Showing posts with label academia. Show all posts
Showing posts with label academia. Show all posts

Thursday, September 6, 2018

Mengevaluasi Status Kekhalifahan

Oleh Firman Nugraha*

Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Derajat tinggi ini langsung diberikan Allah Swt, manusia memiliki hak istimewa untuk mengelola bumi demi kelangsungan hidupnya. Status kekhalifahan ini menyiratkan kepercayaan penuh atas manusia sebagai hamba-Nya untuk mempergunakan alam, sekaligus menjadi bagian darinya.

Status kekhalifaan manusia bukannya tanpa masalah. Selain sebagai sebuah penisbataan kekuasaan Allah akan ciptaannya, terdapat di dalamnya pandangan yang acapkali diartikan sebagai hak prerogatif manusia atas kuasanya di dunia yakni, pandangan ekologis. Tetapi, belum sampai pemahamannya diterang-jelaskan dengan utuh, kenyataan penafsiran akan status tersebut malah jatuh merosot jauh dari hakikat yang sebenarnya.

Ekoteologi Penciptaan
Sejatinya, status kekhalifahan memunculkan sedikitnya dua ambiguitas. Pertama, ia membuat manusia memiliki kehendak bebas dalam penyelenggaraan hidup. Dalam hubungannya dengan lingkungan, manusia memanfaatkan alam untuk kebutuhannya. Atas nama hidup, manusia membabat dan membakar hutan serta menanam bahan pokok sebagai sumber pangannya. Manusia juga membuat berhektar-hektar sawah dan ladang untuk ditanami padi, ketela pohon bahkan kelapa sawit.Pengetahuan dengan teknologi yang datang kemudian pun memudahkan prosesnya.

Tuesday, February 26, 2013

Islam Pandang Pluralisme Agama: Sebuah Wacana Persfektif



“Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." (Q.S. 109: 2-6)




PENDAHULUAN

Pluralisme Agama, atau yang kini biasa disebut pluralisme saja, merupakan istilah yang berbung-bunga dan penuh dengan janji-janji. Janji tentang kehidupan yang damai dan rukun antar masyarakat yang berbeda-beda, terutama agama, kepercayaan, etnik, ras, kelas sosial dan kelas ekonomi. Tentu saja, bagi masyarakat Indonesia ini adalah sesuatu yang baru. Namun yang baru itu sendiri dapat berubah menjadi sebuah titik tolak berkembangnya pluralisme di negara kita terlebih setelah eksperimen membuktikan lebih dari 50 tahun Indonesia berakhir dengan krisis di segala sisi kehidupan berbangsa.

Tuesday, April 24, 2012

A Representation of Academic Dishonesty in Learning Style Culture as an Education System Failure: A Brief Comparison between America and Indonesia

Introduction

Education is one of the most important parts in life. Through education, we can easily know how people’s characters are built. One says that to recognize the culture’s society we can use education as a measurement. It means that education has a big role and influence to form people characters of a state or country. The more develop education is, the more develop people are.
In other case, education–in all aspects—remains complicated in every country nowadays. The point of formal education is teaching and the point of teaching process is student’s learning. The last word, learning, in practical term of education, considers having lots of barrier in its implementation. One of the implications of the barriers is academic dishonesty. This term has globally become consideration for the stakeholders of education. And this, academic dishonesty, will be discussed more in this research.

Monday, February 27, 2012

Mata Kuliah Sastra Mestinya Produktif

"BERDUA SAJA" by FA
Dalam dunia pendidikan, inovasi pengajaran seakan tidak pernah ada habisnya. Ia senantiasa bermetamorfosa dalam bentuk-bentuk yang ingin sekali selalu memperhatikan insan pembelajar dan output yang nantinya akan dicapai. Terkait dengan mata kuliah sastra, dalam hal ini saya bercoba untuk menyibak realita yang ada seputar pembelajaran yang saya rasakan sendiri ketika menekuni mata kuliah sastra (Inggris) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Permasalahan yang muncul adalah, tidak berhasilnya output yang ingin diharapkan dalam mengontrak mata kuliah sastra ini. Maksud saya, bahwa mata kuliah sastra yang harusnya dapat membuahkan bukti konkret bagi mahasiswa setelah menyelesaikan kontrak SKS-nya, minimal mahasiswa menjadi suka atau menggandrungi sastra dengan menciptakan sendiri karya sastra semisal prosa atau puisi atau bahkan tulisan-tulisan lainnya, malah dijustifikasi gagal sebagai sebuah pengajaran.
Sebagai mahasiswa yang memilih Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, saya pun masih mempertanyakan: Apa tujuan saya mendapatkan mata kuliah sastra? Jika jawabannya: Semenjak Anda adalah calon guru; maka bagaimanapun, Anda harus tahu apa itu sastra dan apa pun yang berhubungan dengannya, karena ini bakal menjadi bekal Anda untuk mengajarkannya pada siswa nanti. Pada poin ini, mata kuliah sastra hanya berhasil pada tataran pemahaman teori saja, tidak sampai pada prakteknya.

Wednesday, January 18, 2012

Discourse Analysis: Sebuah Pendekatan & Gugatan

http://mrqualitative.com/2008/11/14/discourse-analysis/
Oleh: Firman Nugraha

Di balik keterguliran istilah Discourse Analysis (Analisis Wacana), ternyata ada beberapa statement dilematik yang ‘menggugat’–atau bahkan menampik Discourse Anaysis sebagai sebuah ranah ilmu di bidang linguistik. Ada yang berpendapat bahwa Dicourse Analysis (Analisis Wacana) merupakan linguistik “banci” (Nurjanah, 2006). Pasalnya istilah ini -termasuk bidang kajian di dalamnya- merupakan comotan-comotan dari ilmu-ilmu yang sudah ada seperti pragmatik, semantik, dll. Ada pula yang berpendapat bahwa kajian yang dilakukan oleh analisis wacana itu tidak mapan, dalam artian kurangnya ranah-ranah yang mendukung sebuah kajian jika dikaitkan sementara sebetulnya ilmu-ilmu yang ada sebelum analisis wacana sudah cukup mengakomodir. Bahkan penulis sendiri dengan tanpa tedeng aling-aling berpendapat bahwa analisis wacana sendiri hanyalah sebuah istilah (ilmu bidang) yang dimunculkan dengan tujuan untuk mengakomodir temuan kajian-kajian baru dari hasil penelitian bahasa. Terkait itu semua, sebenarnya, tak ada maksud untuk mematahkan ilmu ini karena laiknya hidup, bahasa itu dinamis. Ia akan terus berevolusi sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. 

Into A Writing Society

By: Firman Nugraha

Writing, as one of the competence, holds significant role in many fields. It is not only aimed for expressing feelings but also for documenting knowledge, history and so on. And it becomes valuable as form of humankind’s development. In addition, writing seems cover necessity for all people regarding to information due to globalization in this world of parallelism. Koentjaraningrat (1985) stated that writing as an opus has possibility in preserving live and positioning one in a great honour that in turn demand him of her to create more and more work.

Saturday, August 13, 2011

Menyoal Pengajaran Sastra di Jurusan Bahasa Asing

“I see to a degree that I can't get at college" –BC Boys

Hingga saat ini pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal masih tetap menjadi dilema. Sastra yang dituding layaknya kerja paruh waktu (Oemarjati dalam Puar, 1989) belum mendapatkan ruang gerak yang leluasa. Indikasi tersebut kemudian semacam dikukuhkan dengan munculnya lontaran-lontaran kekecewaan dari berbagai pihak, sebut saja Rusyana (1992), Taufiq Ismail (1997), Sayuti (2000) Kuswinarto (2001), dan masih banyak lagi. Permasalahan ini disinyalir terkait dengan berbagai faktor seperti yang diungkapkan Rahmanto (2001), yaitu: kemampuan guru, kondisi siswa atau subjek didik, sarana dan prasarana serta komponen-komponen pendukung lainnya. Secara empiris, hal tersebut dikarenakan pembelajaran sastra masih berkisar pada proses menghafal ketimbang mengapresiasi padahal minat pembelajar terhadap sastra tinggi.

Thursday, August 11, 2011

Sastra: Antara Akademik dan Publik

Oleh: Firman Nugraha

Salah seorang dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris UPI sempat berkata bahwa Perguruan Tinggi (PT) sungguhpun tidak memiliki kewajiban untuk melahirkan mahasiswanya menjadi sastrawan. Menjadi sastrawan seyogyainya merupakan pilihan mahasiswa sendiri dan PT tidak berhak serta tidak pula bertanggung jawab atas pilihan tersebut.

Sesaat saya termenung mendengar perkataan itu. Apa sebegitunya peranan PT sehingga tidak mampu melahirkan sastrawan-sastrawan jebolan akademisi? Yang teramat mengherankan justru pada pernyataan yang tampak sangat bersebrangan dengan kenyataannya; bukankah mahasiswa-mahasiswa dicetak agar ia dapat dengan siap menghadapi dunia –salah satunya dunia sastra—yang  digelutinya selepas kelulusannya? Dan, bukankah persiapan ini pula yang menentukan bagaimana kemampuan dan keahliannya itu digenjot di (lingkungan) perkuliahan? Untuk ini saja kedua pertanyaan itu telah cukup untuk mematahkan argumen di awal; lalu untuk apa ada PT jika begitu?