Showing posts with label akal kesebelas. Show all posts
Showing posts with label akal kesebelas. Show all posts

Saturday, March 17, 2018

Harga Sebuah Nilai Kecil


solopracticeuniversity.com
Bayangkan sebuah film dengan plot sederhana, dengan permasalahan yang telah menjadi sangat biasa bisa dihadapi siapa saja di kehidupan nyata.

Tokoh-tokohnya membicarakan hal keseharian tanpa pretensi apa lagi dramatisasi. Tak ada tawa paling bahak atau tangis paling bengis. Tak ada yang terluka dan dilukai terlebih menderita atau dibuat sengsara. Tak pula ada konflik yang njelimet atau adegan yang mengantar perenungan mendalam dialami tokoh-tokohnya.

Tokoh-tokoh yang menerima kenyataan sebagai kenyataan. Apa adanya. Bahkan di akhir film, tak ada perubahan nasib yang terjadi pada mereka. Semua berjalan biasa-biasa saja. Seperti matahari yang terbit di pagi hari dan terbenam ketika senja tiba, dan semua orang mengganggapnya sebagai hal yang biasa.

Wednesday, February 1, 2017

Adaptasi Sosial: Tentang Perkenalan dan Setelahnya




Persepsi seseorang terhadap sikap tak nyaman orang lain lebih dominan dari pada sikap yang membuat nyaman dirinya. Mengapa? Jelas ada yang salah di sana. Mungkin harus ada waktu untuk mempertimbangkan kemungkinan atau faktor-faktor apa saja yang membuat seseorang bersikap demikian. Hal-hal seperti latar belakang pendidikan, keluarga, adat istiadat, warisan pergaulan dan sebagainya. 

Di dunia pekerjaan, atau bahkan di dunia mana pun yang memungkinkan terjadinya adaptasi sosial, persepsi semacam ini kerapkali muncul. Seorang yang baru masuk wilayah baru jika tidak bersikap introvert maka dia akan bersikap ekstrovert, walau yang terakhir ini pun bukan berarti tanpa hambatan. Sungguh, bisakah seseorang menerima sosok baru yang bersikap sok kenal dan sok dekat (SKSD) terhadap dirinya? Jika sifat orang yang dihadapinya tak jauh beda dengan orang itu, tak lantas menjadi masalah. Tapi jika benar-benar berbeda, sikap seperti itu hanya akan membuat dirinya malu bahkan dianggap menyedihkan.

Tuesday, January 31, 2017

Perbedaan Itu Berkah (?)

Ada yang salah dengan otak kita, atau tepatnya cara berpikir kita. Tak bisa dimungkiri jika otak adalah alat ukur manusia dalam melihat, memetakan, menilai, menimbang, mengevalusi, dan menyimpulkan sesuatu. Dia menjadi tempat bagi mengalirnya buah pikiran yang deras, tak bisa dihambat, dan ada kalanya digunakan semena-mena, sedang kata-kata menjadi wujud nyata dari pikiran itu sendiri. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah akal pikiran—cara bekerjanya otak—sudah digunakan dengan cara yang baik dan benar?

Pertanyaan di atas mungkin takkan muncul sekiranya otak kita sudah beres. Kenyataannya, fakta membuktikan bagaimana otak kita ini teramat sering menerima proposisi yang telah menjadi sangat umum dibicarakan meski tanpa pertimbangan dan pemikiran lebih lanjut. Salah satu contohnya adalah proposisi yang berbunyi: Perbedaan itu berkah—sebuah kalimat yang begitu popular di abad milenium ini.

Ditengarai oleh kenyataan hidup dan kehidupan berbudaya yang banyak ragamnya, termasuk pemikiran dan hasilnya, tak sedikit dari kita yang memiliki sikap berseberangan atau bertolak belakang atas satu atau lain hal. Tentu sikap ini sendiri tak lantas sekonyong-konyong ada tanpa adanya pengaruh, baik itu internal maupun eksternal. Bagaimanapun, setiap sikap pasti punya landasan se-nonsense apa pun itu. Hanya saja, dan ini yang paling penting, atas nama kerukunan, kebaikan dan ketentraman, kita acapkali tak memperuncing sikap kita atas permasalahan itu, perbedaan itu, dan kebanyakan dari kita menjadikan kalimat ajaib “perbedaan itu berkah”—alih-alih dipahami—sebagai tedeng aling-aling—untuk tak berkata bahwa memang tak ada lagi penyelamat lain selain kalimat ini. Dan permasalahan pun selesai, tanpa harus kita besar-besarkan.

Akan tetapi, apa artinya? Apa arti dari proposisi itu sebenarnya? Berkata bahwa perbedaan itu berkah?

Sunday, July 3, 2016

Pada Awalnya Mencuri

Kapan orang tua kita mengajarkan bahwa mengambil barang milik orang lain adalah dosa dan merupakan perbuatan yang tidak terpuji? Mencuri, maling, merampok atau apa pun itu namanya, tetap merupakan perbuatan yang tidak bisa dibenarkan. Mencuri tergolong pada perbuatan yang buruk. Sama percis dengan mengumpat, berzina, berbohong dan membunuh. Dan dengan demikian, pencuri adalah orang yang memiliki perangai buruk dan tercela.

Menurut KBBI (2008), mencuri adalah mengambil milik orang lain tanpa izin. Perbuatan ini acapkali dilakukan tanpa sepengetahuan dan izin dari si pemilik. Sementara, orangnya sendiri disebut pencuri, dan peristiwanya disebut pencurian.

Secara etimologi, mencuri memiliki banyak kata. Ini tergantung pada apa, seberapa besar/banyak dan cara barang itu diambil. Pada umumnya, mencuri berarti stealing dalam bahasa Inggris. Namun ditengarai oleh motif dan sifatnya, perbuatan yang termasuk ke dalam kejahatan kriminal ini pun dibedakan namanya menjadi larceny. Definisinya sendiri tak jauh beda, yakni kejahatan pengambilan properti (uang atau barang) seseorang menjadi milik seorang lain. 

Friday, September 5, 2014

TEMPAT SAMPAH KITA

Urusan tempat sampah bisa jadi urusan yang tidak pernah selesai. Mulai dari TPA (Tempat Pembuangan Akhir), tempat-tempat sampah yang mestinya tersedia di setiap sudut ruang publik, perilaku orang yang membuang sampah, dan manajemen pengelolaan sampah; kesemuanya itu masih menjadi PR bagi kita Si Pembuang/Pembersih Sampah.

Tapi biarlah, hal-hal besar dan masiv itu kita ke sampingkan lebih dulu. Pada kesempatan ini saya justu ingin berbicara tentang tempat sampah. Yang kenyataannya, masih dianggap sepele oleh kebanyakan kita.

Berkaca pada orang-orang kreatif di luar negeri sana, urusan membuang sampah seakan telah menjadi sebuah fokus—bahkan bukan tidak mungkin menjadi bidang studi tersendiri. Maksud saya, tempat sampah tidak hanya sebatas tempat untuk membuang sampah. Lebih dari itu, tempat sampah didesain oleh mereka dengan mempertimbangkan fungsi dan perannya sebagai tempat sampah.

Tidak seperti di kita dimana tempat sampah hanya sebatas tong kosong atau drum plastik yang disimpan begitu rupa. Meski cukup bisa dihargai dimana setiap tong diberi label tersendiri, seperti organik atau non-organik. Sayangnya, hal itu menurut saya belum bisa dibilang cukup.

Desain tempat sampah mestinya menjadi hal yang harus dipikirkan juga. Jika Anda datang ke mini market atau bank atau instansi-instansi yang bonafide, barangkali Anda pernah melihat tempat sampah yang didesain sedemikian rupa. Sebuah kaleng—baik berbentuk tabung atau persegi--besar yang terdiri dari dua fungsi yang berbeda. Pertama, lubang besar, biasanya di tengah-tengah, untuk membuang sampah, dimana di atasnya terdapat semacam asbak untuk mematikan puntung rokok.  

Saya pikir bukan tanpa alasan mengapa mereka membuat desain tempat sampah semacam demikian itu. Pasalnya—setidaknya berdasarkan pengalaman yang saya alami, seandainya orang membuang puntung rokok langsung ke tempat sampah, sedang sampah itu sendiri adalah sampah yang mudah terbakar, apa yang sekiranya bakal terjadi? Ya, jelas kebakaran! Dan kebakaran akibat puntung rokok yang dibuang ke tempat sampah dengan sampah yang mudah terbakar itu, telah membuat sekolah saya hangus terbakar dilalap api.

Sungguh sangat sentimentil, atau mungkin tragis. Hanya karena puntung rokok, atau tempat sampah yang seadanya itu, satu bangunan sekolah bisa ludes, hingga akhirnya siswa-siswa dan guru-guru pun hanya bisa gigit jari. Mereka kehilangan berkas-berkas, buku-buku, perpustakaan, uang tabungan, dan yang lebih penting, hak mereka untuk belajar dan mengajar, untuk menuntut ilmu. Hanya gara-gara tempat sampah!  

Saya pikir kejadian semacam ini tidak hanya dialami oleh saya saja, orang lain di manapun bisa juga mengalami dan merasakannya. Seandainya kita bisa belajar dari pengalaman ini, barangkali orang bisa lebih waspada sekaligus mengantisipasi peristiwa serupa. Dengan kata lain, kita mestinya juga memikirkan dan harusnya membuat tempat sampah yang didesain sesuai fungsi. Jika perlu, fungsinya itu desesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Hanya sebagai antisipasi, karena bagaimana pun, bukankah menjaga itu lebih baik dari pada mengobati?

Ajaib juga, mereka, orang-orang di luar negeri sana yang justru mengetatkan peraturan soal rokok merkok ini, justru menjadi orang yang sangat menghargai perokok dengan menyediakan tempat sampah yang sangat eksklusif itu. Tapi kita…?   

Walau demikian, tetap saja, manusia itu sendirilah yang sebenarnya menjadi titik utama perihal sampah menyampah ini. Perilaku disiplin, taat aturan, dan gaya hidup bersih mestinya menjadi sebuah keniscayaan bagi setiap orang. Tidak perlulah kita bergantung pada pemerintah untuk masalah ini. Tahu sendiri, pemerintah kita lebih sibuk mengurus negara, politik, ekonomi, subdisi BBM dan lainnya. Justu dari kita sendirilah mestinya hal ini dimulai. Karena kalau bukan kita, siapa lagi? [FA/“Saswaloka”]

Saturday, August 16, 2014

Bahasa Sebagai Indikator Peradaban Bangsa

Sebuah kalimat berbunyi: Jika seseorang ingin mengubah hidupnya, maka ia harus terlebih dulu mengubah bahasanya. Peribahasa Sunda berkata “Hade goreng ku basa.” Seyogianya, bahasa adalah representasi jati diri sesorang. Pada bahasalah seseorang memperlihatkan identitasnya. Ia menjadi tolak ukur keber-adaban manusia.
Kesadaran akan bahasa merupakan indkotrinasi. Ia dicapai bukan melulu lewat jalur akademik yang mengumbar begitu banyak teori. Bahkan ada kalanya teori-teori itu pun tidak bisa membendung bahasa sebagai makhluk yang terus berevoulsi—sesuatu yang berbanding lurus dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia itu sendiri.
Kesadaran pun bukan sesuatu yang final. Sejauh manusia dan bahasanya berkembang, sejauh itu pula kesadaran dibutuhkan. Permasalahannya sekarang adalah, apakah kesadaran itu berwarna positif atau negatif. Tentu, di tengah rongrongan multimedia yang gencar, selalu ada kesempatan bagi bahasa untuk menampakkan kelemahan-kelemahannya. Sayangnya, tidak ada filter atau penyaring mana dari wujud pikiran itu (bahasa) yang benar dan baik dengan yang sebaliknya. Di sinilah logika punya peran.


Sunday, May 11, 2014

Membaca Zaman: Batas-Batas Yang Pupur

Peradabaan tumbuh begitu juga ilmu pengetahuan yang makin lama terlihat makin spesifik saja. Dulu kita mengenal sastra, sekarang kita mengenal sastra islami, atau sastra XXX, dan banyak lagi. Dulu kita hanya mengenal berita dibawakan begitu rupa. Singkat, pada, jelas, aktuan dan faktual. Sekarang tak ayal pembawa beritanya pun ikut-ikutan beropini. Penonton yang tidak sadarkah, atau mereka yang mencoba menggurui apa yang kita terima?

Kenyataanya, kategori-kategori itu makin lama makin tipis bahkan bisa jadi tidak ada. Seyogianya kita mengkategorikan bentuk-bentuk kebudayaan ini menjadi sangat rigid dan, mungkinkah itu dilakukan atas nama eksistensi atau, tak lebih dari akal manusia yang tak ada habisnya? Sebut sebuah novel Laskar Pelangi. Orang awam hanya mengetahui bahwa itu adalah novel, sebuah karya sastra. Tapi jika harus dikategorikan, apakah kategorinya? Sastra umumkah, atau mungkin sastra anak? Percis Harry Poter bahkan The Hobbit-nya J.R.R Tolkien. Kita menganggap kedua karya itu adalah sastra umum (untuk tidak mengatakannya adult literature). Kenyataannya, di luar sana kedua karya sastra ini dikategorikan sebagai sastra anak. Nah! Ternyata manusia Indonesia sudah membaca buku anak-anak kalau begitu.

Pentingkah mengkategorikan semua bentuk kebudayaan manusia itu? Alih-alih membuat eksistensi atas pengkategorian itu, yang kita rasakan justru hal ini makin menghapuskan batas-batas antara yang satu yang lain. Sekarang, buku anak-anak sama saja dengan buku orang dewasa. Sekarang berita tidak jauh beda dengan gosip. Sekarang lagu orang dewasa sama saja dengan lagu anak-anak. Sekarang, sudah mulai turun gorden yang memisahkan segalanya. Semua mulai pupur, kembali ke zaman Firaun dimana manusia dan bintang tidak jauh beda. Keduanya hanya makhluk. Tuhan yang punya.

Sunday, May 12, 2013

Sastra Kekanak-Kanakan

Tidak bisa dimungkiri jika sastra, dengan seabreg embel-embel yang tertera di belakangnya, selalu menyimpan kekuatan politis. Kekuatan itu tentu saja tidak diutarakan secara eksplisit lewat kalimat yang bernas. Kita tahu bagaimana kajaiban kata-kata bisa tampak seperti bunga sekalipun yang dimaksudkan adalah belati. Cukup melalui alur atau plot saja di mana cerita itu dituliskan. Kekuatan politis itu setidaknya tampak dari konsekuensi logis ketika karya sastra itu sudah memiliki dampak dalam kehidupan sosial.
Kita mungkin masih ingat bagaimana Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata sekonyong-konyong membuat dunia pendidikan kita berubah. Dari mulai televisi, radio bahkan koran serta merta meliput gedung-gedung sekolah yang bisa dibilang jauh dari kata layak. Sekolah Reyot, Sekolah Hampir Rubuh, Sekolah Kandang Kambing, dan banyak lagi sekolah lainnya. Lewat novelnya, Andrea tidak berkata dengan langsung jika jauh di sudut-sudut negeri ini, betapa banyak bangunan yang tidak pantas untuk digunakan sebagai tempat belajar. Dengan kata lain, pemerintah ternyata masih juga belum memikirkan pendidikan warga negaranya.
Permasalahannya adalah, hanya karena kenyataan akan pengalaman ini dituliskan lewat sebuah novel yang kebetulan best seller, maka Laskar Pelangi tiba-tiba mampu mengubah wajah pendidikan bangsa ini(?) Dalam kasus demikian, cerita ternyata tidak hanya sebatas cerita (l’art pour l’art); akan tetapi, cerita sudah berubah menjadi–meminjam kata-kata Penyair Widji Thukul—peluru. Namun demikian, benarkah kita tahu wajah pendidikan kita yang sebenarnya hanya karena membacanya dari sebuah novel? Seandainya kita tahu, betapa banyak realita yang lebih parah ketimbang yang diceritakan Laskar Pelangi.
Bagaimanapun, ketika kita berbicara pendidikan bangsa, maka kata yang sejatinya harus ada di belakangnya adalah Indonesia. Bukan hanya Jakarta, Bandung, apalagi Belitung! Setidaknya kita bisa berterima kasih pada Laskar Pelangi yang sudah menimbulkan pengaruh masif terhadap pendidikan di negeri ini. Entah, fenomena apakah kita harus menyebutnya.
Terkait pengaruh ini, lewat “pembacaan” yang sudah kita lakukan, semestinya pikiran kita sudah harus bersih dari warisan nenek moyang. Leluhur kita yang senang sekali membuat kasta dalam kehidupan sosialnya, termasuk dalam hal hasil budaya. Sebut saja Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, Sepatu Dahlan-nya Krishna Pabichara, bahkan jauh sebelum itu ada Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari. Tak lupa, puisi Karangan Bunga-nya Taufik Ismail. Sekalipun tokoh yang berbicara di sana adalah anak-anak, tidak berarti karya-karya itu bisa disebut Sastra Anak.
Adalah anomali seandainya sebuah cerita bertokohkan seorang anak maka tanpa tedeng aling-aling kita menyebutnya Sastra Anak. Kenyataannya, toh apresiatornya bukanlah anak-anak, dan memang target pembacanya pun bukan anak-anak. Berbeda halnya dengan Korrie Layun Rampan yang sempat membuat antologi puisi untuk anak-anak. Untuk kasus seperti ini, tak salah jika puisinya pun disebut Puisi Anak di bawah naungan Sastra Anak.
Memang samar-samar garis batas antara sastra anak-anak dan sastra orang dewasa. Tidak mudah untuk berkata bahwa buku anak-anak bisa disebut sebagai sastra anak, pun dengan buku-buku orang dewasa. Tetapi, ada kalanya buku anak-anak menarik perhatian orang dewasa begitu juga sebaliknya. Sindrom nostalgia, begitu istilahnya. Untuk masalah ini, Tarigan (1995) mengungkapkan jika buku anak-anak biasanya mencerminkan masalah masa kini. Masalah di rumah, di sekolah, di permainan. Masa lalu hanya terbatas pada kemarin karena nostalgianya belum banyak.
Selain itu, lanjutnya, warna pengalaman dan pemahaman akan isi ceritanya pun masih sangat terbatas. Hal demikian bisa dilihat dari nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra yang dimaksudkan semata untuk bisa: memberi kesenangan dan hiburan; memupuk dan mengembangkan imajinasi; memberi pengalaman baru; mengembangkan wawasan menjadi perilaku insani; memperkenalkan kesemestaan pengalaman, dan; memberi harta warisan sastra dan generasi terdahulu, pada anak-anak. Fabel, legenda, mitos, puisi rakyat, dan dongeng, adalah beberapa genre yang termasuk dalam Sastra Anak.
Nilai-nilai tersebut jelas tidak bisa disamakan dengan nilai-nilai karya sastra sebagaimana disebutkan di atas. Sekalipun tokoh dalam semua karya itu adalah anak, tetap saja penuturnya (penulis) adalah orang dewasa. Kita tahu itu bahkan sebelum membaca ceritanya. Ada pun kemungkinan mengapa para penulis itu menjadikan anak sebagai tokoh adalah, karena anak-anak itu bersih, suci, belum punya banyak dosa seperti orang dewasa. Anak-anak juga polos, selalu meminta belas pada orang dewasa agar kata-katanya didengar. Di dunia ini, adakah orang dewasa yang tidak peduli pada anak-anak?
Dengan demikian, tokoh cerita itu bukanlah anak-anak yang sebenarnya. Tokoh cerita itu (baca: penulisnya) hanya tengah bersikap kekanak-kanakan. Sejujurnya, selain simpati yang didapat dari pembacanya, penulis pun tidak harus repot-repot membuat excuse baik untuk dirinya maupun ceritanya. Walau, untuk mereka yang benar-benar memikirkan karakter yang diperankan si tokoh cerita, mestinya bisa pandai membuat garis di dahi sambil berkata: Mungkinkah seorang anak punya begitu hebat pengertian, pemahaman, dan pengetahuan yang seusia mereka masih jauh panggang dari api? Secepat kita bertanya, secepat itu pula kita menjawab: “Ah, namanya juga anak-anak!”
Kehati-hatian barangkali yang kita butuhkan untuk masalah ini. Tidak sedikit orang yang terperangkap dengan dikotomi sastra anak dan sastra kekanak-kanakan. Mereka yang baru tahu mungkin bisa lebih waspada untuk menisbatkan sesuatu; yang terlanjur mudah-mudahan bertobat. Karena, bukan tidak mungkin, ketika kita tahu dunia sudah parah, untuk masalah ini perilaku kita malah jadi salah kaprah. [Fim Anugrah/”Saswaloka”]
 
Picture: Life by mytineke

Saturday, March 16, 2013

Dari Chaos Theory Sampai ke Free Will dan Determinis


“Ketika sesuatu mendapatkan eksistensinya, maka seketika itu ia mendapatkan kefanaannya.” 

Seandainya ada di muka bumi ini yang hidup secara mandiri (tunggal). Akan tetapi kita tahu bahwa semua yang ada di dunia selalu berpasang-pasangan. Selalu ada oposisi biner itu. Ada sakit ada sehat, ada tua ada muda, ada miskin ada kaya, ada ghaib ada dzahir. Maka, ada free will dan ada determinism.  Setiap sesuatu eksis maka serta merta dia akan memiliki nasib yang bertentangan dengan eksistensinya itu.
Islam mengakui free will untuk apa pun yang ada di dunia. Akan tetapi Islam juga menyakini determinis. Kenyataannya, manusia sudah memiliki jalan hidupnya sendiri. Tentang kapan dia lahir sampai dia mati, seperti apa jalan hidupnya, semuanya itu sudah ditentukan dalam lauhl mahfuz yang nyata. Akan tetapi, manusia juga diberikan kekuasaan yang besar untuk menentukan nasibnya sebagaimana pernyataan kitab suci Al-Qur’an bahwa sesungguhnya Tuhan tidak mengubah nasib manusia jika dia tidak mengubahnya.
Kenyataan ini pada akhirnya memunculkan persfektif jika Islam itu liberal atau moderat (?) Islam berperilaku free will dan determinis kepada manusia. Pertanyaannya adalah: Bilamanakah manusia bisa berdiri di satu posisi saja: free will atau  determinis? Andai saja kita bisa menawar. Sayangnya, hal ini akan kembali pada kenyataan seperti yang diungkapkan di kalimat pertama tulisan ini. Bahwa, ketika sesuatu mendapatkan eksistensinya, maka seketika itu ia mendapatkan kenyataan yang bertolak belakang dengannya. Dengan kata lain, kita tidak bisa berdiri di satu posisi. Karena sungguh pun hal itu tidak mungkin. Setiap kanan selalu memiliki kiri, setiap hitam selalu memiliki putih. Maka setiap “ada” pasti selalu memiliki “fana”.
Sekiranya kita tidak ingin memiliki pertentangan akan sebuah eksistensi, maka jangan eksis. Jangan ada, jangan mencipta, jangan berkarya, jangan “hidup” sehingga pada akhirnya sesuatu itu “mati”. Ketika sesatu lahir –seperti sebuah puisi atau cerpen yang ditulis oleh seorang pengarang—maka sesuatu itu akan mati. [FA]
          
*) Sebuah catatan setelah menonton film Butterflly Effect.
“Aku tidak membutuhkan sesuatu yang menyatakan eksistensiku.” (Evan)

Monday, November 19, 2012

Berpikir Tidak Harus Menggunakan Bahasa

Kenyataan bahwa saya senang berpikir, itu penting. Akan tetapi kenyataan untuk mengungkapkan pikiran, itu lebih penting. Mungkin hanya berupa bunyi dari suara yang hanya sebatas lewat mulut dan semua anggota alat ucap yang melancarkan buah pikiran itu. Atau hanya sebatas kata-kata imajiner dalam kepala yang bersliweran, yang kadang tidak sistematis dan lebih sering abai dengan EYD. Sekalipun yang kedua ini lebih baik mengingat tak ada alat ucap yang mampu menghambat lalu lintas pikiran berupa kata-kata itu. Hanya dibutuhkan kinerja syaraf yang lebih hingga pada akhirnya kata-kata itu bisa membentuk sebuah rangkaian kalimat yang etis dan logis meski tidak fisis.

Akan tetapi permasalahannya adalah, apakah harus dengan bahasa? Maksud saya, apakah jalan pikiran harus selalu membutuhkan bahasa sebagai alatnya? Hampir setengah tahun semenjak saya mempelajari logika. Lewat sebuah buku dengan judul yang sama, diungkapkan jika bahasa adalah buah dari pikiran, karena dia adalah bentuk paling wujud (baca: konkret) dari pikiran. Seiring itu pula, saya pun mempelajari serta lebih mendalami perihal bahasa. Sungguh sebuah paduan yang harmonis! Namun demikian, dalam buku itu, termasuk buku-buku yang membahas tentang logika, tidak disebutkan apakah ada pikiran yang tidak membutuhkan bahasa sebagai alat(ungkap)nya.

Kenyataan sesungguhnya adalah, bahwa logika benar-benar sulit untuk dipelajari. Seperti halnya bahasa, saya mendapati fakta bahwa ia adalah alat yang tidak mumpuni untuk mengungkapkan semua pengalaman empiris manusia di dunia ini, apa lagi transendenstal. Di tengah keinginan saya untuk mengetahui lebih dalam soal bahasa, pernyataan ini sempat menumbangkan semangat untuk melanjutkan keinginan-tahuan saya itu. Bahasa yang tidak adekuat, melingkar-lingkar bagai labirin yang menghubungkan yang satu dan membutuhkan yang lain, percis sebuah kata yang diterjemahkan dan terjemahannya itu membutuhkan definisi lain untuk mendukungnya. Walau, ini pun menjadi cambuk untuk menangkap bahasa yang seperti binatang liar itu.

Bahasa tidak bisa mampu mengungkapkan bagaimana rasa galau atau senang yang tengah saya rasakan. Bahasa tidak bisa mengungkapkan peristiwa dimana awan mendung dan seperti apa bentuk awan itu secara detil. Tidak juga bisa menerjemahkan bagaimana pengkondensasian awan menciptakan air yang jatuh ke bumi. Bahasa tidak bisa merekam proses bagaimana air hujan itu jatuh, melayang, jatuh ke tanah kering dan meruapkan baunya—sebuah fenomena yang sangat saya gemari. Hingga akhirnya bahasa tidak juga bisa mengungkapkan bagaimana bau kering tanah itu menyeruak ke udara, mengabut, dan masuk ke sela-seal rambut di hidung saya. Yang lebih fantastis, bahasa tidak bisa menyatakan bagaimana kenikmatan saya mencium keringnya tanah basah yang terhirup itu. Bagaimana saya bisa mengungkapkannya? Pertanyaan klise pun muncul: “Susah diungkapkan dengan kata-kata.”

Terlepas dari ketidakadekuatan bahasa, justru ada pernyataan yang mengganggu yang saya temukan yang berkata bahwa berpikir tidak harus selalu menggunakan bahasa.  Jika tanpa bahasa lalu dengan apa akal bisa melakukan pekerjaannya: berpikir?

Beberapa bulan saya terdiam tanpa bahasa, kecuali memang sedang dibutuhkan. Diam saya ini pun acapkali membuat apa yang saya katakan tidak beraturan, seperti dalam kalimat:  “Tolong, pintu gerah saya buka.” Maksudnya, “saya gerah. Tolong pintunya dibuka!” Atau kalimat yang berputar-putar: “Bapak ingin seperti yang kalian tadi perhatikan berpartisipasi dalam pelajaran agar mudah untuk nilai remedial tidak ada pengganti karena dengan begitu mudah buat Bapak untuk memberi pada nilai kalian.” Yang mestinya: "Seperti yang sudah kalian perhatikan tadi, Bapak ingin kalian berpartisipasi dalam pelajaran untuk mengganti nilai remedial. Dengan begitu Bapak bisa lebih mudah memberi nilai pada kalian.” Bukan sulap bukan sihir, tapi mereka yang mendengarkan sempat bingung apa yang sebenarnya saya katakan. Sungguh dosa yang tak termaafkan, batin saya berkata.

Bukan tanpa alasan keadaan saya seperti itu. Tapi pada saat saya tengah bergelut dengan pikiran (sku memikirkan pikiran saya), saya memikirkan bahasa yang akan dipakai untuk membahasakan pikiran itu. Kenyataannya, bahasa tak bisa saya tangkap melainkan pikiran yang kosong bagai lorong gelap dan tak satu pun ada yang mengalir. Sampai pada suatu waktu, di saat saya tengah terdiam, berkontemplasi dalam ruang tak berujung tak berkata dengan masalah yang tengah saya hadapi, tiba-tiba  slide demi slide memenuhi pikiran. Percis sebuah layar putih yang ditimpah gambar-gambar dari sebuah bayangan maya lewat sebuah proyektor. Entah seperti apa cara kerjanya, tapi yang saya tahu, gambar-gambar itu berjejalan di kepala sedang proyektor yang terbentuk dari syaraf otak terus berputar menghidangkan gambar demi gambar: bayangan sebuah kamar hitam di sebuah kota yang padat; jalan raya yang panjang dengan kebun teh di kanan kiri yang menyampaikan saya ke kota lain; tempat tinggal baru dengan cat dindingnya yang biru; langit biru dengan panas matahari yang terik saat saya terduduk di depan lanskap sawah dengan air sungai mengalir di bawah kaki; pengalaman pertama melintasi sebuah plang menuju tempat kerja di kota yang saya singgahi ini; dan masih banyak gambar-gambar berjejalan silih berganti  mengisi kepala.

Tanpa sadar, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan pikiran saya itu sesungguhnya sudah teramat biasa saya lakukan, dulu ketika saya masih di kota Bandung. Dan kebiasaan ini ternyata masih ada dan saya  bawa di kota yang baru ini, Subang. Dari dulu, memang sudah menjadi kebiasaan saya membayangkan setiap pengalaman yang sempat aku lalui berupa gambar-gambar baik itu tempat maupun kejadian yang terekam dalam neuron-neuron syaraf. Gambar-gambar itu seakan berbicara dengan bahasa yang berbeda tanpa harus menggunakan kata-kata. Tak hanya itu, saya pun sempat punya kebiasaan membayangkan apa yang akan terjadi untuk apa yang bakal saya hadapi di hadapan, seperti bagaimana saya membayangkan berjalan ke kampus dengan gagah menggunakan jas dan dasi seraya terempit di ketiak saya berkas-berkas skripsi yang bakal disidangkan, dan bayangan lainnya sampai pada akhirnya saya lulus ujian sidang. Sayang, bayangan seringkali tak selaras dengan kenyataan. Dan itulah yang paling menyakitkan.

Sesaat menginjakkan kaki di kota ini (Subang), kebiasaan itu saya hapus. Saya tidak lagi (mau) membayangkan apa yang bakal terjadi di kemudian—sesuatu yang memang muskil untuk terjadi. (Sebuah analog yang indah ketika suatu hari saya sempat berkata pada kawan-kawan ormawa di sebuah rapat persiapan pemilihan bakal calon presiden himpunan jika hidup seperti menatap gelas bening berisi air. Kau tak bisa mengetahui apa yang bakal terjadi nanti. Kita tidak pernah tahu apa yang bakal kita alami kemudian. Jangan sebut satu tahun, satu bulan atau satu hari. Untuk lima menit saja pun kita tidak tahu apa yang akan sedang kita lakukan). Di kota ini, saya tidak lagi bergelut dengan angan-angan atau fantasi, bayang-bayang semu yang hanya sebatas jadi penghibur meski kenyataan sebenarnya bisa jadi tak cukup bisa dibanggakan. Sebaliknya, justru kekecewaan yang didapat dari kebiasaan itu. Pada saat yang sama, saya tak lagi berdoa, meminta, dan berharap terlalu penuh pada apa dan pada siapa pun. Hemat kata, saya hanya menjalani apa yang tengah saya jalani saat itu juga tanpa tahu dan tak juga mau tahu apa yang bakal saya dapat dan alami nanti. Begitulah.

Karena realita adalah apa yang tengah saya lakukan, alami dan rasakan sekarang, bukan besok atau nanti. Selebihnya, hanya sejarah dari apa yang ada di ingatan, yang masih menjadi sebuah puzzle hidup besar yang harus saya susun. Ya, pada saat itu, tak berapa lama ketika tulisan ini dibuat, saya mendapati sebuah temuan bahwa ternyata, pikiran bisa “berbicara” tanpa bahasa sekalipun. Tanpa harus dengan kata-kata. Pikiran bisa berbuat apa saja dan bisa mengungkapkan apa saja, meski tanpa bahasa. Dan gambar-gambar ingatan itu, semua pengalaman empiris yang sudah lalu dan rekaman-rekaman gambar atas ruang dan waktu yang masih bertalian dengan keadaan saya sekarang ini adalah “bahasa” yang cukup (untuk tidak menyebutnya mumpuni) untuk bisa dijadikan sebagai alat berpikir. Tak perlu ada kalimat atau subtitle  di setiap gambar yang tersorot di layar pikiran. Karena gambar saja sudah cukup untuk bisa berbicara tentang dirinya sendiri. Sementara, saya tinggal menjadi penonton dari slide-slide yang ditayangkan oleh pikiran saya sendiri. Selebihnya, sikap atas kesimpulan yang saya ambil setelah menontonnya.

Maka, saya tetap senang bisa berpikir. Dan, saya juga senang jika ternyata pikiran tak harus selalu menggunakan bahasa sebagai alatnya; karena gambar ingatan, berbicara lebih banyak dari kata-kata yang justru dibutuhkan lebih banyak lagi untuk menerjamahkan gambar-gambar yang berlarian di layar pikiran lewat akal proyektor saya itu. [FA]