Showing posts with label biografi. Show all posts
Showing posts with label biografi. Show all posts

Saturday, October 4, 2014

Kredit: Jejak Penyair Yang (Mestinya Tidak) Hilang

BEBERAPA TAHUN YANG LALU, DI RUBRIK KHAZANAH (PUISI) KORAN PIKIRAN RAKYAT, ANDA AKAN MENDAPATI BIOGRAFI SINGKAT DARI SETIAP PENYAIR BERSAMA PUISI YANG DITERBITKANNYA. SAYANG, HAL ITU TIDAK ADA LAGI SEKARANG. ENTAH APA ALASAN REDAKTUR MENGHILANGKAN KREDIT ITU. TIDAK ADA YANG TAHU. TAPI SETIDAKNYA TULISAN INI BERUSAHA MENCOBA UNTUK MENJAWABNYA.

Di dalam penciptaan sebuah karya, proses merupakan sebuah keniscayaan. Kita lambat laun belajar bahwa bakat itu nonsense. Yang ada selebihya, justru kedisiplinan, kerja keras dan kesabaran. Dengan kata lain, tidak ada karya mana pun yang dihasilkan dengan cara instan.
Di dunia populer, pengenalan akan proses sebuah penciptaan sebenarnya sudah berlangsung lama. Ia terpampang di halaman produksi sebuah buku, di credit title sebuah film, atau bahkan di belakang jilid sebuah album musik sekalipun.
Tapi, apakah ada yang mau memperhatikannya (membacanya)? Alih-alih mengetahui bagaimana proses itu diciptakan lewat tangan-tangan penciptanya, kita justru lebih terlena dengan karyanya, setidaknya judul buku dan penulisnya, judul film dan aktor utamanya, atau judul lagu dan penyanyinya. Kita luput—untuk tidak menyebutnya tidak peduli—memerhatikan bagaimana karya itu dikerjakan lewat sebuah proses yang panjang, yang melibatkan banyak orang dengan banyak profesi di dalamnya. 

Saturday, February 25, 2012

D. Zawawi Imron

Photo by Serge Ligtenberg
In the realm of Indonesia poetry, D. Zawawi Imron is known as the poet of “The Golden Sickle.” He was born in Batang-batang, Sumenep, Madura 1946—place where he lives and makes poems, and becomes a lecturer of Training College for Religion Teachers. Zawawi includes as a genuine autodidact person who holds on to write poems for almost three decades (30 years), and still. He is also known and being considerable at the beginning in the world of Indonesia poetry when Subagio Sastrowardoyo, one of the famous critics, had an attention to his poems. Subagio gave a special time to discuss Zawawi’s poem in “Pertemuan Sastrawan Nusantara” in Makassar, 1982.
He has already published his collections Semerbak Mayang (1997), Madura, Akulah Lautmu (1978), Bulan Tertusuk Lalang (1982), Celurit Emas (1986), Derap-Derap Tasbih (1993), Berlayar Di Pamor Badik (1994), Lautmu Tak Habis Gelombang (1996), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), and Madura, Akulah Darahmu (1999). His poem, "Bulan Tertusuk Lalang", has been incarnated into film by the famous Indonesian movie director, Garin Nugroho. He also won the 1985 prize for Best Book. His collection of poems, Nenek Moyangku Airmata (1985) was awarded by the Department of Education and Culture (1987). In 1990, again Nenek Moyangku Airmata, and his other collection of poems, Celurit Emas (1986) were chosen by Center of Language Development as the best book of that year. The last book was published is Kelenjar Laut (2009).
Besides, Zawawi joined The Winternachten Oversea Poetry Festival in Jakarta; and in January 2002, again, he joined the Winternachten Poetry Festival in The Hague. He also wrote and collected Madura folklores such as; Ni Peri Tunjung Wulan (1979), Bagascara Ragapadmi (1980), Cerita Rakyat Dari Madura (1993). Recently, Zawawi remain lives in Batang-Batang, a small village in eastern Madura. ("Saswaloka")

Friday, November 4, 2011

Nikolai Vasilievich Gogol

Penulis Rusia yang lahir di Sorokinsti, Mirgorod, Provinsi Poltava, pada tanggal 20 Maret 1809 ini, dikenal lewat kemampuan berceritanya yang satir namun kocak. Kebanggaan nasionalisme yang hebat dan kekagumannya terhadap kehidupan masyarakat Kosak yang sederhana mendasari tema akan karya-karyanya. Hal ini terlihat dari pandangannya terhadap dehumanisasi manusia yang menurutnya telah rusak, kendati tetap mempertahankan lokalitas di setiap karyanya. Intensitasnya dalam menghadapi masalah tersebut membawanya ke dalam penjelajahan yang surealis dan absurd, seperti cerita berjudul Hidung (1836; Nos).
Tiga hal inilah yang membuat Gogol dinobatkan sebagai sastrawan besar Rusia dikarena orisinalitas karya-karyanya. Kesuksesannya diawali dengan karya yang berjudul Vechera na khutore blis Dikanki (1831; Suatu Malam di Ladang Dekat Dikanka) yang dilandasi dari konflik Barat dan Slavia generasi tua, yang kebetulan diceritakan oleh ibunya dan orang-orang sekitar. Kumpulan cerita lainnya adalah Mirgorod (1835), Shinel (1842; Mantel) serta dua buah karya masterpiece-nya, yakni Mertvye Dushi (1842; Jiwa-Jiwa Mati), dan Revizor (1836: Inspektur Jenderal). Karena karya-karyanya yang luar biasa ini kedudukannya sejajar dengan sastrawan besar Rusia lainnya seperti Leo Tolstoy, Ivan Turgenev, Fyodor Dostoyevksy dan Alexander Pushkin.
Simak ceritanya yang berjudul “Hidung” di Blog Saswaloka ini. Berikut adalah sinopsisnya:
Asesor Kolega Kovalev bangun suatu pagi dan menemukan bahwa hidungnya telah hilang. Pada saat yang sama di tempat lain di St. Petersburg, Si Tukang Cukur Ivan Yakovlevitch menemukan hidung dalam sarapan rotinya. Bagaimanapun, Si Tukang Cukur, dengan maksud untuk melepaskan diri dari peristiwa aneh itu, berusaha untuk melempar hidung itu ke sungai Neva. Tak lama kemudian, Kovelev kebetulan saja melihat hidungnya mengenderai kereta kuda dan mengenakan seragam Konselor Negara (pangkat yang lebih tinggi dari pada Asesor Kolega). Ia menuntut agar hidung itu menyerahkan diri, sayangnya hidung itu menampik dengan kasar.
Awalnya baik polisi maupun surat kabar tidak mau membantu, tapi kemudian petugas polisi, yang kebetulan memerhatikan seorang tukang cukur melemparkan sesuatu ke sungai, mengembalikan hidung yang hilang itu pada Kovalev. Akan tetapi, masalah lain pun muncul. Bagaimana ia bisa menempelkan hidung itu kembali ke wajahnya? Untuk itu ia berkonsultasi pada seorang dokter, yang menyarankan agar membiarkannya secara alami, “baiknya kau seperti apa adanya sekarang, jika tidak kau akan membuatnya lebih buruk.” Malangnya Kovalev tak berhidung!
Bagaimana nasib Kovalev selanjutnya?