2014

Guru (Honorer) Oh Guru (Honorer)*

Tahun Pelajaran baru artinya sekolah baru. Barangkali itulah yang terbesit di kepala para guru khususnya guru honorer, setidaknya yang berada di wilayah Subang Selatan ini. Setiap tahun pelajaran tiba, tidak sedikit guru yang pindah dari satu atau lebih sekolah ke sekolah lainnya. 

Perilaku nomaden sekaligus "selingkuh" ini jelas bukan tanpa alasan. Beberapa orang beralasan bahwa dasar kepindahan mereka adalah soal kenyamanan. Tapi yang paling santer terdengar dan menjadi sangat signifikan adalah soal kebutuhan, ya, apa lagi kalau bukan masalah kesejahteraan? 

Mereka berpendapat jika sekolah yang ditinggalkannya ternyata tidak cukup bijak untuk memperjuangkan dirinya setelah dirinya memperjuangkan sekolah. Dalam artian, guru-guru yang berbakti dan mengabdi kepada sekolah selama bertahun-tahun, ternyata tidak cukup diperhitungkan ketika dirinya punya kesempatan untuk bisa--sebut saja--mendapat sertifikasi: sebuah pembaiatan dimana seorang guru telah benar-benar dinyatakan sebagai guru profesional hingga dirinya tidak lagi seperti ikan yang bernapas dalam lumpur. Walau, kenyataan di lapangan, begitu banyak guru yang disertifikasi tapi masih tidak layak disebut profesional. 

Pil pahit yang setiap tahun harus ditelan oleh guru-guru honorer di banyak sekolah ini terkait oleh pembawaam kepemimpinan. Karakter pemimpin sekolah yang--dalam kasus di wilayah Subang Selatan ini-- kebanyakan berada di bawah naungan yayasan, sangat kental dengan sikap subjektif, oteriter dan nepotisme. Barangkali karena dia adalah pemilik yayasan, maka dia bisa seenak dan semaunya bersikap dan bertindak untuk yayasan sekaligus sekolah yang dimilikinya. Hal ini jelas sudah menjadi pengetahuan umum di wilayah ini. Sabiwir hiji, begitu kata peribahasa Sunda. Meski begitu, tidak semua memang para pemimpin yayasan punya sikap dan sifat demikian. Yang lurus-lurus saja pun ada, walau tidak banyak.
 
Alih-alih untuk menciptakan suasan KBM yang kondisuf diiringi dengan sistem yang mumpuni, atau yang lebih jauh lagi, yang barangkali menjadi dasar kenapa harus ada sekolah dan pendidikan di negara ini, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, yang justru kecipratan jeleknya adalah manajemen sekolah. Dan siapa lagi kalau bukan guru (honorer) yang harus merasakan akibatnya? Sungguh sebuah ironis: ketika para guru kerja siang malam mengurus sekolah, mengajar dan mengerjakan seabreg tugas kependidikan, dengan kara lain mencoba memintarkan bangsa ini, kenyataan yang ada justru merekalah yang seringkali dibodohi dan dibohongi oleh para pemilik kebijakan--untuk tidak menyebut pemerintah. Bukankah itu yang disebut namanya "Air susu dibalas dengan air tuba?" Air susu diberikan oleh guru, tapi justru racun yang didapatkannya. 
Entah samapai kapan guru-guru honorer yang kecewa dan dikecewakan, yang tetap memegang prinsip dan motivasi sebagai seorang pendidik dan pengajar dalam hatinya, harus jor-joran bergelut dengan keadaan seperti ini dari waktu ke waktu. Hanya berusaha mencoba untuk mendapatkan penghargaan dan sedikit saja pengakuan dirinya sebagai guru, lagi-lagi mereka harus mencari tempat mengajar lagi, memulai dari nol lagi, serta berharap dan berharap lagi, entah untuk ke berapa ribu kali. [FA]

*) sebuah celoteh sebagai teman minum kopi.