Sunday, September 14, 2014

Waktu Terbaik Untuk Menulis

Judul di atas mungkin memunculkan beberapa pertanyaan. Apa ada waktu terbaik untuk menulis? Jika ada, kapan? Tapi bukan tidak mungkin judul itu pun hanyalah mitos belaka. Kenyataannya, orang bisa menulis kapan saja, di mana saja, dan dalam kondisi apa pun.
Seorang pelajar bisa menulis materi pelajaran di ruang kelas. Sekretaris bisa menulis selama dirinya bekerja di kantor. Bahkan seorang kasir sebuah mini market pun bisa menulis selama dia bekerja, entah siang, entah malam. Setiap orang bisa menulis tulisan yang dibuatnya, kapan pun dia harus dan ingin menulis. 
            Mungkin akan lebih baik jika kita spesifikasikan bentuk tulisannya. Bukan tulisan sekadar tulisan atau corat-coret belaka seperti halnya daftar belanjaan. Akan tetapi, tulisan bergenre sastra, baik itu puisi atau pun prosa.
            Bukan perkara yang mudah memang membuat tulisan genre ini. Sekalipun pernah juga menjadi perdebatan tatkala seorang Arswendo Atmowiloto berkata bahwa “Mengarang Itu Gampang”. Jika benar perkataan beliau ini, lalu kenapa juga orang Indonesia masih saja susah untuk menulis/mengarang. Tapi setidaknya kita belajar bahwa ternyata yang namanya gampang itu relatif, yang jelas tidak susah kecuali malas.
            Berkaca dari pengalaman, Penyair Sapardi Djoko Damono punya waktu khusus untuk menulis. Dalam testominya dia berkata bahwa dia acapkali menulis menjelang fajar, mungkin sebelum waktu subuh, di ruang pribadinya yang kecil berkawankan buku-buku di raknya. Pada saat inilah beliau biasa mencipta puisi dengan tingkat kekhusyuan yang cukup tinggi. Baginya bisa jadi kesunyian menjadi sangat penting di tengah hingar bingar kota yang hidup. 
Belum lagi menyebut para prosais yang kebanyakan memang lebih suka menulis di malam hari. Tidak hanya karena malam itu magis, tapi juga pada saat seperti inilah keadaan sunyi dan tenang justru menjadi kawan yang menguntungkan para penulis/pengarang. Ketika siang hari waktu dipenuhi dengan berbagai macam kesibukan, pada malam harinya para penulis akan masuk ke dalam ruang pribadinya, menyalakan komputernya sebagaimana dia menyalakan pikirannya untuk mulai menulis.
Ada semacam paradigma yang muncul di tahun 90-an dimana penulis, atau tepatnya penyair adalah sosok yang jauh dari yang namanya bersosialisasi. Mereka lebih memilih untuk diam di “guanya” bersama tulisannya. Hal ini bisa benar, bisa juga tidak. Tidak benar karena bagaimanapun penulis juga manusia. Mereka butuh bersosiali sebagai medianya untuk membaca sebelum pada akhinrya pembacaan itu berbentuk rangkaian kata-kata. Benar karena pada kenyataannya, penulis memang butuh konsentrasi tingkat dewa. Kesibukan di siang hari jelas tidak bisa membuat para penulis leluasa untuk berpikir untuk menulis. Maka dari itu mengapa mereka butuh malam, butuh ruang pribadi dan ketenangan.
Selain itu pula, membuat tulisan bergenre sastra memang menuntut banyak faktor. Tentunya selain privacy dan ruang. Para penulis yang memang butuh konsentrasi agar bisa fokus untuk tulisannya, juga tubuh yang prima. Itu artinya kondisi pikiran dan tubuh pun sedikit banyak memengaruhi tulisan yang dibuatnya. Sebuah penelitian membuktikan bahwa pikiran akan lebih jernih dan tenang dan bisa bekerja lebih baik apabila otak masih fresh. Artinya, otak belum benar-benar dipergunakan untuk memikirkan soal pekerjaan, tugas, utang dan tetek bengek lainnya. Dan keadaan itu bisa didapatkan manakala otak baru saja diaktifkan. Dengan kata lain, tak lama setelah bangun tidur.
Pada saat-saat seperti inilah pikiran memiliki potensi untuk bekerja dengan sangat baik. Otak bisa lebih fokus dan pikiran bisa lebih konsen secara maksimal. Berbeda halnya ketika otak sudah terlalau banyak digunakan untuk memikirkan banyak hal. Alih-alih bisa fokus dan konsentrasi, tulisan yang diciptakan pun malah jauh dari sempurna. Urat-urat syaraf di otak sudah tegang karena sudah banyak digunakan. Energi yang dimiliki otak pun sudah kekurangan nutrisinya. Tak jauh beda dengan tubuh yang sudah lelah bekerja tapi malah dipaksa untuk bekerja lagi. Sedang kita tahu kalau bekerja dengan otak justru lebih melelahkan ketimbang fisik. Setidaknya ada satu hal sama yakni, jika sudah lelah maka keduanya butuh istirahat.
Kembali ke judul tulisan di atas. Jadi, tidak masalah kapan waktu yang paling baik untuk menulis. Setiap orang punya kebiasaa, cara dan metodenya sendiri dalam hal menulis. Satu yang pasti, tulisan yang baik tentulah harus didukung pula oleh kondisi pikiran dan tubuh yang prima. Karena tanpanya tulisan yang dihasilkan tanpa syarat-syarat tadi bukan tidak mungkin justru malah tak jelas arahnya. Kata-katanya, strukturnya, amanat yang hendak disampaikannya, dan nya-nya yang lainnya. Demikian. [FA]

Friday, September 5, 2014

TEMPAT SAMPAH KITA

Urusan tempat sampah bisa jadi urusan yang tidak pernah selesai. Mulai dari TPA (Tempat Pembuangan Akhir), tempat-tempat sampah yang mestinya tersedia di setiap sudut ruang publik, perilaku orang yang membuang sampah, dan manajemen pengelolaan sampah; kesemuanya itu masih menjadi PR bagi kita Si Pembuang/Pembersih Sampah.

Tapi biarlah, hal-hal besar dan masiv itu kita ke sampingkan lebih dulu. Pada kesempatan ini saya justu ingin berbicara tentang tempat sampah. Yang kenyataannya, masih dianggap sepele oleh kebanyakan kita.

Berkaca pada orang-orang kreatif di luar negeri sana, urusan membuang sampah seakan telah menjadi sebuah fokus—bahkan bukan tidak mungkin menjadi bidang studi tersendiri. Maksud saya, tempat sampah tidak hanya sebatas tempat untuk membuang sampah. Lebih dari itu, tempat sampah didesain oleh mereka dengan mempertimbangkan fungsi dan perannya sebagai tempat sampah.

Tidak seperti di kita dimana tempat sampah hanya sebatas tong kosong atau drum plastik yang disimpan begitu rupa. Meski cukup bisa dihargai dimana setiap tong diberi label tersendiri, seperti organik atau non-organik. Sayangnya, hal itu menurut saya belum bisa dibilang cukup.

Desain tempat sampah mestinya menjadi hal yang harus dipikirkan juga. Jika Anda datang ke mini market atau bank atau instansi-instansi yang bonafide, barangkali Anda pernah melihat tempat sampah yang didesain sedemikian rupa. Sebuah kaleng—baik berbentuk tabung atau persegi--besar yang terdiri dari dua fungsi yang berbeda. Pertama, lubang besar, biasanya di tengah-tengah, untuk membuang sampah, dimana di atasnya terdapat semacam asbak untuk mematikan puntung rokok.  

Saya pikir bukan tanpa alasan mengapa mereka membuat desain tempat sampah semacam demikian itu. Pasalnya—setidaknya berdasarkan pengalaman yang saya alami, seandainya orang membuang puntung rokok langsung ke tempat sampah, sedang sampah itu sendiri adalah sampah yang mudah terbakar, apa yang sekiranya bakal terjadi? Ya, jelas kebakaran! Dan kebakaran akibat puntung rokok yang dibuang ke tempat sampah dengan sampah yang mudah terbakar itu, telah membuat sekolah saya hangus terbakar dilalap api.

Sungguh sangat sentimentil, atau mungkin tragis. Hanya karena puntung rokok, atau tempat sampah yang seadanya itu, satu bangunan sekolah bisa ludes, hingga akhirnya siswa-siswa dan guru-guru pun hanya bisa gigit jari. Mereka kehilangan berkas-berkas, buku-buku, perpustakaan, uang tabungan, dan yang lebih penting, hak mereka untuk belajar dan mengajar, untuk menuntut ilmu. Hanya gara-gara tempat sampah!  

Saya pikir kejadian semacam ini tidak hanya dialami oleh saya saja, orang lain di manapun bisa juga mengalami dan merasakannya. Seandainya kita bisa belajar dari pengalaman ini, barangkali orang bisa lebih waspada sekaligus mengantisipasi peristiwa serupa. Dengan kata lain, kita mestinya juga memikirkan dan harusnya membuat tempat sampah yang didesain sesuai fungsi. Jika perlu, fungsinya itu desesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Hanya sebagai antisipasi, karena bagaimana pun, bukankah menjaga itu lebih baik dari pada mengobati?

Ajaib juga, mereka, orang-orang di luar negeri sana yang justru mengetatkan peraturan soal rokok merkok ini, justru menjadi orang yang sangat menghargai perokok dengan menyediakan tempat sampah yang sangat eksklusif itu. Tapi kita…?   

Walau demikian, tetap saja, manusia itu sendirilah yang sebenarnya menjadi titik utama perihal sampah menyampah ini. Perilaku disiplin, taat aturan, dan gaya hidup bersih mestinya menjadi sebuah keniscayaan bagi setiap orang. Tidak perlulah kita bergantung pada pemerintah untuk masalah ini. Tahu sendiri, pemerintah kita lebih sibuk mengurus negara, politik, ekonomi, subdisi BBM dan lainnya. Justu dari kita sendirilah mestinya hal ini dimulai. Karena kalau bukan kita, siapa lagi? [FA/“Saswaloka”]

Monday, August 18, 2014

P Project: Kembalinya Si Anak Kost

Bagi generasi 90-an, kehadiran Padhyangan Project (P-Project) yang mengisi program di salah satu televisi swasta barangkali menjadi semacam pengobat rindu. Dengan vitalitas yang prima, personel yang digawangi oleh Denny Chandra, Daan Aria, Joe (Juhana Sutisna), Iszur Muchtar, Iang Darmawan, Wawan Hanura dan Deden Herman ini ternyata masih saja produktif.

Bukan isapan jempol bagi sebuah “boyband” yang dibentuk sejak 4 Desember 1982 ini bisa eksis sampai sekarang. Tentunya, tetap dengan tidak menghilangkan ciri khas mereka sebagai seniman drama komedi berformat kabaret yang menjadi wahana penyalur bakat serta ide-ide gilanya. Dan hebatnya, tidak ada satu pun yang bisa menyamainya.

Mungkin masih terngiang di ingatan bagaimana mereka menyedot perhatian kita dengan debut pertamanya berjudul Nasib Anak Kost (Oo… Lea… Leo, 1993) di televisi. Lagu yang diadaptasi dan yang judulnya dipelesetkan dari lagu That’s The Way Love Goes-nya Janet Jackson ini telah berhasil menempatkan kelompok seniman ini di panggung hiburan. Walau kenyataanya, mereka telah lebih dulu berkutat di dunia ini ketika masih menjadi penyiar Radio Oz di Bandung dalam acara Gelak Gelitik OzG.

Setelah itu eksistensi mereka pun bertambah seiring kesuksesannya. Lagu-lagu seperti Kop & Heden (Jilid 2, 1994)—diadaptasi dari lagu Close to Heaven-nya Color Me Bad, Antrilah di Loket (Jilid 3, 1996)—diadaptasi dari lagu I Can Love You Like That-nya Color Me Bad, Mudik (Jilid Lebaran, 1997), dan Lagunya Lagu Bola (Jilid 4, 1998)—diadaptasi dari lagu La Copa De La Vida-nya Ricky Martin, pun mengisi khazanah dunia musik Indonesia. Mungkin tidak pernah kita mendapatkan sebuah kelompok yang tidak hanya membuat kita tertawa, tapi juga membuat kita bernyanyi dengan lantunan-lantunan lagunya. Sungguh komplit bak 4 sehat 5 sempurna: ada karbohidrat (musik),  protein (lirik), dan yang pasti vitaminnya (parodi).

Kemunculan P-Project di stasiun televisi sendiri bukan tanpa alasan. (Walau secara progresif, masing-masing personel P Project mengembangkan sayapnya di dunia hiburan yang lain, seperti halnya Iang Darmawan yang acapkali terlihat berperan akting di sinetron televisi, juga Joe P Project yang bahkan sering terlihat di film layar lebar, dan Denny Chandra yang sekarang-sekarang ini tengah anteng-antengnya menjadi host di program Indonesia Lawak Club di Trans7.) Setelah banyak disinyalir dari para senior komedian, dunia komedi di panggung hiburan justru seperti arah jarum jam yang berputar ke belakang.

Para, yang katanya, komedian dalam setiap acaranya malah saling mengejek bahkan menghina. Belum lagi teknik lawak seperti menggunakan tepung yang sengaja ditumpahkan atau dipupurkan ke wajah  lawan mainnya pun semakin memperlihatkan tidak kreativnya komedian generasi sekarang. Akal mereka seperti tumpul untuk mencari inovasi cara dan teknik melawak yang berbobot dan berkualitas. Pada akhirnya, yang ada hanyalah sebatas lawakan-lawakan garing, yang ujung-ujungnya sudah ketahuan oleh para penontonnya. Padahal, P Project sendiri tidak pernah memperlihatkan hal (parodi) yang sama di setiap penampilannya. Lihat saja perkembangan lagu-lagu di setiap albumnya, juga penampilannya di panggung ketika mereka punya program sendiri di stasiun SCTV.

Barangkali seperti DKI (Dono, Kasino, Indro), Bagito (Didin, Miing, Unang) dan Patrio (Parto, Akri, Eko)—untuk menyebut beberapa saja grup lawak besar, P Project adalah salah satu grup lawak yang juga paling ditunggu-tunggu penampilannya di televisi. Semoga kemunculannya kali ini, selain bisa mengobati kerinduan para fans juga bisa menyembuhkan “kemandulan” dunia lawak negeri ini, tentunya dengan napas dan nuansanya yang baru. Dan semoga "Si Anak-Anak Kost" ini masih tetap “gila” seperti sedia kala. [FA/“Saswaloka”]

Pic: id.wikipedia/wiki/Padhyangan 

Saturday, August 16, 2014

Bahasa Sebagai Indikator Peradaban Bangsa

Sebuah kalimat berbunyi: Jika seseorang ingin mengubah hidupnya, maka ia harus terlebih dulu mengubah bahasanya. Peribahasa Sunda berkata “Hade goreng ku basa.” Seyogianya, bahasa adalah representasi jati diri sesorang. Pada bahasalah seseorang memperlihatkan identitasnya. Ia menjadi tolak ukur keber-adaban manusia.
Kesadaran akan bahasa merupakan indkotrinasi. Ia dicapai bukan melulu lewat jalur akademik yang mengumbar begitu banyak teori. Bahkan ada kalanya teori-teori itu pun tidak bisa membendung bahasa sebagai makhluk yang terus berevoulsi—sesuatu yang berbanding lurus dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia itu sendiri.
Kesadaran pun bukan sesuatu yang final. Sejauh manusia dan bahasanya berkembang, sejauh itu pula kesadaran dibutuhkan. Permasalahannya sekarang adalah, apakah kesadaran itu berwarna positif atau negatif. Tentu, di tengah rongrongan multimedia yang gencar, selalu ada kesempatan bagi bahasa untuk menampakkan kelemahan-kelemahannya. Sayangnya, tidak ada filter atau penyaring mana dari wujud pikiran itu (bahasa) yang benar dan baik dengan yang sebaliknya. Di sinilah logika punya peran.


Thursday, August 14, 2014

Guru (Honorer) Oh Guru (Honorer)*

Tahun Pelajaran baru artinya sekolah baru. Barangkali itulah yang terbesit di kepala para guru khususnya guru honorer, setidaknya yang berada di wilayah Subang Selatan ini. Setiap tahun pelajaran tiba, tidak sedikit guru yang pindah dari satu atau lebih sekolah ke sekolah lainnya. 

Perilaku nomaden sekaligus "selingkuh" ini jelas bukan tanpa alasan. Beberapa orang beralasan bahwa dasar kepindahan mereka adalah soal kenyamanan. Tapi yang paling santer terdengar dan menjadi sangat signifikan adalah soal kebutuhan, ya, apa lagi kalau bukan masalah kesejahteraan? 

Mereka berpendapat jika sekolah yang ditinggalkannya ternyata tidak cukup bijak untuk memperjuangkan dirinya setelah dirinya memperjuangkan sekolah. Dalam artian, guru-guru yang berbakti dan mengabdi kepada sekolah selama bertahun-tahun, ternyata tidak cukup diperhitungkan ketika dirinya punya kesempatan untuk bisa--sebut saja--mendapat sertifikasi: sebuah pembaiatan dimana seorang guru telah benar-benar dinyatakan sebagai guru profesional hingga dirinya tidak lagi seperti ikan yang bernapas dalam lumpur. Walau, kenyataan di lapangan, begitu banyak guru yang disertifikasi tapi masih tidak layak disebut profesional. 

Pil pahit yang setiap tahun harus ditelan oleh guru-guru honorer di banyak sekolah ini terkait oleh pembawaam kepemimpinan. Karakter pemimpin sekolah yang--dalam kasus di wilayah Subang Selatan ini-- kebanyakan berada di bawah naungan yayasan, sangat kental dengan sikap subjektif, oteriter dan nepotisme. Barangkali karena dia adalah pemilik yayasan, maka dia bisa seenak dan semaunya bersikap dan bertindak untuk yayasan sekaligus sekolah yang dimilikinya. Hal ini jelas sudah menjadi pengetahuan umum di wilayah ini. Sabiwir hiji, begitu kata peribahasa Sunda. Meski begitu, tidak semua memang para pemimpin yayasan punya sikap dan sifat demikian. Yang lurus-lurus saja pun ada, walau tidak banyak.
 
Alih-alih untuk menciptakan suasan KBM yang kondisuf diiringi dengan sistem yang mumpuni, atau yang lebih jauh lagi, yang barangkali menjadi dasar kenapa harus ada sekolah dan pendidikan di negara ini, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, yang justru kecipratan jeleknya adalah manajemen sekolah. Dan siapa lagi kalau bukan guru (honorer) yang harus merasakan akibatnya? Sungguh sebuah ironis: ketika para guru kerja siang malam mengurus sekolah, mengajar dan mengerjakan seabreg tugas kependidikan, dengan kara lain mencoba memintarkan bangsa ini, kenyataan yang ada justru merekalah yang seringkali dibodohi dan dibohongi oleh para pemilik kebijakan--untuk tidak menyebut pemerintah. Bukankah itu yang disebut namanya "Air susu dibalas dengan air tuba?" Air susu diberikan oleh guru, tapi justru racun yang didapatkannya. 
Entah samapai kapan guru-guru honorer yang kecewa dan dikecewakan, yang tetap memegang prinsip dan motivasi sebagai seorang pendidik dan pengajar dalam hatinya, harus jor-joran bergelut dengan keadaan seperti ini dari waktu ke waktu. Hanya berusaha mencoba untuk mendapatkan penghargaan dan sedikit saja pengakuan dirinya sebagai guru, lagi-lagi mereka harus mencari tempat mengajar lagi, memulai dari nol lagi, serta berharap dan berharap lagi, entah untuk ke berapa ribu kali. [FA]

*) sebuah celoteh sebagai teman minum kopi.

Tuesday, August 12, 2014

[Puisi] Pohon Waktu


Pohon Waktu

Waktu telah menyampaikanku
pada daun-daun. Akar-akar
tak lantas pongah menunjang batang
dan tumbuhkan tunas-tunas
tetap diam sebagai sepi
Di bawah tanah tempat semua kembali
Tapi tidakkah terlalu dini untuk
mengkhidmati napas ketika hari
mengantarkan kicau burung
lantunkan puja puji
Maka berjalanlah aku ke arah barat
Ke kaki gunung di mana sebuah legenda
tak lagi terdengar kecuali julang tubuhnya
yang menjelma jadi perahu terbalik
Di sini kembali aku mengenal tanah
dan menyembah matahari
hingga akhirnya air langit pun jatuh
di telapak tanganku dan menumbuhkan
tunas-tunas muda di jari-jemariku

Subang, 04 Agustus 2014


Tentang Tanah

Bahkan tanah pun meminta restu langit
menghidupkan bumi
mengikhlaskan merahnya sebagai darah
yang kuteteskan di ujung kemarau nanti

Subang, 04 Agustus 2014

Thursday, July 24, 2014

Tentang Label: Ini Itu

Dalam literatur, label pada sebuah situs atau blog sama halnya dengan indeks di sebuah buku. Walau kenyataannya, memang, tidak setiap buku memiliki indeks yang biasa terlampir di halaman-halaman belakangnya. Sebagian penerbit--biasanya lewat wewenang editor--mencantumkan indeks di sebuah buku; sebagian lagi tidak, khususnya buku-buku terbitan penerbit di negeri ini. Lain lagi ceritanya dengan buku-buku terbitan luar semisal di negeri Paman Sam atau negeri Pangeran Williams. Padahal, jika harus dibandingkan, indeks sebuah buku itu sangat membantu pembaca, atau siapa pun yang memang punya kepentingan dengan buku tersebut.

Hal ini bisa dirasakan ketika pembaca harus mencari kata khusus atau yang biasa disebut kata kunci di sebuah buku. Untuk kebanyakan buku-buku dalam negeri, pembaca mungkin akan merasakan kesulitan dalam mencari kata kunci yang dicarinya itu. Pasalnya, buku-buku kita memang masih lebih mengutamakan sampul dan segala tetek bengek testimoninya; masih bergelut dengan menyenangkan mata calon pembelinya ketimbang membantu pembacanya. Maka yang didapat mantan pembeli tak lebih dari buku yang bersampul warna-warni, daftar isi, isi bukunya, orneman buku, kertas yang makin ke sini makin jelek kualitasnya--seperti kertas buram untuk mengotret pas ujian matematika di sekolah, iklan di halaman belakang, dan tentunya testimoni. Lebih dari itu tidak. Pembaca yang mencari kata kunci pun hanya berpatokan pada daftar isi buku, selebihnya dia harus membaca seluruh isi bukunya. Menyulitkan memang, tapi mau apa lagi?

Beda dengan buku-buku terbitan luar negeri. Terlebih buku ilmiah, buku sastra pun terkadang mencantumkan indeks di halaman belakangnya, semisal novel Dunia Sophie karya Jostein Gaarder. Tidak hanya itu, terkadang penerbit luar pun tidak melihat apakah buku itu tebal atau tipis. Mereka justru berpikir bahwa index itu penting untuk disimpan di belakang buku, dan mereka pun memang melakukannya. Literary Theory: A Very Short Introduction karya Jonathan Culler yang tipis tapi berwibawa mungkin salah satu contohnya. Mencari kata kunci di kedua buku ini, juga di buku-buku yang memang mencantumkan indeks,  pembaca akan sangat dimudahkan. Pembaca hanya tinggal melihat indeks di halaman-halaman belakang buku, tinggal cari kata kuncinya di sana. Tidak hanya itu, pembaca pun akan ditawarkan beberapa nomor halaman yang mencantumkan kata kunci yang dimaksud. Bahkan ada kalanya kata kuncinya tidak berupa per satu kata, tetapi berupa frase juga. Setelah mendapatkan nomor halaman, pembaca pun tingga mencarinya dan Voila: kata kunci yang dicari pun ditemukan terangkai di kalimat dan paragrafnya.

Oleh sebab itu pulalah Blog Saswaloka ini mencantumkan indeks bernama label yang admin ganti namanya dengan "Palibaya Kata". Terkait apa saja kata kunci dan apa saja isinya di bawah ini penjelasannya:

1. Academia, label yang satu ini memuat tulisan-tulisan bernapaskan ilmiah dan edukatif, semisal: skripsi, makalah, artikel, dll. Sejauh ini Blog Saswaloka concern dengan tulisan yang berhubungan dengan (kritik) sastra, pendidikan, dan agama.

2. Akal Kesebalas, label yang ini bisa jadi tempat "paneumbleuan" alias tumpahan dari buah pikir yang nyeleneh, kontroversial, atau genial. Tulisan-tulisan di label ini mungkin termasuk ke dalam ide lama, atau bahkan ide baru. Penting untuk ide atau inspirasi yang cemerlang itu untuk dicatat. Nah, di label inilah semua penjelasannya dielaborasikan.

3. Bahasa, jika anda orang bahasa, atau orang yang menyukai bahasa entah mempelajarinya atau menelitinya, di sinilah tempatnya. Label ini memuat tulisan-tulisan yang berhubungan dengan bahasa, tak hanya dalam arti literal tapi lebih luas lagi.   

4. Benih dalam bahasa Sanskerta berarti Uma, label ini menjadi semacam tempat untuk menyimpan ide-ide dan buah pikiran berupa kutipan, yang bisa jadi merupakan tesis, antitesis, atau mungkin sintesis.

5. Biografi, jelas.

6. Cerpen, label yang memuat cerpen-cerpen bikinan admin (Firman Nugraha/ Fim Anugrah/ Pipin Saswa), yang ditolak media massa; juga bikinan cerpenis lainnya.

7. Cerperimen, diambil dari kata cerpen dan eksperimen. Label ini memuat cerpen-cerpen di luar dari mainstream kebanyakan cerpen yang ditulis di muka bumi ini (sok global) alias tidak biasa, mulai dari tema, penceritaan, maupun gaya bahasa, dan banyak lagi.   

8. Download, label yang memuat e-book yang bisa didownload oleh siapa pun, baik dengan apresiasi-- seperti meninggalkan jejak komentar, maupun tidak. (Pantas sastra di negeri ini ga maju-maju, ternyata tidak ada apresiasi/apresiatornya! #curhatmodeon. Mental-mental gratisan terkadang tidak baik untuk dibiarkan.)

9. Ekografi berasal dari kata ekologi dan graph/graf yang berarti tulisan. Dengan kata lain, tulisan yang berhubungan dengan ekologi. Awalnya blog ini memang dibuat dan concern terhadap masalah lingkungan. Tapi untuk selanjutnya, blog ini akan memuat apa pun sekehendak admin-nya. Yang penting, tetap menulis!

10. Ekokritik, berasal dari kata ecocriticism atau paham kritik ekologi yang digunakan di wilayah sastra, label ini  memuat tulisan yang berhubungan dengan sastra dan lingkungan, ditengarai oleh skripsinya admin. 

11. Kine, label ini memuat video yang dibuat oleh admin. 

12.  Miscellaneous, label ini memuat bermacam-macam tulisan semau suka dan sesuka mau admin tentang dan dengan cara apa pun.

13.  Musikologi, dari katanya sudah jelas. Label ini memuat tulisan yang berhubungan dengan musik dan ilmu yang membahas soalnya. 

14. Notifikasi, label ini jadi semacam papan pengumuman untuk blog ini, seperti halnya menu notification di Facebook, apa bedanya?

15. Pohon Sejarah, label ini merangkum tulisan-tulisan yang berhubungan dengan sejarah. Semacam sebuah usaha untuk mencari akar hidup dari pohon hidup yang tumbuh dan berkembang ini.

16. Psikologi, label yang menghimpun semua tulisan yang berhubungan dengan psikologi dan kepribadian.

17. Puisi, jelas.

18. Religi, label yang memuat tulisan yang berhubungan dengan agama.

19. Reportase, layaknya surat kabar atau berita di teve, label ini memuat tulisan berita yang terjadi di sekeliling lingkungan admin, atau yang memang admin ingin buat beritanya. 

20. Resensi, memuat ulasan tentang buku, atau apa pun. 

21. Sastra, jelas, sastra Indonesia saja

22. Sastra Rusia, label ini menjadi tempat kumpul tulisan apa pun yang berhubungan dengan sastra Rusia, semisal cerpen.

23. Snapshoot, label yang memuat jepretan admin. 

24, The journal, label yang satu ini khusus tempat admin untuk menyimpan curhatan ilmiah (journal) atau curhatan biasa (diary). 

Demikianlah, label-label yang ada di Blog Saswaloka ini. Semoga bisa memudahkan admin dan pengunjung. [FA]