Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Saturday, March 17, 2018

Belajar Bahasa Jepang Lewat Cerita (Kintarou & Momotarou)

やさしい 日本語
HAJIMEMASHITE!

Anime bisa jadi awal pertama orang berkenalan dengan bahasa Jepang, terutama soundtrack-nya. Doraemon, One Piece bahkan Naruto, adalah beberapa anime yang bisa dengan mudah ditonton di tipi yang sedikit banyak membuat penontonnya ingin juga belajar bahasa Jepang. Menurut saya pribadi, Jepang memang tidak ada matinya, mulai dari budaya lokal bahkan teknologi. Mereka membuktikan bahwa majunya sebuah bangsa tidak hanya jago dalam membuat atau menciptakan tapi juga merawat, melestarikan dan mengembangkannya. Terbukti, Jepang menjadi barometer dunia dalam banyak hal, tidak hanya melulu soal teknologi, tapi juga informasi, fashion, musik, dan banyak lagi.

Sunday, July 30, 2017

[Cerpen] Minggu

Setelah lebih dari satu jam berjalan-jalan di sebuah toko buku, kuputuskan untuk sejenak istirahat di pintu pelataran pertokoan yang tertutup. Sebatang rokok dan sebotol minuman jadi teman di tingkah kota yang telah menjadi sesak.
Motor-motor terpakir di depan trotoar berjajar memanjang diapit mobil di sisi kiri dan kanan. Di jalan, kendaraan itu mengular berdesakan. Sesekali lalu lintas dibuat macet karena ulah tukang parkir yang kemudian disambut oleh suara klakson yang tak sabar. Sayangnya, itu semua bukan urusanku.
            Kuhisap asap rokok penuh dendam. Kuhirup napas panjang membuat dadaku yang kembang, kempis dalam sekali embusan. Dan aku mulai memikirkan hari minggu ini.


Friday, June 10, 2016

Tak Ada Cerita Dari Nenek


Sudah hampir sepuluh tahun ini wanita bisu itu duduk di beranda. Setiap sore hari, beberapa menit sebelum jam menunjukkan pukul lima, dia akan tampak keluar dari rumahnya lantas duduk di kursi kayu. Ditemani keremangan senja dari ufuk Barat yang menyala merah, dia mulai menulis menggunakan pensil kata demi kata yang masih diingatnya.
Kata-kata itu bukanlah rangkaian sebuah kalimat apa lagi paragraf, melainkan tak lebih dari daftar kata percis daftar belanjaan. Jika kau tahu apa yang ditulisnya, mungkin kau akan heran sendiri. Bahkan bukan tak mungkin kau akan berkata betapa kurang kerjaannya wanita itu. Tapi, punya hak apa aku menghakimimu? Lebih baik, kau dengarkan dulu saja ceritaku.
Wanita bisu itu bernama Ipah. Tak ada yang tahu berapa usianya sekarang. Yang aku tahu, rambutnya sudah beruban dan tipis. Kulit di tubuhnya pun sudah kehilangan kekencangannya. Kecantikan telah menjadi istilah yang tak lagi ada di dalam kamus hidupnya. Maka dari itu orang-orang, termasuk juga aku, memanggilnya Nenek. Nek Ipah.  
Nek Ipah tinggal sendiri di rumah berdindingkan tembok. Suaminya telah lama tiada oleh sebab penyakit diabetes yang dideritanya. Akan tetapi, setiap satu minggu sekali ada kalanya anak-anaknya berkunjung. Mereka datang membawa oleh-oleh dari kota bersama istri atau suami dan anak-anaknya.
“Nek, aku bawa bolu brownies dari kota,” kata anak pertama.
“Nek, aku bawa Pizza Hut, makanan khas Amerika,” kata anak kedua.
“Nek, aku bawa baju berbahan sutera dan kerudung buatan Palestina,” kata anak ketiga.
“Nek, aku bawa televisi dan DVD Player plus kaset qosidah dan ceramah dari Kiai Sejuta Umat biar Nenek tidak kesepian. Oya, kenalkan, ini Amar, temanku,” kata anak keempat.
Semuanya datang bergiliran setiap minggunya, dan semuanya pula membawa oleh-oleh semata agar bisa menyenangkan hati Nenek. Tapi, semua pemberian itu hanya dibalasnya dengan senyuman belaka. Senyuman yang secepat dia melengkung di lesung pipitnya, secepat itu pula hilang  dan berganti wajah penuh derita dan beban. Setidaknya, itulah yang diceritakan Bayu, anaknya yang keempat, padaku saat kali pertama aku mengunjungi rumah Nenek.
Menghadapi sikap Nenek, semuanya seolah sudah paham—bahwa sebanyak dan semahal apa pun oleh-oleh mereka bahwa, hal itu takkan membuat Nenek bisa membuka mulutnya.
Awalnya aku sendiri heran: Apakah ibu temanku ini bisu? Pasalnya, ketika aku mengenalkan diri saja, balasan yang aku dapat tak lebih dari sekadar senyuman.
“Jawab dong, Bu, kalau orang mengucapkan salam itu,” belas Bayu ketika mengenalkan aku pertama kali pada ibunya. Alih-alih dijawab, Nenek justru memalingkan tatapannya dariku lantas memandang anaknya itu. Tidak dengan tatapan yang tajam melainkan lembut. Tapi di balik kelembutan itu, sesuatu yang tersirat tajam seolah berkata “Diam kau!” atau “Punya hak apa kau menyuruh-nyuruh aku untuk bicara?” Dan temanku yang satu ini, anak dari wanita bisu itu pun tertunduk malu kehilangan wajahnya. Hanya saja kemudian, secepat “tamparan” tatapan dari ibunya itu, Bayu menyampaikan maafnya padaku.
Begitulah Nenek yang aku tahu. Wanita yang memilih untuk bisu dan membahasakan alam semesta dengan hanya sebatas keheningan. Di rumah yang terletak di ujung sebuah kampung di kaki bukit ini, selain suara alam yang tersisa dan pabrik, takkan pernah kau dengar suara Nenek Ipah.
Awalnya aku tak terlalu menghiraukan masalah itu. Tapi, sesering aku bermain ke rumah Nenek, lambat-laun rasa kepenasaranku pun muncul.
“Sebelumnya, Bay, aku minta maaf kalau pertanyaan yang bakal aku tanyakan ini bakal menyinggungmu,” kataku mengawali percakapan di pinggir danau setelah aku melempar kailku jauh ke tengah. Oya, di kampung ini, memang ada sebuah danau sekira satu kilo jaraknya dari rumah Nenek.
“Formal banget sih Lo kalau ngomong,” dagunya yang tajam menunjukku.
“Lo juga sok kota banget sih pake bahasa,” timpalku tak ingin kalah.
“Alah, lagak Lo. Ngomong aja!” memalingkan wajah lantas melempar kail lebih jauh dariku.
“Nenek Lo itu... bisu, atau...” kalimatku tak sempurna.
Bukannya dijawab, Bayu malah menundukkan kepalanya. Tapi itu tak lama. Dia mulai menarik napas panjang sebelum pada akhirnya bercerita.
“Sebenarnya Emak gua ga bisu, Mar,” mengisap rokok di kempit jemarinya lantas menghamburkan asapnya ke udara; keningku mengernyit membuat lipatan tebal.
“Emak gua bisa ngomong,” kepalanya mengangguk-angguk, “tapi itu dulu. Ya, sepuluh tahun yang lalu-lah.”
“Memang, apa masalahnya?” kusorong sebatang rokok di dekat kakiku.
“Masalahnya adalah Kakak gue yang pertama, Si Jaka,” beberapa kali Bayu mengisap asap rokoknya sebelum mematikannya. Lantas mengambilnya lagi sebatang dan mulai menyalakan lighter membakarnya.
“Dulu Kakak gue maksa kalau ibu harus menjual tanah. Lo tau kebon di seberang rumah yang di depan jalan?”
Aku mengangguk.
“Dulu, tanah itu kebon warisan Bapak. Kebon paling luas dan paling hebat di kampung ini,” senyum tersungging di pipinya—bangga.
“Hebat? Maksud Lo?”
“Bagaimana gak hebat? Kebon itu punya banyak cerita, Bro. Gak hanya di kebon itu banyak pohon, termasuk pohon langka yang sekarang sudah gak ada. Di situ juga ada tanah lapang tempat anak-anak kampung ini bermain, termasuk gue. Main bola, panjat pinang setiap tujuhbelasan, ngangon sapi atau domba. Wah, pokoknya banyaklah ceritanya. Gak bakalan beres kalau gua mesti cerita seharian.”
Aku mengangguk-angguk mencoba untuk paham.
“Tapi, suatu hari ada orang kota datang. Beberapa orang. Mereka datang pake mobil blazer ke ujung kampung ini nyusurin jalan berbatu itu.
“Orang kota?”
“Hmm,” menghirup kopi dingin dengan tangannya yang basah setelah menarik pancingan yang kosong tanpa ikan.
“Bilang gue salah kalau orang kota itu nyari tanah buat bikin pabrik?”
“Gak. Lo bener. Banget malah,” puntung rokok dilemparnya ke arah belakang; aku mereguk kopi yang hampir tinggal ampas di gelasku.
“Terus?”
“Karena hanya ibu gue yang punya tanah di kampung ini—oya, asal Lo tahu, itu terjadi sebelum pemerintah ngakuisisi tanah di kampung ini sebagai milik mereka—ya, orang-orang kota itu dateng ke ibu gua. Mereka ngebujuk ibu supaya ibu mau ngejual tanahnya ke mereka. Tapi, ibu ga ngasih. Itu amanat bapak sebelum bapak meninggal. Bapak bilang, ‘Apa pun yang bakal terjadi, jangan sampai ibu ngejual tanah. Itu warisan kita. Hanya itu yang kita punya.’”
Strike!” ditariknya mata kail yang ternyata hanya sampah plastik, “berengsek!”
Kubenaih posisi duduk setelah menarik kail yang tak jauh beda dengan sobatku yang satu ini.
“Lo tau, kan, manusia bakal ngelakuin apa saja agar dia mendapatkan keinginannya?”
Aku menggumam.
“Berdirinya pabrik artinya mengalirnya duit. Dan, ya, begitulah. orang-orang kota yang sebenarnya ga lebih dari ajudan orang luar negeri itu pun ngelakuin apa aja. Termasuk ngedeketin kakak gue. Ya, singkat cerita.  Kakak gue ngiler liat duit sekoper, and dijuallah tanah kebon itu. Ada untung dan ruginya juga, tentu. Untungnya, kakak-kakak dan gue bisa seklolah bahkan kuliah di ibukota. Rumah panggung pun berubah jadi bagus. Ruginya, sejak saat itu,” menekan ‘sejak’, “ibu ga lagi ngomong. Ga sepatah kata pun!”
Pilu aku mendengar cerita Bayu. Tapi tak lebih pilu lagi ketika aku mendengar bahwa ketika rumah tembok barunya itu selesai dibangun, Nenek tak pernah sudi memasukinya. Dia memilih tidur di jalan ketimbang tidur di dalam rumah. Tapi, wanita tua mana yang kuat panas dan hujan? Sempat memang beberapa tetangga meminta Nenek untuk tinggal di rumah mereka. Tapi tetap, Nenek tak mau. Terlebih ketika Nenek menjawab ajak mereka dengan mengacungkan sebilah golok. Hampir Nenek disebut orang gila. Tapi, bersyukur, para tetangga mengerti sikap Nenek. Hingga suatu hari, tak sampai hitungan bulan, Nenek jatuh sakit di tepi jalan dan Bayu, kakak-kakaknya juga para tetangga membopongnya masuk ke dalam rumah.
Mereka pikir Nenek bakal berteriak atau menebas leher salah satu dari merak. Tapi yang terjadi? Nenek justru menangis. Menangis sejadi-jadinya. Dan sehari setelah itu, Nenek pun memiliki kebiasaan baru: Dia akan duduk berlama-lama di kursi di depan rumahnya.
“Lo tau, Mar,” tiba-tiba Bayu memulai tanpa aku minta, suatu hari di waktu yang lain. “Sebenarnya gue pernah liat ibu ngomong.”
“Kapan?”
“Dulu, ketika ada mahasiswa perguruan tinggi KKN di kecamatan ini. Gue seneng banget tahu kalau Emak ngomong. Tapi, sayang, Emak hanya ngomong sama mahasiswa itu saja. Yang gue tahu, nama mahasiswa itu, Rahmat. Pas gue tanya ibu ngomong apa, dia bilang kalau ibu ingin diajarin baca sama nulis.”
Aku heran segila-gilanya. Mungkinkah Nenek yang sudah tua itu bisa baca-tulis?
“Gue tahu yang Lo pikiran, Mar. Ya, gue juga mikirnya begitu. Gak mungkin ibu gua yang sudah tua bisa belajar baca-tulis. Tapi, nyatanya? Selain dapur dan halaman, sekarang ibu punya teman baru: buku tulis dan pensil.”
Sepuluh tahun terakhir setelah lima tahun setelahnya, dan untuk pertama kali aku main ke rumah itu, aku mendapati Nenek dengan kebiasaannya. Setiap sore Nenek akan menulis menggunakan pensil di buku tulis yang dibelinya di warungku. Ya, pada akhirnya, aku pun menjadi bagian dari kampung ini. Kampung yang di sekeliling danaunya berdiri pabrik-pabrik tekstil yang suaranya tak henti bergemuruh dari waktu ke waktu.
Sekalipun begitu, aku tahu suara itu tak lantas bisa mengalahkan nyanyian bisu Nenek. Begitulah ketika suatu hari, ketika Nenek dengan tak sengaja meninggalkan bukunya di etalase warungku, kulihat daftar kata-kata itu dengan nomor tersusun di sampingnya, menurun ke bawah. Kata-kata bertuliskan: jelatang, kecapi, sawo, bidara, tanduk rusa, komodo, puyuh, mencek, bungbang, remis, udang, dan lain sebagainya.
Aku terkejut ketika di halaman terakhir Nenek menuliskan sebuah kata dengan huruf-hurufnya yang besar dan tampak kacau. Kata itu bertuliskan: Manusia!***

Purwakarta, 25 April 2016  

Tuesday, July 8, 2014

Hadiah Lebaran

"Perempuan Cikopi" Oleh FA
Cerpen Fim Anugrah

“Mau hadiah apa, Pin, nanti buat lebaran?” begitu tanya Amah suatu waktu pada Pipin, anaknya. Pertanyaan itu belum sempat dijawabnya. Karena bahkan sebelum dijawab pun, hal itu justru malah membuat Pipin bingung sampai-sampai seringkali ia bertanya pada dirinya sendiri: “Mau apa, ya, buat lebaran nanti?”

Sebenarnya cukup aneh juga jika pertanyaan seperti itu bisa keluar dari mulut Amah. Dalam tengah kondisi keluarganya yang pas-pasan, terlebih untuk membeli hadiah atau keperluan sampingan lainnya, membeli keperluan sehari-hari pun ada kalanya minta ampun susahnya. Kondisi itu, betapa Pipin telah menyadari dan memakluminya.

Kampung Janda


Cerpen Fim Anugrah
"Menunggu Kakek Yang Tiada " oleh FA

Pada hakikatnya, jika tidak dipuji, maka seseorang akan memuji dirinya sendiri. Tapi pujian ini tidak cukup pantas diterima oleh kampung itu, termasuk orang-orangnya. Mereka ingat bagaimana sebuah desa mendapatkan pujian lewat sebuah gelar “Desa Layak Anak” yang tertera dengan huruf besar di gapura perbatasan. Alih-alih berpikiran bahwa penduduk desa itu memang kurang anak, orang-orang  justru beranggapan bahwa orang tua-orang tuanya adalah manusia-manusia impoten.
Memang sudah lebih dari dua puluh tahun ini pemerintah di kota S itu menyelenggarakan program pemerian gelar atau “pujian” bagi kecamatan dan desa yang ada di kota tersebut. Ada kecamatan yang punya gelar “Kecamatan Pesawahan”, “Kecamatan Pegunungan”, dan banyak lagi. Tapi itu belum seberapa jika dibandingkan dengan gelar yang dimiliki desa-desanya. 

Wednesday, September 19, 2012

Di Bawah Pusara


Tak lama setelah Jailani mendengar kebenaran berita itu, dia pun menangis sejadi-jadinya. Dia tak menyangka bagaimana bisa anak-anaknya, keturunannya, justru menjadi manusia yang tamak, rakus dan malah mengagung-agungkan keduniawian. Padahal, tidak sedikit bekal agama dititipkannya dan pengertian akan hidup diberikan padanya.
Masih terngiang di kepalanya bagaimana dia membesarkan anak-anaknya dalam bimbingan agama di pondok pesantren yang memang sengaja didirikannya. Dengan ponspes dibawah naungan yayasan itu pula dia bisa menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi, baik yang ada di dalam maupun luar negeri. Dan bagai sebuah ketentuan yang tidak tertulis di buku manapun, tentunyalah ponpes itu bakal pula dipimpin oleh anak-anaknya sepeninggal dirinya.

Monday, May 21, 2012

Orang Baik

“Saya ini bukan orang baik!” Setidaknya, itulah yang dikatakannya padaku. Dalam gelimang dosa yang dilakukannya semasa muda dulu, saat ini dia hanya bisa menjalani apa adanya. Tak mau banyak nuntut, tak ingin banyak mau.

Hanya, ada hal yang sampai detik ini disesalinya. “Kalau saja dulu saya menerima tawarannya, mungkin hidupku takkan seperti ini. Melarat, tiap hari mencari rezeki, mencari nikmat,” ucapnya dengan penyesalan yang tergambar di raut wajahnya.
           
Aku bertemu dengannya tak lama setelah satu bulan bekerja di tempat baru. Sebuah sekolah swasta milik sebuah yayasan yang harum namanya, tapi tidak orang-orangnya. Baju safari membungkus tubuhnya yang kecil. Kacamata nongkrong di atas hidungnya. Tak seutas rambut pun menempel di kepalanya. Sambil menghirup-hembuskan asap rokok, dia tertawa begitu renyah. Dia bercerita tentang pengalamannya mengajar di sekolah bertaraf internasional di ibu kota.

Thursday, May 10, 2012

Cerita Tentang Bagaimana Doni dan Ali Bertengkar

archives
Jika bukan karena hormat dan menghargai suami, barangkali saat ini Yanti sudah mendatangi Ali dan mengobrak-abrik rumahnya. Betapa tidak? Tindakan Ali sudah tak bisa lagi ditolerir oleh Yanti, bahkan oleh siapa pun. Istri mana yang diam saja melihat suaminya disepelekan orang lain, yang segala kepemilikan dan keahliannya diaku-aku orang lain? Sesabar-sabarnya orang, tetap saja ada batasnya, pikir Yanti. Begitulah ia jika sudah tak bisa menahan amarah.

Kendati demikian, tak sampai pula niatnya itu kesampean. Karena setiap kali Yanti mulai terlihat marah, Doni, suaminya, selalu menghadapinya: meredakan Yanti dengan rasa sabar Doni yang perempuan mana pun bisa jadi luluh dibuatnya. Ada kalanya Yanti sendiri marah terhadap sikap Doni yang selalu menganggap bahwa permasalahan apapun yang berhubungan dengan tingkah laku Ali, dianggapnya hal yang biasa.

Friday, May 4, 2012

Asal Muasal Daun Pohon Gugur

Pada zaman dahulu kala, ketika manusia belum ada, bumi hanya ditinggali oleh pohonan dan binatang. Kedua makhluk ini saling berbagi antara satu sama lain dalam keharmonisan. Seandainya. Suatu waktu, di kala musim dingin tiba, burung-burung harus terbang ke Selatan, ke tempat dimana cuaca lebih hangat dari tempat yang ditinggalkannya. Tapi mereka akan kembali di musim yang lain jika cuacanya sudah hangat.
            Suatu hari, dalam sebuah perjalanan untuk menghindari musim dingin, seekor burung Pipit terluka. Dia tak kuasa untuk terbang bersama keluarganya ke tempat yang lebih hangat. Dengan begitu, dia pun memilih untuk tinggal saja, meninggalkan keluarganya terbang ke tempat yang ditujunya.

Monday, March 12, 2012

Pawang Hujan

retrieved: http://www.mubarokonline.com
Cerpen : DAMHURI MUHAMMAD

Sudah berpuluh-puluh batang rokok dari lintingan daun Nipah dihisap Iwik sejak ia bertirakat menahan hujan. Sepanjang malam ia mengelilingi kompleks perumahan Griya Kemilau Asri sambil menghembus-hembuskan asap rokoknya ke langit sebelah utara. Dengan kepulan asap dari linting demi linting yang sudah dimantra-mantrai, Iwik menghalau gerakan angin, agar hujan deras tidak mengguyur wilayah itu. Sebenarnya sudah cukup lama Iwik tidak menggunakan kepandaiannya sebagai pawang hujan. Lagi pula, di kota besar ini siapa pula yang masih percaya bahwa ada orang yang sanggup menahan hujan?

Tapi, tidak disangka-sangka, pak Satmoko minta bantuan Iwik untuk menahan hujan di pemukiman yang tiap tahun menjadi langganan banjir. Ketua RW yang juga pensiunan tentara itu bisa memastikan rumah-rumah di wilayahnya bakal terendam banjir bila hujan lebat tiba. Tak perlu menunggu kali Cilesung meluap, tumpukan sampah yang menyumbat saluran pembuangan saja sudah cukup untuk bikin air comberan naik ke permukaan, lalu masuk ke rumah-rumah warga. Tahun lalu, banjir datang begitu tiba-tiba, di saat warga sedang tidur pulas. Air meninggi sampai tiga meter. Warga berhamburan keluar rumah. Mengungsi tanpa memikirkan mobil-mobil import, lukisan-lukisan dinding, kursi-kursi antik dan barang-barang elektronik yang tenggelam dan hanyut terseret arus.

Wednesday, March 7, 2012

Pok Ami-Ami

"CI-LUK-BA" by FA, Model: Dido
Cerpen: Lan Fang 

Namaku Pipin. Dulu aku tinggal di sebuah desa di Kecamatan Rongrong. Umurku delapan tahun, belum lulus sekolah dasar. Tetapi, aku sekarang tidak sekolah lagi karena yang kelihatan dari sekolahku cuma kerangka atap. Selebihnya, yang terlihat cuma genangan bubur mendidih yang menjadi kolam. Setiap hari bubur itu semakin meluber seakan-akan sudah tidak cukup tertampung panci. Sekarang, bahkan sudah mencapai jalan raya dan menggenangi rel kereta api.
Orang tuaku juga tidak bekerja lagi. Dulu ayahku punya sepetak sawah kecil yang ditanami padi. Cuma sepetak kecil, tetapi cukup untuk mengisi perut dan menyekolahkanku serta kedua kakakku. Kalau menjelang musim panen, sawah ayah kelihatan cantik sekali dengan bulir-bulir padi yang sarat menunduk berwarna keemasan. Padahal, daun padi cuma seperti ilalang. Ayah menyebut padi adalah buah ilalang. Ayah bilang, jangan meremehkan ilalang. Kelihatannya cuma seperti belukar, tetapi ada buah yang menjadi hidup manusia di sana.

Saturday, February 25, 2012

Pohon dan Istrinya

my.opera.com/Deniesaceh/albums/showpic.
Oleh: Eka Budianta

Masyarakat boleh menuduh aku lebih cinta pada pohon ketimbang istri. Apalagi sejak Martha menjadi feminis. Rasanya aku lebih percaya pada pohon sengon. Ia setia. Tumbuh sendiri, lurus dan berseri di muka rumahku. Sedangkan Martha, perempuan mungil, anggun dan elegan itu seperti bukan hanya milikku. Ia bicara di mana-mana. Ia terkenal di berbagai kongres dan seminar. Ia  seperti menjadi milik semua orang. Malam ini dia pergi ke Durban, Afrika Selatan.

Istriku memberi kesaksian tentang penjarahan, perampokan, pemerkosaaan, dan banyaknya perempuan Indonesia yang jadi korban. Sementara aku harus di rumah, menidurkan anak bungsu kami, Tommy.

Martha ikut demo dan masuk televisi. Sementara pohon sengonku tumbuh dengan diam. Pohonku tidak pergi ke mana-mana. Ia hidup sederhana dan setia. Batangnya subur, daunnya hijau, seolah-olah hanya untukku. Ia bicara  denganku. Bilang selamat pagi padaku. Ia seperti mengerti kalau aku pulang kerja. Badanku capek dan hati kecewa. Maklum, tampaknya Martha menjadi semakin acuh tak acuh. Ia seperti kurang berperasaan. Bicaranya ketus. Seperti tak ada lagi yang baik di dunia.

Thursday, September 22, 2011

The Downfall of Our Surau

By A.A. Navis
HAD you come to my hometown several years ago by bus, you would have stopped near a market. Just about a kilometer from the market, you would arrive on the street of my village. At a small intersection to the right, the fifth intersection, turned to that narrow street. And on the end of the street you would find an old surau1. In front of it, there was a pond in which the water flew through four shower baths. 

And at the left porch of the surau you would find an old man who used to sit there with his all decrepit behaviors and religious observance. It had been years he served as garin2, the keeper of the surau. People used to call him Kakek3. 
            As a keeper, Kakek bargained nothing. He lived from alms collected once a week every Friday. Once a month he earned a quarter of gold fish harvest of the pond. And once a year, people brought fitrah eid4 to him. Yet as garin he didn’t really well known. He was actually known as knife-sharpener. As he did excellent at his work, most people used to ask him for a help, while he never got payoff at all. Women who asked him for a help sharpening knives or scissors gave sambal as its payoff, while men gave him cigarette and, occasionally, money. However, the most he got from them as payoff was gratitude and a bit smile.