Akhir-akhir ini aku sering
memikirkan tentang karakter orang kota ini. Kota yang katanya istimewa ini. Hal
itu sering aku lakukan khususnya ketika aku berada di mesjid dekat rumah setiap
kali aku melaksanakan solat Magrib. Sehabis solat, sering aku bertanya, apakah
karakter orang kotaku ini pada hakikatnya memang tak punya bakat untuk memiliki
rasa kepedulian dan solidaritas yang erat, punya bakat untuk bekerja sama
alih-alih berkata “masing-masing” saja?
Tak
hanya pengalaman hidup memperlihatkan bukti-buktinya, akan tetapi justru orang kotaku
ini sendiri, tetanggaku sendiri yang berkata demikian. Dengan lantang dia
berkata demikian ketika aku tengah memarahi anak-anak yang ributnya minta ampun
ketika aku dan jamaah yang lain sedang melaksanakan solat Magrib. Aku marah
bukan hanya anak-anak itu sudah menjadi sangat keterlaluan dengan tingkahnya
dan seperti tak lagi menganggap saranku agar mereka segera masuk mesjid ketika
iqomat sudah diserukan. Berulang-ulang kali sampai aku sendiri bosan jadinya.
Aku marah karena tak ada jamaah lain yang “mengurus” dan mewanti-wanti
anak-anak itu, tak terkecuali Ustaz bahkan RT sekalipun. Mereka punya mata dan
telinga tapi seolah tak dipergunakannya, dan mengetahui kelakuan anak-anak itu
mereka pun tak memedulikannya. Dengan entengnya mereka berkata jika “anak-anak
memang seperti itu. Nakal, susah dikasih tahu.” Hanya itu yang mereka ucapkan,
tak lebih.



