Friday, June 10, 2016

Tak Ada Cerita Dari Nenek


Sudah hampir sepuluh tahun ini wanita bisu itu duduk di beranda. Setiap sore hari, beberapa menit sebelum jam menunjukkan pukul lima, dia akan tampak keluar dari rumahnya lantas duduk di kursi kayu. Ditemani keremangan senja dari ufuk Barat yang menyala merah, dia mulai menulis menggunakan pensil kata demi kata yang masih diingatnya.
Kata-kata itu bukanlah rangkaian sebuah kalimat apa lagi paragraf, melainkan tak lebih dari daftar kata percis daftar belanjaan. Jika kau tahu apa yang ditulisnya, mungkin kau akan heran sendiri. Bahkan bukan tak mungkin kau akan berkata betapa kurang kerjaannya wanita itu. Tapi, punya hak apa aku menghakimimu? Lebih baik, kau dengarkan dulu saja ceritaku.
Wanita bisu itu bernama Ipah. Tak ada yang tahu berapa usianya sekarang. Yang aku tahu, rambutnya sudah beruban dan tipis. Kulit di tubuhnya pun sudah kehilangan kekencangannya. Kecantikan telah menjadi istilah yang tak lagi ada di dalam kamus hidupnya. Maka dari itu orang-orang, termasuk juga aku, memanggilnya Nenek. Nek Ipah.  
Nek Ipah tinggal sendiri di rumah berdindingkan tembok. Suaminya telah lama tiada oleh sebab penyakit diabetes yang dideritanya. Akan tetapi, setiap satu minggu sekali ada kalanya anak-anaknya berkunjung. Mereka datang membawa oleh-oleh dari kota bersama istri atau suami dan anak-anaknya.
“Nek, aku bawa bolu brownies dari kota,” kata anak pertama.
“Nek, aku bawa Pizza Hut, makanan khas Amerika,” kata anak kedua.
“Nek, aku bawa baju berbahan sutera dan kerudung buatan Palestina,” kata anak ketiga.
“Nek, aku bawa televisi dan DVD Player plus kaset qosidah dan ceramah dari Kiai Sejuta Umat biar Nenek tidak kesepian. Oya, kenalkan, ini Amar, temanku,” kata anak keempat.
Semuanya datang bergiliran setiap minggunya, dan semuanya pula membawa oleh-oleh semata agar bisa menyenangkan hati Nenek. Tapi, semua pemberian itu hanya dibalasnya dengan senyuman belaka. Senyuman yang secepat dia melengkung di lesung pipitnya, secepat itu pula hilang  dan berganti wajah penuh derita dan beban. Setidaknya, itulah yang diceritakan Bayu, anaknya yang keempat, padaku saat kali pertama aku mengunjungi rumah Nenek.
Menghadapi sikap Nenek, semuanya seolah sudah paham—bahwa sebanyak dan semahal apa pun oleh-oleh mereka bahwa, hal itu takkan membuat Nenek bisa membuka mulutnya.
Awalnya aku sendiri heran: Apakah ibu temanku ini bisu? Pasalnya, ketika aku mengenalkan diri saja, balasan yang aku dapat tak lebih dari sekadar senyuman.
“Jawab dong, Bu, kalau orang mengucapkan salam itu,” belas Bayu ketika mengenalkan aku pertama kali pada ibunya. Alih-alih dijawab, Nenek justru memalingkan tatapannya dariku lantas memandang anaknya itu. Tidak dengan tatapan yang tajam melainkan lembut. Tapi di balik kelembutan itu, sesuatu yang tersirat tajam seolah berkata “Diam kau!” atau “Punya hak apa kau menyuruh-nyuruh aku untuk bicara?” Dan temanku yang satu ini, anak dari wanita bisu itu pun tertunduk malu kehilangan wajahnya. Hanya saja kemudian, secepat “tamparan” tatapan dari ibunya itu, Bayu menyampaikan maafnya padaku.
Begitulah Nenek yang aku tahu. Wanita yang memilih untuk bisu dan membahasakan alam semesta dengan hanya sebatas keheningan. Di rumah yang terletak di ujung sebuah kampung di kaki bukit ini, selain suara alam yang tersisa dan pabrik, takkan pernah kau dengar suara Nenek Ipah.
Awalnya aku tak terlalu menghiraukan masalah itu. Tapi, sesering aku bermain ke rumah Nenek, lambat-laun rasa kepenasaranku pun muncul.
“Sebelumnya, Bay, aku minta maaf kalau pertanyaan yang bakal aku tanyakan ini bakal menyinggungmu,” kataku mengawali percakapan di pinggir danau setelah aku melempar kailku jauh ke tengah. Oya, di kampung ini, memang ada sebuah danau sekira satu kilo jaraknya dari rumah Nenek.
“Formal banget sih Lo kalau ngomong,” dagunya yang tajam menunjukku.
“Lo juga sok kota banget sih pake bahasa,” timpalku tak ingin kalah.
“Alah, lagak Lo. Ngomong aja!” memalingkan wajah lantas melempar kail lebih jauh dariku.
“Nenek Lo itu... bisu, atau...” kalimatku tak sempurna.
Bukannya dijawab, Bayu malah menundukkan kepalanya. Tapi itu tak lama. Dia mulai menarik napas panjang sebelum pada akhirnya bercerita.
“Sebenarnya Emak gua ga bisu, Mar,” mengisap rokok di kempit jemarinya lantas menghamburkan asapnya ke udara; keningku mengernyit membuat lipatan tebal.
“Emak gua bisa ngomong,” kepalanya mengangguk-angguk, “tapi itu dulu. Ya, sepuluh tahun yang lalu-lah.”
“Memang, apa masalahnya?” kusorong sebatang rokok di dekat kakiku.
“Masalahnya adalah Kakak gue yang pertama, Si Jaka,” beberapa kali Bayu mengisap asap rokoknya sebelum mematikannya. Lantas mengambilnya lagi sebatang dan mulai menyalakan lighter membakarnya.
“Dulu Kakak gue maksa kalau ibu harus menjual tanah. Lo tau kebon di seberang rumah yang di depan jalan?”
Aku mengangguk.
“Dulu, tanah itu kebon warisan Bapak. Kebon paling luas dan paling hebat di kampung ini,” senyum tersungging di pipinya—bangga.
“Hebat? Maksud Lo?”
“Bagaimana gak hebat? Kebon itu punya banyak cerita, Bro. Gak hanya di kebon itu banyak pohon, termasuk pohon langka yang sekarang sudah gak ada. Di situ juga ada tanah lapang tempat anak-anak kampung ini bermain, termasuk gue. Main bola, panjat pinang setiap tujuhbelasan, ngangon sapi atau domba. Wah, pokoknya banyaklah ceritanya. Gak bakalan beres kalau gua mesti cerita seharian.”
Aku mengangguk-angguk mencoba untuk paham.
“Tapi, suatu hari ada orang kota datang. Beberapa orang. Mereka datang pake mobil blazer ke ujung kampung ini nyusurin jalan berbatu itu.
“Orang kota?”
“Hmm,” menghirup kopi dingin dengan tangannya yang basah setelah menarik pancingan yang kosong tanpa ikan.
“Bilang gue salah kalau orang kota itu nyari tanah buat bikin pabrik?”
“Gak. Lo bener. Banget malah,” puntung rokok dilemparnya ke arah belakang; aku mereguk kopi yang hampir tinggal ampas di gelasku.
“Terus?”
“Karena hanya ibu gue yang punya tanah di kampung ini—oya, asal Lo tahu, itu terjadi sebelum pemerintah ngakuisisi tanah di kampung ini sebagai milik mereka—ya, orang-orang kota itu dateng ke ibu gua. Mereka ngebujuk ibu supaya ibu mau ngejual tanahnya ke mereka. Tapi, ibu ga ngasih. Itu amanat bapak sebelum bapak meninggal. Bapak bilang, ‘Apa pun yang bakal terjadi, jangan sampai ibu ngejual tanah. Itu warisan kita. Hanya itu yang kita punya.’”
Strike!” ditariknya mata kail yang ternyata hanya sampah plastik, “berengsek!”
Kubenaih posisi duduk setelah menarik kail yang tak jauh beda dengan sobatku yang satu ini.
“Lo tau, kan, manusia bakal ngelakuin apa saja agar dia mendapatkan keinginannya?”
Aku menggumam.
“Berdirinya pabrik artinya mengalirnya duit. Dan, ya, begitulah. orang-orang kota yang sebenarnya ga lebih dari ajudan orang luar negeri itu pun ngelakuin apa aja. Termasuk ngedeketin kakak gue. Ya, singkat cerita.  Kakak gue ngiler liat duit sekoper, and dijuallah tanah kebon itu. Ada untung dan ruginya juga, tentu. Untungnya, kakak-kakak dan gue bisa seklolah bahkan kuliah di ibukota. Rumah panggung pun berubah jadi bagus. Ruginya, sejak saat itu,” menekan ‘sejak’, “ibu ga lagi ngomong. Ga sepatah kata pun!”
Pilu aku mendengar cerita Bayu. Tapi tak lebih pilu lagi ketika aku mendengar bahwa ketika rumah tembok barunya itu selesai dibangun, Nenek tak pernah sudi memasukinya. Dia memilih tidur di jalan ketimbang tidur di dalam rumah. Tapi, wanita tua mana yang kuat panas dan hujan? Sempat memang beberapa tetangga meminta Nenek untuk tinggal di rumah mereka. Tapi tetap, Nenek tak mau. Terlebih ketika Nenek menjawab ajak mereka dengan mengacungkan sebilah golok. Hampir Nenek disebut orang gila. Tapi, bersyukur, para tetangga mengerti sikap Nenek. Hingga suatu hari, tak sampai hitungan bulan, Nenek jatuh sakit di tepi jalan dan Bayu, kakak-kakaknya juga para tetangga membopongnya masuk ke dalam rumah.
Mereka pikir Nenek bakal berteriak atau menebas leher salah satu dari merak. Tapi yang terjadi? Nenek justru menangis. Menangis sejadi-jadinya. Dan sehari setelah itu, Nenek pun memiliki kebiasaan baru: Dia akan duduk berlama-lama di kursi di depan rumahnya.
“Lo tau, Mar,” tiba-tiba Bayu memulai tanpa aku minta, suatu hari di waktu yang lain. “Sebenarnya gue pernah liat ibu ngomong.”
“Kapan?”
“Dulu, ketika ada mahasiswa perguruan tinggi KKN di kecamatan ini. Gue seneng banget tahu kalau Emak ngomong. Tapi, sayang, Emak hanya ngomong sama mahasiswa itu saja. Yang gue tahu, nama mahasiswa itu, Rahmat. Pas gue tanya ibu ngomong apa, dia bilang kalau ibu ingin diajarin baca sama nulis.”
Aku heran segila-gilanya. Mungkinkah Nenek yang sudah tua itu bisa baca-tulis?
“Gue tahu yang Lo pikiran, Mar. Ya, gue juga mikirnya begitu. Gak mungkin ibu gua yang sudah tua bisa belajar baca-tulis. Tapi, nyatanya? Selain dapur dan halaman, sekarang ibu punya teman baru: buku tulis dan pensil.”
Sepuluh tahun terakhir setelah lima tahun setelahnya, dan untuk pertama kali aku main ke rumah itu, aku mendapati Nenek dengan kebiasaannya. Setiap sore Nenek akan menulis menggunakan pensil di buku tulis yang dibelinya di warungku. Ya, pada akhirnya, aku pun menjadi bagian dari kampung ini. Kampung yang di sekeliling danaunya berdiri pabrik-pabrik tekstil yang suaranya tak henti bergemuruh dari waktu ke waktu.
Sekalipun begitu, aku tahu suara itu tak lantas bisa mengalahkan nyanyian bisu Nenek. Begitulah ketika suatu hari, ketika Nenek dengan tak sengaja meninggalkan bukunya di etalase warungku, kulihat daftar kata-kata itu dengan nomor tersusun di sampingnya, menurun ke bawah. Kata-kata bertuliskan: jelatang, kecapi, sawo, bidara, tanduk rusa, komodo, puyuh, mencek, bungbang, remis, udang, dan lain sebagainya.
Aku terkejut ketika di halaman terakhir Nenek menuliskan sebuah kata dengan huruf-hurufnya yang besar dan tampak kacau. Kata itu bertuliskan: Manusia!***

Purwakarta, 25 April 2016  

No comments:

Post a Comment