Pohon-pohon pisang berdiri miring dengan tubuh kering
dan daun-daun tercerai berai bagai rumbia sajadah
ditampar angin galak di cuaca yang sungsang
di samping sebuah tiang
Tiang listrik berdiri tegak dengan tubuh julang
di tengah peradaban yang jalang
menjuntai kabel-kabel membungkus
harapan dan masa depan bekal anak-anak zaman
menaungi perumahan
Pohon pisang tak pernah memberi kabar
tentang tanahnya yang kerontang
seperti kerontangnya semak dan perdu
kesadaran dan rasa malu
di sekeliling kakinya yang rapuh
Tiang listik tak pernah memberi tahu
bagaimana dirinya menjadi tuhan
bagi peradaban dan zaman
menyembunyikan sombong dan kekuasaan
lantas mengalirkannya ke segala penjuru dunia
Pohon listrik dan tiang pisang
tak pernah bertengkar
walau mereka tak pernah pun berkawan
Puri, 10.10.2014
Friday, October 10, 2014
Monday, October 6, 2014
Bukan (Kritik) Sastra
Tidak
ada yang namanya sastra lingkungan, sastra virtual, atau bahkan sastra Islami seperti halnya
yang sempat di gembor-gemborkan dulu. Segala penamaan apa pun atas sastra di
negeri ini, tak lebih dari sekadar intermezo, sebuah euforia sesaat di tengah
kejenuhan alam sastra yang terlebih untuk menemukan bentuknya, untuk
mengembangkannya saja tampak sangat tak kuasa.
Meski begitu, tidak mungkin kita memutar
arah jarum jam, sekalipun pelan dan tetap berjalan meski tak pasti seperti apa
nasibnya. Misi besar membumikan sastra pun seakan tidak lagi menjadi tujuan.
Percis sebuah permainan yang di tengah-tengah permainan dilupakan oleh para
pemainnya. Setiap orang pun tampak iseng sendiri, berjalan masing-masing untuk
memenangkan bahkan kalau perlu mengalahkan pemain yang lain, dan lupa dengan
kebersamaannya.
Blunder, barangkali itulah istilah yang tepat untuk mendeskripsikan
kondisi di atas. Kondisi inilah yang menyebabkan mengapa sastra kita hanya
berkutat di wilayah itu-itu saja.Terlebih melahirkan sesuatu yang baru yang
bisa menambah warna sastra, menerimanya pun tak sedikit mata kiri yang didapat.
Bahkan, tak sedikit ketakpedulian terhadapnya terbit meski tidak diperlihatkan secara
terang-terangan. Untukmu sastramu, untukku sastraku! Jadi, alih-alih melahirkan
yang baru, mengapresiasi pun masih saja jadi kendala.
Sebut saja sastra Islami atau sastra
religius atau apa pun namanya. Secara praktis sastra yang satu ini patut
diacungkan jempol. Terlepas dari persoalan konsep dasarnya, sastra ini tak
hanya berani memberi warna atas stagnansi dunia sastra, tapi juga memiliki
sifat solutif terhadap kehidupan manusia di tengah kepelikan moralitas bangsa
yang terjadi sekarang ini.
Akan tetapi, belumpun tujuan sastra ini
dicapai, tiba-tiba kritikan terhadapnya sudah lebih cepat disimpulkan. Tak
sedikit cercaan yang menyuratkan betapa sastra ini menjadi sangat banal karena
sifat normatif yang dikandungnya. Karya-karyanya seakan menghukum para
pembacanya dengan ayat-ayat Tuhan. Karya sastra yang hitam dan putih. Oleh
karenanya, tak ada kebebasan bersemayam di dalamnya, seperti tak bebasnya para pembacanya
untuk memilih dan menentukan hidupnya sendiri. Para pembaca seakan tidak bisa
leluas menghirup nafas karena sebelum karya dibaca, mereka sudah tahu seperti
apa ujungnya.
Nama-nama “nenek moyang” pun menjadi alibi yang disebut-sebut, yang
dengan intensitasnya mencoba mencari jejak yang setidaknya bisa mendukung
keberadaan sastra Islami ini. Pengadilan pun berlangsung di setiap lembar media
massa. Banyak yang pro, tapi tak sedikit yang kontra. Tapi yang muncul kemudian
bukanlah solusi, melainkan debat kusir yang tak jelas juntrungannya. Sebagian
merasa dirinya benar dan sebagian lagi menyalahkannya. Nonsense,
begitulah kesimpulannya.
Kenyataan yang ada sekarang, justru
banyak para penulis yang lahir dari kran berlabel sastra Islami ini
memperlihatkan kualitas karya-karyanya. Mereka tumbuh subur dan berkembang.
Malah sebuah prestasi ketika kran-kran itu tak hanya mengocor di negeri ini
tapi di luar sana. Para pemainnya tak hanya pandai ngomong, tapi juga
membuktikan jika karya-karyanya tak sepicis yang orang-orang pikirkan. Air pun
mengalir tak peduli. Panta rei. Setelah kritikan-kritikan yang ditujukan
terhadapnya hilang, sastra ini pun melenggang. Sayang, para pemainnya berjalan
sendiri-sendiri dan dengan tidak bertanggung jawab, meninggalkan kebisingan
dari apa yang dulu diperjuangkannya.
Kiranya hal ini pun sempat dirasakan oleh
sastra yang menyebut dirinya cyber, atau virtual. Seterbatas apa pun media yang
digunakan, sastra ini sempat pula memberi warna sastra kita. Perkembangan
sastra ini lebih cepat dari pada sastra yang ada media lain. Setiap hari setiap
waktu karya-karya, entah itu prosa, puisi, atau kritik, bermunculan di
laman-lamannya. Para penulis pun jadi tak hanya sering menulis dan mengirimkannya
pada situs-situs sastra, tapi secara sadar mereka belajar teknologi. Bergabung
di sebuah milis, menjadi anggota di beberapa situs sastra, dan gabung di forum-forum
diskusi yang bisa meningkatkan apresiasi terhadap sastra. Inilah kualitas hidup
yang mestinya dimiliki oleh para penulis, para sastrawan.
Akan tetapi, lagi-lagi, tak juga sedikit
orang yang tidak suka dengan prestasi yang dicapai oleh situs-situs sastra ini.
Entah apa karena orang-orang itu merasa bahwa dirinya tak bisa bersastra dan
memperlihatkan karya-karyanya, atau merasa bahwa situs-situs itu menjadi
ancaman karena merasa dirinya tak dianggap? Kita tidak tahu. Namun pada
akhirnya, pembajakan (hacking) pun terjadi. Situs-situs sastra yang
kemarin ramai, dalam sekejap mata tiba-tiba sepi. Semua orang gigit jari,
kecuali mereka yang telah dengan sukses menghentikan satu lagi warna sastra
yang sebenarnya bisa turut mengembangkan sastra di negeri ini.
Tapi seperti halnya passion atau
spirit, tak ada satu pun yang bisa mencegah sastra untuk terus berkembang.
Tak apa dan tak pula siapa. Meski beberapa situs-situs sastra telah mangkat,
jejaring sosial, blog, dan situs-situs gratis selanjutnya banyak bermunculan.
Yang mengagetkan adalah, kuantitasnya yang melonjak dari pada sebelumnya. Dari
mulai penggiat sastra hingga orang yang baru terjun di dunia sastra, tumpah
ruah memposting karya-karyanya. Tak perlulah sungguh kita menilai sejauhmana
kualitasnya, dengan kuantitasnya yang banyak saja kita sudah bersyukur.
Ternyata, sampai sekarang masih banyak orang yang suka dengan sastra. Itu yang
mestinya terlebih dulu diamini. Sastra virtual pun memiliki perannya sendiri
selain sastra aktual yang masih terus dengan lurus berjalan dan tampak di media
massa (surat kabar), bahkan lebih instens lagi. Terkait sastra bergenre
kelamin, kita sudah tahu sendiri seperti apa kondisinya sekarang.
Meski begitu, tak berarti tak ada
penyakit di tubuh sastra kita ini. Penyakit yang mengganggu pertumbuh-kembangan
sastra sampai-sampai susah untuk beranjak dewasa, sebagaimana oknum para pemain
di dalamnya. Tapi seperti halnya sastra di dunia barat atau di negeri seberang
sana, sastra tumbuh dengan suburnya. Para pemainnya bebas berekspresi dan
berpendapat, tentunya, dengan batas-batas etika. Mereka bebas menamai terserah
apa nama sastranya. Bahkan genre sastra pun diklasifikasikan begitu rupa,
semisal puisi atau cerpen tentang binatang, tentang persahabatan, tentang alam,
dan lain sebagainya.
Mereka tak segan-segan membuat nama atau
istilah baru untuk karya sastra yang memang belum ada duanya. Maka, tak aneh
jika sastra di sana benar-benar memiliki kontribusi besar terhadap bahasanya.
Jadi, bukan tidak mungkin mengapa bahasa kita tidak pernah berkembang karena
sastra sebagai salah satu bentuk pengejawantahannya pun belum bisa legowo
menerima segala bentuk perbedaan. Selain itu, para sastrawan di sana pun tetap belajar.
Sastra tak hanya melulu soal kata, genre, diskusi, membaca, menulis,
koran, dan lain sebagainya. Kata kunci yang hanya berputar-putar di situ-situ
saja.
Tidakkah menarik seeandainya kita
mendengar seminar atau workshop berjudul, misalnya, “Sastra di Tengah Arus
Informasi dan Teknologi,” atau “Melejitkan Karya Sastra dengan Marketing
yang Sempurna,” atau ”Pelatihan Penulisan Sastra Berbasis SEO, ”
atau “Bikin Launcing Jadi Kenangan: Life Skill Event Orginazer Khusus
Penulis,” “Menjadi Penulis yang Kaffah,” dan lain sebagainya.
Tidakkah menarik seandainya sebuah peluncuran mobil keluaran anyar dibuka
dengan pembacaan puisi, seperti di dataran Eropa sana?”
Karya sastra di luar sana bisa berkembang
seperti halnya para pemainnya karena mereka bisa menyembuhkan penyakitnya
bersama-sama. Maksudnya, perbedaan pendapat itu biasa, malah harus ada. Jika tidak,
tidak ada dinamika, tidak ada apresiasi yang sebenarnya, meski tidak berarti
juga bisa dengan seenaknya berbicara, apalagi hanya bisa merendahkan karya
terlebih penulisnya. Sebuah karya baru muncul, bukannya ditanggapi dengan
bijak, ini malah disitir begitu rupa. Habis suara kita berkoar-koar soal
demokrasi. Kenyataannya, apakah benar demokrasi sudah berjalan di wilaya sastra
kita? Disebut normatiflah, disebut tidak efektiflah, disebut pornolah, dan
lah-lah lainnya.
Salah satu akibatnya, kritik sastra pun
jadi korban. Para penulis jadi takut menulis kritik karena pasti bakal ada yang
“membantainya.” Sekalinya ada yang “membantai,” yang muncul malah jadi debat
kusir, atau perang urat syaraf. Benarkah orang bisa benar-benar menerima
kritik, terlebih jika kritiknya pedas ? Sekali-sekali tidak! Setidaknya
kenyataan memperlihatkan, jikapun ada kritik sastra yang dimuat di media,
kritik itu tak lantas benar-benar diperhatikan. Ada sastrawan yang membahas
soal sastra dan lingkungan, soal sastra dan kelamin, bahkan ada juga soal ide
memperiodesasikan sastra yang ada abad 20 ini. Tak ada tanggapan, karena, ya
itu tadi: aku ya aku, kau ya kau, dan ini tidaklah sehat. Yang tampak bukanlah
dinamika sastra apalgi perkembangan sastra, melainkan ketidakpedulian. Intinya,
setiap orang berjalan sendiri-sendiri, dengan karya sastranya sendiri. Padahal,
bukankah kata yang menyatukan “bahasa” kita, sastra kita?
Tapi selain itu, entah karena merasa
memiliki kesamaan yang benar-benar sama, pada akhirnya beberapa di antara mereka
bergabung dengan warna sastra yang dimilikinya sendiri. Lama kelamaan, ketika
mereka sudah subur bersama kaumnya yang sevisi dan semisi itu, salah kaprah pun
muncul. Yang lebih aneh, orang-orang di luarnya yang justru malah ikut-ikutan
membenarkan apa yang mereka lakukan. Apa mungkin kita tidak pernah kita belajar
dari sejarah, dari apa yang nenek moyang kita lakukan ihwal ini? Bagaimanapun,
ketika sastra diinstitusikan, maka yang muncul bukanlah keberterimaan dalam
keberagaman sesungguhnya, akan tetapi kepentingan. Dan ketika kepentingan sudah
sangat akut untuk ditunaikan, maka yang tersisa adalah suara minoritas.
Pengakuan pada sebagian dan penyisihan pada sebagian yang lainnya. Dan
lagipula, siapa juga mengultuskan bahwa institusi sastra yang satu lebih bagus
dan berkualitas ketimbang institusi sastra yang lainnya?
Pertanyaan pun muncul: Benarkah apresiasi
yang terhampar di tubuh sastra kita? Benarkah penghargaan atas perbedaan
pendapat berlangsung di sini? Dengan kata lain, benarkah demokrasi sudah
ditegakan di dunia sastra di negeri ini? Bukannya jawaban yang didapat melainkan
kebingungan dan kegalauan. Tujuan yang berdiri di ujung sana menunggu kita
semua.
Meratapi keadaan seperti ini, kita pun
memandang lagi wajah para sastrawan kita yang sudah tidur dalam kubur. Kita
bernostalgia dengan mereka sampai akhirnya inspirasi pun datang. Sekali lagi,
kita menyebut nama mereka di setiap tulisan kita, seakan tak ada habisnya. Kita
iyakan pendapatnya, kita ikuti tingkah lakunya. Dengan kata lain, pikiran kita
ternyata bukan pikiran kita sebenarnya, tapi pikiran para nenek moyang kita
itu. Mau sampai kapan kita menyebut-nyebut terus mereka, mengutip, mengiyakan,
dan menghambakannya? Kapankah kita bisa menyebut nama kita sendiri di dunia
sastra ini, sekarang?
Selama pikiran ini tidak bebas alias terpenjara
dalam alam pikiran lama, maka selama itu pula sastra kita hanya sebatas
celetukan-celetukan iseng di tengah hingar bingar semaraknya dunia. Sastra
musiman. Sampai kapanpun, sastra kita akan tetap seperti ini jika pikiran yang
ada tak jauh bedanya dengan yang sebelumnya. Adalah adat dan tradisi yang
menghambat segalanya, juga taklid buta atas penilaian yang dilakukan dari satu
sudut pandang saja. Mungkinka alam sastra kita bisa berkembang jika pikirannya saja
masih sakit? Tidaklah mungkin jika kita harus kembali ke titik awal,
menerjemahkan apa sastra kita sesungguhnya, terlebih jika kita harus menerjemahkan
kata “sastra” itu sendiri. Itu namanya buang-buang waktu dan percuma.
Jika sudah seperti itu, hanya ada satu
kata: Terserah! (Fim Anugrah/”Saswaloka”)
Saturday, October 4, 2014
Kredit: Jejak Penyair Yang (Mestinya Tidak) Hilang
BEBERAPA TAHUN YANG LALU, DI RUBRIK KHAZANAH (PUISI) KORAN PIKIRAN RAKYAT, ANDA AKAN MENDAPATI BIOGRAFI SINGKAT DARI SETIAP PENYAIR BERSAMA PUISI YANG DITERBITKANNYA. SAYANG, HAL ITU TIDAK ADA LAGI SEKARANG. ENTAH APA ALASAN REDAKTUR MENGHILANGKAN KREDIT ITU. TIDAK ADA YANG TAHU. TAPI SETIDAKNYA TULISAN INI BERUSAHA MENCOBA UNTUK MENJAWABNYA.
Di dalam penciptaan sebuah karya, proses merupakan sebuah keniscayaan.
Kita lambat laun belajar bahwa bakat itu nonsense. Yang ada selebihya,
justru kedisiplinan, kerja keras dan kesabaran. Dengan kata lain, tidak ada karya
mana pun yang dihasilkan dengan cara instan.
Di dunia populer, pengenalan akan
proses sebuah penciptaan sebenarnya sudah berlangsung lama. Ia terpampang di halaman
produksi sebuah buku, di credit title sebuah film, atau bahkan di belakang
jilid sebuah album musik sekalipun.
Tapi, apakah ada yang mau
memperhatikannya (membacanya)? Alih-alih mengetahui bagaimana proses itu
diciptakan lewat tangan-tangan penciptanya, kita justru lebih terlena dengan
karyanya, setidaknya judul buku dan penulisnya, judul film dan aktor utamanya,
atau judul lagu dan penyanyinya. Kita luput—untuk tidak menyebutnya tidak
peduli—memerhatikan bagaimana karya itu dikerjakan lewat sebuah proses yang
panjang, yang melibatkan banyak orang dengan banyak profesi di dalamnya.
Sunday, September 14, 2014
Waktu Terbaik Untuk Menulis
Seorang pelajar bisa menulis materi
pelajaran di ruang kelas. Sekretaris bisa menulis selama dirinya bekerja di
kantor. Bahkan seorang kasir sebuah mini market pun bisa menulis selama dia
bekerja, entah siang, entah malam. Setiap orang bisa menulis tulisan yang
dibuatnya, kapan pun dia harus dan ingin menulis.
Mungkin
akan lebih baik jika kita spesifikasikan bentuk tulisannya. Bukan tulisan
sekadar tulisan atau corat-coret belaka seperti halnya daftar belanjaan. Akan
tetapi, tulisan bergenre sastra, baik itu puisi atau pun prosa.
Bukan
perkara yang mudah memang membuat tulisan genre ini. Sekalipun pernah juga menjadi
perdebatan tatkala seorang Arswendo Atmowiloto berkata bahwa “Mengarang Itu
Gampang”. Jika benar perkataan beliau ini, lalu kenapa juga orang
Indonesia masih saja susah untuk menulis/mengarang. Tapi setidaknya kita
belajar bahwa ternyata yang namanya gampang itu relatif, yang jelas tidak susah
kecuali malas.
Berkaca
dari pengalaman, Penyair Sapardi Djoko Damono punya waktu khusus untuk menulis.
Dalam testominya dia berkata bahwa dia acapkali menulis menjelang fajar,
mungkin sebelum waktu subuh, di ruang pribadinya yang kecil berkawankan
buku-buku di raknya. Pada saat inilah beliau biasa mencipta puisi dengan
tingkat kekhusyuan yang cukup tinggi. Baginya bisa jadi kesunyian menjadi
sangat penting di tengah hingar bingar kota yang hidup.
Belum lagi menyebut para prosais yang
kebanyakan memang lebih suka menulis di malam hari. Tidak hanya karena malam
itu magis, tapi juga pada saat seperti inilah keadaan sunyi dan tenang justru
menjadi kawan yang menguntungkan para penulis/pengarang. Ketika siang hari
waktu dipenuhi dengan berbagai macam kesibukan, pada malam harinya para penulis
akan masuk ke dalam ruang pribadinya, menyalakan komputernya sebagaimana dia
menyalakan pikirannya untuk mulai menulis.
Ada semacam paradigma yang muncul di
tahun 90-an dimana penulis, atau tepatnya penyair adalah sosok yang jauh dari
yang namanya bersosialisasi. Mereka lebih memilih untuk diam di “guanya”
bersama tulisannya. Hal ini bisa benar, bisa juga tidak. Tidak benar karena
bagaimanapun penulis juga manusia. Mereka butuh bersosiali sebagai medianya
untuk membaca sebelum pada akhinrya pembacaan itu berbentuk rangkaian
kata-kata. Benar karena pada kenyataannya, penulis memang butuh konsentrasi
tingkat dewa. Kesibukan di siang hari jelas tidak bisa membuat para penulis
leluasa untuk berpikir untuk menulis. Maka dari itu mengapa mereka butuh malam,
butuh ruang pribadi dan ketenangan.
Selain itu pula, membuat tulisan
bergenre sastra memang menuntut banyak faktor. Tentunya selain privacy
dan ruang. Para penulis yang memang butuh konsentrasi agar bisa fokus untuk
tulisannya, juga tubuh yang prima. Itu artinya kondisi pikiran dan tubuh pun
sedikit banyak memengaruhi tulisan yang dibuatnya. Sebuah penelitian
membuktikan bahwa pikiran akan lebih jernih dan tenang dan bisa bekerja lebih
baik apabila otak masih fresh. Artinya, otak belum benar-benar dipergunakan
untuk memikirkan soal pekerjaan, tugas, utang dan tetek bengek lainnya. Dan
keadaan itu bisa didapatkan manakala otak baru saja diaktifkan. Dengan kata
lain, tak lama setelah bangun tidur.
Pada saat-saat seperti inilah pikiran
memiliki potensi untuk bekerja dengan sangat baik. Otak bisa lebih fokus dan
pikiran bisa lebih konsen secara maksimal. Berbeda halnya ketika otak sudah
terlalau banyak digunakan untuk memikirkan banyak hal. Alih-alih bisa fokus dan
konsentrasi, tulisan yang diciptakan pun malah jauh dari sempurna. Urat-urat syaraf
di otak sudah tegang karena sudah banyak digunakan. Energi yang dimiliki otak
pun sudah kekurangan nutrisinya. Tak jauh beda dengan tubuh yang sudah lelah
bekerja tapi malah dipaksa untuk bekerja lagi. Sedang kita tahu kalau bekerja
dengan otak justru lebih melelahkan ketimbang fisik. Setidaknya ada satu hal
sama yakni, jika sudah lelah maka keduanya butuh istirahat.
Kembali ke judul tulisan di atas. Jadi,
tidak masalah kapan waktu yang paling baik untuk menulis. Setiap orang punya
kebiasaa, cara dan metodenya sendiri dalam hal menulis. Satu yang pasti,
tulisan yang baik tentulah harus didukung pula oleh kondisi pikiran dan tubuh
yang prima. Karena tanpanya tulisan yang dihasilkan tanpa syarat-syarat tadi
bukan tidak mungkin justru malah tak jelas arahnya. Kata-katanya, strukturnya,
amanat yang hendak disampaikannya, dan nya-nya yang lainnya. Demikian. [FA]
Friday, September 5, 2014
TEMPAT SAMPAH KITA
Urusan tempat sampah
bisa jadi urusan yang tidak pernah selesai. Mulai dari TPA (Tempat Pembuangan Akhir),
tempat-tempat sampah yang mestinya tersedia di setiap sudut ruang publik, perilaku
orang yang membuang sampah, dan manajemen pengelolaan sampah; kesemuanya itu
masih menjadi PR bagi kita Si Pembuang/Pembersih Sampah.
Tapi biarlah, hal-hal
besar dan masiv itu kita ke sampingkan lebih dulu. Pada kesempatan ini saya
justu ingin berbicara tentang tempat sampah. Yang kenyataannya, masih dianggap
sepele oleh kebanyakan kita.
Berkaca pada orang-orang
kreatif di luar negeri sana, urusan membuang sampah seakan telah menjadi sebuah
fokus—bahkan bukan tidak mungkin menjadi bidang studi tersendiri. Maksud saya,
tempat sampah tidak hanya sebatas tempat untuk membuang sampah. Lebih dari itu,
tempat sampah didesain oleh mereka dengan mempertimbangkan fungsi dan perannya
sebagai tempat sampah.
Tidak seperti di kita
dimana tempat sampah hanya sebatas tong kosong atau drum plastik yang disimpan
begitu rupa. Meski cukup bisa dihargai dimana setiap tong diberi label
tersendiri, seperti organik atau non-organik. Sayangnya, hal itu menurut saya belum
bisa dibilang cukup.
Desain tempat sampah
mestinya menjadi hal yang harus dipikirkan juga. Jika Anda datang ke mini
market atau bank atau instansi-instansi yang bonafide, barangkali Anda pernah
melihat tempat sampah yang didesain sedemikian rupa. Sebuah kaleng—baik berbentuk
tabung atau persegi--besar yang terdiri dari dua fungsi yang berbeda. Pertama,
lubang besar, biasanya di tengah-tengah, untuk membuang sampah, dimana di atasnya
terdapat semacam asbak untuk mematikan puntung rokok.
Saya pikir bukan
tanpa alasan mengapa mereka membuat desain tempat sampah semacam demikian itu.
Pasalnya—setidaknya berdasarkan pengalaman yang saya alami, seandainya orang
membuang puntung rokok langsung ke tempat sampah, sedang sampah itu sendiri
adalah sampah yang mudah terbakar, apa yang sekiranya bakal terjadi? Ya, jelas
kebakaran! Dan kebakaran akibat puntung rokok yang dibuang ke tempat sampah dengan
sampah yang mudah terbakar itu, telah membuat sekolah saya hangus terbakar
dilalap api.
Sungguh sangat sentimentil, atau mungkin tragis. Hanya karena puntung rokok, atau tempat sampah yang seadanya itu, satu bangunan sekolah bisa ludes, hingga akhirnya siswa-siswa dan guru-guru pun hanya bisa gigit jari. Mereka kehilangan berkas-berkas, buku-buku, perpustakaan, uang tabungan, dan yang lebih penting, hak mereka untuk belajar dan mengajar, untuk menuntut ilmu. Hanya gara-gara tempat sampah!
Saya pikir kejadian
semacam ini tidak hanya dialami oleh saya saja, orang lain di manapun bisa juga
mengalami dan merasakannya. Seandainya kita bisa belajar dari pengalaman ini,
barangkali orang bisa lebih waspada sekaligus mengantisipasi peristiwa serupa.
Dengan kata lain, kita mestinya juga memikirkan dan harusnya membuat tempat
sampah yang didesain sesuai fungsi. Jika perlu, fungsinya itu desesuaikan dengan
kebutuhan penggunanya. Hanya sebagai antisipasi, karena bagaimana pun, bukankah
menjaga itu lebih baik dari pada mengobati?
Ajaib juga, mereka,
orang-orang di luar negeri sana yang justru mengetatkan peraturan soal rokok
merkok ini, justru menjadi orang yang sangat menghargai perokok dengan
menyediakan tempat sampah yang sangat eksklusif itu. Tapi kita…?
Walau demikian, tetap
saja, manusia itu sendirilah yang sebenarnya menjadi titik utama perihal sampah
menyampah ini. Perilaku disiplin, taat aturan, dan gaya hidup bersih mestinya
menjadi sebuah keniscayaan bagi setiap orang. Tidak perlulah kita bergantung
pada pemerintah untuk masalah ini. Tahu sendiri, pemerintah kita lebih sibuk
mengurus negara, politik, ekonomi, subdisi BBM dan lainnya. Justu dari kita
sendirilah mestinya hal ini dimulai. Karena kalau bukan kita, siapa lagi? [FA/“Saswaloka”]
Monday, August 18, 2014
P Project: Kembalinya Si Anak Kost
Bagi
generasi 90-an, kehadiran Padhyangan Project (P-Project) yang mengisi program di
salah satu televisi swasta barangkali menjadi semacam pengobat rindu. Dengan
vitalitas yang prima, personel yang digawangi oleh Denny Chandra, Daan Aria,
Joe (Juhana Sutisna), Iszur Muchtar, Iang Darmawan, Wawan Hanura dan Deden Herman
ini ternyata masih saja produktif.
Bukan
isapan jempol bagi sebuah “boyband” yang dibentuk sejak 4 Desember 1982 ini bisa
eksis sampai sekarang. Tentunya, tetap dengan tidak menghilangkan ciri khas mereka
sebagai seniman drama komedi berformat kabaret yang menjadi wahana penyalur
bakat serta ide-ide gilanya. Dan hebatnya, tidak ada satu pun yang bisa
menyamainya.
Mungkin
masih terngiang di ingatan bagaimana mereka menyedot perhatian kita dengan
debut pertamanya berjudul Nasib Anak Kost (Oo… Lea… Leo, 1993) di televisi. Lagu
yang diadaptasi dan yang judulnya dipelesetkan dari lagu That’s The Way Love
Goes-nya Janet Jackson ini telah berhasil menempatkan kelompok seniman ini
di panggung hiburan. Walau kenyataanya, mereka telah lebih dulu berkutat di
dunia ini ketika masih menjadi penyiar Radio Oz di Bandung dalam acara Gelak
Gelitik OzG.
Setelah
itu eksistensi mereka pun bertambah seiring kesuksesannya. Lagu-lagu seperti
Kop & Heden (Jilid 2, 1994)—diadaptasi dari lagu Close to Heaven-nya
Color Me Bad, Antrilah di Loket (Jilid 3, 1996)—diadaptasi dari lagu I Can
Love You Like That-nya Color Me Bad, Mudik (Jilid Lebaran, 1997), dan Lagunya
Lagu Bola (Jilid 4, 1998)—diadaptasi dari lagu La Copa De La Vida-nya Ricky
Martin, pun mengisi khazanah dunia musik Indonesia. Mungkin tidak pernah kita mendapatkan
sebuah kelompok yang tidak hanya membuat kita tertawa, tapi juga membuat kita
bernyanyi dengan lantunan-lantunan lagunya. Sungguh komplit bak 4 sehat 5
sempurna: ada karbohidrat (musik), protein
(lirik), dan yang pasti vitaminnya (parodi).
Kemunculan
P-Project di stasiun televisi sendiri bukan tanpa alasan. (Walau secara
progresif, masing-masing personel P Project mengembangkan sayapnya di dunia hiburan
yang lain, seperti halnya Iang Darmawan yang acapkali terlihat berperan akting di
sinetron televisi, juga Joe P Project yang bahkan sering terlihat di film layar
lebar, dan Denny Chandra yang sekarang-sekarang ini tengah anteng-antengnya
menjadi host di program Indonesia Lawak Club di Trans7.) Setelah banyak
disinyalir dari para senior komedian, dunia komedi di panggung hiburan justru
seperti arah jarum jam yang berputar ke belakang.
Para,
yang katanya, komedian dalam setiap acaranya malah saling mengejek bahkan
menghina. Belum lagi teknik lawak seperti menggunakan tepung yang sengaja ditumpahkan
atau dipupurkan ke wajah lawan mainnya pun
semakin memperlihatkan tidak kreativnya komedian generasi sekarang. Akal mereka
seperti tumpul untuk mencari inovasi cara dan teknik melawak yang berbobot dan
berkualitas. Pada akhirnya, yang ada hanyalah sebatas lawakan-lawakan garing,
yang ujung-ujungnya sudah ketahuan oleh para penontonnya. Padahal, P Project
sendiri tidak pernah memperlihatkan hal (parodi) yang sama di setiap penampilannya.
Lihat saja perkembangan lagu-lagu di setiap albumnya, juga penampilannya di panggung
ketika mereka punya program sendiri di stasiun SCTV.
Barangkali
seperti DKI (Dono, Kasino, Indro), Bagito (Didin, Miing, Unang) dan Patrio (Parto,
Akri, Eko)—untuk menyebut beberapa saja grup lawak besar, P Project adalah salah
satu grup lawak yang juga paling ditunggu-tunggu penampilannya di televisi. Semoga
kemunculannya kali ini, selain bisa mengobati kerinduan para fans juga bisa menyembuhkan
“kemandulan” dunia lawak negeri ini, tentunya dengan napas dan nuansanya yang baru.
Dan semoga "Si Anak-Anak Kost" ini masih tetap “gila” seperti sedia
kala. [FA/“Saswaloka”]
Pic: id.wikipedia/wiki/Padhyangan
Saturday, August 16, 2014
Bahasa Sebagai Indikator Peradaban Bangsa
Sebuah kalimat berbunyi: Jika seseorang
ingin mengubah hidupnya, maka ia harus terlebih dulu mengubah bahasanya.
Peribahasa Sunda berkata “Hade goreng ku basa.” Seyogianya, bahasa adalah
representasi jati diri sesorang. Pada bahasalah seseorang memperlihatkan
identitasnya. Ia menjadi tolak ukur keber-adaban manusia.
Kesadaran akan bahasa merupakan
indkotrinasi. Ia dicapai bukan melulu lewat jalur akademik yang mengumbar
begitu banyak teori. Bahkan ada kalanya teori-teori itu pun tidak bisa
membendung bahasa sebagai makhluk yang terus berevoulsi—sesuatu yang berbanding
lurus dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia itu sendiri.
Kesadaran pun bukan sesuatu yang final.
Sejauh manusia dan bahasanya berkembang, sejauh itu pula kesadaran dibutuhkan. Permasalahannya
sekarang adalah, apakah kesadaran itu berwarna positif atau negatif. Tentu, di
tengah rongrongan multimedia yang gencar, selalu ada kesempatan bagi bahasa
untuk menampakkan kelemahan-kelemahannya. Sayangnya, tidak ada filter atau
penyaring mana dari wujud pikiran itu (bahasa) yang benar dan baik dengan yang
sebaliknya. Di sinilah logika punya peran.
Labels:
akal kesebelas,
bahasa,
esai,
pendidikan,
psikologi
Subscribe to:
Posts (Atom)


