BARASUARA
baru saja meluncurkan album perdana. Taifun namanya. Berbeda halnya dengan acara
wara-wiri yang terlebih dulu dilakukan di berbagai macam kegiatan termasuk live performance yang bisa dilihat di kanal
kapitalis Youtube; di album ini, Barasuara justru seperti kehilangan geregetnya.
Sebut dia seekor macan. Maka di album ini, dia adalah macan yang kehilangan
raung predatornya. (Mudah-mudahan tak cepat-cepat kehilangan belangnya.)
Tak
perlu dimungkiri seperti apa kualitas band breakthrough
yang satu ini dalam hal bermusik. Untuk masalah aransemen akibat dari mature-nya kontemplasi setelah si
pemilik akal kesebelas—Iga Massardi—melakukan kontemplasi-eksplorasi selama
dua tahun setelah hengkang dari The Trees
and The Wild dan beberapa band-project
lainnya, Barasuara punya segalanya. Tonton live
performance-nya yang dirilis oleh Sounds
From The Corner di kanal dengan nama yang sama. Hanya dengan sekali
menyaksikan, seseorang dijamin langsung manggut-manggut seraya berkata: “Ini
baru namanya musik. Ajib!”
Dan
setelah menemukan Barasuara, serta merta dia akan merasa seolah-olah telah menemukan
sumber air baru. Bukan! Tapi air terjun yang meluncur dari ketinggian lima
meter dan menghujam tepat di atas ubun-ubun. Segar. Hidup. Bebas. Air baptis
juga yang meluncur di kepalanya itu. Merasa diselamatkan dari hegemoni kaum
kapitas industri musik bangsa yang memang sudah tidak sehat, tercemar, dan
murahan, beberapa waktu lalu.
