Tuesday, July 8, 2014

Hadiah Lebaran

"Perempuan Cikopi" Oleh FA
Cerpen Fim Anugrah

“Mau hadiah apa, Pin, nanti buat lebaran?” begitu tanya Amah suatu waktu pada Pipin, anaknya. Pertanyaan itu belum sempat dijawabnya. Karena bahkan sebelum dijawab pun, hal itu justru malah membuat Pipin bingung sampai-sampai seringkali ia bertanya pada dirinya sendiri: “Mau apa, ya, buat lebaran nanti?”

Sebenarnya cukup aneh juga jika pertanyaan seperti itu bisa keluar dari mulut Amah. Dalam tengah kondisi keluarganya yang pas-pasan, terlebih untuk membeli hadiah atau keperluan sampingan lainnya, membeli keperluan sehari-hari pun ada kalanya minta ampun susahnya. Kondisi itu, betapa Pipin telah menyadari dan memakluminya.

Kampung Janda


Cerpen Fim Anugrah
"Menunggu Kakek Yang Tiada " oleh FA

Pada hakikatnya, jika tidak dipuji, maka seseorang akan memuji dirinya sendiri. Tapi pujian ini tidak cukup pantas diterima oleh kampung itu, termasuk orang-orangnya. Mereka ingat bagaimana sebuah desa mendapatkan pujian lewat sebuah gelar “Desa Layak Anak” yang tertera dengan huruf besar di gapura perbatasan. Alih-alih berpikiran bahwa penduduk desa itu memang kurang anak, orang-orang  justru beranggapan bahwa orang tua-orang tuanya adalah manusia-manusia impoten.
Memang sudah lebih dari dua puluh tahun ini pemerintah di kota S itu menyelenggarakan program pemerian gelar atau “pujian” bagi kecamatan dan desa yang ada di kota tersebut. Ada kecamatan yang punya gelar “Kecamatan Pesawahan”, “Kecamatan Pegunungan”, dan banyak lagi. Tapi itu belum seberapa jika dibandingkan dengan gelar yang dimiliki desa-desanya. 

Sunday, May 11, 2014

Membaca Zaman: Batas-Batas Yang Pupur

Peradabaan tumbuh begitu juga ilmu pengetahuan yang makin lama terlihat makin spesifik saja. Dulu kita mengenal sastra, sekarang kita mengenal sastra islami, atau sastra XXX, dan banyak lagi. Dulu kita hanya mengenal berita dibawakan begitu rupa. Singkat, pada, jelas, aktuan dan faktual. Sekarang tak ayal pembawa beritanya pun ikut-ikutan beropini. Penonton yang tidak sadarkah, atau mereka yang mencoba menggurui apa yang kita terima?

Kenyataanya, kategori-kategori itu makin lama makin tipis bahkan bisa jadi tidak ada. Seyogianya kita mengkategorikan bentuk-bentuk kebudayaan ini menjadi sangat rigid dan, mungkinkah itu dilakukan atas nama eksistensi atau, tak lebih dari akal manusia yang tak ada habisnya? Sebut sebuah novel Laskar Pelangi. Orang awam hanya mengetahui bahwa itu adalah novel, sebuah karya sastra. Tapi jika harus dikategorikan, apakah kategorinya? Sastra umumkah, atau mungkin sastra anak? Percis Harry Poter bahkan The Hobbit-nya J.R.R Tolkien. Kita menganggap kedua karya itu adalah sastra umum (untuk tidak mengatakannya adult literature). Kenyataannya, di luar sana kedua karya sastra ini dikategorikan sebagai sastra anak. Nah! Ternyata manusia Indonesia sudah membaca buku anak-anak kalau begitu.

Pentingkah mengkategorikan semua bentuk kebudayaan manusia itu? Alih-alih membuat eksistensi atas pengkategorian itu, yang kita rasakan justru hal ini makin menghapuskan batas-batas antara yang satu yang lain. Sekarang, buku anak-anak sama saja dengan buku orang dewasa. Sekarang berita tidak jauh beda dengan gosip. Sekarang lagu orang dewasa sama saja dengan lagu anak-anak. Sekarang, sudah mulai turun gorden yang memisahkan segalanya. Semua mulai pupur, kembali ke zaman Firaun dimana manusia dan bintang tidak jauh beda. Keduanya hanya makhluk. Tuhan yang punya.

Friday, March 14, 2014

Bahasa Bayi

Baru saja saya ngobrol dengan istri saya tentang kemampuan anak kami yang saat ini berusia sembilan bulan. Usia dimana seorang batita sudah mulai mengenal alat-alat ucap yang dimilikinya, dan mulai mengeksplorasinya. 

Alih-alih untuk mengetahui kapan seorang anak sudah mumpuni untuk bisa berbicara, kami, lebih tepatnya saya, justru mengamati perkembangan putri kami yang satu ini. Dan janganlah ini disebut sebagai penelitian, karena tidak ada metode ilmiah yang digunakan dalam prosedur penganalisisannya. Ini hanya semacam pengamatan perkembangan kami terhadap putri kami yang bernama Kirana Ismi Nurlatifah. Lagi pula ini hanya naluri seorang orang tua saja pada anaknya.

Untuk usia delapan tahun, putri kami sudah mulai bisa mengucapkan beberapa frase tak bermakna seperti yayah, mamah, bebe, titit, nenen, dan beberapa frase yang cukup susah untuk mentranlantasikannya pada huruf latin yang ada. Hal ini kami waspadai semenjak Kiran menginjak usia delapan tahun. Dan yang lebih menarik adalah ketika ternyata untuk usia yang sangat masih muda, Kiran sudah tanggap dan respon terhadap bahasa yang diucapkan oleh orang tuanya. Semisal ketika kami memanggilnya dengan panggilan Neng Kiran, dengan sangat sadar dia menolah terhadap si pemanggil. Dan ini, sebuah keniscayaan. Maksud saya, artinya bahwa ternyata putri kami sudah memiliki pengertian untuk dua kata yang dimaksud, dimana kata Neng Kiran sudah menjadi alaram baginya untuk menengok kepada si pemanggil. Mungkinkah si anak sudah mawas terhadap lingkungannya?

Meski begitu, dikarenakan belum sepenuhnya tahu bahasa dan mengenal alat ucap yang dimilikinya, kadang Kiran pun tidak bisa mengungkapkan suatu keinginan dengan kata-kata. Tentunya. Semisal, ketika tubuhnya menelungkup dengan kedua tangan  terangkat ke atas sambil dikepalkan dan kaki yang ditegang-regangkan sedemikian rupa, itu artinya dia ingin bangun dari tempatnya. Ingin digendong atau ingin jalan-jalan. 

Terkadang, ada-ada saja ulahnya. Semisal dalam keadaan tengah senang, dia acapkali berceloteh dengan frase-frase yang telingapun susah untuk menangkap apa huruf yang diucapkannya. Mungkin seperti kata mama, baba, yaja, baya, dan yang lainnya. Dan, sebagai orang tua, hal itu cukup menyenangkan sekaligus membahagiakan. Itu artinya dia mulai mengolah alat-alat ucapnya meski belum sepenuhnya diwaspadai.

Awalnya saya menyangka jika perkembangan bahasa Kiran adalah ketika ia tengah berusia tiga bulan. Bagaimana tidak, betapa kagetnya ketika suatu waktu di kala saya tengah duduk di ruang tengah dan Kiran terbangun dari tidurnya seraya berkata, ng-ging, ng-ge, mbi, mbe. Empat frase itu diucapkannya secara berurutan dan dengan jelas sekali! Akan tetapi ternyata itu hanya sebatas ekspresi. Barangkali belum ada kesadaran akan kepemilikan alat ucap, akan tetapi itulah sepertinya pertama kali alat ucapnya bekerja.

Dari pengamatan dan ternyata dibuktikan juga oleh beberapa literatur yang saya baca, pada usia tiga bulan sebenarnya seorang bayi sudah bisa memproduksi suara. Adapun huruf-huruf yang diucapkannya adalah huruf-huruf gutural (tekak) yakni huruf 'g', labial yakni huruf "m" dan "b", serta huruf cerebral yakni huruf "ng". Dan hal ini akan terus berkembang seiring usia dengan berbagai macam faktor seperti keterlibatan lingkungan yang menengarai kondisi psikologis anak. 

Sampai sekarang, memang ada perkembangan alat ucap putri kami dengan berkembangnya alat ucap yang diperlihatkan dari begitu banyak suara yang dihasilkannya, meski belum tentu huruf latin bisa mentranslasikannya. Bahasa alien, begitulah kadang kami menyebutnya. Karena kami memang tidak bisa mengetahui huruf apa yang diucapkannya. Sejauh ini, Kiran sudah mengeluarkan huruf-huruf yang jika kami harus memetakannya pada huruf yang kami tahu, adalah huruf konsonan "b", "d", "g", "m", n", "y" dan tiga huruf vokal yakni "a", "e" dan "i". Untuk huruf konsonan, dalam ilmu fonologi, barangkali hanya sebatas pada huruf gutural, cerebral, labial, semivowel, dan dental. 

Barangkali sebuah kebiasaan, ketika bangun tidur, ketika tengah bermain, atau ketika sesudah malam tiba, Kiran akan melihat beberapa poster di dekat tempat tidurnya. Poster bergambar binatang, buah-buahan, bahkan huruf hijaiyah itu kadang kami bacakan untuknya. Sambil melihat gambar dan menunjukknya, saya dan istri membacakannya untuknya. Seperti gambar kucing, tikus, kuda, sapi, apel, jeruk, mangga, dan kata-kata yang memiliki dua suku kata. Bahkan dari perkataan istri saya, ketika dia berkata ngaos (mengaji), secara spontan, Kiran akan mendekati poster huruf-huruf hiijaiyah dan istriku pun membacanya. Kedua tangan kiran akan menempel pada poster itu dan kadang memukul-mukulkannya.

Percakapan kami pun sampai pada bahasa apa yang akan kami gunakan sebagai sarana komunikasi dan interaksi untuk dan dengan Kiran. Karena saya pikir hal ini penting sekali. Bahasa daerah barangkali tak harus diajarkan secara formal--lingkungan sudah cukup mumpuni untuknya berbicara dan memahaminya. Bahsa Indonesia barangkali menjadi pilihan karena di dunia yang serba cepat ini, hanya bahasa inilah yang tak mengenal undak-usuk dan tak mengenal pula strata serta kasta. Tapi saya juga ingin agar Kiran mahir juga bahasa Inggris pada nantinya. 

Obrolan kami ini sebenarnya ditengarai oleh rasa prihatin atas banyaknya bahasa yang tidak tepat digunakan akhir-akhir ini di masyarakat. Saya pikir jika seseorang ingin hidup dengan baik dan benar, maka terlebih dahulu yang harus dipersiapkan adalah bahasanya dulu. Karena bahasa menentukan pribadi seseorang. Jangan sampai karena kesalahan berbahasa maka pikiran dan perilaku seseorang menjadi salah, hanya karena bahasa yang digunakannya itu ambigu, tidak bermakna dan sebagainya. Itu yang penting! Saya berharap semoga putri kami memiliki kemawasan terhadap bahasa,sebab itu adalah citra dirinya sebagai seorang manusia yang memiliki akal pikiran dan budi serta daya. [FA]

Tuesday, February 18, 2014

Budaya Menulis

Write, write, write. Yet one heavy task to be done. Frankly speaking, I don't write really often these days. It is not that I can't afford to do it, it's just that... I'm kinda busy lately. Moreover, the connectivity makes everything harder. (Thanks to XL--one of the Indonesia's phone provider--so that I'm able to have the internet connectivity again). 

By the way, speaking about writing. Ck... I can't say that Indonesian people have that culture. Lot of barriers must be dealt with to bump off the habit of writing over the people; of course, the world of education has its own role to achieve the issues. Unfortunate, the fact says that this world of field has also the problem itself, so that it is hard to say that Indonesian people has the culture to write as they has the culture to read. Give me a break, how can somebody write if he/she has no time to read. 

But, just keep it that in mind for a second. Below is my writing about writing of which I take for my archive when I was in college. The title is "Into A Writing Society". Have a good read and good share. Hope we can solve the problem together. Enjoy! Pleas click on the link http://upacarausia.blogspot.com/2012/01/into-writing-society.html    


Note: Have no article to be shared, I take it from the archive a year ago. This is my first post in year 2014. Peace :)  

Saturday, October 26, 2013

Berharap Mencipta Waktu


Apa yang harus aku ceritakan, selain kesibukan yang terus belanjut kulakukan. Setelah sibuk dengan segala macam tetek bengek UTS di sekolah kedua (GRAMI), kembali aku kembali ke sekolah pertama (Pagelaran 3) tanpa sedikit pun membawa harapan atau sekaligus berharap jika di tempat ini aku bisa bernapas panjang. Tak sebatas mengajar tapi juga bisa “hidup” menghidupi hidupku. Walau, aku tahu betapa sia-sia berkata seperti ini karena semua itu sudah berlalu, dan sungguh tak pantas untuk dipertanyakan lagi. 

Beberapa bulan di sekolah kedua, telah bisa kurasakan perbedaan. Perbandingan yang pada akhirnya memengaruhi keadaan diriku, jalan hidupku dan hal-hal yang berhubungan dengan kesejahteraan dan cita-citaku. Dua kran ternyata memang cukup membuatku aman ketimbang satu. Tapi cita-cita, sekali lagi aku bersengketa dengan waktu yang belum sampai aku miliki. Sampai kapan aku bisa memiliki waktu untuk duduk, berpikir dan menohok-nohokkan jari jemariku menguntai kata mencipta kalimat demi kalimat, paragraf, cerita yang utuh bernama novel itu. Novel yang membuatku terus-terusan membuat mimpi tentang kasih pertama. Aku melahirkan “bayi” dan kuberikan untuknya. Betapa mimpi yang abrusbd, aneh, abstrak dan sungguh teramat surealis. Aku mungkin tak mengerti apa maksudnya, tapi aku paham jika hal ini akan menyampaikanku pada sesuatu. Entah apa. Yang pasti ada. Hanya waktu—bukan untuk ditunggu—yang harus aku buat. Aku harus membuat waktuku sendiri untuk itu. Untuk cita-cita ini.

Aku takut. Bukan karena aku tak bisa melakukan hal yang seperti ini: menulis. Tapi karena aku sudah tak lagi bisa berbicara. Bicara yang lancar dan baik di depan orang-orang. Entah karena otakku bekerja lebih cepat, atau karena lidahku terlalu terlambat (atau mungkin terlalu cepat?) bergerak, sehingga aku tak lagi bisa berbicara dengan rapi dan teratur. Tata bahasa sudah hilang dari lidahku. Dan karenanya aku seakan tak bisa mengenal dunia. Ketika kalimat teramat kacau, maka bukan tak mungkin persepsiku atas dunia (atau bahkan duniaku itu sendiri) memang sudah kacau, tak bisa diungkapkan dengan sistematika yang baik oleh perangkat yang bernama bahasa itu. Jika sudah sepert itu, apakah mungkin aku bisa menulis dan bercerita, menulis cerita dengan baik jika keadaanku seperti ini?

Pernah aku menyangsikan kata dan bahasa, suatu hari ketika di bangku kuliah telah aku baca banyak buku. Bukan karena di buku itu penulis menggunakan persona pertama atau bahkan persona ketiga, atau bahkan seabreg metode penyampaian lainnya. Tapi aku yakin jika para penulis itu hanya tahu apa yang mereka tahu—lantas menceritakannya dalam sebuah tulisan—dan tak pernah benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi sebagai sebuah pengetahuan. Lihat saja buku-buku sejarah. Banyak penulis menulis tentang sejarah karena mereka tahu, entah dari buku atau dari narasumber lainnya, yang artinya apa yang mereka tulis berasal dari “katanya” orang. Tapi jika harus ditanya apakah sejarah itu sendiri berbicara sesuai dengan apa yang orang tuliskan tentangnya? Kita tak pernah tahu. Dan memang, sangat tidak mungkin sebuah Sejarah berbicara kata ia hanya fakta yang terbentang dimana mata manusialah yang harus menerjemahkan dan menuliskannya. Sayangnya, kita juga tahu, jika mata adalah media yang tidak bisa dipercaya. Ia gampang dimanipulasi.

Jika tidak, bagaimana mungkin ada fenomena dimana seorang manusia bisa melihat realita sedang yang lainnya bisa melihat dunia lain yang tak semua orang bisa lihat. Indigo, begitulah orang-orang menyebut mereka. Seandainya aku seorang indigo, atau bahkan mungkin anda, mungkinkah orang-orang akan percaya dengan apa yang aku atau anda lihat? Seandainya aku harus menceritakan kebenaran sedang orang-orang tak lantas percaya dengan apa yang aku ceritakan, apa yang harus aku lakukan? Jawabnya: Aku akan terus mencoba. Mungkin itulah jawaban terbaik, sebagaimana yang diungkapkan Denzel Washington di filmnya yang berjudul De Javu.  

Tapi kembali kepada masalah bahasa, makhluk yang satu ini sempat aku tak percaya. Meski jika harus dipertanyakan, di antara banyak hal yang ada di alam semesta ini, apa yang lalu harus percaya selain bahasa? Jawabannya tak ada. Tak harus kita membuat alasan karena hidup dengan banyak alasan adalah hidup yang tak nikmat untuk dijalani, begitu ucap Protagoras. Dan demikian pula aku terhadap bahasa. Aku cinta bahasa karena aku cinta. Dan itu sudah menjadi sangat cukup bagiku.[Saswaloka/FA]

Pic: http://learntoembracethestruggle.com/you-do-have-time/

Friday, September 6, 2013

Puisi: Teringat Kakek


Lama tidak menulis puisi. Setelah mencoba menulis, jadinya seperti ini:

Teringat Kakek
            -D. Zawawi Imron

Setelah gagal menangkap suara air
Aku teringat seorang kakek yang senang
menanam puisi di puncak gunung dan pucuk daun
Airmata dan ombak mencatat kisahnya
pada sebuah celurit yang kugunakan untuk menyabit
Bukan rumput, tapi kepala orang-orang buangan
yang hidup di penjuru hutan
berbajukan angin dan ketakutan
Entah sudah berapa lembah aku kunjungi
Tapi ceracau burung telah mengubur biji mata mereka
Sembilan  matahari pun bangkit dari balik bukit
Memangsa kepala orang-orang yang tak lagi bicara
pada tangan dan kakinya sendiri
Tepat ketika aku mendapati angin menampar kembali
wajahku dengan cerita seorang perempuan
yang mengandung mendung
dari langit yang tak sudi menurunkan hujan

Subang, 03 September 2013


Kalimat Sempurna

Adakah namamu tertulis
di kalimatku ketika kata-kata
dibawa angin sedang tak kutemukan
benih dari kasih yang kusemai
di kaki langit hatiku
Barangkali aku bukanlah pawang
yang pandai membaca tanda awan
di atas lanskap yang membentang
selain hanya menjadi angin
yang terus berpusing dan berjalan
dari kata ke kata hingga tiba
Kalimat Sempurna memanggilku pulang

Subang, Juni 2013