Tuesday, August 20, 2013
KATA KITA
Adakah satu kata yang bisa menyebut kita?
Sunday, May 12, 2013
Classification Of Friends
Since we were a child, the surroundings
demanded us to recognize and appreciate friends, moreover a new friend. There
are three different kinds of friends in this life. We can classify them
according to how well we know them and how well they know us.
We encounter each
of them everyday, whether in school, home, or at the gym. However, we rarely
spend much time actually thinking about and classifying these people. First,
there are THE GENERAL ACQUAINTANCES. Second, there are THE SOCIAL PARTNERS. Lastly,
we have The Best Friends—our true friends.
The first type of
friend is SIMPLY an ACQUAINTANCE. This means that you basically only KNOW their
NAME. You might NOT even REMEMBER what they look like if you go away for a holiday.
Usually, you meet these types of friends in school, on the public
transportation, in the gym, or anywhere else you might be. You normally would
not mind having a chat with them, but if anything else came up, you usually
would have NO PROBLEM PARTING COMPANY. You normally DON’T MISS them when they
are elsewhere.
The second
category is THE SOCIAL PARTNERS. This is because they are closer than
acquaintances, but not as close as a true friend. Social partners are usually
acquaintances who EVOLVE into "GUEST FRIENDS" through increased
extracurricular activities. You know their name, a little of what they like or
dislike, a little of their family history, and usually have SEVERAL THINGS IN COMMON.
So too the social partners have to have several things in common with you.
The "guest
friends" usually don’t CONVERSE about anything SUBSTANTIAL or deep, such
as their innermost desires and fears. Usually, "guest friends" keeps
the topic of CONVERSATION HAPPY and LIGHT. They would NOT OPEN UP to you how
they are really feeling. They are still preoccupied with "SAVING FACE."
You still do ENJOY hanging out with them. But when the GOING GETS TOUGH, they
are not there for you.
The last type of
friend is THE BEST FRIEND. Normally, you know them the LONGEST. You probably
grew up together as children. He or she KNOWS EVERYTHING about you. Likewise,
you know everything about him or her. They are basically FAMILY-LIKE. You know
each others attitude and habits and can ALWAYS TELL when there is something
wrong. You would NOT HESITATE to SHARE your deepest feelings or thoughts with
them.
A TRUE FRIEND has
no problem correcting you when you are wrong. Likewise, a true friend WILL LOVE
you like a member of his own family. He or she will always be there for you.
They are NOT PERFECT, but at least they WILL ALWAYS LOOK OUT for you and never
do anything intentionally to “hurt” you.
On a final note,
we should always remember to keep in mind what kind of a friend we are to other
people. We are all SURROUNDED BY ACQUAINTANCE, guest, and best friends. We
should always strive to be the best friends, which we can be.
Also, as the
saying goes, "YOU CAN’T USE YOUR FRIENDS AND HAVE THEM TOO." We
should APPRECIATE and VALUE all FRIENDSHIPS that come into our lives, no matter
how deep or superficial. We should always remember that all BEST FRIENDS STARTED
OUT as just ACQUAINTANCES. (Fim Anugrah/”Saswaloka”)
Sastra Kekanak-Kanakan
Tidak bisa
dimungkiri jika sastra, dengan seabreg embel-embel yang tertera di belakangnya,
selalu menyimpan kekuatan politis. Kekuatan itu tentu saja tidak diutarakan
secara eksplisit lewat kalimat yang bernas. Kita tahu bagaimana kajaiban
kata-kata bisa tampak seperti bunga sekalipun yang dimaksudkan adalah belati.
Cukup melalui alur atau plot saja di mana cerita itu dituliskan. Kekuatan
politis itu setidaknya tampak dari konsekuensi logis ketika karya sastra itu
sudah memiliki dampak dalam kehidupan sosial.
Kita mungkin masih ingat bagaimana Laskar Pelangi-nya Andrea
Hirata sekonyong-konyong membuat dunia pendidikan kita berubah. Dari mulai
televisi, radio bahkan koran serta merta meliput gedung-gedung sekolah yang
bisa dibilang jauh dari kata layak. Sekolah Reyot, Sekolah Hampir Rubuh, Sekolah
Kandang Kambing, dan banyak lagi sekolah lainnya. Lewat novelnya, Andrea tidak
berkata dengan langsung jika jauh di sudut-sudut negeri ini, betapa banyak bangunan
yang tidak pantas untuk digunakan sebagai tempat belajar. Dengan kata lain,
pemerintah ternyata masih juga belum memikirkan pendidikan warga negaranya.
Permasalahannya adalah, hanya karena kenyataan akan pengalaman ini
dituliskan lewat sebuah novel yang kebetulan best seller, maka Laskar
Pelangi tiba-tiba mampu mengubah wajah pendidikan bangsa ini(?) Dalam kasus demikian,
cerita ternyata tidak hanya sebatas cerita (l’art pour l’art); akan
tetapi, cerita sudah berubah menjadi–meminjam kata-kata Penyair Widji
Thukul—peluru. Namun demikian, benarkah kita tahu wajah pendidikan kita yang
sebenarnya hanya karena membacanya dari sebuah novel? Seandainya kita tahu,
betapa banyak realita yang lebih parah ketimbang yang diceritakan Laskar
Pelangi.
Bagaimanapun, ketika kita berbicara pendidikan bangsa, maka kata yang
sejatinya harus ada di belakangnya adalah Indonesia. Bukan hanya Jakarta,
Bandung, apalagi Belitung! Setidaknya kita bisa berterima kasih pada Laskar
Pelangi yang sudah menimbulkan pengaruh masif terhadap pendidikan di negeri
ini. Entah, fenomena apakah kita harus menyebutnya.
Terkait pengaruh ini, lewat “pembacaan” yang sudah kita lakukan,
semestinya pikiran kita sudah harus bersih dari warisan nenek moyang. Leluhur
kita yang senang sekali membuat kasta dalam kehidupan sosialnya, termasuk dalam
hal hasil budaya. Sebut saja Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, Sepatu
Dahlan-nya Krishna Pabichara, bahkan jauh sebelum itu ada Ronggeng
Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari. Tak lupa, puisi Karangan Bunga-nya
Taufik Ismail. Sekalipun tokoh yang berbicara di sana adalah anak-anak, tidak
berarti karya-karya itu bisa disebut Sastra Anak.
Adalah anomali seandainya sebuah cerita bertokohkan seorang anak maka
tanpa tedeng aling-aling kita menyebutnya Sastra Anak. Kenyataannya, toh
apresiatornya bukanlah anak-anak, dan memang target pembacanya pun bukan
anak-anak. Berbeda halnya dengan Korrie Layun Rampan yang sempat membuat
antologi puisi untuk anak-anak. Untuk kasus seperti ini, tak salah jika
puisinya pun disebut Puisi Anak di bawah naungan Sastra Anak.
Memang samar-samar garis batas antara sastra anak-anak dan sastra orang
dewasa. Tidak mudah untuk berkata bahwa buku anak-anak bisa disebut sebagai
sastra anak, pun dengan buku-buku orang dewasa. Tetapi, ada kalanya buku
anak-anak menarik perhatian orang dewasa begitu juga sebaliknya. Sindrom
nostalgia, begitu istilahnya. Untuk masalah ini, Tarigan (1995) mengungkapkan
jika buku anak-anak biasanya mencerminkan masalah masa kini. Masalah di
rumah, di sekolah, di permainan. Masa lalu hanya terbatas pada kemarin karena
nostalgianya belum banyak.
Selain itu, lanjutnya, warna pengalaman dan pemahaman akan isi ceritanya
pun masih sangat terbatas. Hal demikian bisa dilihat dari nilai-nilai yang
terkandung dalam karya sastra yang dimaksudkan semata untuk bisa: memberi
kesenangan dan hiburan; memupuk dan mengembangkan imajinasi; memberi pengalaman
baru; mengembangkan wawasan menjadi perilaku insani; memperkenalkan kesemestaan
pengalaman, dan; memberi harta warisan sastra dan generasi terdahulu, pada
anak-anak. Fabel, legenda, mitos, puisi rakyat, dan dongeng, adalah beberapa
genre yang termasuk dalam Sastra Anak.
Nilai-nilai tersebut jelas tidak bisa disamakan dengan nilai-nilai karya
sastra sebagaimana disebutkan di atas. Sekalipun tokoh dalam semua karya itu
adalah anak, tetap saja penuturnya (penulis) adalah orang dewasa. Kita tahu itu
bahkan sebelum membaca ceritanya. Ada pun kemungkinan mengapa para penulis itu
menjadikan anak sebagai tokoh adalah, karena anak-anak itu bersih, suci, belum
punya banyak dosa seperti orang dewasa. Anak-anak juga polos, selalu meminta
belas pada orang dewasa agar kata-katanya didengar. Di dunia ini, adakah orang
dewasa yang tidak peduli pada anak-anak?
Dengan demikian, tokoh cerita itu bukanlah anak-anak yang sebenarnya.
Tokoh cerita itu (baca: penulisnya) hanya tengah bersikap kekanak-kanakan. Sejujurnya,
selain simpati yang didapat dari pembacanya, penulis pun tidak harus
repot-repot membuat excuse baik untuk dirinya maupun ceritanya. Walau,
untuk mereka yang benar-benar memikirkan karakter yang diperankan si tokoh
cerita, mestinya bisa pandai membuat garis di dahi sambil berkata: Mungkinkah
seorang anak punya begitu hebat pengertian, pemahaman, dan pengetahuan yang
seusia mereka masih jauh panggang dari api? Secepat kita bertanya, secepat itu
pula kita menjawab: “Ah, namanya juga anak-anak!”
Kehati-hatian barangkali yang kita butuhkan untuk
masalah ini. Tidak sedikit orang yang terperangkap dengan dikotomi sastra anak
dan sastra kekanak-kanakan. Mereka yang baru tahu mungkin bisa lebih waspada
untuk menisbatkan sesuatu; yang terlanjur mudah-mudahan bertobat. Karena, bukan
tidak mungkin, ketika kita tahu dunia sudah parah, untuk masalah ini perilaku
kita malah jadi salah kaprah. [Fim Anugrah/”Saswaloka”]
Picture: Life by mytineke
Tulisan Eksentrik
Ayas tangas nikay ikaj adna kidat isab acabmem tamilak
ini, ilaucek atak id nepad amok idat. Dengan usaha yang keras anda akan mencari
tahu apa isi dari kalimat pertama itu. Anda akan mencari kamus atau membuka Mbah
Google untuk mencari tahu barangkali ada bahasa yang merepresentasikan kalimat
tersebut. Walau sebenarnya Anda tidak harus repot-repot karena kalimat itu
sesungguhnya terdiri dari kata-kata bahasa Indonesia yang ditulis secara kilabter
(terbalik) sesuai urutan hurufnya. Kalau pun harus ditranslasikan, maka kalimat
itu berbunyi: Saya sangat yakin jika anda tidak bisa membaca kalimat ini,
kecuali kata di depan koma tadi. Tapi dengan demikian, hal ini malah jadi
bertentangan karena sudah jelas Anda sekarang bisa membaca kalimat tersebut. Jika
sudah seperti itu maka kata-kata itu tidak lagi benar karena sudah bertentangan
dengan realita yang sesungguhnya.
Tetapi tulisan
ini tidak akan membahas soal benar tidaknya sebuah pernyataan dengan
realitasnya. Saya pikir itu adalah pekerjaan para ahli-ahli bahasa dan
ahli-ahli lain yang berhubungan dengan bahasa. Di sini saya hanya ingin
mengetengahkan tentang bahasa tulisan yang eksentrik, yang keluar dari pakem
dan dari segala aturan bahasa yang digembar-gemborkan merupakan ejaan yang baik
dan benar juga disempurnakan. Walau, saya juga yakin jika kita masih belum
menyelesaikan PR tentang seperti apakah yang baik dan benar itu. Mengapa?
Karena bahasa adalah makhluk. Selama makhluk itu tumbuh, selama itu pula bahasa
akan terus berkembang sehingga tak ayal kita kalah dan gagal untuk bisa
mengerti Si Bahasa dan segala perilakunya itu.
Okay! Sekarang,
apa yang kita tahu tentang bahasa tulis? Apakah bahasa tulis hanya terdapat
pada sebatas buku-buku, koran, pamlfet, dan brosur saja? Jika ingin tahu
bagaimana bahasa tulis, cobalah lihat anak-anak yang sedang belajar bahasa di
SD atau mungkin SMP. Lihat bagaimana mereka menulis di buku catatannya.
Setidaknya ini adalah kasus yang saya temui di banyak buku catatan anak-anak.
Janganlah menyebut jika bahasa Indonesia sudah benar-benar dikuasai oleh
anak-anak pembelajar ini. Di kota-kota besar yang pendidikannya maju, mungkin
Anda tidak akan melihat kasus seperti ini. Berbeda dengan di kota-kota atau
desa-desa kecil yang kualitas pendidikannya masih rendah. Masih belum
mempertimbangkan pentingnya pendidikan.
Suatu hari saya
melihat beberapa anak menulis kata “senal”, “senok”, “popo” dan banyak lagi.
Setelah dilselidiki ternyata kata itu sebenarnya adalah “sandal” (sandal), “sendok”
dan “bobo”. Mengapa mereka itu menulis kata-kata itu dengan cara demikian?
Setelah diselidiki, ternyata pengaruh bahasa lisan begitu kuat dalam bahasa
tulisan anak-anak. Mereka menuliskan kata-kata sesuai dengan apa yang mereka
dengar dan bukan dengan apa yang mereka tahu. Di lingkungan rumahnya,
anak-anak ini memang mengucapkan kata “sandal” dengan kata “senal”, pun dengan
kata-kata lainnya.
Secara pengetahuan,
mereka tahu dan kenal abjad ABC sampai Z. Tetapi hal itu tidak berlaku jika
dihubungkan dengan kehidupan sosialnya. Kenyataannya, masyarakat di lingkungan
di mana anak berada memang sudah terbiasa mengucapkan sebuah kata dengan kata
yang sudah menjadi konvensi bersama. Entah apa yang salah. Tapi saya pikir
memang tidak ada yang salah. Haruskah kita menyalahkan si anak hanya karena dia
salah menulis sebuah kata sedang faktanya bahwa bahasa yang digunakan oleh anak
memang dibentuk oleh masyarakat di sekitarnya. Dalam kasus seperti ini,
pengetahuan apa pun tentang bahasa dan segala tetek bengeknya tidak berlaku
jika dihadapkan pada kenyataan seperti ini. Dengan kata lain, bahasa memang
tidak dan bukan diciptakan oleh para pakar bahasa. Pada umumnya masyarakat memang
tidak tahu dan tidak juga mau tahu tentang hal-hal remeh temeh seperti itu. Bagi
mereka yang penting mereka masih bisa membajak sawah, berkebun dan bisa makan
dari apa yang ditanamnya.
Jauh panggang
dari api. Jauh pendidikan dari kehidupan. Orang-orang pintar berpikir jika
bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan dan orang Indonesia sudah tentu harus
bisa berbahasa ini. Sayangnya, tidak semua daerah sudah benar-benar menguasai
bahasa Indonesia. Apa yang kita tonton, kita dengar, kita baca di banyak media
hanya sepersekian persen yang merepresentasikan bahasa Indonesia yang
sesungguhnya, yang katanya baik dan benar itu. Tapi kita tahu jika Indonesia
itu luas. Indonesia tidak hanya Bali, Jakarta, Bandung atau Yogyakarta. Banyak daerah-daerah
lain yang justru luput dari perhatian bahasa Indonesia (baca: pemerintah dan
media). Di daerah-daerah ini, orang-orang masih “bangga” dengan bahasa
daerahnya, termasuk anak-anak yang sedang menuntut ilmu. Mereka tumbuh dengan
bahasa daerah yang kental dalam penggunaannya sehari-hari di rumah, di sawah
juga di sekolah. Pelajaran bahasa Indonesia pun tak lantas bisa mencairkan
ketaklidan mereka dalam berbahasa. Percis kasus yang saya sebutkan di atas.
Tapi, benarkah
kita sudah berbahasa dan sudah pula menguasai bahasa Indonesia sepenuhnya? Jika
jawabannya adalah “ya”, lalu mengapa pula kita masih mempelajarinya bahkan di
tingkat Perguruan Tinggi? Iklan rokok pun berkata: “Tanya kenapa?”
Dari pada bingung
mencari solusinya, saya pun terus mengajari anak-anak berbahasa Indonesia yang
baik dan benar sebelum mereka belajar bahasa asing sekalipun saya memang mengajar
bahasa Inggris. Pikir saja, bagaimana mungkin anak-anak bisa berbahasa asing
sedang berbahasa Indonesia saja mereka masih mengeja kata? Saya hanya berusaha
mencoba agar anak-anak bisa bertahan hidup dengan menggunakan bahasa Indonesia
yang baik dan benar itu dalam mengarungi hari-harinya. Sejenak terhibur ketika
melihat tulisan anak-anak yang lucu dan lugu itu. Seorang anak menulis: I laik
English lenguij because it fun. I can sing and playing game. Wan day, I hop I
can speak with English lenguij. Hehe. [Fim Anugrah/”Saswaloka”]
Wednesday, March 27, 2013
Akhirnya, Hari Sastra Indonesia
Indonesia akhirnya memiliki Hari Sastra Indonesia yang ditetapkan
setiap tanggal 3 Juli. Penentuan Hari Sastra Indonesia ini mengacu pada
hari lahir sastrawan terkemuka Abdoel Moeis pada 3 Juli 1883 di
Bukittinggi, Sumatera Barat.
Untuk itulah, Maklumat Hari Sastra
Indonesia ini akan dilaksanakan pada Minggu (24/3/2013) di SMAN 2
Bukittinggi, yang dahulu disebut Sekolah Radja atau Kweekschool, tempat
bersemainya sastra modern Indonesia dan lahirnya sastrawan Poedjangga
Baroe.
Taufik Ismail yang merupakan salah seorang penggagas,
seperti disampaikan Panitia Kecil Persiapan Maklumat Hari Sastra
Indonesia di Jakarta, Senin (18/3/2013), mengemukakan bahwa untuk
selanjutnya Hari Sastra Indonesia akan diperingati setiap 3 Juli.
"Indonesia
memiliki tradisi sastra yang luhur. Namun, kita belum mempunyai suatu
hari yang disebut Hari
Sastra Indonesia untuk mengenang karya para
sastrawan terkemuka yang dimiliki bangsa ini. Generasi muda kita perlu
sekali mengetahui dan membaca karya para sastrawan kita tersebut dan
karya sastrawan masa sekarang dan masa akan datang," kata Taufik Ismail.
Abdoel Moeis yang lahir di Bukittinggi melahirkan karya fenomenal, antara lain Salah Asuhan. Karya-karyanya yang lain adalah Pangeran Kornel dan Surapati. Abdoel Moeis yang aktif dalam pergerakan nasional di zaman perjuangan kemerdekaan adalah Pahlawan Kemerdekaan Nasional Pertama, yang diberikan oleh Presiden Soekarno pada 30 Agustus 1959.
Abdoel Moeis yang lahir di Bukittinggi melahirkan karya fenomenal, antara lain Salah Asuhan. Karya-karyanya yang lain adalah Pangeran Kornel dan Surapati. Abdoel Moeis yang aktif dalam pergerakan nasional di zaman perjuangan kemerdekaan adalah Pahlawan Kemerdekaan Nasional Pertama, yang diberikan oleh Presiden Soekarno pada 30 Agustus 1959.
Selain Abdoel Moeis,
Indonesia memiliki sastrawan terkemuka. Mereka adalah Hamzah Fansuri,
Ronggowarsito, Marah Rusli, Rustam Effendi, Nur Sutan Iskandar, Sutan
Takdir Alisjahbana, HB Jassin, Umar Kayam, Mochtar Lubis, Chairil Anwar,
Pramoedya Ananta Toer, Rosihan Anwar, Hamka, Amir Hamzah, AA Navis, Ali
Hasjmy, Asrul Sani, Rendra, Wisran Hadi, Hamid Jabbar, dan masih banyak
lagi.
Saturday, March 16, 2013
Dari Chaos Theory Sampai ke Free Will dan Determinis
Seandainya ada di muka bumi ini yang hidup secara
mandiri (tunggal). Akan tetapi kita tahu bahwa semua yang ada di dunia selalu
berpasang-pasangan. Selalu ada oposisi biner itu. Ada sakit ada sehat, ada tua
ada muda, ada miskin ada kaya, ada ghaib ada dzahir. Maka, ada free will
dan ada determinism. Setiap
sesuatu eksis maka serta merta dia akan memiliki nasib yang bertentangan dengan
eksistensinya itu.
Islam mengakui free
will untuk apa pun yang ada di dunia. Akan tetapi Islam juga menyakini
determinis. Kenyataannya, manusia sudah memiliki jalan hidupnya sendiri.
Tentang kapan dia lahir sampai dia mati, seperti apa jalan hidupnya, semuanya
itu sudah ditentukan dalam lauhl mahfuz yang nyata. Akan tetapi, manusia
juga diberikan kekuasaan yang besar untuk menentukan nasibnya sebagaimana
pernyataan kitab suci Al-Qur’an bahwa sesungguhnya Tuhan tidak mengubah nasib
manusia jika dia tidak mengubahnya.
Kenyataan ini
pada akhirnya memunculkan persfektif jika Islam itu liberal atau moderat (?)
Islam berperilaku free will dan determinis kepada manusia. Pertanyaannya
adalah: Bilamanakah manusia bisa berdiri di satu posisi saja: free will
atau determinis? Andai saja kita bisa
menawar. Sayangnya, hal ini akan kembali pada kenyataan seperti yang
diungkapkan di kalimat pertama tulisan ini. Bahwa, ketika sesuatu mendapatkan
eksistensinya, maka seketika itu ia mendapatkan kenyataan yang bertolak
belakang dengannya. Dengan kata lain, kita tidak bisa berdiri di satu posisi.
Karena sungguh pun hal itu tidak mungkin. Setiap kanan selalu memiliki kiri,
setiap hitam selalu memiliki putih. Maka setiap “ada” pasti selalu memiliki
“fana”.
Sekiranya kita
tidak ingin memiliki pertentangan akan sebuah eksistensi, maka jangan eksis.
Jangan ada, jangan mencipta, jangan berkarya, jangan “hidup” sehingga pada
akhirnya sesuatu itu “mati”. Ketika sesatu lahir –seperti sebuah puisi atau
cerpen yang ditulis oleh seorang pengarang—maka sesuatu itu akan mati. [FA]
*) Sebuah catatan
setelah menonton film Butterflly Effect.
“Aku tidak membutuhkan sesuatu yang menyatakan
eksistensiku.” (Evan)
Subscribe to:
Posts (Atom)



