Tidak bisa tidak jika media massa punya pengaruh yang kuat perihal pencitraan di negeri ini. Produk apa pun itu, ketika ia mulai dipublikasikan dan hal yang sama diulang di kemudian hari bahkan berulang-ulang, maka akan muncul citra tersendiri. Citra ini lantas melekat pada produk yang menjadi mainstream di kalangan masyarakat. Lagu Malaysia adalah salah satu dari "korban" citra itu.
Lagu-lagu dari negeri Jiran yang oleh masyarakt kita disebut lagu Melayu ini, menjadi identik dengan lagu yang mendayu-dayu. Lagu cengeng berbicara cinta: jatuh cinta, putus cinta dan hal-hal yang berhubungan dengan cinta. Mungkin publikasi gencar di media massa seperti televisi yang dominan menyuguhkan lagu-lagu mendayu musisi Malaysia menjadikan lagu Melayu tak lepas dari citra cengeng ini. Benarkah demikian?
