Cukup lama saya menyimpan pikiran ini. Bukan pikiran tentang keinginan untuk menikah; apa yang harus dilakukan di saat melamar; atau apa pun yang berhubungan dengan segala macam resepsi dan lain sebagainya.
Tetapi soal bagaimana pernikahan menjadi sebuah tanggungan yang harus dijawab segala beban dan masalahnya. Bukan hanya sebatas gerbang menuju hidup baru bersama Si Doi, menyatukan dua hati, membulatkan iman dimana saling mengisi dan saling pengertian dibutuhkan. Karena saya yakin, setelah apa yang saya lihat, itu hanya pemanis saja, semacam appetizer alias makanan pembuka sebelum kita menyantap main course-nya.
Memang, gairah seringkali mengalahkan logika sebagaimana yang dirasakan mereka yang merasa dirinya sudah dewasa. Sudah waktunya untuk hidup berdampingan dengan “tulang rusuknya”. Gairah yang sebatas kemauan yang besar dan menggebu, yang menciptakan tren nikah muda di kalangan masyarakat sekarang, tapi tidak punya pengetahuan bagaimana membina dan menjalankan keluarga.


