Friday, June 10, 2016

Tak Ada Cerita Dari Nenek


Sudah hampir sepuluh tahun ini wanita bisu itu duduk di beranda. Setiap sore hari, beberapa menit sebelum jam menunjukkan pukul lima, dia akan tampak keluar dari rumahnya lantas duduk di kursi kayu. Ditemani keremangan senja dari ufuk Barat yang menyala merah, dia mulai menulis menggunakan pensil kata demi kata yang masih diingatnya.
Kata-kata itu bukanlah rangkaian sebuah kalimat apa lagi paragraf, melainkan tak lebih dari daftar kata percis daftar belanjaan. Jika kau tahu apa yang ditulisnya, mungkin kau akan heran sendiri. Bahkan bukan tak mungkin kau akan berkata betapa kurang kerjaannya wanita itu. Tapi, punya hak apa aku menghakimimu? Lebih baik, kau dengarkan dulu saja ceritaku.
Wanita bisu itu bernama Ipah. Tak ada yang tahu berapa usianya sekarang. Yang aku tahu, rambutnya sudah beruban dan tipis. Kulit di tubuhnya pun sudah kehilangan kekencangannya. Kecantikan telah menjadi istilah yang tak lagi ada di dalam kamus hidupnya. Maka dari itu orang-orang, termasuk juga aku, memanggilnya Nenek. Nek Ipah.  
Nek Ipah tinggal sendiri di rumah berdindingkan tembok. Suaminya telah lama tiada oleh sebab penyakit diabetes yang dideritanya. Akan tetapi, setiap satu minggu sekali ada kalanya anak-anaknya berkunjung. Mereka datang membawa oleh-oleh dari kota bersama istri atau suami dan anak-anaknya.
“Nek, aku bawa bolu brownies dari kota,” kata anak pertama.
“Nek, aku bawa Pizza Hut, makanan khas Amerika,” kata anak kedua.
“Nek, aku bawa baju berbahan sutera dan kerudung buatan Palestina,” kata anak ketiga.
“Nek, aku bawa televisi dan DVD Player plus kaset qosidah dan ceramah dari Kiai Sejuta Umat biar Nenek tidak kesepian. Oya, kenalkan, ini Amar, temanku,” kata anak keempat.
Semuanya datang bergiliran setiap minggunya, dan semuanya pula membawa oleh-oleh semata agar bisa menyenangkan hati Nenek. Tapi, semua pemberian itu hanya dibalasnya dengan senyuman belaka. Senyuman yang secepat dia melengkung di lesung pipitnya, secepat itu pula hilang  dan berganti wajah penuh derita dan beban. Setidaknya, itulah yang diceritakan Bayu, anaknya yang keempat, padaku saat kali pertama aku mengunjungi rumah Nenek.
Menghadapi sikap Nenek, semuanya seolah sudah paham—bahwa sebanyak dan semahal apa pun oleh-oleh mereka bahwa, hal itu takkan membuat Nenek bisa membuka mulutnya.
Awalnya aku sendiri heran: Apakah ibu temanku ini bisu? Pasalnya, ketika aku mengenalkan diri saja, balasan yang aku dapat tak lebih dari sekadar senyuman.
“Jawab dong, Bu, kalau orang mengucapkan salam itu,” belas Bayu ketika mengenalkan aku pertama kali pada ibunya. Alih-alih dijawab, Nenek justru memalingkan tatapannya dariku lantas memandang anaknya itu. Tidak dengan tatapan yang tajam melainkan lembut. Tapi di balik kelembutan itu, sesuatu yang tersirat tajam seolah berkata “Diam kau!” atau “Punya hak apa kau menyuruh-nyuruh aku untuk bicara?” Dan temanku yang satu ini, anak dari wanita bisu itu pun tertunduk malu kehilangan wajahnya. Hanya saja kemudian, secepat “tamparan” tatapan dari ibunya itu, Bayu menyampaikan maafnya padaku.
Begitulah Nenek yang aku tahu. Wanita yang memilih untuk bisu dan membahasakan alam semesta dengan hanya sebatas keheningan. Di rumah yang terletak di ujung sebuah kampung di kaki bukit ini, selain suara alam yang tersisa dan pabrik, takkan pernah kau dengar suara Nenek Ipah.
Awalnya aku tak terlalu menghiraukan masalah itu. Tapi, sesering aku bermain ke rumah Nenek, lambat-laun rasa kepenasaranku pun muncul.
“Sebelumnya, Bay, aku minta maaf kalau pertanyaan yang bakal aku tanyakan ini bakal menyinggungmu,” kataku mengawali percakapan di pinggir danau setelah aku melempar kailku jauh ke tengah. Oya, di kampung ini, memang ada sebuah danau sekira satu kilo jaraknya dari rumah Nenek.
“Formal banget sih Lo kalau ngomong,” dagunya yang tajam menunjukku.
“Lo juga sok kota banget sih pake bahasa,” timpalku tak ingin kalah.
“Alah, lagak Lo. Ngomong aja!” memalingkan wajah lantas melempar kail lebih jauh dariku.
“Nenek Lo itu... bisu, atau...” kalimatku tak sempurna.
Bukannya dijawab, Bayu malah menundukkan kepalanya. Tapi itu tak lama. Dia mulai menarik napas panjang sebelum pada akhirnya bercerita.
“Sebenarnya Emak gua ga bisu, Mar,” mengisap rokok di kempit jemarinya lantas menghamburkan asapnya ke udara; keningku mengernyit membuat lipatan tebal.
“Emak gua bisa ngomong,” kepalanya mengangguk-angguk, “tapi itu dulu. Ya, sepuluh tahun yang lalu-lah.”
“Memang, apa masalahnya?” kusorong sebatang rokok di dekat kakiku.
“Masalahnya adalah Kakak gue yang pertama, Si Jaka,” beberapa kali Bayu mengisap asap rokoknya sebelum mematikannya. Lantas mengambilnya lagi sebatang dan mulai menyalakan lighter membakarnya.
“Dulu Kakak gue maksa kalau ibu harus menjual tanah. Lo tau kebon di seberang rumah yang di depan jalan?”
Aku mengangguk.
“Dulu, tanah itu kebon warisan Bapak. Kebon paling luas dan paling hebat di kampung ini,” senyum tersungging di pipinya—bangga.
“Hebat? Maksud Lo?”
“Bagaimana gak hebat? Kebon itu punya banyak cerita, Bro. Gak hanya di kebon itu banyak pohon, termasuk pohon langka yang sekarang sudah gak ada. Di situ juga ada tanah lapang tempat anak-anak kampung ini bermain, termasuk gue. Main bola, panjat pinang setiap tujuhbelasan, ngangon sapi atau domba. Wah, pokoknya banyaklah ceritanya. Gak bakalan beres kalau gua mesti cerita seharian.”
Aku mengangguk-angguk mencoba untuk paham.
“Tapi, suatu hari ada orang kota datang. Beberapa orang. Mereka datang pake mobil blazer ke ujung kampung ini nyusurin jalan berbatu itu.
“Orang kota?”
“Hmm,” menghirup kopi dingin dengan tangannya yang basah setelah menarik pancingan yang kosong tanpa ikan.
“Bilang gue salah kalau orang kota itu nyari tanah buat bikin pabrik?”
“Gak. Lo bener. Banget malah,” puntung rokok dilemparnya ke arah belakang; aku mereguk kopi yang hampir tinggal ampas di gelasku.
“Terus?”
“Karena hanya ibu gue yang punya tanah di kampung ini—oya, asal Lo tahu, itu terjadi sebelum pemerintah ngakuisisi tanah di kampung ini sebagai milik mereka—ya, orang-orang kota itu dateng ke ibu gua. Mereka ngebujuk ibu supaya ibu mau ngejual tanahnya ke mereka. Tapi, ibu ga ngasih. Itu amanat bapak sebelum bapak meninggal. Bapak bilang, ‘Apa pun yang bakal terjadi, jangan sampai ibu ngejual tanah. Itu warisan kita. Hanya itu yang kita punya.’”
Strike!” ditariknya mata kail yang ternyata hanya sampah plastik, “berengsek!”
Kubenaih posisi duduk setelah menarik kail yang tak jauh beda dengan sobatku yang satu ini.
“Lo tau, kan, manusia bakal ngelakuin apa saja agar dia mendapatkan keinginannya?”
Aku menggumam.
“Berdirinya pabrik artinya mengalirnya duit. Dan, ya, begitulah. orang-orang kota yang sebenarnya ga lebih dari ajudan orang luar negeri itu pun ngelakuin apa aja. Termasuk ngedeketin kakak gue. Ya, singkat cerita.  Kakak gue ngiler liat duit sekoper, and dijuallah tanah kebon itu. Ada untung dan ruginya juga, tentu. Untungnya, kakak-kakak dan gue bisa seklolah bahkan kuliah di ibukota. Rumah panggung pun berubah jadi bagus. Ruginya, sejak saat itu,” menekan ‘sejak’, “ibu ga lagi ngomong. Ga sepatah kata pun!”
Pilu aku mendengar cerita Bayu. Tapi tak lebih pilu lagi ketika aku mendengar bahwa ketika rumah tembok barunya itu selesai dibangun, Nenek tak pernah sudi memasukinya. Dia memilih tidur di jalan ketimbang tidur di dalam rumah. Tapi, wanita tua mana yang kuat panas dan hujan? Sempat memang beberapa tetangga meminta Nenek untuk tinggal di rumah mereka. Tapi tetap, Nenek tak mau. Terlebih ketika Nenek menjawab ajak mereka dengan mengacungkan sebilah golok. Hampir Nenek disebut orang gila. Tapi, bersyukur, para tetangga mengerti sikap Nenek. Hingga suatu hari, tak sampai hitungan bulan, Nenek jatuh sakit di tepi jalan dan Bayu, kakak-kakaknya juga para tetangga membopongnya masuk ke dalam rumah.
Mereka pikir Nenek bakal berteriak atau menebas leher salah satu dari merak. Tapi yang terjadi? Nenek justru menangis. Menangis sejadi-jadinya. Dan sehari setelah itu, Nenek pun memiliki kebiasaan baru: Dia akan duduk berlama-lama di kursi di depan rumahnya.
“Lo tau, Mar,” tiba-tiba Bayu memulai tanpa aku minta, suatu hari di waktu yang lain. “Sebenarnya gue pernah liat ibu ngomong.”
“Kapan?”
“Dulu, ketika ada mahasiswa perguruan tinggi KKN di kecamatan ini. Gue seneng banget tahu kalau Emak ngomong. Tapi, sayang, Emak hanya ngomong sama mahasiswa itu saja. Yang gue tahu, nama mahasiswa itu, Rahmat. Pas gue tanya ibu ngomong apa, dia bilang kalau ibu ingin diajarin baca sama nulis.”
Aku heran segila-gilanya. Mungkinkah Nenek yang sudah tua itu bisa baca-tulis?
“Gue tahu yang Lo pikiran, Mar. Ya, gue juga mikirnya begitu. Gak mungkin ibu gua yang sudah tua bisa belajar baca-tulis. Tapi, nyatanya? Selain dapur dan halaman, sekarang ibu punya teman baru: buku tulis dan pensil.”
Sepuluh tahun terakhir setelah lima tahun setelahnya, dan untuk pertama kali aku main ke rumah itu, aku mendapati Nenek dengan kebiasaannya. Setiap sore Nenek akan menulis menggunakan pensil di buku tulis yang dibelinya di warungku. Ya, pada akhirnya, aku pun menjadi bagian dari kampung ini. Kampung yang di sekeliling danaunya berdiri pabrik-pabrik tekstil yang suaranya tak henti bergemuruh dari waktu ke waktu.
Sekalipun begitu, aku tahu suara itu tak lantas bisa mengalahkan nyanyian bisu Nenek. Begitulah ketika suatu hari, ketika Nenek dengan tak sengaja meninggalkan bukunya di etalase warungku, kulihat daftar kata-kata itu dengan nomor tersusun di sampingnya, menurun ke bawah. Kata-kata bertuliskan: jelatang, kecapi, sawo, bidara, tanduk rusa, komodo, puyuh, mencek, bungbang, remis, udang, dan lain sebagainya.
Aku terkejut ketika di halaman terakhir Nenek menuliskan sebuah kata dengan huruf-hurufnya yang besar dan tampak kacau. Kata itu bertuliskan: Manusia!***

Purwakarta, 25 April 2016  

Sunday, May 22, 2016

Keasingan Gantz di Dunia yang Gelap

"Aku selalu percaya bahwa tiap orang punya tugas masing-masing. Tiap orang punya bakat dan kekuatan masing-masing, dan ada tempat baginya untuk menunjukkan semua itu sepenuhnya. Oleh karena itu, orang yang diberi bakat harus berusaha sebaik mungkin dan menunjukkan kekuatan terbaik yang dia miliki" (Kei Kurono: Gantz, 2011) 

Tak ada yang lebih menarik dari seni ketimbang sifatnya yang acapkali prismatis dalam hal pemaknaan. Percis cahaya yang disorotkan ke sebuah batu berlian hingga cahaya menjalar ke berbagai penjuru arah. Dengan kata lain, pembacaan terhadap seni bisa dilakukan dengan cara apa pun, mulai dari yang mudah: menerima karya seni sebagaimana adanya tanpa tedeng aling-aling melainkan hiburan semata, sampai yang susah sekalipun: mencari pemaknaan lain dari apa yang tampak dari karya seni yang dihaturkan.

Hal yang disebutkan terakhir itu yang saya alami dan untuk pertama kalinya saya lakukan ketika tengah--dan bukan usai--menonton film Jepang berjudul Gantz (2011) besutan Shinsuke Sato.

Menonton film yang diadaptasi dari manga (baca: mangga) dengan judul yang sama karangan Hiroya Oku ini, saya merasa tidak tengah menonton film science-fiction. Lebih dari itu, saya menonton film dengan banyak simbol serta ada ideologi di dalamnya. (Tapi, bukankah kebanyakan film memang seperti itu? Alih-alih film dengan genre yang sama, film animasi seperti Wall-E (2008) Tangled (2010) bahkan sekaliber Frozen (2013) pun memiliki keduanya: simbol dan ideologi.)

Bola Hitam

Seperti halnya di film The Day The Earth Stood Still (2008), bola hitam dan besar pun direpresentasikan di dalam film ini. Lagi saya bertanya: Mengapa harus bola, besar dan hitam pula? Tak ada jawaban perihal ini sebagaimana tidak pula tokoh-tokohnya mempertanyakan apa bola itu. Sekalipun ada, jawabannya tak lebih dari memuasakan.Joichiro Nishi, lawan main Kei Kurono, hanya berkata bahwa bola itu bernama Gantz dan dia memberikan misi pada orang-orang yang "dipanggilnya" ke dalam "permainannya" agar siap sedia ketika alien menginvasi bumi. Informasi ini didapat ketika Kei, Katou, Keshimoto dan Nishi-Kun kembali setelah berhasil pada misi pertama membunuh Alien Bawang. Dengan kata lain, bola besat hitam bernama Gantz ini memang asing seasing misi yang diberikannya.

Yang menjadi menarik dari Gantz adalah, dia selalu memulai misinya itu dengan pemutaran terlebih dulu sebuah lagu dimana lagunya sendiri jauh dari kata modern. Sebuah lagu dengan lirik penuh buaian akan hidup dan kehidupan meski suaranya lebih mirip suara lagu yang mungkin sering kita terdengar di mulut radio.

Pagi yang baru telah tiba/Itu pagi harapan/Bukalah hatimu dengan kegembiraan/Lihatlah langit biru/ Dengarkan radio/Ambil nafas dalam-dalam/Dan rasakan aroma angin/Dan kemudian--satu-dua-tiga. Begitulah kira-kira liriknya. Setelah itu, apa yang terjadi? Gantz pun terbuka. Dan apa yang terdapat di dalamnya selain senjata dan baju cosplay (?)? Alien! Ya, alien yang bentuknya tak beda dengan manusia.

Awalnya, saya mengganggap bahwa bola hitam itu adalah representasi atau simbol dunia yang sudah diselimuti oleh kegelapan, oleh keasingan. Tapi manakala saya melihat ada manusia di dalamnya, saya menangkap bahwa simbol Gantz tak hanya itu. Dari lirik dan dari warnanya, Gantz ternyata juga simbol malam. Hal ini diperkuat dengan kalimat sambutan Gantz terhadap Kurono dan tokoh lainnya:

"Hidup kalian semuanya telah diambil. Bagaimana menggunakan hidup baru kalian sekarang terserah aku. Begitulah teorinya. Jika kalian ingin pulang, pergi dan bunuh orang ini. Namanya adalah...."

Kalimat analogi "Hidup hanya sekali sedang mati berkali-kali" atau puisi penyair Chairil Anwar "Sekali berarti sudah itu mati" mungkin berhubungan dengan apa yang Gantz ucapkan. Bukankah ketika kita tidur malam hari, pada hakikatnya kita sedang mati? Lebih luasnya lagi, dalam hidup kita lebih banyak mati--mati dalam hal hubungan kerabat dan pertemanan, cinta, pekerjaan, cinta-cita dan banyak lagi. Dan ketika kita bangun keesokan harinya setelah malam menidurkan kita, hidup dan kehidupan seakan meminta kita untuk mengulang semuanya. Akan hidupkah kita di satu hari atau justru mati lagi?

Maka, tak aneh kiranya lagu itu selalu diputar Gantz di awal misi. Lagu tentang bagaimana pagi yang baru telah tiba. Pagi yang penuh harapan. Ya, hanya harapan yang kita punya dan tak bisa direbut oleh apa dan siapa pun. Meski kenyataannya, seperti yang diucapkan Ellis Boyd Reding (Morgan Freeman) dalam The Shawshank Redemption (1994): "Same Old Shit Different Day." Hidup tak pernah benar-benar berbeda; ya, begini-begini aja. Rutintas dan rutinitas. Betapa hidup menjadi iklan yang sangat panjang.

Tapi hal ini tidak berlaku bagi Gantz. Kalimat selanjutnya justru terkesan kontradiktif sekontradiktif simbol dari Gantz itu sendiri. Bumi yang penuh dengan kegelapan, keburukan dan kejahatan dimana hidup manusia semua serba dipetakan dan diatur, Gantz justru menyuruh orang-orang yang diambil hidupnya itu untuk melakukan apa yang dia minta. Hidup manusia telah menjadi sangat asing, dan Gantz yang asing menyuruh Kurono dan lainnya untuk menghancurkan keasingan itu sendiri. Menghancurkan alien yang sebenarnya ada dalam diri setiap manusia. 

"Bagaimana menggunakan hidup baru kalian sekarang terserah aku," ujar Gantz. Artinya, manusia menjalani hidupnya karena kehidupan meminta kita melakukan apa yang dia minta. Kita menonton film yang harus kita tonton. Kita mendengar lagu yang harus kita dengar. Kita membaca apa yang buku-buku harus kita baca. Kita melakukan semuanya karena hidup menuntut kita untuk melakukannya. Kita telah menjadi asing dengan melakukan begitu banyak hal yang umum. Percis karekter Kurono yang merepresentasikan simbol manusia masa kini tatkala dia mengabaikan untuk menolong Katou yang tengah menolong orang lain di rel kereta api. Manusia yang tak lagi peduli dengan sesamanya. Manusia yang membunuh meski tidak dengan senjata atau pisau di genggaman tangannya. Manusia yang menghilangkan derajat kemanusiaannya. Dengan kata lain, manusia tidak lagi milik dirinya sendiri. Manusia tidak lagi alami. Dia telah menjadi makhluk asing (alien) bagi dirinya sendiri. Di sinilah peran Gantz sesungguhnya muncul. Caranya dengan membunuh orang-orang (alien) yang diperintahkannya.

Alien Bawang

Setelah melihat Alien Bawang bersosok anak kecil dan sekaligus orang dewasa dimusnahkan, seketika saya berkata bahwa: ini adalah simbol makanan. Mengapa bawang dan bukannya tomat atau wortel? Sungguh, ini adalah pertanyaan yang menarik.

Sebagai salah satu tanaman sayuran, bawang adalah bumbu yang sangat enak juga memiliki aroma menyengat. Dia adalah penyedap rasa yang digunakan di hampir belahan dunia. Bagi orang Jepang, bawang, tepatnya daun bawang--biasa disebut negi--sering digunakan sebagai taburan di hampir setiap masakan seperti  soba, udon, miso siru, ramen, dan lain-lain. Di Indonesia, negi ini mirip bawang goreng yang biasa digunakan untuk taburan pada soto, sop, sate, dan banyak lagi.

Dan memang, jangan berpikir jika Alien bawang di sini adalah bawang merah. Kita hampir takkan menemukan kepala alien itu seperti bawang merah melainkan seperti daun bawang. Perhatikan saja kepala alien itu.

Adapun simbol yang hendak direpresentasikan lewat Alien Bawang ini adalah, bahwa manusia telah menjadi sangat gila dengan makanan. Seumur hidupnya manusia telah menjadikan makanan sebagai konsumsi pokok, pemuas, bahkan simbol akan derajat kesejahteraan ekonomi. Memang, manusia yang hidup pasti membutuhkan makan. Tapi di film ini bukan itu yang dimaksud. Sebaliknya, di film berdurasi lebih dari dua jam ini, justru seakan memberi tahu bahwa hidup tak hanya soal makan. Ada yang lebih penting dari hanya sebatas makan, yakni peran manusia itu sendiri. Hal ini diungkapkan secara tersurat dari kalimat pertama yang diucapkan Kurono di awal adegan, sebagaimana terpampang di awal tulisan ini.

Dengan kata lain, makanan hanya alat agar manusia tetap bisa hidup dan menjalani kehidupannya. Bukannya menjadi alasan utama yang membuat orang-orang lantas dilanda euforia dan mabuk kuliner seperti tampak di zaman sekarang. Manusi makan untuk hidup, bukan sebaliknya. Inilah alien partama yang dijadikan misi Gantz terhadap para "pemainnya."

Alien Tanaka (Radio)

Euforia manusia juga tampak pada representasi Alien Tanaka yang menyukai kaset radio. Simbol teknologi, informasi sekaligus energi manusia. Manusia yang menjadi sangat tergantung pada gadget (gawai) dan bukan pada fungsi gawai itu sendiri. Tak salah memang memiliki gawai, tapi kembali pada kenyataan bahwa hidup dan kehidupan manusia tidak ditentukan oleh canggih tidaknya sebuah atau perkembangan gawai melainkan pada interkasi manusianya sendiri. Maka dari itu mengapa Gantz menyuruh Kurono dan kawan-kawan untuk menghancurkan alien ini.

Berbeda dengan Alien Bawang yang bisa dengan mudah dihancurkan, Alien Tanaka ini justru punya kekuatan yang lebih besar. Barangkali besarnya kekuatan ini sebanding pula dengan besarnya kekuatan manusia yang begitu-terama-sangat berkegantungan padanya. No Music No Dreams, begitu slogan ini terkenal di Jepang. Tanpa musik, manusia tak punya mimpi. Dengan musik, orang-orang justru bisa bermimpi sekalipun mimpinya itu adalah mimpi buruk seperti yang tampak pada film Detroit Metal City (2008).

Tapi di dalam misi kali ini, bukan musik atau harapan yang harus dihancurkan, akan tetapi kebisingan. Dan bukan pula kebisingan terhadap musik, tapi "kebisingan" terhadap gawai itu sendiri. Bayangkan apa yang terjadi sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. Kiranya bukan hanya sampah rumah tangga yang kelak berjejalan di pinggir jalan untuk diangkut oleh mobil pengangkut sampah, tapi pemutar kaset/CD kita, komputer PC & laptop, TV LCD, dan bahkan Smartphone kita.

Alien Buddha

Sepertinya kecanduan manusia tidak hanya tampak pada makanan (Alien Bawang), teknologi (Alien Tanaka), tapi juga pada agama (Alien Buddha). Direpresentasikan sebagai alien yang (1) mudah marah, (2) besar, dan (3) menyukai tempat yang tenang, Alien Buddha adalah misi terakhir yang diberikan Gantz di film sekuel pertama ini.

Mendasarkan diri pada ciri ini saja, dengan mudah kita bisa menyimpulkan lewat beberapa pertanyaan: Bukankah permasalahan agama memang masih menjadi tema besar di muka bumi ini? Bukankah permasalahan terkait agama memang selalu menjadi isu yang senstitif bagi manusia? Dan, bukankah agama yang ada di dunia ini masih saja terpaku pada pakem dan tradisi alias agama budaya dan bukan budaya agama? Agama nenek moyang yang sekalipun nenek moyang salah, kita tak berani menggugatnya? Agama yang tenang dalam sepi dan jauh dari realita kehidupan manusia itu sendiri.

Terasa ekstrim sekiranya saya sampai berkata jika Gantz bermaksud agar Kei dan kawan-kawan harus menghancurkan agama. Terlebih aneh juga rasanya mengingat bagaimana Jepang sebagai negara yang sekuler, di mana orang-orangnya tak terlalu memikirkan agama di dalam kehidupannya sehari-hari--sekalipun mereka sangat menghormati orang yang beribadah apa pun agamanya--justru memasukan simbol ini sebagai salah satu dari misi Gantz.  

Akan tetapi, melihat sikap dan mental orang Jepang yang semangat dalam menjalani hidup dan selalu mencoba bekerja lebih baik lagi; dan, dengan mempertimbangkan kata-kata Kurono di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa: setiap orang di muka bumi memang punya peran dan tugasnya masing-masing, dan karena itu dia dituntut untuk bisa mengerjakan tugas itu sebaik mungkin. Dengan kata lain, eksistensi manusia tidak hanya dilihat dari apa yang dimiliki saja, termasuk agama; melainkan dari kerja dan karya nyata.

Cukuplah agama menjadi hak masing-masing tiap orang. Setiap orang berhak memiliki dan meyakini agama juga menjalankan apa yang diyakininya itu tanpa harus adu tegang urat syaraf dengan mereka yang berbeda keyakinan. Lagi pula, orang Jepang memang tak melihat seseorang dari latar belakang agamanya. Apalah artinya beragama jika dia tak punya sopan santun dalam bersikap termasuk berbahasa. Tak peduli seberapa sering seseorang sembahyang, jika seseorang tak punya etika dan sopan santun berperilaku dan berbahasa, semua itu tak ada artinya di mata mereka. Dan mestinya, di mata manusia mana saja yang ada di muka bumi ini.

Pada akhirnya, semua keasingan lewat representasi simbol yang ada di dalam film Gantz ini telah lebih dari cukup untuk menghibur saya. Termasuk memprovokasi saya untuk kembali menulis dan mengenyahkan pikiran yang berkata bahwa hidup tak lagi indah dan menyenangkan karena apa yang terjadi di muka bumi telah menjadi sangat biasa, seperti yang saya yakini beberapa tahun terakhir. Kenyataannya, betapa banyak hal yang saya masih belum tahu dan ingin saya cari tahu.

Dan seperti Kurono yang pada akhirnya memutuskan apa yang harus diperbuatanya lewat kerja dan karya nyata sehingga kawan-kawannya termotivasi dan mengikuti jejaknya, maka saya pun berharap ada yang bisa dipetik dari apa yang saya lakukan ini, tak terkecuali menonton film ini, juga film-film "nyeleneh" Jepang yang ternyata tak senyeleneh pesan yang hendak disampaikannya. Tengok saja Dertoit Metal City (2008), Sunset on The Third Street (2005), Stranger Than Mine (2004), Fish Story (2009), Handsome Suit (2009), dan banyak lagi yang lainnya. Ja. Mata. (FA/"Saswaloka")

Friday, January 1, 2016

Sunday, December 28, 2014

5 ALASAN MENGAPA KITA TAK BISA MEMBUAT BAND ATAWA LAGU FAVORIT DALAM SEBUAH DAFTAR


Sebagai salah satu bentuk kebudayan, musik/lagu seakan telah mendarah daging dalam diri manusia. Ia tumbuh, hidup dan bahkan mati bersama kita.
Akan tetapi sejauhmana musik/lagu benar-benar berpengaruh terhadap diri seseorang? Hal ini tentu ditengarai dari bagaimana perkenalan dia dengan musik/lagu dan bagaimana dia bisa “menghidupi” yang disukainya itu. Suka (?)
Seperti halnya keinginan atau kebutuhan, kesukaan seseorang terhadap musik/lagu bisa jadi tak ada habisnya. Sejauh manusia hidup di muka bumi, sejauh itu pula musik/lagu takkan habis dicari, didengarkan, dicerna dan sebagainya, tentu dalam kacamata sebagai penikmat; karena selama itu pula musik akan terus berlahiran dari tangan penciptanya, didendangkan oleh para penyanyinya.
Permasalahannya sekarang adalah, mungkinkah kesukaan seseorang terhadap lagu/ musik akan sama dan setara dengan apa yang disukai orang lain—setidaknya  untuk genre tertentu saja? Orang mungkin akan lebih suka dengan Nirvana ketimbang Alice In Chains, lebih suka dengan L’Arc~en~Ciel ketimbang MUCC, bahkan bisa jadi ada yang lebih suka Bungsu Bandung ketimbang Darso bahkan Rhoma Irama ketimbang Inul sekalipun.
Fenomana ini ternyata memicu satu atau sekelompok orang dengan atau tanpa sekonyong-konyong menggulirkan peringkat terhadap lagu/musik termasuk pelantunnya. Dengan kata lain, mereka membuat daftar band atau lagu terbaik sebagaimana yang kebanyakan tampak di begitu banyak situs. “100 Greatest Jazz of All Time,”50 Lagu Terbaik Sepanang Masa,” “10 Band Jepang Terbaik,” malah sampai ada juga yang membuat daftar “Lagu yang Harus Didengarkan Sebelum Kamu Mati” segala. Begitulah judul-judul itu mengisi laman-laman situs dan halaman majalah. Ah, Anda bisa menemukan seabreg judu-judul senada lewat mesin pencari milik Mbah Gugel.
Akan  tetapi, kembali ke pertanyaan sebelumnya: Mungkinkah kita membuat daftar-daftar semacam itu? Kenyataannya, acapkali tak sedikit orang-orang kontra dengan daftar band atawa lagu terbaik yang diposting sebuah situs di lamannya. Bahkan tak sedikit mencak-mencak bahkan perang urat syarat hanya karena band/lagu favoritnya tak ada dalan daftar yang dibacanya. Inilah masalahnya!
Sungguh hal yang menyedihkan karena kenyataannya, kita, siapapun, tidak bisa sungguh membuat daftar band/lagu terbaik semacam itu. Apalagi mengultimatum bahwa daftarnya itu lebih baik, valid atau yang terbaik yang pernah ada. Ada beberapa ALASAN MENGAPA KITA TAK BISA MEMBUAT BAND ATAWA LAGU FAVORIT DALAM SEBUAH DAFTAR.
Pertama, Beda Generasi. Tak bisa dinafikkan bahwa kita, saat ini, hidup di antara generasi yang berbeda. Generasi lawas tahun 70-an, misalnya, punya lagunya sendiri. Pun dengan generasi 80 atau 90-an dan generasi selanjutnya. Generasi lawas tak mungkin memaksakan diri untuk menyukai lagu-lagu modern model ajeb-ajeb, pun sebaliknya. Zaman dan lingkungan mempengaruhi setiap orang, dan musik adalah satu satu dari yang mempengaruhi itu.
Kalaupun ada generasi lawas yang suka dengan lagu-lagu modern abad 21, mungkin kita bisa menyebut jika orang itu gaul atau open-minded dan open-hearted, apa pun kepentingannya. Artinya, dia ikut perkembangan. Tapi jika ada generasi milenium tiba-tiba menyukai lagu-lagu lama, apa tidak nanti justru malah dipanggil tua, kuno atau ketinggalan zaman? Kalaupun harus memaksakan diri membuat daftar, maka daftar itu bisa jadi berlaku di satu generasi tapi tidak berlaku di generasi yang lain. Tidakkah aneh seandainya ada orang yang membuat daftar band terbaik Indonesia dengan memasukkan Noah, Sheila On 7, Padi,  Boomerang bersama-sama Elpamas, God Bless, Koes Plus dan Panbers dalam daftar yang sama? Jika hanya daftar mungkin tidak masalah. Tapi jika harus memberi rangking siapa yang paling bagus, bukan tidak mungkin hal ini malah menimbulkan perdebatan. “Memang Panbers sama Pantovel apa hubungannya?” tanya anak muda yang suka memutar lagu-lagu D’Masiv.   
Kedua, Beda Taste Alias Rasa. Bayangkan seorang kelahiran 60/70-an yang terbiasa mendengar lagu dengan kualitas suara musik yang “orisinil”, terdengar oleh kita seakan kasar atau mentah atau beledak-beleduk, tiba-tiba harus mendengar lagu semisal Idioteque-nya Radiohead. Alih-alih mendengarkan, orang itu mungkin mematikan pemutar musiknya sambil berkata: “Musik kok kayak takbiran!” Lalu, apa bedanya dengan mereka yang kelahiran 90-an atau 2000-an dan harus mendengarkan lagu-lagu tahun 60 atau 70-an? Hidup itu maju, seperti juga teknologi. Dan teknologi sebuah musik/lagu juga sangat mempengaruhi telinga yang mendengarnya, tergantung generasinya.  
Satu yang harus dicamkan bahwa manusia dibentuk oleh lingkungannya dan lingkungan akan memengaruhi bagaimana dia merasakan sesuatu. Seseorang yang terbiasa mendengar musik Indonesia atau Dangdut seumur hidupnya, mungkin akan menutup telinga ketika harus mendengarkan musik, semisal, Linkin Park, System of A Down atau Tokyo Jihen sambil berkata: Musik naon sih ieu teh? Teu puguh pisan! Ganti ganti ganti!” Nah, apa bedanya dengan anak-anak zaman sekarang yang, kalaupun harus dipaksa, mendengarkan lagu-lagu jadul semisal The Beatles, Yutaka Ozaki, atau Pance Pondaaq? Belum lagi masalah latar belakang dan pendidikan, dua hal ini saja sangat berpengaruh juga terhadap penerimaam musik yang disukai dan dinikmati seseorang.
Ketiga, Telinga Hanya Dua. Tuhan memberi dua telinga agar kita lebih banyak mendengar. Akan tetapi urusan musik, adakah seseorang sudah mendengar begitu banyak musik seumur hidupnya, setidaknya ketika dia hidup di generasinya sendiri? Kenyataannya, bahkan, seseorang yang, misal, hidup di generasi tahun 90-an mungkin hanya mendengar  beberapa lagu saja, itu pun yang populer.
Seseorang mungkin mendengar Bintang-nya Air, atau Pernah Mencoba-nya Dr. PM, atau Bukan Pujangga-nya Base Jam, atau Sweet Child O’ Mine-nya Guns & Roses, atau Enter Sandman-nya Metallica, dan banyak lagi. Tapi apakah dia benar-benar mendengarkan semua lagu-lagu di albumnya itu. Mungkin ada. Tapi, tetap saja telinga hanya dua, dan tidak semua musik bisa didengarkan semuanya, entah itu lagu Indonesia atau Barat; belum lagi menyebut lagu-lagu yang ada di negara lain.
Terlebih kita yang hanya manusia awam, yang kadar kapasitasnya sebagian besar hanya sebagai penikmat dan bukan pecinta, Ahmad Dani yang katanya musisi dan sempat menjadi juri di, sebutlah, Indonesian Idol saja sempat geleng-geleng ketika salah satu pesertanya mau menyanyikan lagu, yang ternyata dia tidak pernah dengar. Padahal, lagu itu lagu zaman sekarang. Bedanya ia dinyanyikan oleh orang Barat sana. Musisi gitu loh? Yang hidupnya tumbuh bersama musik/lagu setiap detiknya? Apa lagi kita?
Bagaimanapun, apa yang seseorang dengar belum tentu sama dengan yang orang lain dengar, begitu juga sebaliknya. Maka dari itu, alasan ini juga yang membuat mengapa seseorang tak bisa membuat daftar lagu terbaik, karena pertanyaan kembali: Seumur hidup berapa banyak lagu yang sudah kita dengar? Apakah kita sudah benar-benar mendengar semua lagu? Sekali lagi, apakah kita sudah benar-benar mendengar semua lagu?
Keempat, Hanya Ada Satu Televisi dan Banyak Radio. Kita harus menyadari bahwa kenyataan mengatakan bahwa di negeri tercinta ini kita hanya punya satu stasiun televisi. Stasiun TV yang tidak lagi memutarkan lagu-lagu, terkecuali alasan komersil. Dulu kita bisa tahu lagu-lagu baru di program Delta atau Clear Top Ten, 100% Ampuh (Ajang Musik Pribumi Sepuluh). Sekarang? Janganlah sebut program-program musik yang sekarang marak di stasiun-stasiun TV itu. Itu bukan program musik! Itu hanya penghias saja dengan para figuran sebagai cheerleader-nya. Jadi, tidak usahlah menyebut apakah mereka punya daftar musik berkualitas atau tidak. Karena musik yang kemarin direkam di studio, hari ini diputar di TV, besoknya sudah hilang entah ke mana. Sad but true, tapi begitulah kalau kreativitas dikomersilkan. Sebagian punya idealisme, tapi lebih banyak lagi yang “materialisme”.
Akan tetapi kita pun harus senang bahwa ternyata kita masih punya banyak stasiun radio yang memiliki programnya masing-masing. Program-program musik dengan berbagai genre-nya yang memanjakan para pendengarnya. Pagi bagian musik up-to-date, siang bagian musik dangdut, sore bagian musik lawas, malamnya musik mellow. Tak hanya itu, setiap radio pun punya program musik unggulan. Ada yang memutar Jazz saja, Blues saja, Reggae saja, Dangdut saja dan banyak saja-saja yang lainnya. Kenyataan ini membuktikan bahwa kita makin bingung untuk membuat daftar lagu terbaik, karena setiap stasiun punya versinya masing-masing. Memaksakan kehendak? Itu jelas bukan demokrasi. Tapi bagaimanapun, tetap, kita harus bersyukur bahwa kita punya radio. Setidaknya hanya media ini yang tetap setia memutar lagu-lagu. Lain tidak!
Kelima, Tanpa Alasan. Tak ada alasan mengapa tulisan ini hanya menyuguhkan lima (baca: empat) alasan  mengapa kita tidak bisa  membuat grup band atawa penyanyi atawa lagu favorit dalam sebuah daftar. Karena sesungguhnya, begitu banyak alasan lain mengapa kita bisa melakukan hal itu. Poin satu sampai empat bisa jadi alasannya. Selebihnya, bisa jadi pertimbangan genre musiknya, bisa jadi pengaruh musik/lagu itu terhadap masyarakat pendengarnya, bisa jadi aksesibilitas yang mengekspos musik/lagu itu sendiri, bisa jadi hal-hal politis lainnya semisal label mayor atau indie, dan lain sebagainya. Pokoknya bisa-bisa saja.
Satu yang pasti, tak ada rumus apakah sebuah lagu/musik itu bagus atau tidak. Semua tergantung opini orang per orang, yang tentu saja subjektif. Setidaknya musik/lagu akan terus ada, lahir, tumbuh dan berkembang tanpa batas ruang dan waktu, sejauh manusia tetap menciptanya, sejauh manusia mengapresiasinya. Setidaknya, itu sudah lebih dari cukup untuk berkata bahwa musik ada di antara kita dan di dalam tubuh kita, menghibur kita manusia yang pejalan sebelum “musik sejati” pada akhirnya menjemput. (Fim Anugrah/”Saswaloka”)

Friday, October 10, 2014

Berita dari Sagara

Pohon-pohon pisang berdiri miring dengan tubuh kering
dan daun-daun tercerai berai bagai rumbia sajadah
ditampar angin galak di cuaca yang sungsang
di samping sebuah tiang

Tiang listrik berdiri tegak dengan tubuh julang
di tengah peradaban yang jalang
menjuntai kabel-kabel membungkus
harapan dan masa depan bekal anak-anak zaman
menaungi perumahan

Pohon pisang tak pernah memberi kabar
tentang tanahnya yang kerontang
seperti kerontangnya semak dan perdu
kesadaran dan rasa malu
di sekeliling kakinya yang rapuh

Tiang listik tak pernah memberi tahu
bagaimana dirinya menjadi tuhan
bagi peradaban dan zaman
menyembunyikan sombong dan kekuasaan
lantas mengalirkannya ke segala penjuru dunia

Pohon listrik dan tiang pisang
tak pernah bertengkar
walau mereka tak pernah pun berkawan

Puri, 10.10.2014


Monday, October 6, 2014

Bukan (Kritik) Sastra


Tidak ada yang namanya sastra lingkungan, sastra virtual, atau bahkan sastra Islami seperti halnya yang sempat di gembor-gemborkan dulu. Segala penamaan apa pun atas sastra di negeri ini, tak lebih dari sekadar intermezo, sebuah euforia sesaat di tengah kejenuhan alam sastra yang terlebih untuk menemukan bentuknya, untuk mengembangkannya saja tampak sangat tak kuasa.
Meski begitu, tidak mungkin kita memutar arah jarum jam, sekalipun pelan dan tetap berjalan meski tak pasti seperti apa nasibnya. Misi besar membumikan sastra pun seakan tidak lagi menjadi tujuan. Percis sebuah permainan yang di tengah-tengah permainan dilupakan oleh para pemainnya. Setiap orang pun tampak iseng sendiri, berjalan masing-masing untuk memenangkan bahkan kalau perlu mengalahkan pemain yang lain, dan lupa dengan kebersamaannya.
Blunder, barangkali itulah istilah yang tepat untuk mendeskripsikan kondisi di atas. Kondisi inilah yang menyebabkan mengapa sastra kita hanya berkutat di wilayah itu-itu saja.Terlebih melahirkan sesuatu yang baru yang bisa menambah warna sastra, menerimanya pun tak sedikit mata kiri yang didapat. Bahkan, tak sedikit ketakpedulian terhadapnya terbit meski tidak diperlihatkan secara terang-terangan. Untukmu sastramu, untukku sastraku! Jadi, alih-alih melahirkan yang baru, mengapresiasi pun masih saja jadi kendala.
Sebut saja sastra Islami atau sastra religius atau apa pun namanya. Secara praktis sastra yang satu ini patut diacungkan jempol. Terlepas dari persoalan konsep dasarnya, sastra ini tak hanya berani memberi warna atas stagnansi dunia sastra, tapi juga memiliki sifat solutif terhadap kehidupan manusia di tengah kepelikan moralitas bangsa yang terjadi sekarang ini.
Akan tetapi, belumpun tujuan sastra ini dicapai, tiba-tiba kritikan terhadapnya sudah lebih cepat disimpulkan. Tak sedikit cercaan yang menyuratkan betapa sastra ini menjadi sangat banal karena sifat normatif yang dikandungnya. Karya-karyanya seakan menghukum para pembacanya dengan ayat-ayat Tuhan. Karya sastra yang hitam dan putih. Oleh karenanya, tak ada kebebasan bersemayam di dalamnya, seperti tak bebasnya para pembacanya untuk memilih dan menentukan hidupnya sendiri. Para pembaca seakan tidak bisa leluas menghirup nafas karena sebelum karya dibaca, mereka sudah tahu seperti apa ujungnya.
Nama-nama “nenek moyang”  pun menjadi alibi yang disebut-sebut, yang dengan intensitasnya mencoba mencari jejak yang setidaknya bisa mendukung keberadaan sastra Islami ini. Pengadilan pun berlangsung di setiap lembar media massa. Banyak yang pro, tapi tak sedikit yang kontra. Tapi yang muncul kemudian bukanlah solusi, melainkan debat kusir yang tak jelas juntrungannya. Sebagian merasa dirinya benar dan sebagian lagi menyalahkannya. Nonsense, begitulah kesimpulannya.
Kenyataan yang ada sekarang, justru banyak para penulis yang lahir dari kran berlabel sastra Islami ini memperlihatkan kualitas karya-karyanya. Mereka tumbuh subur dan berkembang. Malah sebuah prestasi ketika kran-kran itu tak hanya mengocor di negeri ini tapi di luar sana. Para pemainnya tak hanya pandai ngomong, tapi juga membuktikan jika karya-karyanya tak sepicis yang orang-orang pikirkan. Air pun mengalir tak peduli. Panta rei. Setelah kritikan-kritikan yang ditujukan terhadapnya hilang, sastra ini pun melenggang. Sayang, para pemainnya berjalan sendiri-sendiri dan dengan tidak bertanggung jawab, meninggalkan kebisingan dari apa yang dulu diperjuangkannya.
Kiranya hal ini pun sempat dirasakan oleh sastra yang menyebut dirinya cyber, atau virtual. Seterbatas apa pun media yang digunakan, sastra ini sempat pula memberi warna sastra kita. Perkembangan sastra ini lebih cepat dari pada sastra yang ada media lain. Setiap hari setiap waktu karya-karya, entah itu prosa, puisi, atau kritik, bermunculan di laman-lamannya. Para penulis pun jadi tak hanya sering menulis dan mengirimkannya pada situs-situs sastra, tapi secara sadar mereka belajar teknologi. Bergabung di sebuah milis, menjadi anggota di beberapa situs sastra, dan gabung di forum-forum diskusi yang bisa meningkatkan apresiasi terhadap sastra. Inilah kualitas hidup yang mestinya dimiliki oleh para penulis, para sastrawan.
Akan tetapi, lagi-lagi, tak juga sedikit orang yang tidak suka dengan prestasi yang dicapai oleh situs-situs sastra ini. Entah apa karena orang-orang itu merasa bahwa dirinya tak bisa bersastra dan memperlihatkan karya-karyanya, atau merasa bahwa situs-situs itu menjadi ancaman karena merasa dirinya tak dianggap? Kita tidak tahu. Namun pada akhirnya, pembajakan (hacking) pun terjadi. Situs-situs sastra yang kemarin ramai, dalam sekejap mata tiba-tiba sepi. Semua orang gigit jari, kecuali mereka yang telah dengan sukses menghentikan satu lagi warna sastra yang sebenarnya bisa turut mengembangkan sastra di negeri ini.
Tapi seperti halnya passion atau spirit, tak ada satu pun yang bisa mencegah sastra untuk terus berkembang. Tak apa dan tak pula siapa. Meski beberapa situs-situs sastra telah mangkat, jejaring sosial, blog, dan situs-situs gratis selanjutnya banyak bermunculan. Yang mengagetkan adalah, kuantitasnya yang melonjak dari pada sebelumnya. Dari mulai penggiat sastra hingga orang yang baru terjun di dunia sastra, tumpah ruah memposting karya-karyanya. Tak perlulah sungguh kita menilai sejauhmana kualitasnya, dengan kuantitasnya yang banyak saja kita sudah bersyukur. Ternyata, sampai sekarang masih banyak orang yang suka dengan sastra. Itu yang mestinya terlebih dulu diamini. Sastra virtual pun memiliki perannya sendiri selain sastra aktual yang masih terus dengan lurus berjalan dan tampak di media massa (surat kabar), bahkan lebih instens lagi. Terkait sastra bergenre kelamin, kita sudah tahu sendiri seperti apa kondisinya sekarang.
Meski begitu, tak berarti tak ada penyakit di tubuh sastra kita ini. Penyakit yang mengganggu pertumbuh-kembangan sastra sampai-sampai susah untuk beranjak dewasa, sebagaimana oknum para pemain di dalamnya. Tapi seperti halnya sastra di dunia barat atau di negeri seberang sana, sastra tumbuh dengan suburnya. Para pemainnya bebas berekspresi dan berpendapat, tentunya, dengan batas-batas etika. Mereka bebas menamai terserah apa nama sastranya. Bahkan genre sastra pun diklasifikasikan begitu rupa, semisal puisi atau cerpen tentang binatang, tentang persahabatan, tentang alam, dan lain sebagainya.
Mereka tak segan-segan membuat nama atau istilah baru untuk karya sastra yang memang belum ada duanya. Maka, tak aneh jika sastra di sana benar-benar memiliki kontribusi besar terhadap bahasanya. Jadi, bukan tidak mungkin mengapa bahasa kita tidak pernah berkembang karena sastra sebagai salah satu bentuk pengejawantahannya pun belum bisa legowo menerima segala bentuk perbedaan. Selain itu, para sastrawan di sana pun tetap belajar. Sastra tak hanya melulu soal kata, genre, diskusi, membaca, menulis, koran, dan lain sebagainya. Kata kunci yang hanya berputar-putar di situ-situ saja.
Tidakkah menarik seeandainya kita mendengar seminar atau workshop berjudul, misalnya, “Sastra di Tengah Arus Informasi dan Teknologi,” atau “Melejitkan Karya Sastra dengan Marketing yang Sempurna,” atau ”Pelatihan Penulisan Sastra Berbasis SEO, ” atau “Bikin Launcing Jadi Kenangan: Life Skill Event Orginazer Khusus Penulis,” “Menjadi Penulis yang Kaffah,” dan lain sebagainya. Tidakkah menarik seandainya sebuah peluncuran mobil keluaran anyar dibuka dengan pembacaan puisi, seperti di dataran Eropa sana?”
Karya sastra di luar sana bisa berkembang seperti halnya para pemainnya karena mereka bisa menyembuhkan penyakitnya bersama-sama. Maksudnya, perbedaan pendapat itu biasa, malah harus ada. Jika tidak, tidak ada dinamika, tidak ada apresiasi yang sebenarnya, meski tidak berarti juga bisa dengan seenaknya berbicara, apalagi hanya bisa merendahkan karya terlebih penulisnya. Sebuah karya baru muncul, bukannya ditanggapi dengan bijak, ini malah disitir begitu rupa. Habis suara kita berkoar-koar soal demokrasi. Kenyataannya, apakah benar demokrasi sudah berjalan di wilaya sastra kita? Disebut normatiflah, disebut tidak efektiflah, disebut pornolah, dan lah-lah lainnya.
Salah satu akibatnya, kritik sastra pun jadi korban. Para penulis jadi takut menulis kritik karena pasti bakal ada yang “membantainya.” Sekalinya ada yang “membantai,” yang muncul malah jadi debat kusir, atau perang urat syaraf. Benarkah orang bisa benar-benar menerima kritik, terlebih jika kritiknya pedas ? Sekali-sekali tidak! Setidaknya kenyataan memperlihatkan, jikapun ada kritik sastra yang dimuat di media, kritik itu tak lantas benar-benar diperhatikan. Ada sastrawan yang membahas soal sastra dan lingkungan, soal sastra dan kelamin, bahkan ada juga soal ide memperiodesasikan sastra yang ada abad 20 ini. Tak ada tanggapan, karena, ya itu tadi: aku ya aku, kau ya kau, dan ini tidaklah sehat. Yang tampak bukanlah dinamika sastra apalgi perkembangan sastra, melainkan ketidakpedulian. Intinya, setiap orang berjalan sendiri-sendiri, dengan karya sastranya sendiri. Padahal, bukankah kata yang menyatukan “bahasa” kita, sastra kita?
Tapi selain itu, entah karena merasa memiliki kesamaan yang benar-benar sama, pada akhirnya beberapa di antara mereka bergabung dengan warna sastra yang dimilikinya sendiri. Lama kelamaan, ketika mereka sudah subur bersama kaumnya yang sevisi dan semisi itu, salah kaprah pun muncul. Yang lebih aneh, orang-orang di luarnya yang justru malah ikut-ikutan membenarkan apa yang mereka lakukan. Apa mungkin kita tidak pernah kita belajar dari sejarah, dari apa yang nenek moyang kita lakukan ihwal ini? Bagaimanapun, ketika sastra diinstitusikan, maka yang muncul bukanlah keberterimaan dalam keberagaman sesungguhnya, akan tetapi kepentingan. Dan ketika kepentingan sudah sangat akut untuk ditunaikan, maka yang tersisa adalah suara minoritas. Pengakuan pada sebagian dan penyisihan pada sebagian yang lainnya. Dan lagipula, siapa juga mengultuskan bahwa institusi sastra yang satu lebih bagus dan berkualitas ketimbang institusi sastra yang lainnya?
Pertanyaan pun muncul: Benarkah apresiasi yang terhampar di tubuh sastra kita? Benarkah penghargaan atas perbedaan pendapat berlangsung di sini? Dengan kata lain, benarkah demokrasi sudah ditegakan di dunia sastra di negeri ini? Bukannya jawaban yang didapat melainkan kebingungan dan kegalauan. Tujuan yang berdiri di ujung sana menunggu kita semua.  
Meratapi keadaan seperti ini, kita pun memandang lagi wajah para sastrawan kita yang sudah tidur dalam kubur. Kita bernostalgia dengan mereka sampai akhirnya inspirasi pun datang. Sekali lagi, kita menyebut nama mereka di setiap tulisan kita, seakan tak ada habisnya. Kita iyakan pendapatnya, kita ikuti tingkah lakunya. Dengan kata lain, pikiran kita ternyata bukan pikiran kita sebenarnya, tapi pikiran para nenek moyang kita itu. Mau sampai kapan kita menyebut-nyebut terus mereka, mengutip, mengiyakan, dan menghambakannya? Kapankah kita bisa menyebut nama kita sendiri di dunia sastra ini, sekarang?
Selama pikiran ini tidak bebas alias terpenjara dalam alam pikiran lama, maka selama itu pula sastra kita hanya sebatas celetukan-celetukan iseng di tengah hingar bingar semaraknya dunia. Sastra musiman. Sampai kapanpun, sastra kita akan tetap seperti ini jika pikiran yang ada tak jauh bedanya dengan yang sebelumnya. Adalah adat dan tradisi yang menghambat segalanya, juga taklid buta atas penilaian yang dilakukan dari satu sudut pandang saja. Mungkinka alam sastra kita bisa berkembang jika pikirannya saja masih sakit? Tidaklah mungkin jika kita harus kembali ke titik awal, menerjemahkan apa sastra kita sesungguhnya, terlebih jika kita harus menerjemahkan kata “sastra” itu sendiri. Itu namanya buang-buang waktu dan percuma.
Jika sudah seperti itu, hanya ada satu kata: Terserah! (Fim Anugrah/”Saswaloka”)

Saturday, October 4, 2014

Kredit: Jejak Penyair Yang (Mestinya Tidak) Hilang

BEBERAPA TAHUN YANG LALU, DI RUBRIK KHAZANAH (PUISI) KORAN PIKIRAN RAKYAT, ANDA AKAN MENDAPATI BIOGRAFI SINGKAT DARI SETIAP PENYAIR BERSAMA PUISI YANG DITERBITKANNYA. SAYANG, HAL ITU TIDAK ADA LAGI SEKARANG. ENTAH APA ALASAN REDAKTUR MENGHILANGKAN KREDIT ITU. TIDAK ADA YANG TAHU. TAPI SETIDAKNYA TULISAN INI BERUSAHA MENCOBA UNTUK MENJAWABNYA.

Di dalam penciptaan sebuah karya, proses merupakan sebuah keniscayaan. Kita lambat laun belajar bahwa bakat itu nonsense. Yang ada selebihya, justru kedisiplinan, kerja keras dan kesabaran. Dengan kata lain, tidak ada karya mana pun yang dihasilkan dengan cara instan.
Di dunia populer, pengenalan akan proses sebuah penciptaan sebenarnya sudah berlangsung lama. Ia terpampang di halaman produksi sebuah buku, di credit title sebuah film, atau bahkan di belakang jilid sebuah album musik sekalipun.
Tapi, apakah ada yang mau memperhatikannya (membacanya)? Alih-alih mengetahui bagaimana proses itu diciptakan lewat tangan-tangan penciptanya, kita justru lebih terlena dengan karyanya, setidaknya judul buku dan penulisnya, judul film dan aktor utamanya, atau judul lagu dan penyanyinya. Kita luput—untuk tidak menyebutnya tidak peduli—memerhatikan bagaimana karya itu dikerjakan lewat sebuah proses yang panjang, yang melibatkan banyak orang dengan banyak profesi di dalamnya.