Showing posts with label ekografi. Show all posts
Showing posts with label ekografi. Show all posts

Thursday, September 6, 2018

Mengevaluasi Status Kekhalifahan

Oleh Firman Nugraha*

Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Derajat tinggi ini langsung diberikan Allah Swt, manusia memiliki hak istimewa untuk mengelola bumi demi kelangsungan hidupnya. Status kekhalifahan ini menyiratkan kepercayaan penuh atas manusia sebagai hamba-Nya untuk mempergunakan alam, sekaligus menjadi bagian darinya.

Status kekhalifaan manusia bukannya tanpa masalah. Selain sebagai sebuah penisbataan kekuasaan Allah akan ciptaannya, terdapat di dalamnya pandangan yang acapkali diartikan sebagai hak prerogatif manusia atas kuasanya di dunia yakni, pandangan ekologis. Tetapi, belum sampai pemahamannya diterang-jelaskan dengan utuh, kenyataan penafsiran akan status tersebut malah jatuh merosot jauh dari hakikat yang sebenarnya.

Ekoteologi Penciptaan
Sejatinya, status kekhalifahan memunculkan sedikitnya dua ambiguitas. Pertama, ia membuat manusia memiliki kehendak bebas dalam penyelenggaraan hidup. Dalam hubungannya dengan lingkungan, manusia memanfaatkan alam untuk kebutuhannya. Atas nama hidup, manusia membabat dan membakar hutan serta menanam bahan pokok sebagai sumber pangannya. Manusia juga membuat berhektar-hektar sawah dan ladang untuk ditanami padi, ketela pohon bahkan kelapa sawit.Pengetahuan dengan teknologi yang datang kemudian pun memudahkan prosesnya.

Friday, September 5, 2014

TEMPAT SAMPAH KITA

Urusan tempat sampah bisa jadi urusan yang tidak pernah selesai. Mulai dari TPA (Tempat Pembuangan Akhir), tempat-tempat sampah yang mestinya tersedia di setiap sudut ruang publik, perilaku orang yang membuang sampah, dan manajemen pengelolaan sampah; kesemuanya itu masih menjadi PR bagi kita Si Pembuang/Pembersih Sampah.

Tapi biarlah, hal-hal besar dan masiv itu kita ke sampingkan lebih dulu. Pada kesempatan ini saya justu ingin berbicara tentang tempat sampah. Yang kenyataannya, masih dianggap sepele oleh kebanyakan kita.

Berkaca pada orang-orang kreatif di luar negeri sana, urusan membuang sampah seakan telah menjadi sebuah fokus—bahkan bukan tidak mungkin menjadi bidang studi tersendiri. Maksud saya, tempat sampah tidak hanya sebatas tempat untuk membuang sampah. Lebih dari itu, tempat sampah didesain oleh mereka dengan mempertimbangkan fungsi dan perannya sebagai tempat sampah.

Tidak seperti di kita dimana tempat sampah hanya sebatas tong kosong atau drum plastik yang disimpan begitu rupa. Meski cukup bisa dihargai dimana setiap tong diberi label tersendiri, seperti organik atau non-organik. Sayangnya, hal itu menurut saya belum bisa dibilang cukup.

Desain tempat sampah mestinya menjadi hal yang harus dipikirkan juga. Jika Anda datang ke mini market atau bank atau instansi-instansi yang bonafide, barangkali Anda pernah melihat tempat sampah yang didesain sedemikian rupa. Sebuah kaleng—baik berbentuk tabung atau persegi--besar yang terdiri dari dua fungsi yang berbeda. Pertama, lubang besar, biasanya di tengah-tengah, untuk membuang sampah, dimana di atasnya terdapat semacam asbak untuk mematikan puntung rokok.  

Saya pikir bukan tanpa alasan mengapa mereka membuat desain tempat sampah semacam demikian itu. Pasalnya—setidaknya berdasarkan pengalaman yang saya alami, seandainya orang membuang puntung rokok langsung ke tempat sampah, sedang sampah itu sendiri adalah sampah yang mudah terbakar, apa yang sekiranya bakal terjadi? Ya, jelas kebakaran! Dan kebakaran akibat puntung rokok yang dibuang ke tempat sampah dengan sampah yang mudah terbakar itu, telah membuat sekolah saya hangus terbakar dilalap api.

Sungguh sangat sentimentil, atau mungkin tragis. Hanya karena puntung rokok, atau tempat sampah yang seadanya itu, satu bangunan sekolah bisa ludes, hingga akhirnya siswa-siswa dan guru-guru pun hanya bisa gigit jari. Mereka kehilangan berkas-berkas, buku-buku, perpustakaan, uang tabungan, dan yang lebih penting, hak mereka untuk belajar dan mengajar, untuk menuntut ilmu. Hanya gara-gara tempat sampah!  

Saya pikir kejadian semacam ini tidak hanya dialami oleh saya saja, orang lain di manapun bisa juga mengalami dan merasakannya. Seandainya kita bisa belajar dari pengalaman ini, barangkali orang bisa lebih waspada sekaligus mengantisipasi peristiwa serupa. Dengan kata lain, kita mestinya juga memikirkan dan harusnya membuat tempat sampah yang didesain sesuai fungsi. Jika perlu, fungsinya itu desesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Hanya sebagai antisipasi, karena bagaimana pun, bukankah menjaga itu lebih baik dari pada mengobati?

Ajaib juga, mereka, orang-orang di luar negeri sana yang justru mengetatkan peraturan soal rokok merkok ini, justru menjadi orang yang sangat menghargai perokok dengan menyediakan tempat sampah yang sangat eksklusif itu. Tapi kita…?   

Walau demikian, tetap saja, manusia itu sendirilah yang sebenarnya menjadi titik utama perihal sampah menyampah ini. Perilaku disiplin, taat aturan, dan gaya hidup bersih mestinya menjadi sebuah keniscayaan bagi setiap orang. Tidak perlulah kita bergantung pada pemerintah untuk masalah ini. Tahu sendiri, pemerintah kita lebih sibuk mengurus negara, politik, ekonomi, subdisi BBM dan lainnya. Justu dari kita sendirilah mestinya hal ini dimulai. Karena kalau bukan kita, siapa lagi? [FA/“Saswaloka”]

Sunday, April 22, 2012

What A "Noisy" Earth Day!


Maybe cos we have already adapted with the climate so that there's no need, really, to save the world. Or, maybe cos what we presume about global warming ain't going to happen so that it is fine to stay calm, even do nothing to earth. Or, maybe we are too busy dealing our own live on politic, social, economy sector so that we let the earth do the job.

A hundred or maybe a million possibility can occur as many answer for a single question: What have we done to celebrate The Earth Day? I've planted a dozen seed of tree of mangosteen, jackfruit, salak, and other local plants. But, i don't see anything on the news about person, institution, or group on behalf of environmentalists, do the celebration. Where did they go? Do they forget about the Earth Day that initially becomes one of their pennant in saving environment? Or maybe they are to tired to strive their own belief regarding to nature as the impediments strikes their lust?

I am in a element of having idea to make everyday as an Earth Day. But, knowing this odd condition and situation, even to say Everyday-Earth Day, for a single day on April 22nd this year, people can hardy capable to achieve it. So, it is true that the Earth Day of this year really really "noisy" until you can even hear nothing. No celebration. No Green. No Plants. Not a single things has done for Earth to be appreciated! The Fourth Stadium Irony. Or, do I miss something?

Thursday, March 15, 2012

Representasi Simbol dalam Wall-E

Walau sempat booming di tahun 2008, sebagai sebuah film propaganda global warming, Wall-E tetap menjadi salah satu karya terbaik untuk ditonton lagi dan lagi. Dengan banyak karakter yang unik sekaligus lucu, serta jalan cerita yang membuat kita betah untuk mengetahui akhirnya, film ini juga mengajarkan bagaimana kita mesti mencintai rumah (baca: bumi) yang hanya satu ini. Ada fungsi sosial yang dihantarkan lewat film ini. Setidaknya, hal itu bisa kita rasakan ketika kita sudah selesai menontonnya.

Terlepas dari berapa rangking yang kita berikan untuk film ini, ada hal yang secara tidak disadari telah memapah kita pada sebuah “kesepakatan” tanpa terlebih dahulu menuntut pemahaman-keras para penontonnya. Kesepakatan yang dimaksud di sini adalah semacam stereotip yang menjadi common sense dari pencantuman citra yang diperlihatkan lewat adegan-agenda (scene) yang ada di dalam film itu; dan hal ini, dihantarkan lewat simbol.

Saturday, February 25, 2012

The Role of Nature in Literature


"THE LIP OF SEASHORE" by FA
The natural world has always been an important subject for poets and prose writers. Nature serves as much more than simply a passive setting against which compelling actions unfold or a pretty backdrop or setting in the natural world (Smith, 2009). Rather, nature in all of the poems and essays is truthfully a living character through which human identity is constructed either through the characters’ alignment with the natural world or their struggle against it.
In the works of art, nature generally functions as background of place and time, and also theme. But as what has been mentioned earlier that poem as an artifact of culture product of society is also influenced by its social system. People of British in 18th century, for example, thanks literature for giving contribution in developing economic system of the country through works that most of them are achievement oriented (Koentjaraningrat, 1985). Obviously, literature has considered as important things in that environment. However, it is different from Indonesia that has long-dark history in its development. Mystical, paradox, traditionalism shackle, and other characteristic have yet made literature as important part of people product. In other words, literature is not popular among the citizens (Alwasilah, 2001). Surely, the system of education contributes to this condition.       
In addition, nature in certain case is portrayed as a beneficent living force that can –if it is studied and understood through careful and intentional reflection—offer enduring lessons about what it means to be human (Smith, 2009). This statement emerges from the works of Emerson, Thoreau, and Whitman. Off nature, these writers have their own perception. As same as Emerson, in example, Thoreau believes that the highest law is not that created by men, but that which is ordained by nature. For Whitman, Nature without checks with original energy is an inspiring model by which he would like to live. In essentials, nature is viewed as possessing all the knowledge that man needs to know, if only he is attentive and willing enough to study its messages and apply them to his life (ibid, 2009).
Moreover, in connection with the role of nature in literature, Kate Rigby through her article “Introducing Criticism at the 21st Century” (2002) punctiliously explains the different usage of nature. Nature presents in literature as (1) commodification, (2) symbolic/narrative treatments, (3) background images with symbolic meanings, (4) ‘realistic’ description or hardship, (5) ‘natural’ existence (6) symbolic quest from a literal journey, (7) landscape and symbols, and as (8) frames and symbol. Those usages basically lay within the work of each literary art. 
Likely, it is not impossible to make nature as part of life style in the same manner as literature as product that reflects people’s culture. Nature in this case is environment surrounds us; it can be a medium that effectively delivers idea or thoughts of the author as part of the community. Furthermore, through intimate relationship with the natural world, people are able to construct their own identities and their philosophies about how to live a right life in the natural world. The treatment of people play significant role in living a life that is the same as the role of literature that functions nature as idealized elements of aesthetics live. (*Saswaloka*)

Sungai Depan Rumah

MENDERAS by FA
Kembali, Ibu-ibu mencuci di kali. Sayangnya tidak di tengah, tapi di tepi. Hari ini aliran sungai tampak besar setelah sore hingga malam kemarin sungai mendadak meluap sampai ke permukaan. Entah hujan seperti apa yang turun di hulu, sungai di depan rumah mendadak menjadi makhluk yang mengerikan yang bisa menghancurkan apa saja tanpa ampun. Pagi ini barangkali sungai mengalir tak sederas semalam, tapi debitnya tak lantas hilang menghantarkan suaranya hingga beberapa meter jauhnya. Bahkan, aku masih bisa mendengarkan suara deras itu mengalir di kamar ini. Tak seperti biasanya, kali ini sungai benar-benar menyapu segalanya: ranting-ranting bahkan sampah yang biasa masyarakat sekitir sini buang di tepi.
Pagi ini, aku melihat ibu-ibu yang biasa mencuci di pinggir kali, tampak kesulitan. Bagaimana mungkin mereka biasa mencuci dengan kondisi seperti itu? Alih-alih menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, bukan tak mungkin pakaian yang mereka cuci pun ikut mengalir dengan derasnya air.
Sungguh kekuatan alam yang bukan mainan. Petaka bisa saja menimpa siapa saja jika ia sudah memperlihatkan wujudnya. Percis ketika suatu hari aku melihat air sungai menggenangi sebuah rumah di kampung halamanku. Rumah itu total terendam air sungai yang meluap di depan rumahnya.
Di kesempatan yang lain, aku juga pernah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Sungai Cikaobandung yang membawa air dari bendungan Jatiluhur merendam lebih dari empat desa di kecamatan yang sama. Seluruh harta benda milik warga total tersaput genangan air bah itu. Ikan-ikan di kolam habis entah ke mana, ternak, padi yang baru saja ditanam, semuanya tak bersisa kecuali atap-atap rumah yang masih terlihat di permukaan air.
Malah ketika kecil aku sempat juga mendengar seorang anak kecil di sekitar rumahku hanyut di bawa air sungai. Nenek Si Anak merasa kehilangan ketika cucunya itu tak juga pulang padahal hari sudah malam. Tahu-tahu, keesokan harinya, tubuhnya sudah ditemukan mengambang di hilir Sungai Babakancikao.
Jadi, sungguh, kekuatan alam yang bisa mengakibatkan bencana bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Katastropi ini tak punya ampun ketika sudah beraksi.  Sore hari kemarin, ketika aku dengan sengaja menyaksikan deras air menghantam dinding-dinding pembatas dan batu-batu besar yang berada di tengah sungai, aku berpikir, bagaimana jika suatu hari nanti aliran sungai itu sampai ke rumahku, menghancurkan dinding pembatas dan menenggelemkan aku? Bakal seperti apa aku nanti? Apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan diri? Apa yang bakal aku selamatkan? Apakah ada barang-barang yang aku punya masih bisa kuselamatkan, atau hanya tubuhku ini saja yang siap-siap untuk lari dan mengungsi di saat sungai sudah benar-benar mengamuk, meluluh-lantakkan semuanya?
Sungguh, aku tak punya kuasa, tak punya daya. Hanya dengan memasrahkan segalanya pada-Nya aku bisa.

Subang, 21 Februari 2012

Monday, January 2, 2012

Selamat Tahun Baru Hutan

Sepertinya, tidak ada keadaan dan kenyataan yang benar-benar berbeda antara perilaku manusia terhadap hutan, baik di kota maupun di desa. Kenyataannya adalah, bahwa tidak ada hutan yang benar-benar terjaga dari ulah tangan manusia. Malah, sekalipun sudah dijaga, bukannya terjaga agar tetap alami, yang ada hutan malah makin rusak saja. Itu yang saya tahu ketika suatu hari hiking ke Tangkuban Perahu di tahun 2010. Padahal lima tahun sebelumnya jalan setapak masih jalan setapak. Sekarang jalan setapak malah jadi jalan motor cross bahkan jalan mobil rally. Bukannya memudahkan, keadaan ini justru malah menyusahkan para pencinta alam yang akan hiking ke TP. Walhasil, mereka pun jadi "tersingkirkan" sehingga mau tidak mau harus membuat jalan baru yang sebenarnya tak benar-benar jauh dari ancaman peradaban.

Keadaan serta kenyataan yang sama juga terjadi di Subang, tepatnya di Gunung Canggah dan bukit yang berderet memanjang dari Curug Cileat hingga ke Gardusayang. Di bukit itu, meski cukup terjal, hutan seperti pitak di kepala orang. Kehilangan rambut yang tidak pada tempatnya. Yang lebih parah, ada bukit di daerah Darmaga, tak jauh dari pabrik air minum kemasan ternama, yang sudah benar-benar gundul. Satu bukit penuh gundul, dimana pohon-pohon hutan sudah digantikan dengan tanaman komoditas pangan seperti singkong, ketela dan pohon jeungjing yang kebetulan menjadi favorit orang-orang Subang. Barangkali pohon jeungjing atau pohon albasia atau sengon ini bisa ditemukan juga di perkebunan teh di mana saja jika Anda melihatnya. (Sebagai catatan: pohon yang satu ini selain kuat juga terbilang mahal.) Atas nama kebutuhan (baca: perut), maka orang-orang pun menanam pohon yang satu ini. Mereka membabat dan membakar pohon-pohon hutan dan menggantinya dengan pohon dan tanaman yang mereka suka, yang tentunya harus menghasilkan imbalan bagi mereka. 

Sabtu (31/11) lalu saya sempat hiking ke Curug Cileat dekat wilayah Bukanagara lantas melanjutkan perjalanan ke Gunung Canggah. Saya pikir saya akan menemukan hutan yang alami di atas gunung yang tingginya 4000 mdpl. Tapi, tidak! Bahkan di ketinggian 3500 mdpl saya masih bisa menemukan petak-petak sawah hampir mengelilingi gunung dan bukit itu. Dengan kata lain, saya masih menemukan peradaban, manusia yang sangat manusiawi dengan "kemampuannya" untuk menjelajahi hutan dan membuat lahan untuk kebutuhan pangan. Bukannya tidak boleh, tapi apa jadinya jika orang-orang jadi sangat seenaknya menebang pohon membabat hutan lantas membuat pula batas-batas untuk tanah yang diaku-akunya? Kadang saya berpikir, apakah mereka memikirkan apa jadinya hutan dan gunung itu jika semuanya di gunduli? Jawabannya hanya satu: longsor. 

Manusia memang hebat bisa menaklukan alam, semata atas dasar kebutuhan. Sayangnya, manusia tidak punya pengetahuan kecuali sedikit saja. Mereka tidak berpikir panjang untuk apa yang bakal terjadi nanti. Tidak usahlah menunggu nanti, toh saya sudah menyaksikan sendiri beberapa bukit yang nyata-nyatanya longsor sampai-sampai menutupi jalan. Sedih rasanya melihat kenyataan itu. Rencana menjelajah mengunjungi hutan dan gunung jadi terganggu karena kenyataan ini, sampai pada akhirnya saya pun pulang dan terbesit kata-kata di bawah ini: 

Sopan/Objektif: "Di muka bumi ini, hanya manusia yang merusak hutan."
Kasar/Subjektif: "Manusia tidak merusak hutan; mereka hanya merusak kesadaranya."

Subang, 01.01.2012

Saturday, October 29, 2011

Alam dan Tiang Listrik

Menyusuri jalan Sukamandi dari arah Wanayasa ke Purwakarta, pemandangan ajaib tertangkap mata: satu hal yang tidak biasa. Sebuah tiang listrik berdiri tegak. Seandainya. Tapi tiang listrik itu hampir saja roboh, bukan karena ada orang yang hendak mencurinya --mengingat banyak perilaku sosial masyarakat yang dewasa ini tidak cukup bisa menjaga dan mengindahkan fasilitas umum, dan memang tidak mungkin ada orang yang mencuri tiang listrik. Tetapi, hal ini dikarena alam sudah berbicara.dengan bahasanya. Bahasa sakti. 

Peristiwa ini terjadi tepatnya pada tanggal 12 Oktober 2011, di mana sehari sebelumnya hujan lebat turun yang akhirnya menyisakan pemandangan yang sangat jarang. Seharusnya tiang listrik itu berdiri tegak seperti ini:


Sayang, kenyataannya tiang listrik itu justru seperti ingin tidur karena kelelahan:


Sungguh mengerikan. Tapi syukurnya tidak ada korban. Semoga petugas yang lain kali akan mendirikan tiang listrik bisa lebih hati-hati lagi. Entah dengan memeriksa tanahnya, atau mungkin dengan memerika tiang listriknya :) []


Alam Jeung Pujangga

Ku Sir Philip Sydney (1554-1586)

Euweuh seni nu ditujukeun ka jalma nu teu ngabogaan pangaweruh alam sangkan jadi obyék pokona, nu mun teu jeung alam jalma moal daya, jeung nu ngan ka alam jalma gumantung jadi aktor jeung pamaen di mana alam jadi tempat hirup satuluyna. Ku kituna ahli falak nu ningal béntang jeung maké naon marenehna ningalna, nangtukeun tata-titi alam nu ngabogaan peran penting di tempat éta…  Fisikawan nimbang alam raga manusia, jeung alam wanda nu nyalametkeun sarta nu ngarugikeunna. Kitu ogé ahli metafisika, sanajan aya dina peran kadua jeung abstrak, jeung lantaran kitu dianggap supranatural, tapi angger méré kontribusi kana kalumungguhan alam.

Ngan pujangga, nu “ngéréméhkeun” nepi ka embung diatur ku aturan siga kitu, malah nyokot usaha ku cara nu lian karyana sorangan, maprah pangaruh ka alam nu lian dina ngajadikeun hiji pancén leuwih hadé salian waragad nu dibawa ku alam, atawa, nyieun rupa nu anyar nu euweuh nemrak di alam, siga pandita, atawa déwa-déwa, buta, uka-uka, widadari, jllna, sabari paantai-antai leunguen langsung jeung alam jeung teu nutup diri ku kanyataan nu sempit kalayan karuniana, malahan ngatur ilatan bebas ku kapinteran sorangan. Alam teu ningalikeun bumi ku ngan saukur susunan kaendahan nu beunghar nu tangtuna béda jeung pujangga. Teu ogé ngan ku saukur walungan nu éndah, tatangkalan nu boga réa-réh buah, kembang nu seungit teu kacida, ogé ku sagala nu matak ngajadikeun leuwih mikacinta bumi ihwal ti liana. Dunya mah hebatna kacida, tapi pujangga mah ngan méré batu mulia (emas). []   

Ditarjamahkeun tina tulisan nu boga judul “Nature and the Poet” ku Firman Nugraha; Subang, 29 Oktober 2011.


Cara Mengutip:
Syndey, Sir Philip (1595).  Alam Jeung Pujangga. Dalam Saswaloka.  Ter. Firman Nugraha.
        Diambil <sesuaikan tgl, bln, thn,> dari http://upacarausia.blogspot.com/2011/10/alam- 
        jeung-pujangga.html

Thursday, August 11, 2011

Teater Lingkungan Hidup

Oleh: Firman Nugraha

Permasalahan lingkungan hidup sepertinya tak pelak lagi menjadi isu yang merambah banyak bidang di setiap lini kehidupan. Ia tak hanya terpapar di kolom-kolom bertema lingkungan saja, melainkan terpapar pula di kolom lain seperti arsitek, teknologi, fesyen, dan lain sebagainya. Tak berlebihan kiranya perkataan Mary Evelyn Tucker dan John A. Grim dalam bukunya “Worldviews and Ecology: Religion, Philosophy, and the Environmental” bahwa saat ini, kita tengah berada di zaman ekozoik!

Begitu pun di bidang seni, ia menjadi sebuah konsumsi yang memungkinkan untuk “dieksploitasi dan “dieksplorasi.” Seni dapat saling berkelindan, bersinggungan, dan berkolaborasi dengan lingkungan. Karena sebagaimana yang Iman Soleh ungkapkan, bahwa seni adalah ruang terbuka yang dapat didekati oleh wilayah apapun. Dan teater, sebagai salah satu bentuk dari kesenian, merupakan cara yang representatif untuk mengetengahkan permasalahan baik sosial, kultural, maupun environmental ke dalam kemasan yang estetis.