Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Friday, June 10, 2016

Barasuara: Ketika Taifun Tak Menyuarakan Bara


BARASUARA baru saja meluncurkan album perdana. Taifun namanya. Berbeda halnya dengan acara wara-wiri yang terlebih dulu dilakukan di berbagai macam kegiatan termasuk live performance yang bisa dilihat di kanal kapitalis Youtube; di album ini, Barasuara justru seperti kehilangan geregetnya. Sebut dia seekor macan. Maka di album ini, dia adalah macan yang kehilangan raung predatornya. (Mudah-mudahan tak cepat-cepat kehilangan belangnya.)  

Tak perlu dimungkiri seperti apa kualitas band breakthrough yang satu ini dalam hal bermusik. Untuk masalah aransemen akibat dari mature-nya kontemplasi setelah si pemilik akal kesebelas—Iga Massardi—melakukan kontemplasi-eksplorasi selama dua tahun setelah hengkang dari The Trees and The Wild dan beberapa band-project lainnya, Barasuara punya segalanya. Tonton live performance-nya yang dirilis oleh Sounds From The Corner di kanal dengan nama yang sama. Hanya dengan sekali menyaksikan, seseorang dijamin langsung manggut-manggut seraya berkata: “Ini baru namanya musik. Ajib!”

Dan setelah menemukan Barasuara, serta merta dia akan merasa seolah-olah telah menemukan sumber air baru. Bukan! Tapi air terjun yang meluncur dari ketinggian lima meter dan menghujam tepat di atas ubun-ubun. Segar. Hidup. Bebas. Air baptis juga yang meluncur di kepalanya itu. Merasa diselamatkan dari hegemoni kaum kapitas industri musik bangsa yang memang sudah tidak sehat, tercemar, dan murahan, beberapa waktu lalu.

Remeh Temeh Soal Tulis-Menulis

Walau sudah lama tak menulis (puisi), dua buah sajak dalam buku antologi "Riak Sajak" kembali menjadi pelecut bagi apa pun yang berhubungan dengan dunia tulis-menulis saya. Kembali membaca, kembali menulis.

Entah disengaja atau tidak, dan memang tidak pernah sedikit pun diniatkan, berada di komunitas Sanggar Sastra Purwakarta--Sangsastra, begitu saya menyebutnya suatu hari yang pada akhirnya diamini oleh Rudy Aliruda--membuat saya kembali urun rembug perihal sajak-menyajak ini. Entah apa dasarnya.

Pasalnya, saya selalu merasa tidak pernah cocok untuk berorganisasi apa dan di mana pun, sekalipun dulu saya sempat sangat aktif di organisasi di Himpunan Mahasiswa Bahasa Inggris UPI (English Students' Association). Saya pribadi bukan tipe orang yang mainstream di dalam ke-antimainstreaman-nya sebuah organisasi sastra. Saya tidak menyukai keramaian termasuk segala atribut yang melekat padanya, organisasi itu. Bagi Si Sinis, budaya itu nonsense. Ia adalah buatan, artifisial, dan kadang irasional. Dan sebuah organisasi atau komunitas sastra, hal itu tak jauh berbeda.


Friday, October 10, 2014

Berita dari Sagara

Pohon-pohon pisang berdiri miring dengan tubuh kering
dan daun-daun tercerai berai bagai rumbia sajadah
ditampar angin galak di cuaca yang sungsang
di samping sebuah tiang

Tiang listrik berdiri tegak dengan tubuh julang
di tengah peradaban yang jalang
menjuntai kabel-kabel membungkus
harapan dan masa depan bekal anak-anak zaman
menaungi perumahan

Pohon pisang tak pernah memberi kabar
tentang tanahnya yang kerontang
seperti kerontangnya semak dan perdu
kesadaran dan rasa malu
di sekeliling kakinya yang rapuh

Tiang listik tak pernah memberi tahu
bagaimana dirinya menjadi tuhan
bagi peradaban dan zaman
menyembunyikan sombong dan kekuasaan
lantas mengalirkannya ke segala penjuru dunia

Pohon listrik dan tiang pisang
tak pernah bertengkar
walau mereka tak pernah pun berkawan

Puri, 10.10.2014


Saturday, October 4, 2014

Kredit: Jejak Penyair Yang (Mestinya Tidak) Hilang

BEBERAPA TAHUN YANG LALU, DI RUBRIK KHAZANAH (PUISI) KORAN PIKIRAN RAKYAT, ANDA AKAN MENDAPATI BIOGRAFI SINGKAT DARI SETIAP PENYAIR BERSAMA PUISI YANG DITERBITKANNYA. SAYANG, HAL ITU TIDAK ADA LAGI SEKARANG. ENTAH APA ALASAN REDAKTUR MENGHILANGKAN KREDIT ITU. TIDAK ADA YANG TAHU. TAPI SETIDAKNYA TULISAN INI BERUSAHA MENCOBA UNTUK MENJAWABNYA.

Di dalam penciptaan sebuah karya, proses merupakan sebuah keniscayaan. Kita lambat laun belajar bahwa bakat itu nonsense. Yang ada selebihya, justru kedisiplinan, kerja keras dan kesabaran. Dengan kata lain, tidak ada karya mana pun yang dihasilkan dengan cara instan.
Di dunia populer, pengenalan akan proses sebuah penciptaan sebenarnya sudah berlangsung lama. Ia terpampang di halaman produksi sebuah buku, di credit title sebuah film, atau bahkan di belakang jilid sebuah album musik sekalipun.
Tapi, apakah ada yang mau memperhatikannya (membacanya)? Alih-alih mengetahui bagaimana proses itu diciptakan lewat tangan-tangan penciptanya, kita justru lebih terlena dengan karyanya, setidaknya judul buku dan penulisnya, judul film dan aktor utamanya, atau judul lagu dan penyanyinya. Kita luput—untuk tidak menyebutnya tidak peduli—memerhatikan bagaimana karya itu dikerjakan lewat sebuah proses yang panjang, yang melibatkan banyak orang dengan banyak profesi di dalamnya. 

Tuesday, August 12, 2014

[Puisi] Pohon Waktu


Pohon Waktu

Waktu telah menyampaikanku
pada daun-daun. Akar-akar
tak lantas pongah menunjang batang
dan tumbuhkan tunas-tunas
tetap diam sebagai sepi
Di bawah tanah tempat semua kembali
Tapi tidakkah terlalu dini untuk
mengkhidmati napas ketika hari
mengantarkan kicau burung
lantunkan puja puji
Maka berjalanlah aku ke arah barat
Ke kaki gunung di mana sebuah legenda
tak lagi terdengar kecuali julang tubuhnya
yang menjelma jadi perahu terbalik
Di sini kembali aku mengenal tanah
dan menyembah matahari
hingga akhirnya air langit pun jatuh
di telapak tanganku dan menumbuhkan
tunas-tunas muda di jari-jemariku

Subang, 04 Agustus 2014


Tentang Tanah

Bahkan tanah pun meminta restu langit
menghidupkan bumi
mengikhlaskan merahnya sebagai darah
yang kuteteskan di ujung kemarau nanti

Subang, 04 Agustus 2014

Friday, September 6, 2013

Puisi: Teringat Kakek


Lama tidak menulis puisi. Setelah mencoba menulis, jadinya seperti ini:

Teringat Kakek
            -D. Zawawi Imron

Setelah gagal menangkap suara air
Aku teringat seorang kakek yang senang
menanam puisi di puncak gunung dan pucuk daun
Airmata dan ombak mencatat kisahnya
pada sebuah celurit yang kugunakan untuk menyabit
Bukan rumput, tapi kepala orang-orang buangan
yang hidup di penjuru hutan
berbajukan angin dan ketakutan
Entah sudah berapa lembah aku kunjungi
Tapi ceracau burung telah mengubur biji mata mereka
Sembilan  matahari pun bangkit dari balik bukit
Memangsa kepala orang-orang yang tak lagi bicara
pada tangan dan kakinya sendiri
Tepat ketika aku mendapati angin menampar kembali
wajahku dengan cerita seorang perempuan
yang mengandung mendung
dari langit yang tak sudi menurunkan hujan

Subang, 03 September 2013


Kalimat Sempurna

Adakah namamu tertulis
di kalimatku ketika kata-kata
dibawa angin sedang tak kutemukan
benih dari kasih yang kusemai
di kaki langit hatiku
Barangkali aku bukanlah pawang
yang pandai membaca tanda awan
di atas lanskap yang membentang
selain hanya menjadi angin
yang terus berpusing dan berjalan
dari kata ke kata hingga tiba
Kalimat Sempurna memanggilku pulang

Subang, Juni 2013

Wednesday, January 30, 2013

Obituari Hujan

Burung akan meninggalkanmu
Saat mata hanya tatap
Dan cuaca tak lagi petaka
Tinggal hening menggaris di atas hening

Entah berapa pesan telah diabaikan
Kolom-kolom kosong melapak ruang
Tanah-tanah lapang tembok lumutan
Barangkali kebisuan yang amat panjang

Kau pun tak lagi mengenal tanah
Menyaksikan gugur daun dan embun basah
Seperti dulu waktu mengajarimu
Menjelaskan makna ibu

Karena selain menghitung anak tangga
Pasak-pasak kayu menghujam perutmu
Kau tak lagi mencercap dingin air
Hujan yang telah melahirkanmu

Pag, 30 Jan 2013

Tuesday, November 27, 2012

Kontemplasi Satu


 Prolog

Satu periuk batu kujadikan waktu
Angin memapahku menangkap gemericik lagu
Matahari di tangan kanan adalah belati
Bulan di kanan tangga langit menuju wangi

Satu periuk daun gugur kujadikan pintu
Ranting-ranting kering pena bernyawa
Pergi ke laut melukis karang dan ikan
Ikan-ikan menjelma doa di lambung ibuku

Satu periuk kata diam sebelum masa
Diam di sela jari kaki yang senyum dan luka
Mencipta batu ikan daun dan karang jadi puisi
Tanganku deras air sungai tak berhenti mengalir

Subang, November 2011



Memento Mori

Lalu, sebuah belut besar menemuimu di malam yang berdenting
bulir-bulir kata tak lagi hening mengoyak tanah merah
menghamili benih ingatan yang tumbuh di sudut ranjang perjalanan
kau pun melihat bagaimana seiris garis membentuk lingkaran-
lingkaran menerbangkanmu ke langit ketujuh
keringat basah melepaskan segala beban yang
mencengkeram dan kau sebut itu wahyu, atau mungkin setan

Lalu, di malam yang lain, malam putih ketika jibril pernah
mengakhiri tugasnya, kau benar-benar melihat setan
dia tergantung di sebuah pohon pisang yang tak punya umur
namun subur tandan buahnya tumbuh di tubuhmu
setidaknya kau tahu ketika kau beranjak dewasa
hanya pohon yang punya akar dan manusia tidak
karenanya mengapa kau tak punya sejarah

Lalu, musim pun basah melebihi segala basah seribu sungai
dan lautan dan kau berdiri di sebuah trotoar mengutuk hujan
melukai tangan sendiri ketika kau tahu betapa bodoh
melepaskan kekasih dengan jari berdarah
sejak saat itu kau tak lagi bisa membedakan mana hujan,
air mata dan genangan di lubang aspal hingga akhirnya kau sadar
tulang rusuk dan hujan hanyalah basah belaka

Lalu, sejak saat itu kau pun mulai menyembah belut besar
di kepalamu, mematahkan garis demi garis lingkaran
yang sempat datang padamu suatu waktu lantas menggubahnya
menjadi syair, lagu, atau bahkan rengekan yang sesungguhnya
tak pernah kau kenal dan tak pernah pula mengenalmu
kau pun hanya semacam kau sebagaimana sebuah garis
hanyalah pikiran yang mengendur dan meregang
di antara urat syaraf yang bakal menyelesaikan tugasnya

Lalu, di sebuah malam yang tak pernah kau duga
kau dapati sebuah belut besar di atas piring lingkaran
menatapmu dalam-dalam tanpa nyawa, tanpa bahasa
sedang di luar sana tetesan hujan bagai duri berjatuhan
membasahi tanah dan ingatan, menusuk bumi dan kenangan
sesaat setelah seorang perempuan menumpahkan hidupmu
di atas pinggan hidupnya yang putih seputih senja saat kau
menemukannya di bawah naungan rumah putih satu bintang
dalam pelukan bulan

Lalu, bersamanya, kau pun menanam pohon pinus dan
bukan pisang. memulainya dengan doa agar tak dihinggapi setan
seraya berjanji jika pada saatnya nanti
kau tak akan memetik buahnya lagi

Purwakarta, Juni 2012 



Rosida Maulani
                                                                                                                 
Aku menemukanmu di saat kuredakan gelombang di
tubuhku sedang tiga kelahiran matahari menyisakan gelap
yang tak bisa aku usap dengan ucap serta segala kata
yang tak juga menumbuhkan buah dan kerinduan

Kembali aku belajar pada garis dan tungkai kaki—
sahabat dari segala jejak pada darah tanah
pada awan yang menghamili sejuta dendam
nafsu dan kesumat untuk langitku yang tak biru

Anginkah yang mengecup ubun-ubunku
atau malam yang sengaja singgah di belakang telingaku?
kulihat engkau memeluk bulan meski tak purnama
seperti di saat kau berkata bahwa cahayanya telah
menjadi tetesan darah yang membadai seluruh hidup

Aku pun diam di sudut halaman seraya
menyaksikan sepasang sepatu tanpa kaki dan
sebelah matahari yang kau sebut sebagai senja—
kelakar tua yang diucap-ulang ibarat telenovela

Tiba-tiba aku merasa betap doa telah menjadi ancaman:
garis tangan tak terbaca di antara urat yang menegang
dan pikiran yang dipaksa mengeras menerjemahkan ayat-ayat
tercipta dari keangkuhan juga kebodohanku

Rumah putih pun menaungi segala yang baik
walau tak pernah aku mengerti apa maksudnya
hanya saja aku tahu bagaimana cara memahami
detak jantung yang bersahabat dengan bumi
dan semua yang lahir juga tumbuh di atasnya

Tak kuguratkan doa-doa di atas telapak tangan—
benih-benih selalu menagih keyakinan dan denyut jantung
sebagaimana pikiran yang tak lagi menembus lorong-
lorong gelap menuju puncak cahaya karena itu pun
tak lantas bisa menjanjikan sebuah kepalan atau tinju

Maka dengan riak air pantai aku berjalan menuju ibu
menuju samudera dimana kata-kata kutabur bersama
kembang yang mencantumkan namamu di setiap helainya
kurelakan tubuku menjadi gelombang atau buih
menjadi bagian dari laut dan langitmu yang belum kutahu
entah hanya untuk menerima badai atau mungkin
mengikhlaskan biru sebagai warna dimana kita tercipta

Purwakarta, Juli 2012



Pendakian

Setelah Canggah*, kudaki gunung-gunung di tubuhmu
yang pasrah dan menyerah. awan jadi madu. langit
biru hanya sehasta di mata kakiku. dalam tengadah
penuh rasa bunga tiba-tiba aku terpelest, tertusuk
ranting dan ilalang di antara palung tubuhmu yang bidang
bimbang. haruskah pendakian ini kuteruskan;
air hujan belumpun menyiram benih dan membasuh
wajah kita yang perawan sedang surga bukanlah
milik kita? betapa aku tahu kau tak inginkan
badai menjadi tubuh di awal perjalanan di
puncak gunung tempat dimana kita tegak berdiri
menunggu senja tiba. maka kulemaskan tubuhku
yang meregang, telunjukku yang tegang, menuntut
langit yang sememangnya belum milik kita

Subang, Juni 2012


*) Salah satu nama gunung di kota Subang.


Setelah Nenek

Setelah nenek, apa lagi yang harus dikunjungi?
aku pun bertanya pada batu, kandang ayam dan
jemuran. matahari di sudut mata kiriku
memanggang ingatan di antara bau cuaca
yang tak juga kukenal. seperti kolam ikan,
dan kakek berenang di dalamnya
sedang aku harus berenang di antara waktu
yang tak pernah menjejakkan kakinya di tanganku
seandainya. tapi aku tahu bagaimana pintu
diketuk bidadari bersayap mawar
bersepuhkan intan di keningnya suatu waktu
menjelang malam, kusaksikan bagaimana
magis cahaya bulan menyelimuti tubuhnya
menebarkan aroma surga ketika tiba-tiba
hati kecilku berkata: “akukah pemilik semesta raya?”
mungkin hanya nisan yang bisa kupeluk sekarang
di saat nenek tengah begitu senyum berbaring
di sudutnya, setelah kata-katanya menjadi
kenangan, menjadi pintu yang kubuka daunnya

Subang, Juni 2012



Seperti Nabi

Seperti menelanjangi hari di malam yang putih
Barangkali seperti itu pula aku mengupas kulit jati diri
Ketika setiap tatap jatuh di muka dinding atau
sudut ranjang dimana kita menemukan mimpi
yang begitu asing meninggalkan basah airmata
Mata air awal kita tercipta. Entah, harus kuberi
nama apa lagu perjalanan ini? Buket bunga dan
seserahan dalam sebuah upacara hanya menghantar-
kan kita pada kegelisahan yang lain di antara
detik-detik jarum yang berjalan lambat di muka
dinding itu  di saat kita terbangun dan terjaga.
Menangkap rencana demi rencana seperti
menangkap gemericik air di kamar mandi atau
desiran sapu pada lantai juga rintih pintu yang
kadang tertutup kadang terbuka. Barangkali
seperti itu pula aku menjadi nabi. Kembali belajar
membaca alif ba ta tsa di kamar mandi seperti
halnya menulis wahyu yang tercantum
di dinding pasir hatiku, seperti puisi

Subang, Juli 2012