Showing posts with label esai. Show all posts
Showing posts with label esai. Show all posts

Wednesday, January 27, 2021

Segudang Permasalahan Menerbitkan Buku (1)

hugeorange.com
Semacam Pengantar 

Sudah lama saya ingin menuliskan soal terbit-menerbitkan buku ini sebenarnya. Hanya saja saya kadang bingung sendiri, mesti dari mana saya harus memulai. Bahkan untuk membuat judul terkait permasalahan ini pun saya gagal, percis judul tulisan di atas itu. Masalahnya memang tidak cukup mudah, terlebih di sini saya memang tidak hendak berbicara soal "Cara Menerbitkan Buku" itu. Ada ratusan situs atau blog lain yang membahas soal itu. Mbah Google lewat search engine-nya sudah pasti akan memuaskan Anda yang memang ingin mencari tahu bagaimana cara menerbitkan buku. Sebagian berupa tips dan trik, sebagiannya lagi promosi. Hampir semuanya berupa propaganda tentang betapa mudahnya menerbitkan buku, termasuk janji-janji manis bagaimana rasanya buku sendiri terbit. Benarkah demikian? Untuk tahu, lebih baik coba sendiri, dapatkan pengalaman dari usaha Anda itu dan rasakan sendiri.

Maka dari itu saya memutusakan untuk berbicara soal terbit-menerbitkan buku dari perspektif yang lain, dengan berdasarkan pada pengamatan dan pengalaman saya menjadi seorang editor dan pelaku industri perbukuan. Semoga saya bisa objektif dalam berbicara. Dan satu hal lagi, tulisan ini ditengarai oleh sebuah peristiwa yang kemudian mematangkan pandangan saya tentang apa yang bakal saya bahas ini. Peristiwa di mana beberapa hari yang lalu, saya mengikuti sebuah acara bedah buku milik seorang penulis prematur dengan buku yang tak kurang prematurnya. Penulis yang cukup serampangan untuk menerbitkan bukunya di saat di mana dia belum bisa dibilang pantas untuk menerbitkan buku. Hak dia, betul. Tapi ketika buku menjadi milik publik, adalah hak pembaca juga mendapatkan "suplemen" yang baik dari sebuah buku. Nantilah saya ceritakan. Saya ingin membuat tulisan ini dengan mengalir saja.

Saturday, March 17, 2018

Harga Sebuah Nilai Kecil


solopracticeuniversity.com
Bayangkan sebuah film dengan plot sederhana, dengan permasalahan yang telah menjadi sangat biasa bisa dihadapi siapa saja di kehidupan nyata.

Tokoh-tokohnya membicarakan hal keseharian tanpa pretensi apa lagi dramatisasi. Tak ada tawa paling bahak atau tangis paling bengis. Tak ada yang terluka dan dilukai terlebih menderita atau dibuat sengsara. Tak pula ada konflik yang njelimet atau adegan yang mengantar perenungan mendalam dialami tokoh-tokohnya.

Tokoh-tokoh yang menerima kenyataan sebagai kenyataan. Apa adanya. Bahkan di akhir film, tak ada perubahan nasib yang terjadi pada mereka. Semua berjalan biasa-biasa saja. Seperti matahari yang terbit di pagi hari dan terbenam ketika senja tiba, dan semua orang mengganggapnya sebagai hal yang biasa.

Wednesday, March 14, 2018

Segudang Permasalahan Menerbitkan Buku (2)

literary-agents.com
Pada bagian pertama tulisan telah digambarkan beberapa macam cara menerbitkan sebuah buku. Untuk mengafirmasi cara tersebut, bagian kedua ini akan menjelaskannya lebih lanjut. Tapi sebelumnya, barangkali ada baiknya untuk menjawab pertanyaan ini lebih dulu: Pertama, mengapa seorang harus menerbitkan buku? Kedua, mengapa menerbitkan buku harus lewat penerbit? Silakan simpan jawaban Anda. Selanjutnya, saya akan berbicara soal hal-hal lain yang belum sempat saya jelaskan di bagian pertama.

Pertama, menerbitkan buku secara self-publishing. Cara yang satu ini sebenarnya terbilang ekstrem. Mengapa? Karena tak pernah sepanjang sejarah ada manusia yang menuliskan dan menerbitkan pemikirannya dalam bentuk buku sendirian. Pasalnya terlebih buku, kitab suci pun tak pernah ditulis langsung oleh nabi, meski demikian hal ini jelas tidak bisa dijadikan perbandingan. Cara swadaya seperti ini saya sebut dengan istilah (maaf) "onani". Seperti yang dijelaskan di bagian pertama bahwa hanya dengan bermodal uang sendiri seseorang bisa menerbitkan bukunya sendiri. Suka-suka. Anda ketik naskah Anda, lalu membawanya ke percetakan yang akan membuatkan plat bagi lembar demi lembar naskah Anda lantas mencetaknya dalam jumlah yang besar. Mengusahakan ISBN untuk buku Anda ini ke Perpusnas RI tentu akan lebih baik. (Sayangnya, pemberian ISBN buku zaman now hanya bisa dilakukan oleh penerbit, tidak bisa perseorangan. Akan tetapi ini bisa terjawab jika Anda menggunakan sistem Pod). Dengan cara ini Anda akan mengetahui dari awal sampai akhir proses penerbitan buku Anda.

Tuesday, January 30, 2018

Lagu Melayu Tak Selalu Mendayu

Tidak bisa tidak jika media massa punya pengaruh yang kuat perihal pencitraan di negeri ini. Produk apa pun itu, ketika ia mulai dipublikasikan dan hal yang sama diulang di kemudian hari bahkan berulang-ulang, maka akan muncul citra tersendiri. Citra ini lantas melekat pada produk yang menjadi mainstream di kalangan masyarakat. Lagu Malaysia adalah salah satu dari "korban" citra itu. 

Lagu-lagu dari negeri Jiran yang oleh masyarakt kita disebut lagu Melayu ini, menjadi identik dengan lagu yang mendayu-dayu. Lagu cengeng berbicara cinta: jatuh cinta, putus cinta dan hal-hal yang berhubungan dengan cinta. Mungkin publikasi gencar di media massa seperti televisi yang dominan menyuguhkan lagu-lagu mendayu musisi Malaysia menjadikan lagu Melayu tak lepas dari citra cengeng ini. Benarkah demikian?

Sunday, July 3, 2016

Pada Awalnya Mencuri

Kapan orang tua kita mengajarkan bahwa mengambil barang milik orang lain adalah dosa dan merupakan perbuatan yang tidak terpuji? Mencuri, maling, merampok atau apa pun itu namanya, tetap merupakan perbuatan yang tidak bisa dibenarkan. Mencuri tergolong pada perbuatan yang buruk. Sama percis dengan mengumpat, berzina, berbohong dan membunuh. Dan dengan demikian, pencuri adalah orang yang memiliki perangai buruk dan tercela.

Menurut KBBI (2008), mencuri adalah mengambil milik orang lain tanpa izin. Perbuatan ini acapkali dilakukan tanpa sepengetahuan dan izin dari si pemilik. Sementara, orangnya sendiri disebut pencuri, dan peristiwanya disebut pencurian.

Secara etimologi, mencuri memiliki banyak kata. Ini tergantung pada apa, seberapa besar/banyak dan cara barang itu diambil. Pada umumnya, mencuri berarti stealing dalam bahasa Inggris. Namun ditengarai oleh motif dan sifatnya, perbuatan yang termasuk ke dalam kejahatan kriminal ini pun dibedakan namanya menjadi larceny. Definisinya sendiri tak jauh beda, yakni kejahatan pengambilan properti (uang atau barang) seseorang menjadi milik seorang lain. 

Saturday, October 4, 2014

Kredit: Jejak Penyair Yang (Mestinya Tidak) Hilang

BEBERAPA TAHUN YANG LALU, DI RUBRIK KHAZANAH (PUISI) KORAN PIKIRAN RAKYAT, ANDA AKAN MENDAPATI BIOGRAFI SINGKAT DARI SETIAP PENYAIR BERSAMA PUISI YANG DITERBITKANNYA. SAYANG, HAL ITU TIDAK ADA LAGI SEKARANG. ENTAH APA ALASAN REDAKTUR MENGHILANGKAN KREDIT ITU. TIDAK ADA YANG TAHU. TAPI SETIDAKNYA TULISAN INI BERUSAHA MENCOBA UNTUK MENJAWABNYA.

Di dalam penciptaan sebuah karya, proses merupakan sebuah keniscayaan. Kita lambat laun belajar bahwa bakat itu nonsense. Yang ada selebihya, justru kedisiplinan, kerja keras dan kesabaran. Dengan kata lain, tidak ada karya mana pun yang dihasilkan dengan cara instan.
Di dunia populer, pengenalan akan proses sebuah penciptaan sebenarnya sudah berlangsung lama. Ia terpampang di halaman produksi sebuah buku, di credit title sebuah film, atau bahkan di belakang jilid sebuah album musik sekalipun.
Tapi, apakah ada yang mau memperhatikannya (membacanya)? Alih-alih mengetahui bagaimana proses itu diciptakan lewat tangan-tangan penciptanya, kita justru lebih terlena dengan karyanya, setidaknya judul buku dan penulisnya, judul film dan aktor utamanya, atau judul lagu dan penyanyinya. Kita luput—untuk tidak menyebutnya tidak peduli—memerhatikan bagaimana karya itu dikerjakan lewat sebuah proses yang panjang, yang melibatkan banyak orang dengan banyak profesi di dalamnya. 

Saturday, August 16, 2014

Bahasa Sebagai Indikator Peradaban Bangsa

Sebuah kalimat berbunyi: Jika seseorang ingin mengubah hidupnya, maka ia harus terlebih dulu mengubah bahasanya. Peribahasa Sunda berkata “Hade goreng ku basa.” Seyogianya, bahasa adalah representasi jati diri sesorang. Pada bahasalah seseorang memperlihatkan identitasnya. Ia menjadi tolak ukur keber-adaban manusia.
Kesadaran akan bahasa merupakan indkotrinasi. Ia dicapai bukan melulu lewat jalur akademik yang mengumbar begitu banyak teori. Bahkan ada kalanya teori-teori itu pun tidak bisa membendung bahasa sebagai makhluk yang terus berevoulsi—sesuatu yang berbanding lurus dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia itu sendiri.
Kesadaran pun bukan sesuatu yang final. Sejauh manusia dan bahasanya berkembang, sejauh itu pula kesadaran dibutuhkan. Permasalahannya sekarang adalah, apakah kesadaran itu berwarna positif atau negatif. Tentu, di tengah rongrongan multimedia yang gencar, selalu ada kesempatan bagi bahasa untuk menampakkan kelemahan-kelemahannya. Sayangnya, tidak ada filter atau penyaring mana dari wujud pikiran itu (bahasa) yang benar dan baik dengan yang sebaliknya. Di sinilah logika punya peran.


Thursday, August 14, 2014

Guru (Honorer) Oh Guru (Honorer)*

Tahun Pelajaran baru artinya sekolah baru. Barangkali itulah yang terbesit di kepala para guru khususnya guru honorer, setidaknya yang berada di wilayah Subang Selatan ini. Setiap tahun pelajaran tiba, tidak sedikit guru yang pindah dari satu atau lebih sekolah ke sekolah lainnya. 

Perilaku nomaden sekaligus "selingkuh" ini jelas bukan tanpa alasan. Beberapa orang beralasan bahwa dasar kepindahan mereka adalah soal kenyamanan. Tapi yang paling santer terdengar dan menjadi sangat signifikan adalah soal kebutuhan, ya, apa lagi kalau bukan masalah kesejahteraan? 

Mereka berpendapat jika sekolah yang ditinggalkannya ternyata tidak cukup bijak untuk memperjuangkan dirinya setelah dirinya memperjuangkan sekolah. Dalam artian, guru-guru yang berbakti dan mengabdi kepada sekolah selama bertahun-tahun, ternyata tidak cukup diperhitungkan ketika dirinya punya kesempatan untuk bisa--sebut saja--mendapat sertifikasi: sebuah pembaiatan dimana seorang guru telah benar-benar dinyatakan sebagai guru profesional hingga dirinya tidak lagi seperti ikan yang bernapas dalam lumpur. Walau, kenyataan di lapangan, begitu banyak guru yang disertifikasi tapi masih tidak layak disebut profesional. 

Pil pahit yang setiap tahun harus ditelan oleh guru-guru honorer di banyak sekolah ini terkait oleh pembawaam kepemimpinan. Karakter pemimpin sekolah yang--dalam kasus di wilayah Subang Selatan ini-- kebanyakan berada di bawah naungan yayasan, sangat kental dengan sikap subjektif, oteriter dan nepotisme. Barangkali karena dia adalah pemilik yayasan, maka dia bisa seenak dan semaunya bersikap dan bertindak untuk yayasan sekaligus sekolah yang dimilikinya. Hal ini jelas sudah menjadi pengetahuan umum di wilayah ini. Sabiwir hiji, begitu kata peribahasa Sunda. Meski begitu, tidak semua memang para pemimpin yayasan punya sikap dan sifat demikian. Yang lurus-lurus saja pun ada, walau tidak banyak.
 
Alih-alih untuk menciptakan suasan KBM yang kondisuf diiringi dengan sistem yang mumpuni, atau yang lebih jauh lagi, yang barangkali menjadi dasar kenapa harus ada sekolah dan pendidikan di negara ini, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, yang justru kecipratan jeleknya adalah manajemen sekolah. Dan siapa lagi kalau bukan guru (honorer) yang harus merasakan akibatnya? Sungguh sebuah ironis: ketika para guru kerja siang malam mengurus sekolah, mengajar dan mengerjakan seabreg tugas kependidikan, dengan kara lain mencoba memintarkan bangsa ini, kenyataan yang ada justru merekalah yang seringkali dibodohi dan dibohongi oleh para pemilik kebijakan--untuk tidak menyebut pemerintah. Bukankah itu yang disebut namanya "Air susu dibalas dengan air tuba?" Air susu diberikan oleh guru, tapi justru racun yang didapatkannya. 
Entah samapai kapan guru-guru honorer yang kecewa dan dikecewakan, yang tetap memegang prinsip dan motivasi sebagai seorang pendidik dan pengajar dalam hatinya, harus jor-joran bergelut dengan keadaan seperti ini dari waktu ke waktu. Hanya berusaha mencoba untuk mendapatkan penghargaan dan sedikit saja pengakuan dirinya sebagai guru, lagi-lagi mereka harus mencari tempat mengajar lagi, memulai dari nol lagi, serta berharap dan berharap lagi, entah untuk ke berapa ribu kali. [FA]

*) sebuah celoteh sebagai teman minum kopi.

Sunday, May 12, 2013

Classification Of Friends


Since we were a child, the surroundings demanded us to recognize and appreciate friends, moreover a new friend. There are three different kinds of friends in this life. We can classify them according to how well we know them and how well they know us.
We encounter each of them everyday, whether in school, home, or at the gym. However, we rarely spend much time actually thinking about and classifying these people. First, there are THE GENERAL ACQUAINTANCES. Second, there are THE SOCIAL PARTNERS. Lastly, we have The Best Friends—our true friends.
The first type of friend is SIMPLY an ACQUAINTANCE. This means that you basically only KNOW their NAME. You might NOT even REMEMBER what they look like if you go away for a holiday. Usually, you meet these types of friends in school, on the public transportation, in the gym, or anywhere else you might be. You normally would not mind having a chat with them, but if anything else came up, you usually would have NO PROBLEM PARTING COMPANY. You normally DON’T MISS them when they are elsewhere.
The second category is THE SOCIAL PARTNERS. This is because they are closer than acquaintances, but not as close as a true friend. Social partners are usually acquaintances who EVOLVE into "GUEST FRIENDS" through increased extracurricular activities. You know their name, a little of what they like or dislike, a little of their family history, and usually have SEVERAL THINGS IN COMMON. So too the social partners have to have several things in common with you.
The "guest friends" usually don’t CONVERSE about anything SUBSTANTIAL or deep, such as their innermost desires and fears. Usually, "guest friends" keeps the topic of CONVERSATION HAPPY and LIGHT. They would NOT OPEN UP to you how they are really feeling. They are still preoccupied with "SAVING FACE." You still do ENJOY hanging out with them. But when the GOING GETS TOUGH, they are not there for you.
The last type of friend is THE BEST FRIEND. Normally, you know them the LONGEST. You probably grew up together as children. He or she KNOWS EVERYTHING about you. Likewise, you know everything about him or her. They are basically FAMILY-LIKE. You know each others attitude and habits and can ALWAYS TELL when there is something wrong. You would NOT HESITATE to SHARE your deepest feelings or thoughts with them.
A TRUE FRIEND has no problem correcting you when you are wrong. Likewise, a true friend WILL LOVE you like a member of his own family. He or she will always be there for you. They are NOT PERFECT, but at least they WILL ALWAYS LOOK OUT for you and never do anything intentionally to “hurt” you.
On a final note, we should always remember to keep in mind what kind of a friend we are to other people. We are all SURROUNDED BY ACQUAINTANCE, guest, and best friends. We should always strive to be the best friends, which we can be.
Also, as the saying goes, "YOU CAN’T USE YOUR FRIENDS AND HAVE THEM TOO." We should APPRECIATE and VALUE all FRIENDSHIPS that come into our lives, no matter how deep or superficial. We should always remember that all BEST FRIENDS STARTED OUT as just ACQUAINTANCES. (Fim Anugrah/”Saswaloka”)