Showing posts with label aforisma. Show all posts
Showing posts with label aforisma. Show all posts

Saturday, March 17, 2018

Harga Sebuah Nilai Kecil


solopracticeuniversity.com
Bayangkan sebuah film dengan plot sederhana, dengan permasalahan yang telah menjadi sangat biasa bisa dihadapi siapa saja di kehidupan nyata.

Tokoh-tokohnya membicarakan hal keseharian tanpa pretensi apa lagi dramatisasi. Tak ada tawa paling bahak atau tangis paling bengis. Tak ada yang terluka dan dilukai terlebih menderita atau dibuat sengsara. Tak pula ada konflik yang njelimet atau adegan yang mengantar perenungan mendalam dialami tokoh-tokohnya.

Tokoh-tokoh yang menerima kenyataan sebagai kenyataan. Apa adanya. Bahkan di akhir film, tak ada perubahan nasib yang terjadi pada mereka. Semua berjalan biasa-biasa saja. Seperti matahari yang terbit di pagi hari dan terbenam ketika senja tiba, dan semua orang mengganggapnya sebagai hal yang biasa.

Tuesday, January 31, 2017

Perbedaan Itu Berkah (?)

Ada yang salah dengan otak kita, atau tepatnya cara berpikir kita. Tak bisa dimungkiri jika otak adalah alat ukur manusia dalam melihat, memetakan, menilai, menimbang, mengevalusi, dan menyimpulkan sesuatu. Dia menjadi tempat bagi mengalirnya buah pikiran yang deras, tak bisa dihambat, dan ada kalanya digunakan semena-mena, sedang kata-kata menjadi wujud nyata dari pikiran itu sendiri. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah akal pikiran—cara bekerjanya otak—sudah digunakan dengan cara yang baik dan benar?

Pertanyaan di atas mungkin takkan muncul sekiranya otak kita sudah beres. Kenyataannya, fakta membuktikan bagaimana otak kita ini teramat sering menerima proposisi yang telah menjadi sangat umum dibicarakan meski tanpa pertimbangan dan pemikiran lebih lanjut. Salah satu contohnya adalah proposisi yang berbunyi: Perbedaan itu berkah—sebuah kalimat yang begitu popular di abad milenium ini.

Ditengarai oleh kenyataan hidup dan kehidupan berbudaya yang banyak ragamnya, termasuk pemikiran dan hasilnya, tak sedikit dari kita yang memiliki sikap berseberangan atau bertolak belakang atas satu atau lain hal. Tentu sikap ini sendiri tak lantas sekonyong-konyong ada tanpa adanya pengaruh, baik itu internal maupun eksternal. Bagaimanapun, setiap sikap pasti punya landasan se-nonsense apa pun itu. Hanya saja, dan ini yang paling penting, atas nama kerukunan, kebaikan dan ketentraman, kita acapkali tak memperuncing sikap kita atas permasalahan itu, perbedaan itu, dan kebanyakan dari kita menjadikan kalimat ajaib “perbedaan itu berkah”—alih-alih dipahami—sebagai tedeng aling-aling—untuk tak berkata bahwa memang tak ada lagi penyelamat lain selain kalimat ini. Dan permasalahan pun selesai, tanpa harus kita besar-besarkan.

Akan tetapi, apa artinya? Apa arti dari proposisi itu sebenarnya? Berkata bahwa perbedaan itu berkah?