Showing posts with label manusia. Show all posts
Showing posts with label manusia. Show all posts

Thursday, September 6, 2018

Mengevaluasi Status Kekhalifahan

Oleh Firman Nugraha*

Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Derajat tinggi ini langsung diberikan Allah Swt, manusia memiliki hak istimewa untuk mengelola bumi demi kelangsungan hidupnya. Status kekhalifahan ini menyiratkan kepercayaan penuh atas manusia sebagai hamba-Nya untuk mempergunakan alam, sekaligus menjadi bagian darinya.

Status kekhalifaan manusia bukannya tanpa masalah. Selain sebagai sebuah penisbataan kekuasaan Allah akan ciptaannya, terdapat di dalamnya pandangan yang acapkali diartikan sebagai hak prerogatif manusia atas kuasanya di dunia yakni, pandangan ekologis. Tetapi, belum sampai pemahamannya diterang-jelaskan dengan utuh, kenyataan penafsiran akan status tersebut malah jatuh merosot jauh dari hakikat yang sebenarnya.

Ekoteologi Penciptaan
Sejatinya, status kekhalifahan memunculkan sedikitnya dua ambiguitas. Pertama, ia membuat manusia memiliki kehendak bebas dalam penyelenggaraan hidup. Dalam hubungannya dengan lingkungan, manusia memanfaatkan alam untuk kebutuhannya. Atas nama hidup, manusia membabat dan membakar hutan serta menanam bahan pokok sebagai sumber pangannya. Manusia juga membuat berhektar-hektar sawah dan ladang untuk ditanami padi, ketela pohon bahkan kelapa sawit.Pengetahuan dengan teknologi yang datang kemudian pun memudahkan prosesnya.

Sunday, January 28, 2018

Karakter Orang Kota (Yang Katanya) Istimewa

Akhir-akhir ini aku sering memikirkan tentang karakter orang kota ini. Kota yang katanya istimewa ini. Hal itu sering aku lakukan khususnya ketika aku berada di mesjid dekat rumah setiap kali aku melaksanakan solat Magrib. Sehabis solat, sering aku bertanya, apakah karakter orang kotaku ini pada hakikatnya memang tak punya bakat untuk memiliki rasa kepedulian dan solidaritas yang erat, punya bakat untuk bekerja sama alih-alih berkata “masing-masing” saja?  
Tak hanya pengalaman hidup memperlihatkan bukti-buktinya, akan tetapi justru orang kotaku ini sendiri, tetanggaku sendiri yang berkata demikian. Dengan lantang dia berkata demikian ketika aku tengah memarahi anak-anak yang ributnya minta ampun ketika aku dan jamaah yang lain sedang melaksanakan solat Magrib. Aku marah bukan hanya anak-anak itu sudah menjadi sangat keterlaluan dengan tingkahnya dan seperti tak lagi menganggap saranku agar mereka segera masuk mesjid ketika iqomat sudah diserukan. Berulang-ulang kali sampai aku sendiri bosan jadinya. Aku marah karena tak ada jamaah lain yang “mengurus” dan mewanti-wanti anak-anak itu, tak terkecuali Ustaz bahkan RT sekalipun. Mereka punya mata dan telinga tapi seolah tak dipergunakannya, dan mengetahui kelakuan anak-anak itu mereka pun tak memedulikannya. Dengan entengnya mereka berkata jika “anak-anak memang seperti itu. Nakal, susah dikasih tahu.” Hanya itu yang mereka ucapkan, tak lebih.


Wednesday, February 1, 2017

Adaptasi Sosial: Tentang Perkenalan dan Setelahnya




Persepsi seseorang terhadap sikap tak nyaman orang lain lebih dominan dari pada sikap yang membuat nyaman dirinya. Mengapa? Jelas ada yang salah di sana. Mungkin harus ada waktu untuk mempertimbangkan kemungkinan atau faktor-faktor apa saja yang membuat seseorang bersikap demikian. Hal-hal seperti latar belakang pendidikan, keluarga, adat istiadat, warisan pergaulan dan sebagainya. 

Di dunia pekerjaan, atau bahkan di dunia mana pun yang memungkinkan terjadinya adaptasi sosial, persepsi semacam ini kerapkali muncul. Seorang yang baru masuk wilayah baru jika tidak bersikap introvert maka dia akan bersikap ekstrovert, walau yang terakhir ini pun bukan berarti tanpa hambatan. Sungguh, bisakah seseorang menerima sosok baru yang bersikap sok kenal dan sok dekat (SKSD) terhadap dirinya? Jika sifat orang yang dihadapinya tak jauh beda dengan orang itu, tak lantas menjadi masalah. Tapi jika benar-benar berbeda, sikap seperti itu hanya akan membuat dirinya malu bahkan dianggap menyedihkan.