Monday, May 21, 2012

Orang Baik

“Saya ini bukan orang baik!” Setidaknya, itulah yang dikatakannya padaku. Dalam gelimang dosa yang dilakukannya semasa muda dulu, saat ini dia hanya bisa menjalani apa adanya. Tak mau banyak nuntut, tak ingin banyak mau.

Hanya, ada hal yang sampai detik ini disesalinya. “Kalau saja dulu saya menerima tawarannya, mungkin hidupku takkan seperti ini. Melarat, tiap hari mencari rezeki, mencari nikmat,” ucapnya dengan penyesalan yang tergambar di raut wajahnya.
           
Aku bertemu dengannya tak lama setelah satu bulan bekerja di tempat baru. Sebuah sekolah swasta milik sebuah yayasan yang harum namanya, tapi tidak orang-orangnya. Baju safari membungkus tubuhnya yang kecil. Kacamata nongkrong di atas hidungnya. Tak seutas rambut pun menempel di kepalanya. Sambil menghirup-hembuskan asap rokok, dia tertawa begitu renyah. Dia bercerita tentang pengalamannya mengajar di sekolah bertaraf internasional di ibu kota.

Tetangga Wartawan Kerajaan Sumedang

Ingin kuceritakan seperti apa tetanggaku ketika aku masih di kamar yang dulu. Kamar kecil kedua dari kanan dan tak cukup indah dipandang itu. Bukan tetangga yang berada di kananku –mereka adalah sebuah keluarga muda: bapak yang berasal dari Jawa dan Ibu yang berasal dari desa perbatasan, dengan balita perempuannya yang masih kecil.

Tentunya, mereka sekarang sudah tidak ada lagi di sini. Mereka pindah ke rumah keluarga asalnya, entah di mana. Sedang kamarnya, sudah didiami oleh keluarga yang lain. Seorang istri muda dan seorang suami gagah berbadan kekar. Tapi, bukan mereka yang bakal aku ceritakan. Aku ingin menceritakan tetangga yang dulu sempat tinggal di sebelah kiri kamarku. Sebuah keluarga yang sedikit lebih memiliki keunikan menurutku.

Sebetulnya, tak sampai satu minggu setelah kedatanganku ke kontrakan ini, sebuah keluarga mengisi kamar itu. Kamar yang si empunya tidak pernah menawarkannya padaku, entah apa alasanya. Aku tak mengetahui secara langsung bagaimana keluarga itu pindah, karena pada saat itu aku memang lebih banyak menghabiskan waktu di Djati di rumah temanku, dan di sekolah. Yang aku tahu, sebuah sepeda motor sudah berada di depan kamar itu dengan seorang bapak yang entah mengerjakan apa pada motornya itu.

Tikus

Uded tak habis pikir, bagaimana mungkin akhir-akhir ini dia bisa bertemu dengan banyak tikus. Tikus-tikus ini tidaklah berdasi melainkan hanyalah tikus dengan perawakan yang sederhana. Tikus berkemeja, tikus bersandal, tikus berkendara, bahkan ada juga tikus yang berkopiah.

Awalnya Uded tidaklah terganggu, karena dia berpikiran bahwa tikus juga makhluk, sama-sama ciptaan Tuhan. Dan, “bukankah sesama makhluk itu dilarang untuk saling mengganggu?” begitu dia berkata pada dirinya sendiri.

Tapi makin lama, bahkan sebelum melihat tikus-tikus ini bertingkah, dia sudah geram lebih dulu. Betapa tidak? Tikus-tikus itu datang tanpa permisi dan pulang tanpa pamit. Mereka berkumpul dengan orang-orang tanpa pandang bulu. Mereka ikut berdiskusi dan melontarkan pendapat seolah menyatakan keberadaannya dengan berkata: “Saya ini tikus, dan perhatikanlah saya berbicara!”

The Curtain Is Falling Down

I've deleted two posts at a  time. Posts that are not necessarily significant as my hypothesis results the fact. The fact that occurred several hours ago when I was in the class teaching my students. At the beginning, I knew that this community was flawed. The intention for making this community was actually great. Unfortunately, the man behind it made no clear concept bout it. I've delivered some suggestion due this, but rigidity became the acceptance I've got. Moreover, each person seemed walk in their own path. No schedule, no routines, nothing but hunted for one pleasure by himself only and not for the community. What kind of community is that? It's not a community, it's only a forum. Gather in a time and then dismiss after the gathering is done. 

It's not one or two times I've dealt within this kind of situation. The number were countless. Until, when I was teaching in the class, a text delivered by one of them said that there were going to track the road. Didn't they think the others who in that time was in a such busy regarding their job, the other friend and my job? Easily,  they said that I've to catch them up while I don't even know the route, surely, cause I am new here in this neighborhood. They just want to track without thinking much bout community, or how to built it, to expand it. They're just fond in asking and seek their own pleasure, each person, but don't really fond of building the true community. What can I be proud of it? Nothing. 

At last, as the conclusion, I made my own "track" as I commit to my hobby: reading, writing, blogging, and everything I like. All by myself, and don't think that I have to give my focus, energy, and time upon this community. This flaw community which by itself that the curtain is sinking down. The truth occurs and I have to face the reality under protest. 

Hah! Just, another (pathetic) phase of life.      

Thursday, May 10, 2012

Cerita Tentang Bagaimana Doni dan Ali Bertengkar

archives
Jika bukan karena hormat dan menghargai suami, barangkali saat ini Yanti sudah mendatangi Ali dan mengobrak-abrik rumahnya. Betapa tidak? Tindakan Ali sudah tak bisa lagi ditolerir oleh Yanti, bahkan oleh siapa pun. Istri mana yang diam saja melihat suaminya disepelekan orang lain, yang segala kepemilikan dan keahliannya diaku-aku orang lain? Sesabar-sabarnya orang, tetap saja ada batasnya, pikir Yanti. Begitulah ia jika sudah tak bisa menahan amarah.

Kendati demikian, tak sampai pula niatnya itu kesampean. Karena setiap kali Yanti mulai terlihat marah, Doni, suaminya, selalu menghadapinya: meredakan Yanti dengan rasa sabar Doni yang perempuan mana pun bisa jadi luluh dibuatnya. Ada kalanya Yanti sendiri marah terhadap sikap Doni yang selalu menganggap bahwa permasalahan apapun yang berhubungan dengan tingkah laku Ali, dianggapnya hal yang biasa.

Friday, May 4, 2012

Asal Muasal Daun Pohon Gugur

Pada zaman dahulu kala, ketika manusia belum ada, bumi hanya ditinggali oleh pohonan dan binatang. Kedua makhluk ini saling berbagi antara satu sama lain dalam keharmonisan. Seandainya. Suatu waktu, di kala musim dingin tiba, burung-burung harus terbang ke Selatan, ke tempat dimana cuaca lebih hangat dari tempat yang ditinggalkannya. Tapi mereka akan kembali di musim yang lain jika cuacanya sudah hangat.
            Suatu hari, dalam sebuah perjalanan untuk menghindari musim dingin, seekor burung Pipit terluka. Dia tak kuasa untuk terbang bersama keluarganya ke tempat yang lebih hangat. Dengan begitu, dia pun memilih untuk tinggal saja, meninggalkan keluarganya terbang ke tempat yang ditujunya.

Wednesday, May 2, 2012

Menikah Itu Bukan Main-Main

Cukup lama saya menyimpan pikiran ini. Bukan pikiran tentang keinginan untuk menikah; apa yang harus dilakukan di saat melamar; atau apa pun yang berhubungan dengan segala macam resepsi dan lain sebagainya.

Tetapi soal bagaimana pernikahan menjadi sebuah tanggungan yang harus dijawab segala beban dan masalahnya. Bukan hanya sebatas gerbang menuju hidup baru bersama Si Doi, menyatukan dua hati, membulatkan iman dimana saling mengisi dan saling pengertian dibutuhkan. Karena saya yakin, setelah apa yang saya lihat, itu hanya pemanis saja, semacam appetizer alias makanan pembuka sebelum kita menyantap main course-nya.

Memang, gairah seringkali mengalahkan logika sebagaimana yang dirasakan mereka yang merasa dirinya sudah dewasa. Sudah waktunya untuk hidup berdampingan dengan “tulang rusuknya”. Gairah yang sebatas kemauan yang besar dan menggebu, yang menciptakan tren nikah muda di kalangan masyarakat sekarang, tapi tidak punya pengetahuan bagaimana membina dan menjalankan keluarga.